Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputisan Andira
Tiga hari setelah kejadian arisan, rumah Andira rasanya beda.
Nggak sepi. Tapi tenang.
Ibu-ibu di komplek udah nggak ada yang bisik-bisik pas dia lewat. Paling cuma senyum sungkan. Gosipnya kalah sama keberanian Aditia yang dateng kehujanan ke rumah Bu RT.
Andira duduk di teras jam 8 malam. Di pangkuan ada diary sama pulpen.
Dia buka halaman baru.
"Tanggal 14 Oktober.
Hari ini aku mikir keras. Apa aku berhak bahagia lagi? Apa Mas Renaldi marah kalau aku... mulai buka hati?"
Dia berhenti nulis. Matanya ke foto Renaldi di meja.
"Mas, kalau kamu di posisi aku, kamu mau aku diem terus nggak, Mas?"
Nggak ada jawaban. Cuma suara jangkrik.
HP bunyi.
Aditia: _"Ndir, udah makan?"_
Andira: _"Udah. Kamu?"_
Aditia: _"Udah. Besok libur kan? Mau ziarah bareng nggak ke makam Mas Renaldi? Aku anterin."_
Andira mikir lama. Jari di atas keyboard.
_Andira:_ _"Iya. Jam 7 ya. Ketemu di depan."_
Centang biru.
Dia tarik napas. Ini pertama kalinya dia yang ngajak duluan.
_Besok pagi, jam 6.50_
Andira udah rapi. Gamis hitam, jilbab abu. Bawa bunga sama air.
Aditia dateng pas. Pakai kemeja putih lagi. Motornya udah dilap bersih.
"Nggak telat kan?" tanya Aditia.
"Pas," jawab Andira sambil naik. Jaraknya masih ada. Nggak nempel.
Sepanjang jalan mereka diem. Cuma suara angin.
Sampe makam, sama kayak minggu lalu. Aditia duduk agak jauh. Andira di depan nisan.
"Mas... aku dateng lagi," ucap Andira. "Kali ini sama Dit."
Aditia nunduk. Baca doa pelan.
Selesai ziarah, mereka duduk di bangku semen bawah pohon.
"Dit..." panggil Andira.
"Hmm?"
"Aku udah mikir 3 hari 3 malem."
Aditia noleh. Serius. "Terus?"
Andira genggam ujung jilbabnya. "Aku nggak mau bohong. Aku masih kangen Mas. Masih sakit kalau inget. Tapi aku juga capek kalau harus sendirian terus."
Aditia diem. Nunggu.
"Aku nggak janji bisa langsung sayang sama kamu kayak sayang sama Mas. Aku nggak bisa. Tapi aku mau coba, Dit. Coba buat nerima kamu sebagai... temen hidup. Pelan-pelan. Kalau kamu masih mau nunggu."
Kalimat terakhir itu keluar sambil gemetar.
Aditia manggut. Matanya berkaca. "Aku mau, Ndir. Dari dulu juga mau. Nggak buru-buru. Setahun, dua tahun juga aku tunggu."
Andira ketawa kecil. Nangis juga. "Bodoh banget sih kamu."
"Iya. Bodoh. Tapi bodoh karena kamu," jawab Aditia sambil senyum.
Mereka diem lagi. Tapi kali ini diemnya nggak canggung. Adem.
"Jadi... kita mulai dari mana?" tanya Andira.
"Dari sarapan bareng," jawab Aditia cepat. "Kamu belum makan kan dari rumah?"
Andira geleng. "Belum."
"Yaudah. Mampir warung bubur depan yuk. Traktir aku."
Andira noleh. "Lah harusnya aku yang traktir."
"Ya udah gantian. Hari ini aku, besok kamu," kata Aditia sambil berdiri.
Mereka jalan ke motor. Kali ini jaraknya lebih deket. Nggak sengaja bahu mereka bersentuhan pas mau naik.
Dua-duanya kaget. Terus sama-sama diem.
_Siangnya_
Andira upload foto ke IG. Bukan foto berdua. Cuma foto bunga di makam sama caption:
_"Belajar ikhlas bukan berarti lupa. Belajar jalan bukan berarti ninggalin."_
Komen pertama dari Intan: _"Semangat, And. Kamu berhak bahagia."_
Komen kedua... dari akun Aditia: _"Aamiin."_
_Sore jam 5, rumah Andira_
Ada ketukan pintu.
Andira buka. Aditia bawa kresek.
"Aku nitip ini," kata Aditia. "Lauk. Tadi masak kebanyakan."
Di dalamnya ayam goreng, sambal, sama sayur bening.
"Makasih, Dit," kata Andira nerima.
"Ya. Udah. Aku pulang ya. Besok kerja."
Aditia mau pergi.
"Tunggu," Andira nahan.
Aditia berhenti.
Andira maju selangkah. Jarak mereka jadi tinggal setengah meter. "Makasih ya. Udah sabar. Udah nunggu. Udah mau nemenin aku yang berantakan ini."
Aditia senyum. "Aku nggak ngerasa nunggu. Aku ngerasa... pulang."
Andira diem. Terus dia ngangguk.
Aditia pamit. Motornya nyala.
Pas udah agak jauh, Andira teriak dari teras. "Dit!"
Aditia noleh.
"Hati-hati di jalan!"
Aditia angkat tangan. Senyumnya keliatan dari kejauhan.
Malam itu Andira tidur paling nyenyak setelah setahun.
Sebelum merem dia chat Aditia:
_Andira:_ _"Dit, aku belum tau ini keputusan bener apa salah. Tapi aku mau jalanin bareng kamu. Pelan-pelan ya."_
Dibales 2 menit kemudian.
_Aditia:_ _"Pelan-pelan aja, Ndir. Aku nggak kemana-mana."_
Andira taruh HP. Peluk guling.
Di luar, hujan gerimis lagi. Tapi kali ini nggak dingin.
Karena di dalam dadanya udah ada lampu kecil yang nyala lagi.