NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 PENELUSURAN MASA LALU

Pagi itu, sisa-sisa badai semalam masih meninggalkan jejak basah di jalanan kota Yogyakarta.

Genangan air hujan memantulkan langit yang masih berselimut awan kelabu pucat, seolah matahari enggan menampakkan wujudnya untuk menyinari kota yang tengah dibayangi oleh kutukan masa lalu.

Udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya, menembus jaket tebal yang dikenakan Yuda saat ia memacu sepeda motor bebeknya membelah jalan raya.

Di boncengan belakang, Dion duduk dengan bahu membungkuk, wajahnya bersembunyi di balik helm full-face, memeluk ranselnya erat-erat seakan ransel itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak terseret kegilaan.

Di dalam saku jaket Yuda, tersimpan dengan rapi selembar kliping koran rapuh dari tahun 1992 yang mereka temukan di basement perpustakaan semalam.

Sepanjang malam Yuda tidak bisa memejamkan mata. Ia terus meneliti kliping tersebut di bawah cahaya lampu kamarnya, mencari sekecil apa pun petunjuk yang terlewat.

Usahanya tidak sia-sia.

Di paragraf paling akhir dari kolom berita itu, terdapat sebuah kalimat kecil yang menyebutkan bahwa "...jenazah Sekar Ayu telah dimakamkan di pemakaman keluarga di kawasan Desa Giriloyo, Imogiri, Bantul, dalam suasana duka yang mendalam."

Berbekal sebaris petunjuk itulah, Yuda dan Dion pagi ini nekat membolos dari semua jadwal perkuliahan mereka.

Mereka melaju menuju kawasan perbukitan Imogiri di selatan Yogyakarta, sebuah daerah yang sejak zaman keraton dulu memang dikenal sebagai kawasan sakral tempat makam raja-raja Mataram berada.

Angin yang menerpa wajah Yuda terasa semakin dingin seiring dengan menanjaknya rute perjalanan mereka memasuki kawasan pedesaan yang dikelilingi oleh hutan jati dan perbukitan kapur.

Pepohonan besar di kanan kiri jalan tampak seperti raksasa yang sedang membungkuk, mengawasi kedatangan dua pemuda kota yang hendak mengorek luka lama yang seharusnya dibiarkan membusuk.

Setelah hampir satu jam berkendara, mereka tiba di gapura Desa Giriloyo.

Suasana desa itu sangat sepi, tipikal pedesaan Jawa di pagi hari di mana sebagian besar warganya sudah pergi ke ladang atau ke pasar.

Yuda menepikan motornya di depan sebuah warung kelontong kecil yang dijaga oleh seorang ibu tua.

Dengan sopan, Yuda turun dari motor, membuka helmnya, dan menghampiri ibu tersebut untuk bertanya tentang keluarga almarhumah Sekar Ayu yang meninggal tahun 1992.

Awalnya, ibu penjaga warung itu menatap Yuda dengan kening berkerut. Namun, saat Yuda menyebutkan nama Sekar Ayu dan tahun kejadiannya, raut wajah ibu itu mendadak berubah pucat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah takut ada yang menguping, lalu dengan suara berbisik, ia menunjuk ke arah sebuah jalan tanah kecil yang menanjak ke arah bukit.

"Keluarga Mbak Sekar sudah banyak yang pindah setelah kejadian itu, Mas. Yang masih tinggal di sini cuma kakaknya, Mbak Ningsih. Rumahnya yang joglo kayu cat hijau pudar di ujung jalan tanah itu, dekat perbatasan makam desa," bisik ibu tersebut dengan raut wajah tidak nyaman. "Tapi... Mbak Ningsih itu sudah lama tidak mau menerima tamu dari luar, Mas. Apalagi kalau bahas soal adiknya."

Yuda mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, lalu kembali menaiki motornya. Jantungnya berdebar kencang.

Setidaknya, mereka tidak salah sasaran. Saksi hidup dari tragedi 1992 yang lalu itu masih ada.

Mereka menyusuri jalan tanah yang licin akibat sisa hujan semalam.

Di ujung jalan yang menanjak, tepat di sebelah rimbunnya pohon beringin besar yang menaungi area pemakaman desa, berdirilah sebuah rumah joglo tradisional.

