"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Racun di Tubuh Soedirman
Gerbang Rumah Besar Keluarga Wicaksana terbuka sebelum mobil Arya berhenti.
Rumah itu bukan sekadar rumah. Kompleksnya luas, dikelilingi tembok batu tua, pohon sawo kecik, dan pendopo besar dengan tiang kayu gelap. Di halaman depan, beberapa mobil keluarga terparkir tidak rapi, tanda bahwa orang-orang datang terburu-buru.
Andini Pradipta berdiri di dekat tangga pendopo.
Wajahnya tenang, tetapi kedua tangannya saling menggenggam terlalu kuat.
"Mas Arya."
Arya turun dari mobil. "Bagaimana kondisinya?"
"Memburuk sejak subuh. Dokter keluarga bilang gagal ginjal, tapi hasil lab tidak konsisten. Saya..."
Ia berhenti.
Arya melihat kepanikan yang ia tahan di balik sikap sopan.
"Aku di sini," katanya.
Kalimat itu pendek, tetapi bahu Andini sedikit turun.
Sebelum mereka masuk, seorang perempuan muda berjalan cepat dari arah dalam rumah. Rambutnya diikat tinggi, kemeja putihnya kusut, dan matanya merah karena kurang tidur. Ia memandang Arya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ini orangnya?"
Andini menoleh. "Nayla."
Nayla Wicaksana melipat tangan. "Kak Dini, Eyang saya sekarat. Jangan bilang kita menunggu seseorang yang bahkan tidak membawa tas dokter."
Pak Satria yang berdiri di belakang Arya mengangkat alis, tetapi tidak bicara.
Arya justru tenang.
"Saya memang bukan dokter."
"Lalu kenapa datang?"
"Karena dokter yang salah bisa membuat pasien seperti kakek Anda mati lebih cepat."
Mata Nayla menyipit. "Berani sekali Anda bicara begitu di rumah saya."
"Saya bicara begitu karena Anda tidak punya waktu untuk tersinggung."
Andini menarik napas. "Nayla, tolong. Mas Arya punya jaringan medis yang tidak bisa kita dapat dalam waktu cepat."
"Jaringan medis?" Nayla tertawa pendek, pahit. "Kami Keluarga Wicaksana. Kami punya dokter pribadi, rumah sakit, koneksi kementerian. Tapi Eyang tetap memburuk."
"Karena masalahnya mungkin bukan penyakit biasa," kata Arya.
Nayla hendak membalas, tetapi dari dalam rumah terdengar suara panik.
"Nona Nayla! Saturasi turun lagi!"
Wajah Nayla langsung berubah.
Mereka masuk hampir berlari.
Kamar Soedirman Wicaksana berada di sisi belakang rumah, menghadap taman kecil. Bau obat, antiseptik, dan minyak kayu putih bercampur di udara. Di tempat tidur besar, seorang lelaki tua berbaring dengan wajah pucat kekuningan. Napasnya pendek. Di samping ranjang, dua dokter keluarga dan tiga perawat sibuk memeriksa monitor portabel.
Arya tidak menyentuh pasien dulu.
Ia melihat catatan infus, warna bibir, kuku, pupil, lalu daftar obat yang ditempel di papan kecil.
"Sejak kapan mual dan tremor?"
Dokter keluarga menoleh, ragu menjawab.
Nayla membentak, "Jawab!"
"Sekitar empat bulan. Awalnya ringan."
"Makanan terakhir sebelum memburuk?"
"Bubur ayam, jamu pahit, dan teh hangat."
Arya memandang gelas keramik di meja kecil. "Jamu dibuat siapa?"
Seorang perawat berkata pelan, "Dari dapur keluarga, Pak. Resep turun-temurun."
Arya mengeluarkan ponsel terenkripsi dan menghubungi seseorang.
"Pak Satria, buka jalur Prima Medical Zurich."
Pak Satria langsung bergerak ke sudut kamar.
Nayla melihat mereka dengan napas tertahan. "Apa yang Anda lakukan?"
"Memanggil orang yang lebih tepat."
Kurang dari lima menit kemudian, layar tablet besar di meja menyala. Seorang pria berambut pirang keperakan muncul dari ruang konsultasi steril. Namanya tertulis di sudut layar: Dr. Heinrich Weber, Clinical Toxicology Consultant.
Arya berbicara dalam bahasa Inggris singkat dan presisi, lalu kembali ke bahasa Indonesia untuk semua orang di ruangan.
"Kita perlakukan ini sebagai kemungkinan keracunan kronis sampai terbukti bukan."
Dokter keluarga tampak tersinggung. "Pak, kami sudah melakukan pemeriksaan standar."
"Standar tidak cukup jika racunnya tidak standar."
Dr. Heinrich meminta kamera diarahkan ke mata, lidah, kuku, dan sampel urin. Arya membantu tanpa canggung. Gerakannya tidak seperti dokter rumah sakit, tetapi seperti orang yang pernah menangani korban di lapangan: cepat, bersih, tidak panik.
"Anda pernah belajar medis?" tanya Nayla tanpa sadar.
"Pertolongan darurat medan operasi. Cukup untuk tahu kapan harus berhenti menebak."
