NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Kotak Mama

Eve bangun dalam pelukan Edric.

Beberapa detik pertama, ia tidak bergerak. Cahaya pagi masuk tipis dari sela tirai. Napas Edric terasa hangat di dekat rambutnya. Telapak tangannya masih dibalut perban, lengan kirinya memar, dan di kulit bahunya ada tanda yang membuat wajahnya langsung panas.

Ingatan datang lengkap.

Semua.

Eve menarik selimut sampai hidung.

Di sisi ranjang, kemeja Edric terlipat asal. Di lantai ada botol air mineral, kapas bekas antiseptik di tempat sampah, dan kursi yang semalam dipakai Edric menunggu sampai ia benar-benar sadar. Semua benda kecil itu membuat kejadian semalam terasa nyata, bukan mimpi yang bisa disembunyikan setelah mandi.

Eve bukan gadis yang tidak mengerti konsekuensi. Justru karena mengerti, wajahnya panas dan dadanya penuh. Ia takut besok akan canggung. Takut Edric berubah. Takut dirinya sendiri berubah menjadi perempuan yang terlalu cepat menggantungkan hidup pada pria yang baru memasuki dunianya.

Namun saat Edric membuka mata dan hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa perban Eve, bukan menuntut apa pun, ketakutan itu pelan-pelan turun.

Edric membuka mata. "Sudah bangun?"

Suaranya serak karena baru bangun. Terlalu dekat. Terlalu berbahaya untuk jantung Eve yang belum siap bekerja.

"Aku ingat semua," katanya dari balik selimut.

"Saya tahu."

"Jangan terdengar setenang itu."

"Saya sedang berusaha terlihat bisa dipercaya."

Eve menurunkan selimut sedikit. Edric menyibakkan rambut dari wajahnya.

Ia melihat mata Edric lebih lelah daripada suaranya. Ada lingkar gelap tipis di bawahnya, tanda bahwa pria itu mungkin tidak benar-benar tidur. Di meja samping ranjang, alarm ponsel disetel setiap dua jam, mungkin untuk mengecek suhu tubuh dan perbannya. Eve membaca daftar kecil di layar yang belum terkunci: minum air, cek luka, tanya pusing, jangan panik.

Bagian terakhir membuat Eve hampir tertawa dan hampir menangis.

"Ada yang kamu sesali?"

Pertanyaan itu membuat udara pagi berubah hening. Eve memeriksa dirinya sendiri dengan jujur. Ada malu. Ada takut. Ada luka. Tetapi penyesalan?

Ia menggeleng.

Senyum Edric muncul pelan. Bukan senyum tipis yang biasa. Lebih terbuka, lebih muda.

"Kalau begitu, mulai sekarang kamu tanggung jawab saya."

Eve memerah. "Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu kan suamiku."

"Saya bisa menerima dua arah."

Ia melempar bantal kecil ke dada Edric. Lemah, karena tangannya sakit. Edric menangkapnya dan tertawa pelan.

Sarapan pagi itu bubur hangat dan telur. Eve makan pelan. Tubuhnya masih lelah, tetapi pikirannya sudah kembali tajam. Saat sendok menyentuh mangkuk, satu hal dari kemarin muncul lagi.

"Edric."

"Hm?"

"Barang yang Mama tinggalkan. Mungkin benar-benar ada."

Edric menaruh gelas. "Kamu mau ambil?"

Eve mengangguk. "Tapi kali ini kamu ikut."

"Selalu."

Sebelum berangkat, Edric menelepon Fajar. Melani dan Jess sedang keluar ke salon dan spa. Rumah Lim hanya dijaga Gunawan dan dua pekerja rumah. Itu cukup.

Gunawan membuka pintu dengan wajah yang lebih kusut dari kemarin. Ada goresan kecil di pipinya, mungkin dari serpihan pintu. Begitu melihat Edric, bahunya langsung turun.

"Eve..."

"Barang Mama," kata Eve. "Sekarang."

Ruang kerja Gunawan masih sama seperti dulu, hanya lebih berantakan. Map perusahaan menumpuk di meja. Ada surat tagihan terselip di bawah asbak kristal. Eve melihat semuanya dalam satu sapuan dan memahami satu hal: keluarga ini tidak hanya hampir bangkrut, mereka sudah lama hidup dari menunda kehancuran.

Di rak paling atas masih ada piala lomba pidato Eve saat SMA. Berdebu. Dulu Mama Lili yang membersihkannya setiap minggu. Setelah Mama pergi, tidak ada yang menyentuhnya lagi.