Kayunya sudah tampak lapuk dimakan usia, cat hijaunya mengelupas di banyak bagian, dan pekarangannya dipenuhi rumput liar yang tidak terawat.

Kesunyian di sekitar rumah itu terasa sangat tidak wajar, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di tempat ini puluhan tahun yang lalu.

Yuda dan Dion turun dari motor. Keduanya saling bertukar pandang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian.

Yuda melangkah maju lebih dulu, melewati pagar bambu yang reyot, lalu mengetuk pintu kayu jati rumah tersebut dengan perlahan.

"Permisi... Assalamualaikum..." panggil Yuda.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara jangkrik dan gesekan daun beringin yang membalas sapaan Yuda.

Yuda mengetuk lebih keras. "Permisi, Ibu Ningsih? Maaf mengganggu, kami mahasiswa dari kampus---"

Sebelum Yuda menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki terdengar dari dalam.

Pintu kayu itu berderit terbuka perlahan, menampilkan sesosok wanita paruh baya berusia awal lima puluhan. Rambutnya sudah banyak yang memutih, disanggul asal-asalan. Wajahnya dipenuhi gurat kelelahan yang sangat dalam, dan matanya memancarkan kesedihan abadi. Ia mengenakan daster batik kusam.

"Siapa?" tanya Ningsih dengan suara serak dan dingin. Pandangannya menyapu Yuda dan Dion dari atas ke bawah dengan penuh curiga.

"Maaf mengganggu waktunya, Bu. Nama saya Yuda, dan ini Dion. Kami mahasiswa dari Yogyakarta," Yuda memperkenalkan diri dengan sangat sopan, mencoba merangkai kata-kata yang tidak akan memicu amarah wanita itu. "Kami datang ke sini... untuk menanyakan tentang kejadian tahun 1992. Tentang almarhumah adik Ibu, Sekar Ayu."

Mendengar nama adiknya disebut, raut wajah Ningsih seketika mengeras. Matanya membelalak, menyiratkan kengerian dan kemarahan yang meluap secara bersamaan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu langsung berusaha menutup pintu rumahnya dengan kasar.

"Pergi! Jangan sebut nama itu di rumah ini! Pergi kalian!" usir Ningsih dari balik pintu.

Namun, dengan gerakan refleks yang didorong oleh keputusasaan, Yuda menahan pintu kayu itu dengan telapak tangannya. Ia menahan rasa sakit saat tangannya terjepit.

"Tolong, Bu! Kumohon!" Yuda memohon, suaranya bergetar hebat.

"Pacar saya, Bu... Gadis yang sangat saya cintai... dia sekarang mengalami hal yang persis sama dengan Sekar Ayu! Dia memerankan Roro Jonggrang di Prambanan, dan sekarang ada entitas iblis yang bersarang di tubuhnya! Kami tidak tahu harus berbuat apa! Kalau Ibu tidak membantu kami, pacar saya akan mati menyusul Sekar, Bu!"

Kata-kata putus asa yang meluncur deras dari mulut Yuda itu seolah menjadi mantra yang menghentikan dorongan tangan Ningsih.

Pintu itu berhenti menjepit tangan Yuda.

Ningsih terdiam. Matanya yang merah menatap Yuda melalui celah pintu.

Ia melihat keputusasaan yang murni di mata pemuda itu—keputusasaan yang sama persis dengan yang ia rasakan puluhan tahun yang lalu saat melihat adiknya menggorok lehernya sendiri di atas panggung. Penderitaan orang yang kehilangan perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanan wanita tua itu.

Dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban masa lalu, Ningsih akhirnya menarik pintu itu hingga terbuka lebar.

"Masuklah," gumamnya pelan, berbalik dan berjalan gontai ke dalam rumah yang temaram.

Yuda menoleh pada Dion, memberikan isyarat anggukan.

Keduanya melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang hanya diterangi cahaya matahari dari celah jendela.

Perabotannya sangat kuno, berbau kayu lapuk dan kapur barus.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat sebuah meja kecil yang di atasnya terpajang sebuah foto hitam putih seorang gadis muda yang luar biasa cantik, tersenyum cerah. Itu pasti Sekar Ayu, sebelum kutukan itu merenggut kebahagiaannya.

