NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 — Rusak Mechaku, Mati Kau

Lampu arena belum menyala penuh ketika Malaikat Maut menyerang.

Tidak ada salam.

Tidak ada hitungan yang sopan.

Mecha hitam itu melesat dari sisi seberang seperti bayangan yang diberi pisau. Tangan kanannya menuju kepala nomor tujuh belas. Gerakannya sama seperti saat ia merobek kepala si Monyet.

Penonton belum selesai meneriakkan nama mereka.

Tri sudah menurunkan tubuh Mecha.

Cakar hitam lewat di atas kokpit, mencabik udara. Nomor tujuh belas berguling ke kiri, bahunya menghantam lantai, lalu bangkit dengan satu lutut.

Tekanan Daya Indra langsung naik.

Terlalu cepat.

Terlalu bersih.

Ini bukan gerakan L3 biasa.

Malaikat Maut tertawa lewat pengeras. “Tukang bongkar, jangan lari. Aku belum pegang kepalamu.”

Tri tidak menjawab.

Ia melihat siku kanan lawan.

Kilatan pucat muncul lagi saat lengan hitam itu berputar. Bukan kristal kelabu. Bukan komponen umum Bengkel Hitam. Sambungan itu menyimpan tenaga terlalu halus, seperti logam mahal yang disembunyikan di bawah cat pembunuh.

Kalau mencabutnya utuh, harganya pasti bagus.

Kalau salah mencabutnya, nomor tujuh belas mungkin terbelah.

Malaikat Maut menyerang lagi.

Tri menghindar ke kanan.

Salah.

Mecha hitam itu sengaja membuka jalur kanan. Kaki kirinya menyapu rendah dan memaksa nomor tujuh belas mengangkat lutut. Pada saat Tri mengangkat kaki, tangan kiri Malaikat Maut sudah tiba.

KRAK.

Lengan kiri nomor tujuh belas putus dari bahu.

Penonton meledak.

Kabel antarmuka di kokpit menghantam saraf Tri dengan sinyal rusak. Bahu kirinya terasa seperti disiram air panas. Itu luka bayangan, dan otak tetap menerimanya. Mecha kehilangan lengan, pilot ikut merasakan bekasnya.

Tri menggertakkan gigi.

Jangan naikkan output.

Jangan mimisan.

Jangan panggil Titis Darah.

Kalung merah di dadanya terasa dingin di balik baju. Satu dorongan Daya Indra cukup untuk memanggil Mecha A puncak itu. Dengan Titis Darah, ia bisa menutup jarak lebih bersih, menahan tekanan lebih lama, mungkin mengakhiri laga lebih cepat.

Dan seluruh lantai tiga akan melihat murid baru Damokles punya mecha penyimpanan mahal setelah semalam menjadi pendatang baru Bengkel Hitam.

Tidak.

Nomor tujuh belas masih punya satu tangan.

Cukup untuk mencabut baut.

Malaikat Maut mengangkat lengan kiri nomor tujuh belas yang putus, lalu melemparkannya ke arah pagar penonton. Lengan besi itu menghantam pelindung, memantul, jatuh di lantai arena.

“Satu,” katanya. “Berapa bagian lagi sebelum kau berhenti bergerak?”

Tri menarik napas.

Di ruang VIP, Rara mencondongkan tubuh. Kuku merahnya berhenti mengetuk. Ia ingin melihat wajah orang yang sebentar lagi hancur.

Baik.

Kalau mereka ingin tontonan, beri mereka pelajaran teknik.

Malaikat Maut maju untuk merobek kepala.

Tri tidak mundur.

Nomor tujuh belas berlari lurus ke depan.

Penonton berteriak, mengira ia putus asa.

Pada jarak satu lengan, Tri menjatuhkan pusat massa ke lutut kanan. Cakar hitam Malaikat Maut turun dari atas. Tri mengangkat lengan kanan nomor tujuh belas dan menyelipkan jari mekanik ke celah bawah pergelangan lawan.

Cakar itu menghantam bahu nomor tujuh belas.

Pelat bahu pecah.

Tetapi jari Tri sudah masuk.

Ia tidak menarik kristal.

Ia menekan pengunci rotasi.

Siku kanan Malaikat Maut berhenti setengah detik.

Setengah detik cukup untuk hidup.

Tri memutar tubuh nomor tujuh belas ke bawah lengan lawan, menendang lutut belakang, lalu melepaskan diri sebelum cakar kiri datang. Bahu nomor tujuh belas mengeluarkan asap. Lengan kanan masih utuh, tetapi responsnya turun.

