Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Seolah dunianya berhenti berputar. Hawa mematung tak bergerak. Seakan-akan jantungnya tak berdetak lagi.
Sebaliknya, seseorang yang membuka pintu rooftop juga berdiam diri melihat dua murid laki-laki dan perempuan. Murid laki-laki itu tak lain adalah ketua Osis sekolah ini. Sedang berada di rooftop bersama adik kelasnya. Mencurigakan. Yah tentu saja hal pertama yang dicurigai tentu saja mereka mempunyai masalah apa.
"Sedang apa kalian disini?" seru Shela mengernyitkan dahinya.
"Hanya bersantai, siapa aja bisa datang kesini kan?! Apa ada masalah Shel?" Hasby menanggapi santai. Hawa sudah berkeringat dingin.
"Nggak By,,, aku kira kalian saling kenal, terus duduk berdua disini," Shela menjawab lembut, tersenyum manis.
"Kalau memang kenal ya nggak apa-apa,, emang kenapa?" tutur Hasby lagi.
"Aah kak Shela, saya tadi nggak sengaja duduk disini tanpa tahu ada kak Hasby disini. Ya sudah saya turun duluan kak," sela Hawa membawa pergi sampah makanannya tadi. Berjalan melewati Shela dan mengangguk tipis pada Hasby.
Hawa menuruni tangga dan berjalan kembali ke kelasnya. Ketika melewati lorong dan masih banyak siswa-siswi yang bergerombol diluar kelas terdengar kasak kusuk. Mereka melihat Hawa dan berbisik-bisik lagi, Hawa tak menghiraukannya.
Ia terus saja berjalan melewati mereka menuju kelasnya. Ternyata Asrina sudah duduk di bangkunya sambil membaca buku pelajarannya.
Hawa duduk dengan pelan dan santai.
"As, apa ada PR selanjutnya?"
"....nggak," ketus Asrina menutup bukunya keras. Matanya memerah. Terlihat bekas menangis.
Hawa tersentak kaget, melihat Asrina seperti orang yang akan meledakan amarahnya.
"Ada apa As? aku minta maaf karena ninggalin kamu sendirian, maaf banget ya As," Hawa mengatupkan kedua tangannya memasang wajah sedih.
"Aku nggak masalah mau makan sendiri tapi yang aku nggak suka itu gosip yang langsung tersebar, katanya kamu suka menggoda kak Dika dan Kak Hasby. Apa mereka seenggak ada kerjaan itu sampai-sampai bergosip sekarang," sungut Asrina, Hawa terkejut, kenapa ia nggak tahu kalau ada gosip tentang dirinya.
Ia mengingat selama perjalanan dari rooftop ke kelas, ternyata bisik-bisik dan memandangnya sinis itu tengah membicarakan dirinya.
"Apa kamu mempercayai gosip itu As?" Hawa
Mengerling temannya yang tengah terbakar amarah itu.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin kamu seperti itu Wa. Jangan kasih mereka panggung, hajar Wa!" seru Asrina mengepalkan tangannya. Siap untuk meninju orang.
"Ya sudah. Biarkanlah,, tidak usah ditanggapi. Yuk kita belajar saja!" Hawa merangkul Asrina gemas. Karena temannya itu mudah terpancing emosinya.
"Nggak bisa dong Wa, kak Hasby harus tahu," gumamnya pelan, takut didengar oleh teman-temannya yang lain.
"Jangan As, biarin aja. Udah ah nggak usah di bicarakan lagi," tolak Hawa tegas. Ia malas kalau ada yang nggak benar seperti itu.
Asrina hendak membuka mulutnya langsung dibekap oleh Hawa. Hawa tertawa melihat temannya yang protes lewat tatapan tajamnya. Kalau tidak dihentikan pasti bakalan panjang.
Tiba saatnya pulang sekolah. Hawa segera turun ke parkiran dengan Asrina, ia naik ke jok belakang. Meminta Asrina mengantarkannya pulang, sekalian mereka ingin pergi ke toko buku.
Hawa mengeluarkan gawainya dan memberi tahu Hasby.
[Assalamu'alaikum Kak, aku pulang bareng Asrina dan mau sekalian ke toko buku ya]
Asrina mengendarainya santai, karena ia sudah lama tidak naik motor bersama temannya itu. Mereka langsung menuju ke toko buku langganannya. Sebelum memasuki toko buku, mereka melipir membeli bakso terlebih dahulu. Aroma bakso yang terletak disamping toko buku membuat perut keduanya berbunyi pelan. Mereka saling pandang, lantas tertawa.
Keduanya memutuskan untuk menikmati bakso terlebih dahulu. Mengisi perut sebelum berburu buku. hehehe.
Getaran gawainya mengalihkan fokusnya, segera ia buka dan membacanya.
[Tunggu aku! di toko buku biasanya kan?]
[Iya kak, aku ingin bareng Asrina kak. kakak langsung pulang aja]
[Nggak. Tunggu aku!]
[Iya kak.]
Menghela napas sebentar dan kembali menikmati baksonya. Asrina mengangkat bahunya. "Dasar, bucin" bathin Asrina.
Asrina dengan tidak sabarannya menarik tangan Hawa menuju rak buku yang tengah dicarinya. Banyak buku tertara rapi, berjajar dengan tertibnya. Sungguh pemandangan yang membuat pecintanya terpesona.
Pandangan Hawa tertambat pada sebuah buku, membacanya sekilas. Sudut matanya menangkap bayangan seseorang, ia menoleh cepat dan diujung lorong berdiri suaminya.
