NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 ~ Merasakan Setiap Detailnya

Mobil melambat perlahan mendekati tepi jalan raya yang cukup sepi namun aman. Evan tanpa menunggu pintu terbuka sepenuhnya, segera bergerak keluar dengan tergesa-gesa seolah sedang dikejar sesuatu.

"Terima kasih, Tuan Damian. Selamat beristirahat!" ucapnya singkat, lalu menutup pintu mobil dengan cepat namun tetap sopan.

Ia hanya menoleh sekilas melambaikan tangan, lalu segera melangkah cepat menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi, berharap mobil hitam itu segera berlalu pergi.

Di dalam mobil, Damian masih menatap punggung Evan yang menjauh melalui kaca jendela dengan tatapan yang tak berubah dingin dan penuh tanda tanya. Sikap sekretarisnya itu semakin lama semakin terasa janggal dan penuh rahasia.

"Jalan, Haris," perintah Damian pelan, namun matanya masih terpaku pada bayangan Evan yang makin mengecil di kejauhan.

Haris pun kembali menginjak gas, membawa mobil itu melaju membelah jalanan kota, meninggalkan Evan yang kini berdiri terpaku di trotoar, menghela napas lega luar biasa namun dengan jantung yang masih berdegup kencang hebat. Ia mengusap dadanya yang bergemuruh, menyadari betapa tipisnya batas antara keselamatan dan kehancuran yang ia jalani setiap hari.

Evan memperhatikan mobil hitam itu perlahan menjauh hingga akhirnya hilang di tikungan jalan. Baru saat itulah ia merasakan seluruh tenaganya seolah tersedot habis. Kakinya terasa lemas, ia hampir ambruk di tempat jika tidak segera bersandar pada tiang listrik di dekatnya.

"Astaga... aku hampir saja terjebak," bisiknya lirih sambil mengusap wajahnya yang masih terasa panas.

Ia tahu, setiap kebohongan yang ia ucapkan menuntut harga yang mahal dalam bentuk ketakutan yang tak kunjung usai. Damian bukanlah orang yang mudah dibohongi, dan sikapnya yang semakin curiga perlahan mulai menekan ruang gerak Evan.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Evan menarik napas panjang, lalu berjalan kaki menuju sebuah tempat aman yang sudah disiapkan sebelumnya, bukan rumah aslinya, melainkan sebuah tempat persembunyian sementara yang tidak akan ditemukan oleh siapa pun, terlebih lagi oleh Damian.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju tenang, Damian masih termenung sejenak, namun pikirannya terus berputar tak henti. Ia menoleh ke arah pengemudi.

"Haris," panggilnya tegas.

"Ya, Tuan?"

"Hubungi pihak kapal pesiar itu. Minta mereka mengirimkan daftar lengkap tamu yang hadir di pesta semalam, termasuk identitas dan nama semua orang yang tercatat di dalamnya. Serahkan langsung padaku sore ini juga," perintah Damian tanpa keraguan sedikitpun.

Haris mengangguk patuh melalui kaca spion, namun rasa penasaran membuatnya memberanikan diri bertanya pelan.

"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan... Tapi, apakah ada suatu masalah yang terjadi?"

Damian menatap keluar jendela kembali, sorot matanya tajam penuh selidik.

"Ada sesuatu yang tidak beres, dan aku harus tahu kebenarannya secepat mungkin," jawabnya singkat namun berat.

Mobil hitam itu kembali melaju membelah jalanan kota yang sibuk, membawa Damian menuju kediaman pribadinya yang eksklusif di pusat kota. Tak lama kemudian, kendaraan itu memasuki area parkir khusus sebuah gedung pencakar langit mewah, lalu menuju lantai paling atas. Penthouse, tempat yang luas, megah, yang menjadi tempat tinggal Damian selama ini. dia lebih banyak menghabiskan waktunya ditempat ini ketimbang pulang kerumahnya sendiri.

Begitu sampai, Haris segera melangkah sigap keluar dari kemudi, berputar membuka pintu belakang untuk tuannya dengan sopan dan hormat.

"Silakan, Tuan Damian," ucapnya rendah.

Damian melangkah turun dengan tenang, menatap sekilas ke arah gedung pencakar langit yang menjulang megah itu.

