Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Jejak Semesta dan Langkah yang Berhenti
Hujan di penghujung sore selalu punya cara sendiri untuk memanggil kenangan lama. Di bawah teras samping Masjid Besar yang megah—yang berdiri kokoh persis di pinggir jalan raya utama kota kecil mereka—suara deru kendaraan yang melintas berpadu harmonis dengan aroma tanah basah dan lantunan ayat-ayat suci.
Bagi Kiara, suasana ini adalah wujud fisik dari masa kecilnya yang penuh dengan kenangan manis. Sebuah masa di mana dunia terasa sesederhana barisan ayat yang dieja patah-patah dan langkah kaki telanjang yang berlarian di atas rumput basah.
Meskipun rumah mereka berada di kelurahan yang berbeda—Kiara dari Kelurahan Sukamaju dan Arga dari Kelurahan Damai—tapi takdir mempertemukan mereka di TPQ Masjid Besar ini sejak masih berseragam sekolah dasar. Di tempat inilah, belasan tahun lalu, semuanya bermula.
Kiara kecil, dengan kerudung putih yang diberi peniti dibawah dagu karena sedikit longgar di bagian wajahnya, selalu memilih duduk di barisan belakang kelas TPQ. Bukan karena malas, melainkan karena dari sudut itulah ia bisa memperhatikan punggung seorang anak laki-laki dengan peci hitam yang selalu duduk rapi. Anak laki-laki itu bernama Arga.
Arga tidak pernah banyak bicara. Saat anak-anak lain sibuk berkejar-kejaran di pelataran masjid seusai mengaji, Arga akan duduk di dekat tangga, merapikan rehal kayu atau sekadar memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan raya. Dia adalah tipe anak yang keberadaannya tenang, namun ketenangannya mampu mengisi ruang di sekitar. Dan bagi Kiara yang introvert serta pemalu, Arga adalah sebuah misteri yang indah.
Keberanian Kiara tidak pernah hadir dalam bentuk suara yang keras. Keberaniannya tersembunyi dalam hal-hal kecil yang konsisten.
Sejak SD, walau sekolah mereka berbeda, jadwal mengaji di Masjid Besar selalu menjadi momen yang paling ditunggu Kiara. Saat Arga kehabisan buku tulis mengaji, Kiara—dengan wajah memerah dan jemari bergetar hebat—menyodorkan buku tulis cadangannya tanpa berani menatap langsung mata Arga. Bahkan saat hujan turun dengan deras dan jalan raya di depan masjid dipenuhi genangan, Kiara rela menunggu lama hanya agar bisa berjalan searah menuju batas kelurahan mereka.
Ketika mereka tumbuh dewasa, perasaan itu tidak memudar. Justru meluas dan mengakar kuat, mengambil alih seluruh ruang di hati Kiara.
Semua teman mengaji dan orang-orang di sekitar tahu bagaimana perasaan Kiara pada Arga. Kiara tidak pernah menutup-nutupinya. Perhatiannya begitu terang, begitu transparan. Dia rela menggunakan waktu istirahatnya untuk memasakkan bekal atau cemilan dan memberikan bekal itu saat mereka ada kegiatan remaja di masjid, dia selalu ingat setiap tanggal penting dalam hidup Arga, dan menjadi orang pertama yang menyapa laki-laki itu.
Namun, Arga tetaplah Arga. Pria itu bagaikan telaga yang tenang di permukaan, tetapi tak seorang pun tahu seberapa dalam dasar perhitungannya.
Arga selalu bersikap ramah, sopan, dan humble kepada siapa saja. Dia akan mengangguk santai saat Kiara menyodorkan botol minuman dingin di selasar masjid, mengucapkan terima kasih dengan senyum tipis yang hangat—namun selalu menyandarkan jarak yang begitu tegas. Dia menerima segala perhatian Kiara, tetapi tidak pernah sekalipun melangkah mendekat.
Arga tertutup. Terlalu tertutup untuk membiarkan siapa pun—termasuk Kiara—membaca apa yang sebenarnya bergejolak di balik dadanya.