Rambut yang berantakan, garis rahangnya yang tegas, menambah pesonanya. Hawa mendekatinya perlahan, sambil sesekali mencari Asrina.
Ternyata Asrina sedang asyik diskusi tentang buku bersama Ryan dan Reno. Hawa memegang pelan bahu suaminya, Hasby menoleh dan tersenyum tipis.
"Udah cari bukunya?" tanyanya pelan, menatap lekat wajah istri kecilnya itu.
"Udah kak, ini," Hawa memperlihatkan sebuah buku kepada Hasby.
"Hanya satu?"
"Iya, satu aja cukup kak,"
"Ya sudah ayo pulang," Hasby mengambil buku itu dan membayarnya dikasir.
Hawa tidak protes karena pasti Hasby yang menang debatnya. Melihat suaminya membayar buku pilihannya membuatnya tersenyum sendiri.
Hawa menemui Asrina untuk berpamitan, karena ia pulang bersama Hasby. Asrina tersenyum menggodanya, Ryan dan Reno pun ikut-ikutan.
Merasa lucu dengan pasutri muda itu. Yang satu kalau di goda tetap saja datar, giliran satunya merah seperti kepiting rebus.
Asrina membiarkan Hawa pulang duluan, karena dia masih asyik berunding dengan kakak kelasnya itu. Ternyata mereka seru dan banyak memberi tahu tentang buku yang tengah dicarinya.
Ditengah-tengah jalan Hawa melihat jualan seblak yang banyak orang mengantri. Terlihat menggoda sekali, merah menyala, asap mengepul.
"Stop kak!" teriak Hawa memukul-mukul tangan Hasby.
"Apa?? kita lagi dijalan ramai Wa," Hasby sontak terkejut, sehingga nada suaranya meninggi.
Hawa memejamkan mata dan menutup telinganya.
"Maaf kak,, spontan kak," cicit Hawa, agak terkejut dengan suara tinggi Hasby.
"Aku juga minta maaf Wa,,, mau apa mm?" Hasby menoleh sekilas. Ia berusaha mencari pinggir jalan yang longgar, hendak memarkirkan mobilnya.
"Maaf kak,tadi lihat seblak, tapi kapan-kapan aja deh," sela Hawa cepat. Tidak mau merepotkan suaminya lagi. Ia menahan keinginannya.
"Yakin?" kata Hasby tenang.
"Iya, yuk pulang. Capek, mau istirahat dirumah," Hawa tersenyum meyakinkan.
"Ok," Hasby segera mengemudikan mobilnya kerumah. Ia juga sudah lelah sekali.
Hasby memikirkan gosip yang beredar di sekolahan tadi siang. Ia takut Hawa terlalu memikirkan gosip yang tidak jelas itu.
Reno yang memberi tahu kalau gosip tentang istrinya tengah panas-panasnya, karena semakin digoreng oleh berbagai opini yang tambah membuatnya matang.
"Hawa,,, jangan di pikirkan gosip tidak penting tadi!" Hasby tetap fokus pada jalanan ramai didepannya.
"Kakak juga tahu?" Hawa menoleh pada suaminya itu.
"Iya, kamu tenang saja, sebentar juga akan hilang sendiri," ucapnya lembut sambil mengusap pucuk kepala Hawa yang tertutup kerudung.
Ada rasa hangat yang menyelinap ke dalam hatinya. Usapan itu mengingatkannya pada almarhum Bapak yang sering mengusap lembut kepalanya. Air matanya tiba-tiba menggenang dipelupuk mata, segera ia mengusap dengan ujung kerudungnya.
Hasby meliriknya, menghela napas perlahan.
"Nggak usah menangisi hal tidak perlu!"
"Aku keinget almarhum Bapak kak, karena tiap saat Bapak selalu mengelus kepalaku," isak Hawa pelan.
Hasby tidak berkata hanya tangannya mengelus punggung Hawa, sedikit gemetar, karena dia tidak tahu cara menenangkan perempuan yang tengah bersedih.
Dia membiarkan istri kecilnya menangis supaya lega dan plong. Dia mengemudi pelan, mobil membelok memasuki gerbang rumah besar milik Papa dan Mamanya.
Setelah turun, Hasby mengernyit, melihat mobil sport merah menyala terparkir di depan rumah. Seperti mengenalnya, segera dia berjalan memasuki rumah diikuti Hawa.
Samar-samar terdengar seseorang berbicara, dan Hawa menangkap nama suaminya disebut-sebut. Apa ada tamu pikirnya, tapi siapa, Papa Mama sedang ada urusan bisnis.
Mereka melangkah lebih dan melihat dengan jelas seorang laki-laki tampan, sekitar umur 25an, sedang berbincang hangat dengan Bik Im.
Tatapan keduanya tertuju pada tamu tersebut. Laki-laki itu berdiri dan menghampiri Hasby.
"Hay Bro," serunya girang saat menjabat tangan Hasby, menariknya pelan, pelukan antar cowok, tahu lah ya.
Hawa melihatnya lekat dan tersenyum tipis. Dia pikir mungkin saudara suaminya.
"ini siapa Bro?" laki-laki itu menoleh pada Hawa, melihat gadis cantik berkerudung berdiri disamping Hasby.
"Nggak perlu tahu," tegasnya, langsung menoleh pada Hawa "Masuk kamar, jangan keluar sebelum aku panggil!" bisiknya pelan.
Hawa menuruti ucapan Hasby, lantas pergi menaiki tangga menuju kamar tidurnya setelah mengucap permisi kepada tamu laki-laki itu.