Di sebelah piala itu ada foto wisuda SMP Eve yang miring. Melani pernah memindahkannya ke sudut rak karena Jess ingin ruang untuk koleksi boneka kristalnya. Eve dulu tidak berani protes. Ia hanya berdiri di depan rak malam-malam, meluruskan bingkai itu pelan, lalu besoknya menemukan foto itu miring lagi.

Gunawan mengikuti arah pandangnya. "Papa tidak sempat..."

"Jangan," potong Eve. "Jangan gunakan kalimat sibuk untuk semua hal yang Papa abaikan."

Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Ia tidak datang sebagai anak yang minta izin. Ia datang sebagai pemilik luka yang menuntut hak.

Gunawan menelan ludah, lalu berjalan ke ruang kerja. Eve mengikutinya. Edric berdiri di ambang pintu, cukup jauh untuk memberi Eve ruang, cukup dekat untuk menghentikan apa pun yang salah.

Gunawan membuka panel kayu di balik rak buku. Dari sana ia mengambil kotak besi tua dengan kunci angka. Permukaannya berkarat di sudut, tetapi masih utuh.

"Mama kamu bilang hanya kamu yang tahu password."

Tangan Eve gemetar saat menerima kotak itu. Beratnya bukan hanya dari besi. Ada tahun-tahun yang terkunci di dalamnya. Ada suara Mama Lili, ada pertanyaan yang tidak pernah berani ia buka.

"Kenapa baru sekarang?"

Gunawan tidak menjawab.

Eve menatapnya. "Papa menyimpan ini enam tahun."

"Papa... takut."

"Takut kehilangan apa? Aku? Atau isi kotak ini?"

Gunawan menutup wajah. "Papa minta maaf."

Eve menunggu dadanya terasa lega. Tidak ada. Hanya suara AC tua dan detak jam meja yang sudah terlambat dua menit. Permintaan maaf yang pernah ia impikan datang seperti kuitansi kosong, tanpa tanggal, tanpa nilai, tanpa keberanian untuk menyebut dosa satu per satu.

Kata itu akhirnya keluar. Namun Eve merasa kosong. Ia pernah menunggu permintaan maaf itu saat Mama meninggal, saat Melani masuk rumah, saat Jess mengambil kamarnya, saat Papa memilih diam setiap kali ia disakiti.

Sekarang kata itu datang terlambat dan terlalu ringan.

"Maaf tidak bisa membatalkan apa yang sudah terjadi, Papa."

Ia berbalik.

Edric mengambil pisau buah dari meja kecil dekat pantry. Gerakannya santai, nyaris malas, tetapi Gunawan langsung pucat.

Edric mendekat, menggunakan ujung pisau untuk menunjuk kotak di tangan Eve.

"Kalau ada sesuatu yang hilang dari kotak itu, atau isinya sudah dimanipulasi, Anda tahu konsekuensinya."

Gunawan mengangguk cepat. "Tidak. Tidak ada yang saya ambil. Saya tidak bisa buka."

"Semoga benar."

Di mobil, Eve memeluk kotak itu di pangkuan. Angka pada kunci kecil itu menatapnya seperti mata masa lalu.

Edric duduk di samping, tidak menyentuh kotak, tidak bertanya.

"Aku tahu password-nya," kata Eve.

"Kamu mau buka sekarang?"

Jarinya bergerak ke angka pertama, lalu berhenti.

1973.

Restoran kecil tempat Mama Lili selalu membawanya ulang tahun. Angka yang berarti awal keluarga Ong di Jakarta. Angka yang berarti makanan hangat, tangan Mama, dan tawa yang sudah lama hilang.

Eve memejamkan mata.

"Aku belum siap."

Ia malu mengakui itu. Setelah semua yang terjadi, ia ingin terlihat kuat. Ingin membuka kotak itu seperti membuka amplop biasa, membaca isinya tanpa gemetar, lalu memutuskan langkah berikutnya. Tetapi kotak itu bukan dokumen. Kotak itu adalah tangan Mama yang tertinggal di dunia.

Kalau dibuka dan isinya mengecewakan, Eve akan kehilangan satu-satunya alasan ia datang kemarin.

Kalau dibuka dan isinya penuh cinta, mungkin ia akan hancur lebih parah.

Edric menutup tangannya di atas tangan Eve yang memeluk kotak. Hangat. Tidak memaksa.

"Kapan kamu siap, kita buka bersama."

Eve bersandar pada kursi mobil. Untuk pertama kalinya, kotak dari Mama tidak terasa seperti beban yang harus ia tanggung sendirian.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!