Ningsih mempersilakan mereka duduk di kursi rotan yang berderit menahan beban. Wanita itu duduk di seberang mereka, melipat tangannya di atas pangkuan.

"Sejak hari itu... saya sudah bersumpah tidak akan pernah mau mengingat lagi nama lakon kutukan itu," Ningsih memulai ceritanya dengan suara pelan yang bergetar. Ia menatap kosong ke arah lantai tanah rumahnya. "Tapi mendengar kalian menyebutkan Prambanan dan Roro Jonggrang... sepertinya iblis itu tidak pernah benar-benar tidur. Dia hanya menunggu mangsa baru."

"Bu Ningsih..." Dion akhirnya memberanikan diri angkat bicara, suaranya dipenuhi rasa bersalah.

"Saya adalah sutradara yang memilih naskah itu tahun ini. Saya yang bersalah. Tapi kami benar-benar tidak tahu apa-apa tentang tragedi itu. Arsip di kampus sengaja dihilangkan. Tolong beri tahu kami, apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Sekar? Apakah dia... sejak awal memang memiliki keanehan?" desak Dion.

Ningsih menggeleng pelan.

Ia mengangkat wajahnya menatap Dion.

"Sekar itu anak yang ceria. Dia mahasiswi yang sangat berbakat, bintang di Teater Arya Sena. Dia tidak pernah punya riwayat penyakit jiwa, apalagi keinginan untuk bunuh diri. Tapi sejak dia mulai menghafal dialog kutukan itu... semuanya berubah."

Kalimat awal dari wanita di hadapan Yuda dan Dion ini semakin membuka fakta baru, sekaligus semakin memancing rasa penasaran.

Yuda mencondongkan tubuhnya ke depan. "Berubah bagaimana, Bu?"

"Awalnya hanya hal-hal kecil," kenang Ningsih, matanya menerawang menembus lorong waktu. "Dia sering mimpi buruk. Dia merasa ada yang mengawasinya dari sudut kamar. Lalu... dia sering mendengar suara gamelan di tengah malam, padahal tidak ada siapa-siapa."

Bulu kuduk Yuda dan Dion serempak meremang hebat.

Gejala itu persis 100% dengan apa yang dialami Harumi dan mereka berdua saat ini!

"Saat malam pementasan itu tiba, saya dan keluarga datang menonton ke Prambanan," suara Ningsih mulai tersendat oleh air mata yang tak terbendung.

"Saya ingat betul... saat adegan itu... saat Sekar dikutuk oleh lawannya. Mata adik saya berubah menjadi hitam pekat. Hitam seluruhnya! Dia tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum manusia. Dan tiba-tiba saja keris itu muncul di tangannya seperti tercipta dari udara kosong. Dia mengamuk. Kami berteriak-teriak histeris. Dan sebelum ada yang bisa menghentikannya... dia menusuk dan menggorok lehernya sendiri." Ningsih menutupi wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangannya, terisak pilu.

Keheningan yang menyesakkan dada menyelimuti ruang tamu yang temaram itu.

Yuda menunduk, menggertakkan giginya menahan kengerian yang menyayat hati.

Membayangkan jika Harumi yang melakukan hal itu... ia pasti tidak akan sanggup hidup lagi.

"Setelah kejadian itu... polisi menutupnya sebagai kasus bunuh diri," lanjut Ningsih setelah berhasil menguasai dirinya sedikit.

"Tapi keluarga kami tahu itu bukan bunuh diri. Beberapa hari setelah Sekar dimakamkan, bapak saya mendatangkan seorang kiai sepuh yang sangat dihormati dari lereng Gunung Merapi. Kiai itu yang melakukan 'pembersihan' di rumah kami, sekaligus menjelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi malam itu." jelas Bu Ningsih.

"Kiai itu tahu apa penyebabnya?" tanya Yuda cepat, harapan kembali menyala di matanya.

Ningsih mengangguk pelan.

Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan.

Ia membuka laci terbawah yang berderit keras, mencari-cari sesuatu di bawah tumpukan kain batik usang. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas.