Andini berdiri di dekat pintu. Matanya mengikuti setiap gerakan Arya.
Nayla melihat hal itu, lalu menggigit bibirnya sendiri.
Dalam dua puluh menit, keputusan dibuat.
Tim dari Siloam Kota Awan dipanggil melalui jalur khusus. Toksikologi lengkap, panel logam berat, uji tanaman beracun, pemeriksaan hati dan ginjal lanjutan, serta pengamanan semua makanan tiga hari terakhir.
Ketika dokter keluarga mencoba mempertahankan prosedur lama, Arya hanya berkata, "Mulai sekarang, tidak ada makanan atau minuman masuk ke kamar ini tanpa disegel dan dicatat."
Suasana kamar langsung membeku.
Nayla menoleh tajam. "Maksud Anda ada orang rumah yang..."
"Saya belum menuduh siapa pun."
"Tapi Anda sedang berpikir begitu."
"Saya sedang menyelamatkan Eyang Anda."
Nayla terdiam.
Ambulans privat tiba tiga puluh menit kemudian. Bukan untuk memindahkan Soedirman, tetapi membawa peralatan dan dua spesialis. Halaman Wicaksana berubah seperti pos medis darurat. Keluarga yang berkumpul di pendopo mulai berbisik. Beberapa wajah gelisah. Beberapa terlalu tenang.
Arya memperhatikan semuanya.
Ia tidak hanya melihat pasien.
Ia melihat orang-orang yang takut pasien itu hidup.
Sampel jamu pertama menunjukkan hasil aneh.
Bukan racun sekali minum. Bukan dosis besar.
Sesuatu yang diberi sedikit demi sedikit. Cukup kecil untuk membuat dokter mengira itu komplikasi usia, cukup lama untuk menghancurkan tubuh dari dalam.
Dr. Heinrich menyampaikan dugaan awal dari layar.
"Paparan berulang. Kemungkinan besar lewat minuman rutin."
Nayla memucat. "Jamu..."
Seorang bibi tua di belakangnya menutup mulut.
Arya bertanya, "Siapa yang punya akses ke resep, dapur, dan jadwal minum Pak Soedirman?"
Tidak ada yang menjawab.
Keheningan itu lebih jujur daripada kata-kata.
Pengobatan dimulai. Cairan infus diganti. Obat pendukung fungsi hati diberikan. Dokter dari Siloam menyiapkan terapi eliminasi sesuai arahan Dr. Heinrich. Semua berlangsung tegang, tetapi teratur.
Satu jam.
Dua jam.
Monitor yang semula terus menjerit mulai lebih stabil.
Warna wajah Soedirman perlahan tidak lagi sekelabu sebelumnya. Napasnya masih lemah, tetapi ritmenya membaik. Jari tua yang sejak tadi kaku mulai bergerak.
Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Eyang..."
Soedirman membuka mata sedikit.
Ruangan langsung hening.
Ia memandang Nayla dulu, lalu Andini, kemudian matanya berhenti pada Arya.
"Kamu..." suaranya serak. "Anak Bagaskara?"
Arya mendekat. "Saya Arya."
Soedirman berusaha mengangkat tangan. Arya membantunya.
Tangan tua itu menggenggam pergelangan Arya dengan lemah, tetapi kesadarannya mulai kembali.
"Nak... kamu menyelamatkan nyawa orang tua."
"Tim medis yang menyelamatkan Anda. Saya hanya membuka pintu."
Soedirman tersenyum tipis. "Jawaban rendah hati biasanya milik orang yang paling berbahaya."
Nayla menatap kakeknya, lalu Arya. Sorot matanya yang semula penuh curiga kini pecah menjadi kebingungan dan rasa malu.
"Eyang, jangan banyak bicara dulu."
Soedirman tidak melepas tangan Arya. "Siapa?"
Arya tahu maksud pertanyaan itu.
Ia melirik hasil awal di tablet.
"Belum pasti."
"Jangan halus kepadaku."
Arya diam beberapa detik.
"Laporan awal menunjukkan paparan berulang. Jalurnya kemungkinan besar minuman rutin. Akses seperti itu tidak bisa dimiliki orang luar."
Wajah Soedirman mengeras walau tubuhnya masih lemah.
Nayla berbisik, "Orang dalam..."
Arya menatap mata lelaki tua itu.
"Dan berdasarkan dosisnya, orang itu tidak ingin Anda mati cepat. Ia ingin semua orang percaya Anda memang menua, melemah, lalu menyerahkan kekuasaan."
Andini menahan napas.
Soedirman memejamkan mata. Rasa sakit di wajahnya bukan berasal dari tubuh, melainkan dari hati.
"Orang yang sangat dekat," katanya pelan.
Arya tidak membantah.
Di luar kamar, langkah-langkah cepat terdengar mendekat.
Seseorang dari keluarga hendak masuk tanpa izin.
Pak Satria langsung berdiri di depan pintu.
Suara lelaki dari luar terdengar keras. "Saya anak sulungnya. Siapa yang berani melarang saya melihat Bapak?"
Nayla menoleh.
Wajahnya berubah.
"Om Hendro..."
Arya melihat pintu.
Pintu itu belum terbuka, tetapi jawaban mulai berdiri di baliknya.