Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Awal yang beraroma manis.
Langit masih diselimuti warna biru gelap ketika alarm di samping tempat tidur berbunyi pelan. Pukul tiga tepat.
Viola Shania membuka mata tanpa perlu menekan tombol tunda. Kebiasaan bangun sebelum matahari terbit telah melekat padanya sejak bertahun-tahun lalu. Dulu ia melakukannya untuk menyiapkan rapat, memeriksa laporan keuangan, atau mengejar penerbangan menuju kota lain. Kini, alasannya jauh lebih sederhana.
Viola merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Air dingin membasuh wajah dan tubuhnya, mengusir sisa kantuk yang masih tertinggal. Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna krem, celana hitam yang nyaman, dan celemek cokelat bertuliskan nama toko kecilnya. Sweet Cake. Sebuah nama sederhana, sama sederhananya dengan kehidupan yang ia pilih.
Bangunan sederhana berlantai dua itu ia sewa menggunakan tabungan selama bekerja dulu. Lantai bawah disulap menjadi toko sekaligus area produksi, tempat berbagai cake dan kue dipajang di dalam etalase. Sementara lantai atas menjadi tempat tinggalnya. Pilihan itu sengaja diambil agar ia bisa mulai bekerja kapan saja tanpa harus menempuh perjalanan lebih dulu.
Membuka toko kue bukanlah keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Jauh sebelum meninggalkan pekerjaanya, Viola telah menyimpan kecintaan yang besar terhadap dunia baking. Di sela kesibukannya sebagai CEO, ia selalu meluangkan waktu untuk membuat berbagai jenis cake, roti, dan dessert di dapur mansion. Kue-kue itu lalu ia bagikan untuk seluruh pekerja di sana.
Tak ada yang menyangka, hobi yang selama ini hanya menjadi pelarian dari penatnya pekerjaan justru berubah menjadi awal kehidupan barunya.
Viola mengikat rambut panjangnya sebelum membuka pintu. Udara pagi yang dingin langsung menyambut wajahnya. Jalanan di pinggiran kota masih tampak lenggang.
Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Begitu membuka pintu toko ia langsung menuju dapur produksi yang berada di bagian belakang.
Satu per satu lampu dinyalakan hingga ruangan itu dipenuhi cahaya hangat. Dapur itu memang tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi. Rak-rak berisi tepung, gula, cokelat, mentega, vanila, dan berbagai bahan lain tersusun berdasarkan ukuran. Mixer berdiri di sudut meja stainless, sementara oven besar yang menjadi investasi termahalnya tampak mengkilap setelah dibersihkan sebelum ia tidur.
Viola menghembuskan napas pelan sambil mengusap permukaan meja stainless di hadapannya. Senyum tipis terbit di bibirnya. "Lakukan yang terbaik, Viola," gumamnya penuh semangat.
Tanpa menunda waktu lagi, ia mulai menimbang tepung, gula, dan mentega, lalu mulai meracik adonan pertama. Hari ini ia berencana membuat lebih dari dua puluh jenis cake, roti, dan dessert. Jumlah yang cukup banyak mengingat akhir pekan pelanggan meningkat dibandingkan hari biasa.
Suara dengung mesin mulai memenuhi ruangan, Viola memperhatikan perubahan warna adonan yang perlahan menjadi lembut dan mengembang.
Sambil menunggu adonan pertama siap, ia memanaskan oven, lalu beralih membuat adonan croissant yang membutuhkan proses laminasi cukup panjang. Mentega khusus pastry dibungkus rapi di dalam adonan sebelum digilas dan dilipat berulang kali hingga membentuk lapisan-lapisan tipis yang nantinya menghasilkan tekstur renyah sekaligus lembut.
Gerakannya begitu terampil, tak ada sedikit pun keraguan. Sulit dipercaya jika dulu kedua tangan yang kini dipenuhi tepung lebih sering menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah daripada memegang spatula. Namun, justru di dapur inilah ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, bunyi pengingat waktu terdengar nyaring. Viola mengenakan sarung tangan tahan panas, lalu membuka pintu oven. Gelombang udara hangat langsung menyeruak keluar. Ia memasukkan loyang berisi adonan ke dalamnya.
Sejak awal merintis toko kue itu, Viola tidak bekerja seorang diri. Ia sengaja merekrut tiga orang karyawan untuk membantunya menjalankan usaha itu.
Jarum jam menunjukkan pukul empat kurang lima menit ketika suara bel pintu depan berbunyi. Karyawan pertama datang dengan senyum ceria. "Selamat pagi, Bu Viola," sapanya hangat.