"Ini adalah catatan yang ditulis oleh almarhum bapak saya, berdasarkan penjelasan kiai tersebut," Ningsih meletakkan buku kecil itu di atas meja rotan di antara mereka.

Ningsih menatap tajam ke arah Dion, pandangannya seolah menembus jiwa sang sutradara muda itu.

"Kalian pikir, Teater Arya Sena hanya mementaskan lakon Roro Jonggrang pada tahun 1992 saja?" tanya Ningsih dengan nada dingin yang membuat darah Dion berdesir.

Dion mengerutkan kening, kebingungan. "I-iya, Bu. Setahu saya di kampus, itu adalah pementasan pertama dan terakhir kalinya lakon itu dimainkan."

"Kalian salah besar," Ningsih menggelengkan kepalanya dengan getir.

"Berdasarkan catatan bapak saya dari alumni-alumni tua, Teater Arya Sena sebenarnya pernah mementaskan lakon Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang pada tahun 1990 dan tahun 1991." jawab Bu Ningsih tegas.

Yuda terbelalak. "Tahun 90 dan 91? Tapi... kenapa tidak ada kejadian apa-apa di tahun itu? Kenapa tidak ada korban jiwa? Kenapa kutukan itu baru memakan korban di tahun 1992, dan sekarang di tahun ini?"

Inilah inti dari rahasia yang telah terkubur selama tiga dekade lebih.

Kepingan puzzle yang selama ini hilang, akhirnya terjawab di ruang tamu yang pengap itu.

Ningsih mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berubah menjadi bisikan yang sarat akan kengerian yang absolut.

"Karena di tahun 1990 dan 1991, mereka mementaskan lakon itu di atas panggung aula kampus dan di gedung kesenian lokal," ucap Ningsih dengan mata yang membelalak lebar, memancarkan teror yang tak pernah padam.

Jantung Yuda dan Dion seakan berhenti berdetak sesaat.

Mereka mulai menyadari arah pembicaraan ini, dan kesimpulan yang terbangun di otak mereka terlalu mengerikan untuk diterima oleh akal sehat.

"Lakon itu sendiri, naskah itu sendiri, bukanlah sebuah kutukan, Nak... Makhluk itu, iblis Panglima Jin yang terjebak di dalam arca Roro Jonggrang, tertidur sangat lelap di dasar tanah selama ribuan tahun," Ningsih menunjuk ke arah buku catatan kulit hitam itu dengan jari yang gemetar.

"Tapi di tahun 1992, dan di tahun ini saat kalian mementaskannya... kalian melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal! Kesalahan yang membuka gerbang neraka!" suara Ningsih mulai meninggi, diwarnai amarah dan keputusasaan.

"Kalian tidak memainkannya di gedung biasa. Kalian membawanya langsung ke pelataran Candi Prambanan! Kalian mementaskannya di area candi sungguhan! Tempat di mana kutukan itu pertama kali dilahirkan!" tambah Bu Ningsih.

Napas Dion tercekat di tenggorokan. Mulutnya menganga, matanya membelalak sempurna menatap Ningsih. Tubuhnya seketika bergetar sehebat-hebatnya.

"Lakon Roro Jonggrang itu ibarat sebuah mantra pemanggil arwah," desis Ningsih, kata-katanya menghunjam ulu hati Dion tanpa ampun.

"Dan pelataran Candi Prambanan adalah altar pengorbanannya! Ketika kalian mengucapkan dialog kutukan Bandung Bondowoso di atas tanah sakral itu, di bawah cahaya bulan purnama, dengan pakaian yang sama... kalian pada hakikatnya sedang mereka ulang ritual kutukan ribuan tahun yang lalu!"

DHAAARRR!!!

Fakta mengerikan itu meledak di dalam kepala Dion bagaikan bom waktu yang meruntuhkan seluruh fondasi kewarasannya.

"Kalian tidak sekadar bermain drama," lanjut Ningsih dengan air mata yang kembali menetes.

"Di atas tanah suci yang telah menyerap darah dan sihir hitam ribuan tahun itu, kalian bertindak sebagai medium. Kalian membuka portal batas dimensi secara paksa, dan mengundang iblis itu untuk masuk ke dalam tubuh pemeran utamanya! Sang pemeran Roro Jonggrang! Dan tahun ini, pemeran itu adalah pacarmu!"