Sore ini, di teras samping Masjid Besar tempat lalu lalang klakson kendaraan jalan raya yang terdengar samar, Kiara duduk di kursi kayu pelataran. Di sampingnya, Arga baru saja selesai membantu merapikan Al-Qur'an di ruang utama TPQ.
Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya yang tegas namun memiliki garis bibir yang lembut tampak tenang. Arga mendudukkan diri di samping Kiara, menyisakan jarak satu jengkal yang selalu ia jaga sejak dulu.
"Kenapa belum pulang, Ra? Ojek online-nya belum datang?" suara Arga mengalun rendah, tenang seperti biasa.
Kiara menoleh pelan. Ia menatap profil samping wajah pria dari kelurahan tetangga yang telah mengisi seluruh benaknya selama lebih dari satu dekade. Wajah yang sangat ia hapal. Wajah yang selalu ia doakan di sepertiga malamnya.
"Nggak, Ga. Lagi nunggu hujannya agak reda aja," jawab Kiara halus. Suaranya bersaing dengan gemuruh mesin bus yang melintas di jalan raya depan masjid.
Arga mengangguk pelan. Ia memandangi hujan yang membasahi pelataran parkir masjid. "Ibu bilang, kemarin kamu bawain kue lupis kesukaanku ke rumah ya? Terima kasih, Ra. Rumah kita kan lumayan jauh lho....beda kelurahan, jadi ngerepotin kamu ."
"Nggak repot kok," sahut Kiara cepat, refleks seperti yang sudah-sudah. Namun kali ini, tenggorokannya terasa lebih kering dari biasanya.
Ada keheningan yang menyusup di antara mereka. Keheningan yang sudah ribuan kali terjadi, tetapi sore ini terasa berbeda bagi Kiara. Rasa berat yang menumpuk di dadanya selama bertahun-tahun seolah mencapai titik jenuh.
Kiara teringat kejadian dua hari lalu. Saat ia memberanikan diri merajut sebuah syal wol sederhana untuk Arga yang sering pulang malam karena pekerjaan kantornya. Ketika Kiara menyerahkannya di pelataran masjid ini, Arga hanya tersenyum sopan, meletakkannya di atas tas, dan berkata, "Makasih ya, Ra. Tapi lain kali nggak perlu repot-repot begini. Aku nggak enak sama kamu."
Kata-kata "nggak enak" itu bukan kali pertama diucapkan Arga. Kata-kata itu adalah benteng tak kasat mata yang dibangun Arga dengan kokoh dan tinggi untuk menjaga jarak.
Kiara menghela napas panjang. Ia menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ketika ia memberi cukup banyak rasa hangat, es dihati Arga akan mencair.
Namun Kiara lupa, seseorang yang memilih untuk menutup pintunya rapat-rapat tidak akan pernah bisa dibuka dari luar, tak peduli sekeras apa pun pintu itu diketuk.
"Ga," panggil Kiara lirih.
Arga menoleh, pandangan matanya yang teduh menatap Kiara. "Ya?"
"Kamu pernah merasa capek nggak?" tanya Kiara tanpa berani menatap mata Arga.
Dahi Arga berkerut tipis. "Capek kerja? Ya... kadang-kadang. Kenapa, Ra?"
Kiara tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa begitu asing di mata Arga. Tak ada binar gembira yang biasanya selalu menghiasi wajah gadis pemalu itu setiap kali mereka bicara.
"Bukan capek kerja," bisik Kiara. "Tapi capek berjalan di jalan yang nggak pernah ada ujungnya."
Arga diam. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari nada suara Kiara, tetapi kebiasaannya untuk memendam rasa membuatnya memilih untuk tetap membisu.
Kiara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian terakhirnya. "Selama ini aku selalu berpikir kalau aku berdiri cukup lama di samping kamu, kamu bakal sadar kalau aku ada," kata Kiara, kini akhirnya menatap mata Arga. Ada kilat air mata yang tertahan di sudut matanya. "Tapi aku baru sadar, berdiri di samping seseorang yang nggak pernah berniat menggenggam tangan kita itu... ternyata melelahkan ya, Ga?"