"Pagi, Rani," sahut Viola sambil membalas senyum. "Kamu datang lebih cepat hari ini."
Rani terkekeh kecil. "Siapa tahu bisa langsung naik gaji."
Tak lama kemudian, dua karyawan lainnya menyusul masuk.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Dimas dan Siska hampir bersamaan.
"Pagi. Ayo kita mulai. Pagi ini, Bu Mela memesan croissant cukup banyak dan minta dikirim sebelum pukul delapan," ujar Viola.
Ketiga segera mengenakan celemek dan mencuci tangan sebelum mengambil tugas masing-masing.
***
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Aroma mentega, cokelat, dan vanila memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan loyang yang semula memenuhi rak pendingin kini mulai berpindah ke etalase kaca di bagian depan toko.
Rani menata Croissant dan Pain au chocolate di rak paling atas. Lapisan pastry yang berwarna keemasan tampak mengilap terkena cahaya lampu.
Sementara itu, Siska dengan teliti menghias potongan red Velvet, Cheesecake, dan tiramisu menggunakan buah stroberi segar serta daun mint. Sentuhan sederhana itu membuat setiap potong cake terlihat semakin menggugah selera.
Di sisi lain, Dimas menyusun aneka roti isi, cinnamon roll, dan roti susu ke dalam keranjang rotan yang telah dialasi kain bersih.
Viola sendiri sibuk mengisi dessert ke dalam mika bening. Mousse cokelat, panna cotta, puding caramel, hingga mango cheesecake tersusun cantik dengan ukuran yang seragam. Setelah semuanya selesai, ia menutup setiap mika dengan penutup transparan sebelum menempelkannya dengan stiker Sweet Cake.
Ia kemudian melangkah ke depan toko. Tatapannya menyapu seluruh isi etalase. Aneka roti tersusun rapi di rak kiri. Berbagai cake dengan warna-warni cantik memenuhi rak tengah, sementara dessert dingin berjajar di dalam lemari pendingin sebelah kanan. Semuanya terlihat sederhana, tetapi dibuat dengan penuh ketelitian.
Senyum puas mengembang di wajah Viola. "Semua hampir selesai. Hanya tinggal membuat pesanan untuk diantar siang nanti."
Rani ikut memandangi etalase sambil tersenyum bangga. "Kalau tampilannya seperti ini, pelanggan pasti bingung mau pilih yang mana, Bu."
Viola terkekeh pelan.
"Semoga saja mereka memutuskan untuk membeli semuanya," sahut Siska.
Candaan sederhana itu langsung mengundang tawa Rani dan Dimas.
Suasana hangat memenuhi toko mungil itu. Tak ada jarak antara pemilik dan karyawan. Bagi Viola, mereka adalah rekan yang sama-sama sedang merintis dari awal.
Tatapan Viola beralih pada Dimas yang sedang memasukkan beberapa kotak croissant ke dalam boks pengantaran. "Pesanan Bu Mela sudah siap?"
"Sudah, Bu. Tinggal saya antar."
Viola mengangguk puas. "Kurasa kita harus mulai mencari satu karyawan lagi."
Rani dan Siska saling berpandangan.
"Benar juga, Bu," sahut Siska. "Apalagi kalau akhir pekan seperti ini. Pelanggan terus berdatangan, sementara pesanan antar juga semakin banyak."
"Tolong buatkan pengumuman lowongan kerja. Tempelkan di depan toko dan unggah juga ke media sosial Sweet Cake," ujar Viola.
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian, Dimas berpamitan untuk mengantar pesanan. Sementara Rani dan Siska mulai bersiaplah membuka toko.
Viola memilih beristirahat sejenak. Ia menuangkan secangkir kopi hangat, lalu duduk di salah satu meja dekat jendela. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada televisi yang tergantung di sudut ruangan. Siaran berita pagi tengah berlangsung.
"Kabar gembira tengah menyelimuti Jayendra Group dan Dhanubrata Group. Kelahiran anak kembar dari pasangan pewaris dua perusahaan besar membuat saham keduanya melonjak tajam. Ucapan selamat pun terus mengalir dari berbagai kalangan pengusaha dan tokoh masyarakat."
Layar televisi kemudian menampilkan sebuah keluarga yang berdiri di depan rumah sakit dengan senyum bahagia. Kilatan kamera para wartawan tak henti-hentinya menyinari wajah mereka.
Menghentikan gerakan tangannya, untuk sesaat tatapan Viola membeku. Namun, kemudian senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Selamat atas kelahiran kalian ... Keponakan-keponakanku tersayang," gumamnya pelan.
*****Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor