Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang masih tersisa
Hari mulai beranjak malam. Satu per satu anggota Mapala berpamitan.
Rizal menjadi orang terakhir yang menyalami Arga.
"Lo istirahat dulu."
"Nggak usah mikirin cerita ke siapa-siapa."
"Kita yang bakal jelasin ke teman-teman kalau lo masih butuh waktu."
Arga tersenyum penuh rasa syukur.
"Makasih, Zal."
Rizal menepuk bahunya pelan.
"Kita cuma seneng..."
"...akhirnya lo pulang."
Tak lama kemudian, suara motor mereka perlahan menghilang dari depan rumah. Suasana yang sejak sore ramai kembali tenang.
Ibu Arga mulai membereskan gelas-gelas di ruang tamu. Ayah membantu mengangkat beberapa kursi yang tadi dipindahkan.
Sementara Arga berdiri menghadap Bima.
"Mas."
"Iya?"
"Mas istirahat dulu ya."
"Kamar tamu udah disiapin."
Bima mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Arga lalu mengajaknya menuju kamar tamu yang berada di sisi belakang rumah.
Kamarnya sederhana.
Sebuah tempat tidur.
Lemari kecil.
Meja belajar.
Dan jendela yang menghadap halaman belakang.
"Boleh lihat sebentar?" tanya Bima.
"Silakan."
Bima melangkah masuk perlahan. Tangannya menyentuh sandaran tempat tidur. Lalu menatap langit-langit kamar.
Matanya kembali berkaca-kaca.
"Rasanya baru beberapa hari aku meninggalkan rumah tapi ternyata sudah lama..."
"...hampir tiga tahun."
Kalimat sederhana itu membuat Arga ikut terdiam. Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun hidup dalam ketidakpastian.
Kini...
Hal yang bagi orang lain terasa biasa...
Menjadi nikmat yang luar biasa bagi Bima.
Arga membuka lemari kamarnya sendiri. Beberapa kaus, celana panjang, jaket, serta perlengkapan mandi ia keluarkan. Kemudian dibawanya ke kamar tamu.
"Mas."
"Ini buat sementara dipakai dulu."
Bima menoleh.
"Lho..."
"Jangan."
"Nggak apa-apa."
"Mas pakai aja."
"Ukuran badan kita hampir sama."
"Daripada Mas tetap pakai baju yang itu."
Bima memandang pakaian-pakaian itu beberapa saat. Tangannya perlahan menerima lipatan kaus berwarna abu-abu.
"Terima kasih."
"Sungguh."
"Terima kasih."
Arga tersenyum.
"Nggak usah sungkan."
"Anggap aja rumah sendiri."
Kalimat itu membuat mata Bima kembali memerah.
Ternyata sudah terlalu lama...
Ia tidak mendengar seseorang mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, wajah Bima tampak jauh lebih segar. Meski rambutnya masih dipotong seadanya dan tubuhnya sedikit lebih kurus, penampilannya kini tidak jauh berbeda dengan laki-laki seusia Arga. Saat keluar dari kamar mandi, ia sempat menatap dirinya sendiri di cermin.
Lalu tersenyum tipis.
"Aku..."
"...akhirnya pakai baju baru lagi."
Malam semakin larut. Setelah salat Isya berjamaah dan makan malam sederhana, Arga memilih beristirahat lebih dulu. Tubuhnya memang belum benar-benar pulih.
Sementara itu...
Ayah Arga mengetuk pintu kamar tamu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Boleh saya masuk?"
"Tentu, Pak."
Ayah duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur. Beberapa detik beliau hanya tersenyum.
"Lelah?"
Bima mengangguk.
"Iya."
"Tapi hati saya jauh lebih tenang."
Ayah ikut tersenyum.
"Alhamdulillah."
Beliau kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pulpen.
"Mas Bima."
"Saya ingin minta tolong."
"Apa itu, Pak?"
"Saya ingin mencatat semua informasi tentang keluarga Mas."
Bima tampak sedikit bingung.
"Maksudnya?"
Ayah menatapnya dengan penuh ketulusan.
"Besok atau lusa...
"...saya ingin mulai mencari mereka."
Bima terdiam.
"Saya tahu..."
"...kemungkinan besar keadaan sudah berubah."
