Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
Pagi hari di SMA Garuda Bangsa diwarnai angin lembut pertengahan minggu. Sejak insiden tangis di taman belakang sekolah Jumat lalu, Naya merasakan ada perubahan tak kasat mata dalam cara Arka bersikap padanya.
Cowok itu masih Arka yang sama: kaku, menyebalkan, dan tak pernah absen mengkritik kelakuan Naya yang ajaib. Tapi di balik tatapan matanya yang dingin, ada bentuk perhatian samar yang mulai sering menyelinap tanpa permisi.
"Naya Aurelia, tali sepatu kamu lepas," tegur Arka tajam saat mereka berpapasan di koridor utama dekat mading.
Naya menghentikan langkahnya, mendongak menatap sang Ketua OSIS yang berdiri tegak dengan ban lengan biru khasnya. "Iya, nanti dipasang lagi pas sampai kelas. Bawel banget sih."
"Nanti kalau kamu tersandung terus jatuh, lantai porselen koridor ini yang kotor gara-gara lutut kamu," sahut Arka datar, melangkah melewatinya begitu saja tanpa menoleh lagi.
Naya menghentakkan kakinya kesal, tetapi ujung bibirnya justru tertarik membentuk senyuman tipis. Bicaranya tetap pedas, tapi mata tuh cowok tadi sempet ngeliat kets gue dua kali, batin Naya sambil membungkuk mengikat tali sepatunya.
Suasana jam istirahat pertama di kelas 12 IPS 2 berlangsung riuh seperti biasa. Naya duduk menyandar lemas di kursinya dengan tangan memegangi perut yang bernyanyi nyaring.
"Duh, laper banget..." keluh Naya pada Saskia yang sedang asyik memoleskan lip balm di depan cermin kecil.
"Bekal lo mana, Nay? Tumben nggak dibawain sama Tante Maya?" tanya Saskia tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.
"Tadi pagi gue buru-buru, ketinggalan di atas meja makan," rintih Naya, membenamkan wajahnya ke atas meja porselen. "Mana dompet gue cuma isi sisa uang lima ribuan lagi. Mau beli batagor di kantin juga mana cukup."
"Lagian lo kebiasaan banget deh, grusa-grusu," balas Saskia sambil tertawa kecil. "Nanti gue bagi siomay deh pas gue balik dari kantin."
Saskia beranjak keluar kelas. Tinggallah Naya sendirian di mejanya, merutuki nasib perutnya yang makin tidak beradu ramah.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan berbunyi dua kali di pinggir kusen pintu kelas 12 IPS 2 yang terbuka.
Naya mendongak malas. Matanya serta-merta membelalak kaget saat melihat sosok yang berdiri di sana.
Arka.
Laki-laki itu celingukan sebentar mengamati koridor kelas IPS yang agak sepi, lalu melangkah masuk dengan tenang membawa sebuah kotak bekal plastik tebal transparan berwarna biru muda. Tanpa memedulikan tatapan heran dua orang siswa IPS yang berada di sudut belakang kelas, Arka berjalan lurus menghampiri meja Naya.
Puk.
Arka meletakkan kotak bekal itu tepat di atas meja Naya. Di dalamnya terlihat gulungan kimbap buatan rumah yang diiris rapi, lengkap dengan dua potongan sandwich telur dan sosis panggang.
Naya mengerutkan keningnya bingung, menatap kotak bekal itu lalu berpindah menatap wajah datar Arka. "Ini... apaan?"
"Makanan," sahut Arka singkat, merapikan letak jam tangan di pergelangan kirinya.
"Ya gue tahu ini makanan! Maksud gue, kenapa lo kasih ke gue?!" bisik Naya heran.
"Tadi pagi Ibu titip dua kotak bekal buat saya," terang Arka dengan nada suara teratur, tipikal alibi logis yang selalu disiapkannya. "Saya tidak sanggup menghabiskan dua-duanya. Daripada mubazir dan tidak ada yang makan, lebih baik saya kasih ke kamu."
Naya menyipitkan matanya penuh curiga. "Tapi kan lo bisa kasih ke Dito atau anak OSIS lain?"
Arka menatap Naya lurus-lurus, menyilangkan tangannya di dada. "Sebab kalau kamu lupa membawa bekal dan tidak punya uang untuk beli makan di kantin, kamu bakal pingsan saat jam pelajaran Sejarah nanti. Dan kalau kamu pingsan, wali kelas kamu bakal manggil saya sebagai Ketua OSIS buat bawa kamu ke UKS. Daripada saya yang repot, lebih baik kamu makan ini."
Naya melongo mendengar penjelasan panjang lebar nan ajaib dari cowok di hadapannya. Ia ingin sekali marah karena dituduh bakalan pingsan dan merepotkan, tetapi aroma harum sandwich telur buatan Tante Elena yang menembus kotak bekal itu keburu menggoyahkan iman perutnya.
Naya mendengus pelan, meraih kotak bekal tersebut. "Alasan lo selalu rapi banget ya, Pak Ketua. Padahal bilang aja kalau lo perhatian sama gue, apa susahnya sih?"
Rona merah tipis mendadak merayap samar di ujung telinga Arka. Laki-laki itu berdeham kaku, mengalihkan pandangannya ke jendela luar kelas.
"Jangan banyak bicara. Makan saja," potong Arka cepat, berusaha menguasai raut tenangnya kembali. "Habiskan, lalu cuci tempatnya sebelum dibawa pulang ke rumah."
Arka memutar tubuhnya dan melangkah keluar kelas 12 IPS 2 dengan agak terburu-buru, meninggalkan Naya yang memandangi punggung tegapnya sambil tersenyum lebar tanpa sadar.
Naya membuka tutup kotak bekal itu, menyantap sepotong sandwich dengan lahap. "Nyebelin sih... tapi ternyata perhatian juga," gumam Naya manis, merasa perut dan hatinya mendadak sama-sama hangat.
Sementara itu, Arka berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang OSIS. Tangannya yang masuk ke dalam saku celana meremas kunci mobilnya erat-erat.
Di dalam dadanya, ada ritme detak jantung abnormal yang terus berpacu sejak ia melangkah keluar dari kelas Naya tadi.
Arka menghentikan langkahnya di dekat jendela koridor yang menghadap ke lapangan tengah. Laki-laki itu menyandarkan telapak tangannya di pembatas semen, menatap langit biru di atas sekolah.
Kenapa aku harus peduli? tanya Arka pada dirinya sendiri dalam hati.
Kenapa tadi pagi saat ia melihat Naya terburu-buru keluar rumah tanpa membawa bekal, tangannya secara refleks menyambar kotak bekal kedua di atas meja makan? Kenapa sepanjang jam pelajaran pertama otaknya terus dipenuhi bayangan Naya yang bakalan kelaparan saat istirahat?
Dan yang paling menakutkan dari semuanya... kenapa senyum tipis di bibir Naya saat menerima bekal tadi sanggup membuat seluruh kepalanya terasa begitu ringan?
Arka memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang amat dalam.
Gadis cerewet, keras kepala, dan pembuat masalah yang selama dua tahun ini paling membuat hidupnya kacau... perlahan-lahan telah menjelma menjadi satu-satunya alasan mengapa kepalanya tak pernah bisa tenang lagi.
Arka memegang dadanya yang berdebar halus. Tembok pertahanan logika yang ia bangun bertahun-tahun kini benar-benar runtuh, menyisakan satu pertanyaan besar yang paling enggan ia akui: sejak kapan keberadaan Naya menjadi begitu penting baginya?