Jantung Arga berdesir aneh. Ada denyut ketakutan asing yang mendadak mencubit dadanya. Namun bibirnya seolah terkunci. Karakter tertutup yang terbentuk bertahun-tahun menahannya untuk langsung bersuara.
Sebenarnya, di balik dada Arga yang dingin itu, ada sebuah rahasia besar.
Arga mencintai Kiara.
Ia mencintai bagaimana suara Kiara yang lembut selalu mendinginkan harinya yang berat. Ia mencintai kejujuran gadis itu. Ia bahkan diam-diam sering memastikan Kiara sampai di rumahnya di Kelurahan Sukamaju dengan aman dari kejauhan setiap kali mereka pulang mengaji atau ada acara di Masjid Besar.
Namun Arga takut. Rasa cintanya tertutup oleh rasa ketidakpercayaannya pada diri sendiri. Ia merasa dirinya terlalu membosankan dan tertutup untuk gadis sebaik Kiara. Maka, Arga memilih memendamnya, mengira bahwa dengan tetap diam, Kiara akan tetap ada di sana—di tempat yang sama, mencintainya seperti biasa.
Arga tidak pernah mengira bahwa kesabaran pun memiliki batas kadaluarsa.
"Kiara... kamu bicara apa?" tanya Arga, suaranya bergetar tipis.
Kiara berdiri dari duduknya. Ia merapikan rok panjangnya dan membawa tas kecilnya. Hujan di luar mulai mereda menjadi gerimis tipis.
"Aku cuma mau bilang... terima kasih ya, Ga," tutur Kiara lembut. Suaranya tidak meletupkan kemarahan, hanya ada nada keikhlasan yang teramat sangat.
"Terima kasih untuk apa?" Arga ikut berdiri, refleks melangkah satu tapak mendekati Kiara, melanggar jarak satu jengkal yang selalu ia ciptakan sendiri.
"Terima kasih sudah jadi bagian dari masa kecil aku sejak kita di TPQ Masjid ini. Terima kasih sudah jadi orang yang bikin aku belajar artinya berjuang," Kiara menatap Arga dengan senyuman paling tulus. "Tapi mulai hari ini, aku nggak akan merepotkan kamu lagi. Aku nggak akan kirim makanan lagi, nggak akan ganggu hari-hari kamu, dan aku nggak akan nunggu kamu di sini lagi."
Mata Arga membelalak tipis. "Ra—"
"Aku sadar, rasa yang aku punya selama ini mungkin cuma beban buat kamu," potong Kiara halus. "Kamu orang baik, Ga. Dan kamu berhak bahagia tanpa harus merasa 'nggak enak' sama aku terus-terusan. Jadi... aku berhenti ya?"
"Berhenti apa?" tenggorokan Arga terasa sangat sempit.
"Berhenti mengejar kamu," jawab Kiara mantap.
Satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Kiara, namun gadis itu dengan cepat mengusapnya dan tersenyum. Tanpa menunggu balasan dari Arga, Kiara berbalik. Ia membuka payungnya dan melangkah menembus gerimis menuju halte di pinggir jalan raya utama.
Arga berdiri mematung di teras Masjid Besar.
Ia memperhatikan punggung gadis itu perlahan menyatu dengan keramaian lalu lintas sore hari. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pelataran masjid yang ramai ini terasa begitu sunyi dan dingin bagi Arga.
Arga meraba dadanya sendiri. Ada sesuatu yang patah di sana. Rasa cinta yang selalu ia pendam rapat-rapat, kini mencakar-cakar dadanya, menuntut untuk dikeluarkan.
Namun, sosok yang biasa berdiri menunggunya dengan senyuman hangat... kini telah melangkah pergi menuju jalannya sendiri -- jalan lain yang bukan berporos pada Arga lagi sebagai dunianya --....