"Mungkin rumahnya sudah berganti."
"Mungkin ada anggota keluarga yang sudah berpulang."
"Mungkin juga mereka pindah."
"Tapi..."
"...selama masih ada kemungkinan menemukan mereka."
"...kita akan berusaha."
Bima menggigit bibirnya. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Saya..."
"...nggak tahu harus bilang apa."
Ayah tersenyum hangat.
"Nggak usah bilang apa-apa."
"Cukup ceritakan."
Bima menarik napas panjang. Ia memejamkan mata beberapa detik. Seolah sedang membuka kembali lembaran hidup yang telah lama tersimpan. Padahal ia merasa baru beberapa hari lalu.
"Nama ayah saya..."
"...Hendra Kusumah."
"Beliau guru SMA."
Ayah Arga mulai menulis.
"Nama ibu saya..."
"...Sulastri."
"Ibu membuka usaha menjahit di rumah."
"Kakak beradik?"
"Ada."
"Saya anak kedua."
"Kakak laki-laki saya namanya Dedi."
"Waktu saya berangkat mendaki..."
"...umurnya sekitar dua puluh lima tahun."
"Adik perempuan saya..."
"...Maya."
"Waktu itu baru kelas lima SD."
Suara Bima mulai bergetar.
"Saya masih ingat..."
"...dia selalu nangis kalau saya pergi naik gunung."
Ayah berhenti menulis sejenak. Memberi waktu Bima menenangkan dirinya.
"Lalu alamat rumah?"
Bima menyebutkan dengan cepat.
"Bandung."
"Daerah Ujungberung."
"Dekat pasar lama."
"...Gang Melati."
"Rumahnya cat hijau."
"Di depan rumah ada pohon mangga besar."
Ia tersenyum kecil.
"Sekarang saya ragu, Saya nggak tahu..."
"...apa pohonnya masih ada. Rasanya baru beberapa hari lalu saya menatap pohon itu."
Ayah kembali mencatat semua yang masih diingat Bima. Lebih tepatnya semua yang dikatakan bima, karena dia menyebutkan semuanya lancar tanpa perlu berpikir lama seolah memang baru beberapa hari saja dia meninggalkan itu semua. Tak ada satu detail pun yang dilewatkan.
Bahkan nama SD adiknya.
Nama masjid dekat rumah.
Nama tetangga yang masih diingat.
Nama warung tempat ibunya sering berbelanja.
Semua ditulis.
Setelah cukup lama, Ayah menutup buku catatannya.
"InsyaAllah."
"Beberapa hari lagi..."
"...kita ke Bandung."
Bima menatap beliau.
"Benarkah?"
Ayah mengangguk mantap.
"Kita cari bersama."
"Kalaupun ternyata keadaannya sudah berbeda..."
"...setidaknya Mas tidak lagi hidup dalam tanda tanya."
Bima mengusap air matanya yang akhirnya jatuh.
Selama tiga hari yang ternyata tiga puluh tahun...
Ia bahkan tidak berani berharap membayangkan akan kembali mencari keluarganya.
Namun malam itu...
Untuk pertama kalinya...
Harapan yang telah diam-diam dia kubur perlahan hidup kembali.
Harapan bahwa di suatu sudut Kota Bandung...
Mungkin masih ada seseorang yang selama puluhan tahun...
Belum pernah berhenti menunggu kepulangan nya.
Dua hari berlalu.
Tubuh Arga terus menunjukkan perkembangan yang baik. Luka di betisnya masih meninggalkan bekas, namun tidak ada nyeri yang dirasakqn nya lagi. Rasa nyeri di lambung masih sesekali muncul, tetapi sudah jauh berkurang dibandingkan saat pertama keluar dari hutan dan hidup di kampung ciburial.
Dokter yang memeriksanya kembali tersenyum melihat hasil pemeriksaan.
"Pemulihannya bagus."
"Tapi jangan dulu melakukan aktivitas berat."
"Naik gunung apalagi."
Arga tertawa kecil.
"Belum kepikiran juga, Dok."
Dokter ikut tersenyum.
"Bagus."
"Yang penting makan teratur."
"Jangan telat."
Arga mengangguk.
"Iya, Dok."
