NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Tes DNA

"Pak Usman, kita ke rumah sakit sebentar!"

"Baik nyonya," jawab sang sopir. "Em..., tapi kalau boleh tahu tujuan kita ke rumah sakit Bua apa nyonya?"

"Saya mau tes DNA dengan bocah kembar itu."

Saat mengusap surai dua bocah itu Hana sedikit menarik anak rambutnya untuk dilakukan tes DNA. Sejak awal bertemu dengan si kembar hatinya tak bisa tenang. Bocah itu selalu mengingatkannya pada putranya di waktu masih kecil.

"Hah? Jadi nyonya curiga kalau bocah itu~~

"Apa salahnya kalau aku curiga pak Usman," sungut Hana. "Apapun hasilnya nanti bakalan aku terima. Setidaknya aku tahu kebenarannya."

Usman terdiam sejenak, dan membenarkan apa yang dikatakan oleh majikannya. "Iya juga nyonya, tapi apakah ibunya bocah itu tidak bersuami? Kalau mereka masih memiliki ayah kemungkinan kecil apa yang nyonya lakukan hanya sia-sia. Ya bukannya saya berniat untuk menghalangi nyonya, tapi kalau hasilnya sia-sia kan bisa bikin nyonya down."

"Tidak pak Usman, wanita itu belum pernah menikah. Makanya aku keukeh ingin mengetahui siapa ayah dari bocah itu. Kalau sampai apa yang kupikirkan itu benar-benar nyata, ada seseorang yang harus aku kasih pelajaran!"

Usman tertawa kecil. Ia tahu siapa orang yang dimaksud oleh majikannya itu.

"Baik nyonya, terserah anda saja. Kita ke rumah sakit sekarang."

Setibanya di rumah sakit Hana langsung menuju laboratorium untuk melakukan tes DNA. Sebelumnya dia membawa helaian rambut yang didapat dari salah satu anggota keluarganya, tak lupa pula ia juga mengambil beberapa helai rambut dari si kembar, untungnya bocah itu tidak menyadari saat rambutnya diambil secara diam-diam.

"Ada yang bisa kami bantu nyonya?" tanya petugas laboratorium.

"Iya, kedatangan saya kemari untuk melakukan tes DNA. Ini saya membawa samplenya." Hana menyerahkan sample yang dibawanya itu pada petugas. "Kira-kira saya harus menunggu berapa lama untuk mendapatkan hasilnya?" tanya Hana.

"Kurang lebih tiga hari nyonya" jawab petugas laboratorium.

"Lama amat? Bisakah lebih dipercepat? Saya nggak ada waktu banyak buat menunggu."

"Bisa dipercepat nyonya, tapi untuk biayanya juga lumayan mahal."

"Saya tidak peduli kalaupun biayanya cukup mahal, yang penting bisa diselesaikan sekarang juga."

Dua petugas itu saling bertatapan satu sama lain, dan tak lama dari itu mereka mengambil keputusan.

"Baik nyonya, bisa ditunggu, tapi selesaikan dulu biaya administrasinya."

Setelah menyelesaikan biaya administrasinya Hana menelpon orang rumah. Dia takut keluarganya telah mengkhawatirkannya.

("Halo pa, mungkin aku pulangnya agak malam. Lebih baik Papa makan duluan aja kalau anak-anak belum pulang. Sekalian Papa hubungi Erlangga untuk datang ke rumah.")

("Loh, ma! Sebenarnya Mama itu ada di mana sih? Kalau ada masalah itu bilang, jangan diselesaikan sendiri.")

Aditya bingung, sebenarnya apa yang tengah dialami oleh istrinya. Hampir setiap hari pergi dengan berbagai alasan. Bahkan sering pulang terlambat.

("Sudah pa! Papa jangan terlalu mengkhawatirkan Mama. Mama baik-baik saja kok! Sekarang Mama tutup dulu teleponnya.")

Hampir tiga jam menunggu akhirnya petugas laboratorium keluar dengan membawa amplop  bersegel rumah sakit Harapan Bangsa.

"Selamat malam nyonya? Apa ini dengan nyonya Hana Kusuma?"

"Selamat malam mas, benar saya Hana Kusuma. Bagaimana mas? Apa hasilnya sudah keluar?"

"Iya nyonya, ini hasilnya sudah keluar. Mohon diperiksa."

Degup jantung Hana berdebar-debar tak karuan. Belum juga melihat hasilnya tapi sudah membuatnya tak berotot. Entah apa pemicunya, tapi yang jelas ia tak sabar ingin mengetahui kebenarannya.

"Maaf mas, apa ini teruji kebenarannya? Saya takut hasilnya tidak sesuai."

