NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018 - Pisau di Dalam Tas

Aku tidak menjawab pertanyaan Arkana malam itu.

Aku hanya mengambil kantong es dari tangannya, menempelkannya sendiri ke pipi, lalu memandang lampu-lampu kota yang berlari di balik kaca mobil. Belas kasih adalah kemewahan bagi orang yang tidak hidup dengan makam di dalam dada. Jika kuberikan juga kepadanya, apa yang tersisa untuk keluargaku?

Tiga hari kemudian, pertanyaan itu masih mengikutiku.

Ia muncul ketika aku menandatangani daftar hadir kuliah. Ia duduk di kursi kosong saat aku makan siang. Ia bahkan berdiri di samping tempat tidur setiap kali aku memejamkan mata.

Dan di belakangnya selalu ada wajah ayah kandungku pada malam terakhir, pucat di bawah cahaya rumah yang terbakar.

Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Mengetahui ternyata jauh lebih mudah daripada melakukannya.

Sepulang kuliah, aku meminta sopir kampus menurunkanku dua blok dari sebuah toko perlengkapan luar ruang. Hujan baru berhenti. Aspal memantulkan papan iklan merah, membuat jalan tampak seperti dilapisi darah yang terlalu encer.

Seorang pegawai muda menyambutku. "Mencari hadiah, Kak?"

"Sesuatu yang kecil. Mudah disimpan."

Dia menunjukkan beberapa barang untuk kegiatan berkemah. Aku memilih sebilah pisau lipat dengan gagang hitam tanpa hiasan. Aku tidak menguji ketajamannya. Tidak bertanya apa pun. Aku membayar tunai, membiarkannya tetap terbungkus, lalu memasukkannya ke bagian terdalam tasku.

Beratnya tidak seberapa.

Namun setiap langkah menuju pintu terasa seperti menyeret rantai.

"Kak Laras?"

Suara itu membuat tanganku mencengkeram tali tas.

Gilang berdiri di bawah kanopi toko sebelah, masih mengenakan kemeja kantor dengan lengan digulung. Di satu tangan ada dua cangkir kopi, di tangan lain payung. Senyumnya muncul seperti biasanya, hangat dan tidak menuntut.

"Aku meneleponmu tiga kali," katanya.

Aku memeriksa ponsel. Benar. Layarnya dalam mode senyap.

"Aku sedang membeli sesuatu."

Tatapannya turun ke tasku. Jantungku memukul tulang rusuk, tetapi dia hanya menyerahkan kopi.

"Kalau begitu temani aku lima belas menit. Setelah itu aku mengantarmu pulang."

Kami duduk di sebuah kafe kecil di seberang jalan. Di antara kami, uap kopi naik dan menghilang sebelum mencapai lampu gantung. Gilang bercerita tentang rapatnya dengan Arkana. Dua lelaki yang menginginkanku itu ternyata mampu duduk satu meja dan membahas angka tanpa saling membunuh.

"Dia sulit ditebak," kata Gilang. "Tetapi satu hal jelas. Dia selalu tahu saat ada orang yang berbohong kepadanya."

Jariku berhenti di bibir cangkir.

"Kenapa mengatakan itu kepadaku?"

"Karena sejak tadi kau tersenyum seolah sedang berpamitan."

Aku menatapnya. Kakak lelaki kecilku telah berubah menjadi pria yang membaca laporan, musuh, dan ruang rapat. Namun di matanya aku masih bisa melihat anak kurus yang membagi selimut denganku di panti asuhan.

"Kak Gilang," kataku pelan, "aku mencintainya."

Ada jeda yang cukup panjang untuk mendengar sendok jatuh di meja lain.

Gilang menunduk, lalu tersenyum. Senyum itu rapi, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

"Aku sudah tahu."

"Aku hanya melihatmu sebagai kakak. Orang yang selalu ingin kusimpan dalam hidupku, tetapi bukan dengan cara yang kauinginkan."

"Aku juga sudah tahu itu."

"Kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan sedih."

Kali ini senyumnya lenyap. "Apa yang akan terjadi?"

"Tidak ada." Aku memaksa tertawa. "Aku hanya ingin mengatakannya."

Tangannya menutup punggung tanganku. Hangat, kuat, dan sedikit gemetar.

"Laras, lihat aku."

Aku menurut.

"Aku tidak akan memaksamu memilihku. Tapi aku juga tidak akan menerima kalimat perpisahan tanpa alasan. Jika kau dalam masalah, katakan sekarang."

Di dalam tas, benda bergagang hitam itu seakan berubah panas.

Aku menarik tanganku perlahan. "Aku baik-baik saja."