---
Di rumah, Ayah baru saja menutup sambungan telepon. Beliau kemudian menghampiri Bima yang sedang membantu Ibu menyiram tanaman di halaman.
"Mas Bima."
"Iya, Pak?"
"Ada kabar."
Bima langsung menghentikan kegiatannya.
"Teman lama saya di Bandung sudah saya hubungi."
Beliau melanjutkan,
"Beliau memang tinggal tidak terlalu jauh dari daerah Ujungberung."
Bima menahan napas.
"Katanya..."
"...Gang Melati memang pernah ada."
"Tapi sekarang namanya sudah berubah."
Jantung Bima berdetak semakin cepat.
"Beliau juga bilang daerah itu sudah jauh lebih padat dibanding tiga puluh tahun yang lalu."
Bima hanya mengangguk pelan.
Dalam benaknya, rumah sederhana dengan pohon mangga di depan masih terlihat begitu jelas. Entah seperti apa bentuknya sekarang.
---
Malam harinya mereka mulai mempersiapkan perjalanan. Ibu menyiapkan bekal makanan.
"Di jalan nanti jangan sembarangan makan." ucapnya sambil menoleh kepada Arga.
"Iya, Bu."
"Masih trauma sama lambung."
Arga tersenyum malu.
Ayah memeriksa kembali kendaraan.
Ban.
Oli.
Air radiator.
Semua dipastikan dalam kondisi baik.
Bima memperhatikan kesibukan keluarga itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Beberapa hari yang lalu...
Ia bahkan tidak tahu harus melangkah ke mana.
Kini...
Ada sebuah keluarga yang dengan tulus menemaninya mencari keluarganya sendiri.
Menjelang waktu Isya, Arga duduk di samping Bima di teras rumah. Angin malam berembus pelan.
"Mas."
"Hm?"
"Gugup?"
Bima tertawa lirih.
"Banget."
"Aku bahkan nggak tahu harus berharap apa."
Arga menatap jalan di depan rumah.
"Kalau ternyata..."
"...rumahnya sudah nggak ada?"
Bima terdiam.
"Itu mungkin."
"Kalau ternyata..."
"...orang tua Mas sudah berpulang?"
Bima kembali mengangguk.
"Itu juga mungkin."
"Kalau..."
"...kakak dan adik Mas pindah?"
"Juga mungkin."
Suasana kembali sunyi. Beberapa saat kemudian Arga menepuk pelan bahu Bima.
"Tapi..."
"...selama kita belum mencarinya."
"Kita nggak akan pernah tahu."
Bima tersenyum tipis.
"Iya."
"Dan aku rasa..."
"...aku sudah cukup lama hidup dalam tanda tanya."
"Kalau memang nanti kenyataannya pahit..."
"...setidaknya aku akhirnya tahu."
Arga mengangguk pelan.
"Itu lebih baik daripada terus bertanya seumur hidup."
---
Keesokan paginya...
Langit Jakarta masih diselimuti cahaya lembut ketika mobil keluarga Arga keluar dari garasi. Tas kecil berisi pakaian sudah tersimpan di bagasi. Bekal makanan diletakkan oleh Ibu di kursi belakang.
Ayah menyalakan mesin mobil.
"Sudah siap?"
Arga mengangguk.
"Siap."
Bima memandang rumah itu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih..." gumamnya pelan.
Bukan kepada rumah itu. Melainkan kepada Allah...
Yang telah mempertemukannya dengan keluarga yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Jakarta mulai ramai oleh kendaraan yang berangkat bekerja. Perjalanan menuju Bandung pun dimulai.
Tak ada yang banyak berbicara. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Arga membayangkan bagaimana reaksi keluarga Bima jika mereka benar-benar bertemu. Ibu berdoa dalam hati agar perjalanan mereka dipermudah.
Ayah tetap fokus mengemudi.
Sementara Bima...
Terus memandang jalan di depan.
Semakin dekat jarak yang mereka tempuh menuju Bandung...
Semakin cepat pula jantungnya berdetak.
Karena di kota itu...
Mungkin masih ada sebuah rumah.
Atau setidaknya...
Kenangan terakhir tentang kehidupan yang pernah ia tinggalkan tiga puluh tahun yang lalu.