Dion gemetar dalam diam. Pikirannya baru saja menerima sebuah fakta yang sangat mengerikan.

Yuda merosot dari kursinya. Ia jatuh bertumpu pada kedua lututnya di atas lantai tanah rumah joglo tersebut. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya dengan putus asa.

Rasa bersalah yang teramat masif, gelap, dan mematikan menelan sisa-sisa kesadaran mereka berdua.

"Ya Tuhan... Ya Allah..." Dion meracau histeris, air mata membanjiri wajahnya yang pucat pasi. "Ini salah gue... Ini semua salah gue, Yud! Demi ambisi seni gue, demi bikin teater ini kelihatan megah, gue yang maksa rektorat buat kasih izin pentas lomba di Prambanan! Gue yang ngebawa Harumi ke sana! Gue yang buka gerbang buat iblis itu masuk! GUE YANG BUNUH HARUMA!"

Tubuh Dion pun ikut merosot dan berlutut di sebelah Yuda yang kini mulai berdiri lagi.

"Dion! Berdiri, Yon! Jangan gila lo!" Yuda langsung menarik kerah jaket Dion, mencoba menyadarkan sahabatnya yang sedang dihantam badai breakdown mental.

Namun Dion terus meronta dan menangis meraung-raung di lantai, mengutuki dirinya sendiri. Penemuan fakta ini benar-benar menghancurkan sisi psikologis sang sutradara. Ia baru saja menyadari bahwa ambisi dan idealismenya dalam menyutradarai sebuah karya seni telah berubah menjadi ritual pemanggilan iblis yang mengancam nyawa sahabat-sahabatnya sendiri.

Yuda menatap Ningsih dengan mata yang memerah dan rahang yang mengeras menahan gejolak emosi yang tak kalah hebatnya. Fakta ini sungguh mengerikan.

Kutukan Teater Arya Sena tidak aktif karena naskahnya, melainkan karena lokasi pementasannya.

Mereka telah membangunkan singa yang sedang tidur lelap di singgasananya sendiri.

"Bu Ningsih..." suara Yuda bergetar, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak berdiri. Ia tidak boleh hancur sekarang. Harumi membutuhkannya.

"Lalu... kiai dari Gunung Merapi itu... apakah dia mengatakan bagaimana cara menghentikannya? Bagaimana cara memutus kutukan ini agar kekasih saya tidak harus berakhir seperti Mbak Sekar?" tanya Yuda.

Ningsih menatap Yuda dalam-dalam. Keberanian dan cinta yang terpancar dari mata pemuda itu di tengah kengerian yang absolut membuat hati wanita tua itu terenyuh.

Ningsih menghela napas panjang, mengusap air matanya, lalu menjawab dengan suara yang sangat pelan, menyuarakan sebuah syarat yang seolah menuntut nyawa sebagai gantinya.

"Iblis itu telah terbangun, Nak Yuda. Dan dia kelaparan. Dia tidak akan kembali tidur sebelum dahaganya akan darah tertuntaskan. Kiai itu bilang... tidak ada ritual pengusiran biasa yang bisa menandingi sihir kuno Bandung Bondowoso."

Ningsih menunjuk ke arah buku catatan kulit hitam itu lagi.

"Untuk mematahkan kutukan yang telah mengikat jiwa wadahnya... kalian harus mencari 'Darah Pembuat Candi'. Atau... wadah itu sendiri, sang pemeran Roro Jonggrang itu sendiri yang harus dikorbankan kembali ke tanah Prambanan."

Hening.

Seketika semuanya jadi sangat hening.

Hanya suara rintik hujan di luar jendela yang menjawab pernyataan mematikan tersebut.

Yuda membeku.

Syarat itu terasa seperti jalan buntu yang diselimuti oleh duri beracun. Ia harus mengorbankan nyawa Harumi sendiri, atau mencari sesuatu yang terdengar sangat mustahil.

Namun di tengah keputusasaan itu, mata Yuda menyipit tajam.

Apapun risikonya, ia berjanji pada langit dan bumi, ia akan membalikkan takdir ini, atau mati saat mencobanya.

Harumi tidak akan pernah ia korbankan!!!

1
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!