"Kamu kembalilah ke kantor. Aku akan istirahat hari ini," ucap Damian tegas tanpa keraguan, sambil merapikan sedikit jasnya yang rapi. "Segala urusan bisa ditangani besok, kecuali berkas yang kuperintahkan tadi, serahkan segera jika sudah sampai."

"Baik, Tuan. Pasti akan saya laksanakan," jawab Haris mantap.

Damian mengangguk pelan, lalu berbalik berjalan masuk melewati lobi eksklusif menuju lift pribadi yang langsung membawanya ke puncak gedung, tempat kediamannya yang sunyi dan luas itu berada. Haris pun kembali masuk ke mobil, melaju perlahan meninggalkan area parkir menuju kantor sesuai perintah tuannya.

Damian melangkah masuk ke dalam ruangan yang sepi namun mewah itu. Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk bersandar santai di atas sofa empuk berwarna gelap. Lalu perlahan melepas jasnya dan menaruhnya diatas sandaran sofa. Tanpa terburu-buru, ia melonggarkan ikatan dasinya dan membuka dua kancing atas kemejanya agar terasa lebih lega.

Laptopnya segera dibuka di atas meja, seolah berniat mengejar ketertinggalan pekerjaan atau sekadar mencari hiburan. Namun, layar yang menyala terang itu tak kunjung menarik perhatiannya. Matanya menatap kosong ke arah sana, namun pikirannya tak sekalipun melayang ke urusan kantor atau hal lain yang seharusnya.

Bayangan kejadian semalam, sosok wanita misterius yang tak berwajah, serta segala keganjilan yang ditunjukkan Evan terus memenuhi isi kepalanya, membuatnya terperangkap dalam lamunan panjang yang tak bisa ia lepaskan.

Pikiran Damian melayang jauh, kembali terperangkap dalam ingatan samar namun terasa begitu nyata. Sungguh, ia merasa semua itu sangat jelas di benaknya, bagaimana ia memasukinya berkali-kali dengan penuh gairah, bagaimana ia meremas dan menyedot gundukan lunak itu dengan kuat, serta bagaimana ia masih bisa mendengar jelas setiap desahan halus yang lolos dari bibir wanita itu.

Namun sekuat apa pun ia berusaha, ingatan itu tak sanggup menunjuk siapa sosok sebenarnya di baliknya. Lagi pula, bayangan tentang noda merah yang ia temukan di atas seprai tempatnya tidur masih tertinggal jelas di kepalanya. Bukti itu tak terbantahkan... itu artinya, wanita itu juga melakukannya untuk pertama kalinya, sama sepertinya.

Rasa frustrasi perlahan membakar dadanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi sofa, rahangnya mengeras menahan kekesalan yang meluap.

"Sial!" umpatnya kasar, suaranya berat dan penuh kekesalan memecah keheningan ruangan. "Kenapa aku tidak bisa mengingat wajah atau apa pun yang jelas dari kejadian itu! Apa gunanya merasakan setiap detailnya jika aku tak tahu siapa dia sebenarnya?"

••

••

Sementara itu, Evan yang baru saja turun dari taksi segera melangkah masuk ke dalam rumahnya. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia pun mengembuskan napas lega yang luar biasa.

Tak lama setelah ia melangkah masuk, Arlos sudah ada di sana, menyambutnya dengan tatapan hangat namun sekaligus menyelidik, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

"Kau sudah pulang," sapa Arlos pelan, berjalan mendekat untuk membantu Evan melepas tasnya. "Aku sudah menunggumu. Bagaimana perjalanannya? Kau terlihat... sangat lelah dan gelisah."

Evelyn seketika terdiam mematung. Ia terkejut luar biasa, bingung harus merangkai kata apa untuk menceritakan kekacauan semalam, kejadian yang tak pernah terbayangkan, tak terencana, dan mengubah segalanya. Otaknya serasa macet, tak tahu harus mulai dari mana.

Tanpa sadar, tangannya terangkat dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

"A-aku..." suaranya tercekat. "Semuanya... baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat."

Arlos menyipitkan mata sedikit, seolah tak sepenuhnya percaya namun memilih tak menekannya saat itu. Ia perlahan mendekat, lalu merangkul pundak Evelyn dengan lembut dan penuh perhatian.

"Bagaimana dengan rencana kita?" tanyanya pelan namun serius, menatap lekat-lekat wajah gadis itu. "Kau berhasil mendapatkan informasi penting tentang Damian seperti yang kita harapkan, bukan?"

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!