Malaikat Maut menatap tangannya sendiri.

Untuk pertama kalinya, tawanya berhenti.

Tri berkata pelan, “Satu.”

Penonton menangkapnya.

Sorakan berubah.

Bang Somad di pinggir arena menggenggam pagar begitu keras sampai buku jarinya putih.

Malaikat Maut meraung.

Kali ini ia tidak bermain.

Mecha hitam itu menekan dengan kecepatan penuh. Cakar kanan, lutut, bahu, kaki, semua bergerak untuk menghancurkan nomor tujuh belas. Tri tidak bisa menang dalam adu respons. Ia tidak mencoba.

Ia membiarkan nomor tujuh belas dipukul.

Satu pukulan menghancurkan pelat dada luar.

Satu tendangan membuat pinggang kiri macet.

Satu tebasan membuka punggung mesin.

Setiap kerusakan ia tukar dengan sentuhan kecil.

Satu kabel di ketiak kanan.

Satu pengunci di lutut kiri.

Satu mur pengarah di pinggang.

Satu panel sensor di bahu.

Penonton tidak mengerti pada awalnya.

Mereka hanya melihat Mecha abu-abu tua itu makin hancur, sementara Mecha hitam tetap berdiri.

Lalu Malaikat Maut mencoba memutar pinggang.

Gerakannya tersendat.

Ia mencoba mengangkat kaki kiri.

Lututnya terlambat.

Ia mencoba mencengkeram kepala nomor tujuh belas.

Sensor bahunya membaca jarak salah.

Tri tersenyum tipis.

“Dua.”

Malaikat Maut sadar terlalu lambat.

Nomor tujuh belas yang tinggal satu tangan masuk ke sisi kanan tubuhnya, telapak mekanik menghantam bagian bawah siku yang tadi sempat terkunci. Bukan pukulan keras. Pukulan terarah pada poros yang sudah dipaksa menahan beban salah selama lima gerakan.

KRAK.

Pelindung siku kanan Mecha hitam terbuka.

Kilatan pucat muncul utuh.

Kristal sendi berwarna emas pucat.

Arena seolah menahan napas.

Tri melihatnya.

Sangat mahal.

Sangat salah.

Malaikat Maut berusaha menarik tangan, tetapi pengunci rotasinya sudah macet. Tri memasukkan jari mekanik nomor tujuh belas ke celah kristal, menekan pelepas perawatan, lalu memutar berlawanan arah.

Kristal itu keluar.

Lengan kanan Mecha hitam jatuh lemas.

Penonton meledak.

“Dia mencabutnya!”

“Apa itu kristal emas?”

“Tunduk pada Nasib!”

Malaikat Maut menjerit.

Bukan karena sakit.

Karena untuk pertama kalinya, mainannya diambil.

Tri menyimpan kristal itu di kompartemen dada nomor tujuh belas yang masih bisa terkunci. “Tiga.”

Di ruang VIP, Rara berdiri.

Kuku merahnya menancap di pagar.

Malaikat Maut kehilangan kendali amarah. Ia menerjang dengan lengan kiri, berusaha mengakhiri semuanya dengan satu cengkeraman ke kokpit.

Tri menunggu.

Inilah perbedaan antara orang yang membongkar untuk menang dan orang yang merusak untuk senang.

Yang pertama tahu kapan berhenti.

Yang kedua selalu memberi satu gerakan lagi.

Saat cakar kiri datang, Tri memiringkan kokpit nomor tujuh belas, membiarkan cakar menggores dada, lalu menancapkan pisau cahaya rusak ke bawah bahu kiri lawan. Bilahnya hanya menyala setengah, tetapi cukup untuk memotong lapisan pengaman.

Tangan kanan nomor tujuh belas menarik kabel utama.

Lengan kiri Malaikat Maut mati.

Tri menendang lututnya.

Lutut kiri yang tadi sudah dibuat terlambat akhirnya patah poros.

Mecha hitam jatuh berlutut.

Tri naik ke punggungnya.

Seperti yang ia lakukan pada si Otot Merah Muda.

Seperti yang ia lakukan pada semua mesin sombong yang lupa bahwa bagian dalamnya tetap harus dibuka oleh seseorang.

Satu tangan nomor tujuh belas membuka pelat punggung.

Penonton berdiri.

Malaikat Maut berteriak, “Berhenti! Kau tahu siapa kakakku?”

Tri berhenti satu detik.

Lalu ia menarik jalur pendingin utama.