Itu kebohongan pertama pada hari itu. Aku tahu akan ada lebih banyak sebelum malam berakhir.

Gilang mengantarku sampai gerbang vila. Aku melarangnya masuk dan berdiri di bawah payung sampai mobilnya menghilang di tikungan. Jam hampir menunjukkan tengah malam. Semua jendela utama sudah gelap, kecuali ruang keluarga.

Bi Sum membuka pintu sebelum aku sempat menekan bel. Matanya berpindah dari wajahku ke tas yang kupeluk terlalu erat.

"Tuan belum makan," bisiknya. "Katanya menunggu Nona."

"Kenapa tidak dipaksa?"

"Nona tahu siapa yang berani memaksanya."

Aku hampir tersenyum. Bi Sum menawarkan makan malam hangat, tetapi aku menggeleng dan memintanya beristirahat. Ketika langkahnya menjauh ke sayap belakang, aku tertinggal bersama detak jam dan keputusan yang tidak lagi bisa kuserahkan kepada siapa pun.

Setiap anak tangga menuju ruang keluarga kukenal sejak kecil. Malam itu, rumah yang membesarkanku terasa seperti ruang pengadilan. Aku datang sebagai saksi, korban, sekaligus algojo yang belum tahu apakah tangannya sanggup menjatuhkan hukuman.

Arkana duduk sendirian di sofa, jasnya terlipat di samping, dua kancing kemejanya terbuka. Sebuah gelas berisi air tersentuh di meja. Tidak ada alkohol. Tidak ada rokok. Hanya dirinya dan kesunyian yang tampak telah menungguku berjam-jam.

"Kau pulang terlambat," katanya.

"Kau menungguku?"

"Aku sedang duduk."

Jawaban yang sama buruknya dengan penyangkalanku selama bertahun-tahun.

Aku meletakkan tas di lantai dekat tangga. Pisau itu tersimpan di dalamnya, hanya beberapa langkah dari kami.

"Pipimu?" tanyanya.

"Sudah tidak sakit."

"Aku tidak menanyakan sakitnya."

Aku tahu dia menanyakan jawabanku. Belas kasih yang tidak pernah kusisakan untuknya. Aku berjalan mendekat sampai lututku menyentuh lututnya.

Arkana mendongak. Untuk pertama kalinya, lelaki yang membuat seluruh ruangan tunduk itu tampak tidak siap.

Aku menyentuh pipinya.

"Jika kuberikan kepadamu," bisikku, "apa yang akan kaulakukan?"

"Apa pun yang kauminta."

"Kalau aku meminta hidupmu?"

Tatapannya menggelap, tetapi dia tidak menjauh. "Ambillah."

Seharusnya jawaban itu memudahkanku.

Sebaliknya, dadaku terasa koyak.

Aku membungkuk dan menciumnya.

Tubuhnya menegang. Dia tidak langsung membalas, seolah memberiku satu kesempatan terakhir untuk berubah pikiran. Aku meraih kerah kemejanya dan mencium lagi, kali ini tanpa menyisakan ruang bagi keraguan palsu.

Tangannya naik ke pinggangku, berhenti di sana.

"Larasati." Namaku terdengar seperti peringatan di bibirnya.

"Jangan bertanya."

"Kau baru pulang bersama Gilang."

"Dan aku datang kepadamu."

Aku ingin membawanya ke kamar, menunggu sampai semua pertahanannya runtuh, lalu mengakhiri utang yang kupikul sejak usia tujuh tahun. Rencananya sederhana jika dipikirkan tanpa wajah, tanpa suara, tanpa tangan yang selalu berhenti saat aku belum memberi izin.

Arkana melepaskanku. Dingin segera mengisi jarak di antara kami.

"Jadi begini," katanya. "Setelah mengabaikanku, setelah berlari kepada lelaki lain, kau mengingatku saat kau ingin merasa dicintai."

Kata-katanya menusuk lebih tepat daripada apa pun yang tersembunyi di tasku.

"Kalau itu yang kaupikirkan, lepaskan aku."

Aku berbalik, tetapi dia menangkap pergelangan tanganku tanpa menarik keras. Ketika aku menoleh, amarahnya masih ada, bercampur sesuatu yang lebih rapuh daripada yang pernah dia izinkan kulihat.

"Aku seharusnya melepaskanmu," katanya.

"Lakukan."

Jemarinya mengendur. Aku bisa pergi. Aku bisa mengambil tas, membuang isinya, dan berpura-pura malam ini tidak pernah terjadi.

Namun Arkana berdiri, menyentuh wajahku dengan kedua tangannya, lalu menundukkan dahinya ke dahiku.

"Aku akan memercayaimu sekali lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!