"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Ejekan Celia
Celia berjalan keluar dari lapangan sekolah dan tiba-tiba saja seorang pria menghampirinya.
"Bapak bukannya sopir Om Angga yang pernah jemput Celia dan keluarga Celia?" tanyanya memastikan.
"Benar Nona. Bapak juga datang untuk menjemput Nona. Pak Angga meminta Nona untuk datang ke rumah," jawab sopir tersebut membuat Celia terlihat kebingungan.
"Tetapi. Pak Celia...."
"Nona tenang saja. Pak Angga sudah meminta izin kepada Ibu Nona beliau juga sudah mengizinkan," jawab sopir tersebut.
Celia mungkin tidak percaya dan kemudian mengambil ponselnya dan menelepon bundanya.
Celia baru saja mendapatkan masalah dan tidak ingin cari gara-gara keluyuran setelah pulang sekolah dan ternyata setelah melakukan panggilan telepon selama beberapa menit akhirnya apa yang dikatakan sopir itu memang benar.
"Bagaimana Nona?" tanyanya ketika Celia sudah mematikan panggilan telepon tersebut.
"Baik. Pak kalau begitu," sahut Celia ternyata menurut yang membuat sopir membuka pintu mobil, ternyata Celia begitu enteng duduk saja di kursi belakang dan baru menyadari ketika ada Alfian duduk di sebelahnya.
"Lo kok ada di sini sih?" tanya Celia kaget.
"Lama," hanya itu jawaban yang diberikan Alfian tanpa basa-basi.
Celia mengerutkan dahi, ternyata harus satu mobil dengan Alfian dan sopir tersebut juga sudah memasuki mobil yang membuatnya melajukan mobil tersebut dengan kecepatan santai.
Celia tidak ingin dekat-dekat dengan Alfian, membuatnya menggeser sampai benar-benar dekat pada pintu mobil. Alfian hanya santai saja yang saat ini fokus pada konsernya yang bermain game.
Entah kenapa Celia harus diajak ke rumah orang tua Alfian.
****
"Om senang Celia, kamu benar-benar mau main-main ke rumah ini," ucap Angga saat ini berada di meja makan bersama dengan Mawar istrinya tetapi tidak ada Alfian.
Celia dijamu dengan baik, diajak makan bersama.
"Om tumben sekali menjemput Celia," ucapnya sedikit malu-malu saat menikmati makanan yang begitu lezat.
"Mumpung Om dan Tante ada di rumah dan tidak ada salahnya mengajak kamu untuk main-main ke rumah, tadi bunda dan om kamu juga ingin diajak sekalian, tetapi ternyata mereka sedang menghadiri acara keluarga di Bandung," jawab Mawar.
"Memang Bunda sama Om Darius tidak ada di rumah," jawab Celia.
"Celia, kami ingin minta maaf atas kejadian kemarin, kamu harus terlibat tawuran karena Alfian," ucap Angga.
"Tidak Om!" Celia menjawab dengan cepat.
"Alfian dan teman-temannya tidak salah kok, kita berdua justru terjebak dalam tawuran ini dan memang tidak tahu menahu mereka dari sekolah mana yang tiba-tiba saja membuat rusuh," ucap Celia berbicara apa adanya dan tidak memanfaatkan untuk kedua orang tuanya walau Alfian harus memojokkan Alfian walau Celia mengatakan kepada ibunya memang Alfian yang salah.
"Kalian berada dalam situasi seperti itu dan sudah pasti karena Alfian, kamu ini anak baik dan tidak pernah berurusan dengan masalah-masalah seperti itu, jangan di tanya Alfian, mungkin jika dalam satu bulan orang tuanya tidak dipanggil dan maka itu bukan dia, selalu membuat masalah di sekolah," Angga geleng-geleng kepala benar-benar jujur menceritakan keburukan putranya.
"Celia, kami sangat bersyukur jika kamu berada di sekolah yang sama dengan Alfian dan dengan begitu kamu bisa menjauhkan Alfian dari hal-hal yang buruk," sahut Mawar.
"Astagfirullah aku juga bahkan tidak sempurna itu dan apa mereka tidak tahu jika putra mereka justru satu-satunya orang yang paling sempurna di sekolah," batin Celia.
"Hmmmm, boleh tidak Celia numpang toilet sebentar?" tanyanya tampak gugup.
"Boleh silahkan!" sahut Mawar.
Celia tempat gugup yang keluar dari area kursinya, benar-benar segan karena berada dalam situasi seperti itu yang membuatnya langsung meninggalkan meja makan.
