NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.

Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Begitu sampai di rumah beberapa pengawal mulai mendekati dan melindungi keduanya dari serangan berikutnya. Leon merangkul istrinya dan berlari kecil memasuki istana miliknya.

Emily menjauhkan tangan Leon dari pundaknya ketika sudah berada di dalam. Ia kemudian melangkah cepat menuju kamarnya yang kini berada di lantai atas.

Leon pun menyusulnya dan mencoba meminta maaf.

"Aku akan memaafkanmu asal kau melepaskanku!" tegas Emily.

"Aku tidak bisa Emily!" tolak Leon.

"Apa karena Mama Caroline belum melunasinya?" tanya Emily.

"Ya," jawab Leon singkat.

"Jika memang mereka mendapatkan uangnya, maka kau harus memenuhi janjimu untuk melepaskan aku!" kata Emily.

"Aku akan menepati janjiku!"

-

Malam hari ini begitu dingin, Emily memilih cuek dan diam. Ia ingin menjaga jarak dengan suaminya biar ketika mereka berpisah tak ada rasa sakit kehilangan. Jarum jam terus berputar, keduanya belum juga memejamkan matanya.

Suara ponsel Leon mengalihkan perhatian keduanya, Leon meraih benda itu di nakas tepat disampingnya. Ia lalu menjawabnya, "Halo!"

"Aku segera ke sana!" ucap Leon selanjutnya, kemudian ditutup. Ia bergegas turun dari ranjang, membuka lemari mengambil mantel jubah panjang dan memakainya.

Tanpa pamit, Leon dengan cepat keluar dari kamarnya.

Emily yang belum tertidur bangkit dan berdiri, ia melangkah menuju jendela dan melihat kepergian suaminya dari kejauhan.

Leon yang sudah berada di halaman, menghentikan langkahnya. Menoleh sejenak ke belakang dan mendongakkan kepalanya ke arah jendela kamarnya. Terlihat Emily sedang berdiri melemparkan pandangan kepadanya.

Leon tak tersenyum, ia melangkah cepat masuk ke mobil. Membiarkan Emily dalam hati penasaran.

Emily menutup kembali gorden jendela, ia menghela napas.

"Sampai kapan aku hidup penuh kewaspadaan begini?" gumamnya.

***

Keesokkan paginya, Emily tak menemukan Leon disampingnya. Ia turun menanyakan keberadaan suaminya kepada Karin.

"Tuan Leon tak pulang semalam, Nona!"

Emily ingin bertanya lagi, pasti dia akan menerima jawaban singkat dari wanita yang ada dihadapannya.

"Nona, tenang saja. Tuan Leon baik-baik saja!" ucap Karin.

"Aku tidak peduli apapun yang terjadi dengannya!" kata Emily terlanjur kecewa dan sedih.

Karin pun terdiam.

Emily kembali ke kamar, ia duduk di ujung ranjang dan menangis. Hidupnya kini dalam dilema. Suaminya memberikan semua fasilitas mewah tetapi tidak dengan keamanan dan kenyamanan. Hidupnya malah penuh rasa was-was.

Pagi ini Emily sengaja mogok sarapan agar Leon pulang. Namun, kenyataannya tak seperti dibayangkannya. Leon masih belum juga kembali. Emily semakin kesal dan marah dengan sikap suaminya itu. Dia berjanji dan bertekad, jika Mama Caroline membayar semua utangnya maka dirinya akan memilih tinggal bersama mereka.

Siang harinya, Emily juga melakukan gerakan mogok makan. Ia tak memperdulikan kesehatannya. Seandainya sakit, mungkin kesempatan kabur dari rumah sakit adalah cara yang tepat asal tak ketahuan para pengawal.

Emily akhirnya menyerah, sore harinya ia merasakan lapar yang sangat hebat. Hari ini ia memilih tak latihan dan belajar apapun. Emily meminta pelayan membuatkan makanan.

Selang 30 menit selesai mengisi perutnya, Emily menghampiri Karin, "Ke mana perginya dia?"

"Maksudnya Nona, Tuan Leon?"

"Ya, siapa lagi?" ketus Emily.

"Saya tak tau!" kata Karin.

"Sudah aku duga kau akan menjawabnya seperti itu!" kesal Emily.

"Maaf, Nona."

"Apa mungkin dia sudah mati?" tanya Emily.

Karin menggelengkan kepalanya.

"Aaargghh...susah bicara denganmu!" Emily yang sangat kesal memilih berlalu.

***

Pagi harinya, Emily akhirnya bertemu dengan suaminya. Leon masih tertidur meskipun jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi.

Emily pelan-pelan turun dan melangkah ke kamar mandi.

Begitu selesai membersihkan tubuhnya, Emily tak melihat keberadaan suaminya. Ia bergegas memakai pakaiannya dan menyisir rambutnya.