"Soal itu nyonya jangan khawatir. Di sini kami bekerja sangat kompeten, dan kami tiga kali mengulangnya dan hasilnya tidak pernah meleset."

Hana menarik nafasnya. "Syukurlah kalau begitu."

Perlahan Hana membuka segel dari tes tersebut. Dengan tangan gemetar dia mengeluarkan secarik kertas putih yang ada di dalam amplop tersebut. Dia membacanya perlahan hingga pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang dinanti-nanti.

Deg,, 'jadi benar, mereka itu cucuku.'

Hana mematung, deru nafasnya terdengar keras hingga di telinganya.

"Bagaimana nyonya? Apakah hasilnya ~~

"Saya meminta salinannya mas! Saya ingin membawa hasilnya dalam kondisi bersegel. Tolong mas!"

"B—baik nyonya, akan saya ambilkan."

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Hana memutuskan untuk segera pulang. Hari sudah mulai malam, lampu-lampu di jalan terlihat begitu indah mewarnai hiruk pikuk di sepanjang jalan.

Hana tidak lagi bersuara. Ia hanya butuh segera pulang dan memberitahu pihak keluarganya mengenai masalah ini.

"Nyonya tidak apa-apa kan?" tanya pak Usman.

"Tidak apa-apa bagaimana? Anak saya sudah bertindak sembrono, dan dia tidak bertanggung jawab atas kelakuannya itu, bagaimana saya bisa tenang pak Usman? Sebagai ibu saya sangat malu punya anak yang berkelakuan seperti preman. Awas saja nanti!"

Tidak membutuhkan waktu lama mereka tiba di rumah, tepatnya di kediaman Kusuma. Di ruang keluarga nampak mereka tengah berkumpul. Di situ Erlangga adik dan juga kakaknya tengah bersenda gurau ditemani oleh Ayahnya.

"Itu Mama sudah pulang," cicit Amelia, selaku anak bungsu di keluarga Kusuma.

Erlangga menoleh sekilas. Diantara saudaranya dia yang paling dingin, seolah-olah tak memiliki kepedulian terhadap keluarganya.

Hana mendekat dan plak!!

Dua tamparan mendarat di pipi Erlangga hingga membuat semua orang terkejut.

"Mama! Ada apa ini? Kenapa Mama menampar Erlangga!"

Aditya Kusuma bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh anak-anaknya yang lain. Di situ Erlangga masih nampak tenang meskipun rasa panas menjalar di pipinya.

"Anak ini memang pantas buat ditampar," desis Hana. "Bikin malu keluarga saja!"

Aditya dan anak-anaknya mengerutkan kening dengan saling bertatapan. "Bikin malu keluarga? Memangnya apa yang sudah dia lakukan?"

"Tanya saja sama dia! Apa saja yang sudah dia lakukan!"

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Erlangga.

"Erlangga! Jawab Papa dengan jujur! Apa saja yang sudah kau lakukan selama ini!"

Pria itu tidak menjawab, bahkan dia tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba marah dan langsung menuduhnya tanpa sebab.

"Erlangga! Jangan membisu kamu! Mau buat orang tuamu malu?" Aditya seketika tak bisa menahan emosinya.

"Pa, aku bahkan tidak tahu apa yang mama katakan. Dia datang tiba-tiba menamparku, sedangkan aku tidak tahu harus menjawab apa, karena pada dasarnya aku tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan."

Dengan jengkelnya Hana melemparkan amplop yang dikeluarkan dari dalam tasnya.

"Ambil ini dan baca baik-baik."

Erlangga mengambil amplop itu dan membuka isinya.

'tes DNA? I—ini milik siapa?' batin Erlangga.

"Ayo baca!"

"Baca yang keras!" Tekan Aditya.

Erlangga  terpaksa membacanya dengan cukup keras. Saat diujung dia terdiam mengamati tulisannya.

"Kenapa diam? Ayo lanjutkan," sergah Hana.

"Sebenarnya ada apa sih ma?" tanya Aditya dan anak-anaknya yang lain. Mereka sudah tidak sabar ingin segera mengetahui apa yang terjadi pada Erlangga.

"Dia pernah meniduri seorang gadis di hotel sampai membuatnya hamil. Bukan cuma itu, tanpa rasa tanggung jawab dia mengabaikan gadis itu hingga melahirkan bayi kembar."

Erlangga tercengang mendengar penjelasan dari ibunya.

'apa? D—dia hamil? Kok Mama tahu aku pernah terlibat skandal dengan seorang wanita? Sebenarnya siapa wanita itu? Aku bahkan kesulitan untuk mencaritahunya.'

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!