Celia baru saja selesai dari toilet ketika membuang hajatnya.
"Rumah ini benar-benar besar dan hampir saja aku terasa sakit," ucapnya menghela nafas.
Celia kemudian melanjutkan langkahnya.
Celia menghentikan langkahnya saat melewati salah satu ruangan yang bisa dikatakan mushola. Pintu yang terbuka lebar membuat pandangannya menangkap sosok yang begitu ternyata sejak tadi tidak bergabung dengannya.
Alfian masih menggunakan seragam sekolahnya, yang berbeda hanya memakai kopiah dengan seorang pria duduk di hadapannya di depan keduanya terdapat Alquran dan mungkin saja pria itu tak lain adalah pembimbingnya.
"...A... al..."
Kalimat itu terputus begitu saja. Bibirnya kembali bergerak, berusaha mengulanginya.
"...Al... ha..."
Ia berhenti lagi, menelan ludah dengan gugup.
Pembimbing itu tidak menunjukkan raut kecewa sedikit pun. Sebaliknya, ia tersenyum tipis dan membenarkan pelafalan Arka dengan sabar.
"Pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru."
"Hah!" Celia tiba-tiba saja tertawa kecil.
Entah apa yang menurutnya lucu, tetapi seolah-olah menemukan kekurangan seorang sosok Alfian yang selama ini sombong dan bahkan Alfian memang tidak pernah menyombongkan dalam kepintaran yang bidang akademik atau apapun itu, hanya saja kenyataan itu terlihat di mata Celia.
"Baiklah Alfian, kamu sudah cukup pasti masih sedikit gugup, tidak apa-apa yang terpenting kamu harus terus belajar," akhirnya kajian itu berangsur cepat.
"Kamu terus belajar ya," ucap pria tersebut memberi semangat dengan menutup Al-Qur'an, membuat Alfian menganggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu .... Asalamualaikum!" pria itu berpamitan membuat Alfian mengangguk dan sehat pria itu melewati Celia membuat Celia menundukkan kepala.
"Ngapain lo di situ?" tanya Alfian dengan nada kesal.
Celia justru tertawa kecil dengan menutup mulutnya membuat Alfian yang semakin kesal, bukannya pergi dan justru Celia memasuki Musholla tersebut.
"Ya ampun, seperti anak 5 tahun saja mengajinya, serius nggak bisa ngaji?" tanyanya dengan nada suara mengejek.
Alfian tampak kesal memilih membaringkan tubuhnya dan mengambil ponselnya, satu kakinya nampak naik di atas lututnya dan memilih untuk bermain game.
"Masa iya sudah sebesar ini membaca Alquran saja begitu gugup, memang tidak tahu dasar-dasar huruf hijaiyah?" tanyanya lagi memastikan.
"Sepenting apa harus bisa mengaji?" tanya Alfian.
"Astaghfirullahaladzim, mengaji jelas penting di akhirat nanti yang ditanya itu tentang keagamaan dan bukan 9 x 3 10 x 2 dan seterusnya jawab Celia," dengan sewot.
"Lagian mengaji itu adalah tujuan hidup, masa iya sudah besar masih ngaji gagap, lu nggak malu sama tubuh sebesar itu, cara ngaji aja lebih pintaran anak TK," lanjut Celia.
"Lalu Papa sudah pasti nyuruh lo bukan untuk ngajari gue?" tebak Alfian.
"Benar," jawabnya dengan santai.
"Terus lo akan ngajari?" tanya Alfian.
"Karena permintaan dari Om Angga yang tidak bisa ditolak, gue akan ngajari elu, tetapi ada syaratnya," sahut Celia.
"Syarat apa?" tanya Alfian.
"Kita tukaran, gue akan ngajari lo ngaji, bertanggung jawab sampai benar-benar lo bisa, tetapi lo harus bagi ilmu tentang pelajaran akademik di sekolah, pelajaran di kelas yang membuat gue selalu tertinggal," ucap Celia.
"Kenapa harus minta ajari sama gue, bukankah elu punya guru privat?" tanya Alfian membuat Celia mengerutkan dahi.
"Guru privat siapa?" tanyanya.
"Rafa!" jawab Alfian.
"Lo selama ini bukankah belajar dengan dia, lalu kenapa tiba-tiba harus belajar sama gue, kenapa pada akhirnya dia nggak bisa buat lo pintar juga dan tetap stop di situ aja?" ucap Alfian.
"Apaan sih lo," sahut Celia dengan raut wajahnya yang tampak kesal dan Alfian saat ini sepertinya sekarang sedang mengejek dirinya.
Bersambung.....