Setelah rapi, Emily keluar dari kamar. Ia lalu bertanya kepada seorang pelayan wanita yang kebetulan melintas dihadapannya, "Apa kau melihat Tuan Leon?"

"Tuan berada di taman, Nona."

Emily lalu menuju taman belakang dan melihat Leon yang sedang berdiri memperhatikan burung-burung menikmati makanannya.

Emily menghampiri Leon, ia berdiri sejajar dengan pria itu.

"Maaf, aku tidak memberitahumu dan mengabarkanmu!" ucap Leon tanpa menatap istrinya yang berada disampingnya.

"Kau tidak menganggap aku sebagai istri, aku ini adalah alat untuk mengalihkan perhatian para musuhmu!" tuding Emily.

Leon menoleh ke arah istrinya, ia tersenyum getir.

"Jika aku sudah keluar dari rumah ini, orang yang pertama tak mau aku temui lagi adalah kau!" tegas Emily.

Leon menghela napas panjang.

Emily berbalik badan dan hendak kembali ke kamar, namun tangan Leon menghentikan langkahnya.

Leon memegang lengan istrinya sambil berkata, "Sebelum kita berpisah bolehkah aku meminta hakku."

Deg..

"Aku bisa saja memaksamu, tapi aku tidak akan melakukannya!" kata Leon.

"Cari wanita lain, aku tidak mau mengandung anakmu!" Emily menurunkan tangan suaminya dari lengannya. Ia kemudian melangkah cepat menuju kamarnya.

Leon sejenak berpikir tentang kata-kata yang terakhir. "Apa sebenarnya dia bersedia mengandung anakku asal aku mengikuti ucapannya?" batinnya.

***

Seminggu berlalu, hubungan keduanya semakin renggang. Emily makin pelit bicara apalagi Leon juga jarang di rumah.

"Nanti malam ada pesta perayaan rekan bisnis. Apa kau mau ikut?" Leon mengajak istrinya.

"Bukankah kau tidak mau aku dilihat para musuhmu?" singgung Emily.

"Setelah kita berpisah, aku akan umumkan kabar itu dan mereka pasti berhenti mengejarmu!" janji Leon.

"Aku tidak biasa menghadiri acara pesta konglomerat!" sindir Emily.

"Suatu hari nanti kau pasti sering menghadiri acara itu!"

Emily tersenyum getir.

"Anggap saja ini sebagai permintaan terakhirku!" kata Leon.

"Hmmm... baiklah, aku bersedia menemanimu!"

-

Malam harinya, Leon pun mengajak istrinya ke sebuah acara pesta. Kehadiran keduanya mencuri perhatian para tamu undangan yang lainnya. Untuk pertama kalinya, Leon datang bersama seorang wanita yang juga merupakan istri sah. Biasanya, Leon hadir ditemani Charles atau sekretaris kantornya, Ben.

"Wow, akhirnya Leon Anderson memperkenalkan istri tercintanya!" Jason, 30 tahun, melirik Emily.

Leon hanya tersenyum datar.

"Wanita dari kalangan mana yang berhasil mencuri hatimu?" tanya Jason penasaran.

"Kau tidak perlu tau!" jawab Leon.

"Apa dia wanita hasil tebusan?" celetuk Jason.

Leon lantas melemparkan tatapan tajam.

"Ups, sorry!" Jason menutup mulutnya.

"Kau tidak perlu mencampuri urusanku, carilah kesenanganmu sendiri!" kata Leon kemudian memegang jemari istrinya dan menyapa tamu lainnya.

Sejam berada di pesta membuat Emily tak merasa nyaman, apalagi ia juga sangat mengantuk. Dia meminta suaminya agar pulang, namun Leon menolaknya dengan alasan ingin berbicara dengan rekan bisnisnya yang kebetulan juga hadir.

Leon lalu meminta Charles mengantarkan pulang Emily.

Leon pun melanjutkan obrolannya bersama tamu lainnya.

Sementara itu, diantara para tamu yang hadir di acara pesta ada seseorang yang memasukkan sebuah bubuk ke dalam minuman Leon. Ia menyuruh pelayan menawarkan minumannya.

Leon yang sangat haus lantas mengambil minuman yang ditawarkan pelayan. Ia meneguknya sampai kandas.

Dalam hitungan menit, obat itu mulai bekerja. Para musuh memanfaatkan ketidakadaan Charles di sisi Leon.

Leon pun mengalami pusing dan rasa ngantuk yang sangat hebat. Ia mencoba duduk dan menarik napas perlahan untuk menghilangkan efeknya. Namun, usahanya seperti sia-sia.

Beruntung, Charles segera datang dan menghampirinya, "Tuan, apa yang terjadi?"

"Sepertinya ada seseorang yang ingin menjebakku," Leon masih mendengar dan melihat jelas sosok di dekatnya.

"Apa kita ke rumah sakit saja?" Charles menawarkan solusi.

"Antar aku ke rumah saja!" kata Leon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!