Asap putih menyembur.

“Tidak,” kata Tri. “Dan itu bagian terbaik malam ini.”

Ia menekan tombol pelepas darurat mesin inti.

Mecha hitam kehilangan tenaga.

Tubuhnya roboh ke lantai.

Panel arena menyala merah.

LAWAN TIDAK DAPAT BERGERAK.

Hitungan mundur mulai.

Malaikat Maut masih memaki. Ia mencoba membuat sistem cadangan menyala. Tidak bisa. Tri sudah mencabut jalurnya.

Sepuluh.

Tri berdiri di atas punggung Mecha hitam.

Sembilan.

Nomor tujuh belas tinggal satu lengan, dada terbuka, punggung berasap, tetapi masih berdiri.

Delapan.

Penonton mulai meneriakkan Tunduk pada Nasib.

Tujuh.

Rara menatap dari VIP, wajahnya tidak lagi santai.

Enam.

Bang Somad tertawa seperti orang baru saja selamat dari utang.

Lima.

Tri melihat kepala Mecha hitam di bawahnya.

Empat.

Ia bisa merobeknya.

Tiga.

Ia bisa membalas cara yang sama.

Dua.

Tetapi ia bukan Malaikat Maut.

Satu.

“Pemenang, Tunduk pada Nasib!”

Lampu hijau menyala.

Suara lantai tiga pecah menjadi badai.

Tri melepas antarmuka dan keluar dari kokpit. Kakinya hampir menyerah saat menyentuh lantai, tetapi ia memaksa tubuh tetap lurus. Bau logam panas dan darah dari pilot lain masih menggantung di udara.

Malaikat Maut ditarik keluar dari kokpit oleh petugas arena. Ia masih sadar, masih memaki, tetapi wajahnya pucat saat melihat Mecha hitamnya terbaring tanpa kedua lengan, satu lutut hancur, punggung terbuka, dan siku kanan kosong.

Orang yang suka memamerkan kepala lawan kini melihat mesin kesayangannya menjadi bangkai pajangan.

Tri berjalan ke tengah arena.

Nomor tujuh belas di belakangnya runtuh perlahan ke satu lutut, akhirnya mati juga.

Layar pembayaran menyala.

Hadiah Hari Pembantaian: 500.000 kredit.

Bonus tontonan: 1.200.000 kredit.

Bagian taruhan pendatang baru: 3.300.000 kredit.

Potongan perantara dan perbaikan: berjalan.

Total sementara diterima: 5.000.000 kredit.

Angka itu membuat banyak orang berteriak lebih keras.

Tri hanya melihat satu baris lain:

Barang rampasan legal: satu kristal sendi emas pucat, status menunggu verifikasi.

Bagus.

Ia mengangkat tangan kanan, memperlihatkan kristal emas pucat yang baru saja ia ambil dari kompartemen nomor tujuh belas. Cahaya arena memantul di permukaannya, dingin, halus, terlalu bersih untuk tempat kotor ini.

Di VIP, Rara membuka kaca sepenuhnya.

“Tunduk pada Nasib.”

Suaranya tidak keras, tetapi pengeras ruang VIP menangkapnya. Lantai tiga perlahan sunyi.

Kuku merahnya mencengkeram pagar.

“Aku ingat kau.”

Tri menatapnya dari bawah.

Ia tidak tahu siapa wanita itu selain kakak atau pemilik Malaikat Maut.

Ia juga tidak peduli.

Aturan tempat ini jelas.

Dendam harus naik ke arena.

Ia memasukkan kristal emas pucat ke saku dalam jaket, lalu berbalik.

“Ingat yang benar,” katanya tanpa mengangkat suara. “Kalau lain kali kau kirim orang naik, pastikan dia membawa Mecha yang lebih sulit dibongkar.”

Rara tersenyum dingin.

“Kau pikir aku tidak akan turun sendiri?”

Tri berhenti di tepi arena, menoleh sedikit.

“Turun saja,” katanya. “Tapi jangan bawa barang yang masih kau sayangi.”

Untuk satu detik, seluruh lantai tiga tidak bergerak.

Lalu para penonton pria yang sejak tadi menahan napas meledak dalam teriakan, tawa, dan pukulan ke pagar.

Tunduk pada Nasib.

Tunduk pada Nasib.

Di tengah suara itu, Tri berjalan turun dari arena dengan punggung lurus, satu kristal tingkat S tersembunyi di jaket, lima juta kredit di akun, dan satu musuh baru yang kuku merahnya masih menancap di pagar VIP.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!