Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
"Calista?"
Arga menatap perempuan yang duduk di depannya.
Calista masih terlihat pucat. Tangannya memegang gelas air. Namun tiba-tiba...Gelas itu terlepas.
Prang!
Arga langsung berdiri. "Calista!"
Tubuh perempuan itu terhuyung. "Pak..." Suaranya sangat pelan.
Kemudian... Tubuh Calista jatuh.
"CALISTA!"
Arga langsung menangkap tubuhnya sebelum kepalanya membentur lantai.
"Calista!"
Arga menepuk pipinya pelan.
"Calista, buka mata."
Tidak ada jawaban.
"Calista!"
Arga mulai panik.
"Pak..."
Pelayan restoran yang melihat kejadian itu segera menghampiri. "Pak, sebaiknya dibawa ke rumah sakit."
Arga mengangguk cepat. "Iya."
Ia mengangkat tubuh Calista dengan hati-hati. Dan membawanya ke mobilnya.
Arga menatap wajah Calista yang pucat. "Calista..." Tangannya gemetar.
"Tolong bangun."
Namun Calista tetap sama sekali tidak bergerak.
Tidak lama kemudian... mobil Arga membawa Calista ke rumah sakit, di depan ada supirnya.
Arga duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan Calista. "Calista..." Ia menatap wajah perempuan itu.
"Kamu dengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Arga menelan ludah. "Jangan takut."
Ia sendiri sebenarnya sedang takut. Ia bahkan tidak mengerti mengapa dadanya terasa sesak melihat Calista terbaring seperti itu.
Padahal... Calista hanyalah karyawannya. Setidaknya... Begitulah seharusnya. Namun ketika melihat perempuan itu tidak sadarkan diri seperti ini... Arga baru menyadari satu hal. Ia tidak ingin kehilangan Calista. Bahkan hanya membayangkan sesuatu terjadi padanya... Dadanya terasa sakit.
Pintu IGD terbuka.
"Pasien dibawa masuk!"
Beberapa perawat segera mendorong ranjang Calista.
Arga ikut berjalan. Namun seorang perawat menahannya.
"Pak, tunggu di luar."
Arga berhenti. "Tapi saya..."
"Dokter akan memeriksanya."
Arga akhirnya mengangguk.
Pintu tertutup.
Arga berdiri sendirian di depan ruang IGD. Tangannya masih gemetar. Ia mengusap wajah. Kemudian duduk. Namun hanya beberapa detik... Ia kembali berdiri. Ia berjalan mondar-mandir.
"Kenapa kamu bisa sampai pingsan?" Arga menunduk. "Mual..."
Ia terdiam. "Mual beberapa hari..." Tiba-tiba pikirannya teringat perkataan Calista.
Arga berhenti berjalan. Matanya melebar.
"Jangan-jangan..." Ia langsung menggeleng. "Tidak."
Beberapa menit kemudian...
Pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar.
Arga langsung menghampiri. "Dokter?"
Dokter melepas maskernya. "Anda keluarga pasien?"
Arga terdiam. "Saya..." Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Saya atasannya."
Dokter mengangguk. "Baik."
"Bagaimana kondisi Calista?"
"Untuk sementara kondisinya stabil."
Arga mengembuskan napas lega. "Syukurlah..."
Namun dokter belum selesai. "Kami melakukan pemeriksaan awal."
Arga kembali menatap dokter. "Ada sesuatu?"
Dokter mengangguk. "Kami menemukan tanda-tanda yang mengarah pada kehamilan."
Arga membeku. "Kehamilan?"
"Iya."
Dunia seolah berhenti. Arga tidak bergerak. Tidak berkedip. Bahkan napasnya seperti tertahan.
"Calista..."
Dokter mengangguk. "Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kemungkinan besar pasien sedang hamil. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilannya."
Arga menatap kosong. "Hamil..."
Satu kata itu terus berputar di kepalanya.
Hamil.
Calista hamil.
Arga menundukkan kepala. Entah kenapa... Dadanya terasa sangat sakit. Bukan karena marah. Bukan karena kecewa kepada Calista. Tetapi karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia akui. Ia menyukai perempuan itu. Sangat menyukainya.
Dan sekarang... Calista sedang mengandung anak pria lain.
Arga memejamkan mata. "Jadi..." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Selama ini..."
Ia mengusap wajahnya. "Dia masih menjadi milik masa lalunya."
Arga tertawa kecil. Namun tawanya terdengar pahit.
"Lucu..." Ia menunduk. "Saya bahkan baru mulai berharap." Tangannya mengepal. Kemudian perlahan kembali terbuka.
Ia tidak punya hak untuk marah.
Tidak punya hak untuk kecewa.
Calista tidak pernah menjanjikan apa pun kepadanya.
Tidak pernah mengatakan bahwa dirinya mencintainya.
Tidak pernah mengatakan bahwa ia ingin bersama Arga.
Justru Arga sendiri yang diam-diam mulai berharap.
Arga menatap pintu ruang IGD.
"Calista..."
Ia menarik napas panjang.
"Aku terlambat."
Beberapa saat kemudian...
Dokter kembali keluar.
"Pak Arga?"
Arga mengangkat wajah.
"Iya?"
"Pasien sudah mulai sadar."
Arga langsung berdiri.
"Benarkah?"
"Iya. Tapi jangan terlalu banyak mengajaknya bicara. Kondisinya masih lemah."
Arga mengangguk.
"Baik, Dok."
Ia hendak masuk.
Namun langkahnya berhenti.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Arga menarik napas panjang.
Ia mengusap wajahnya.
Kemudian mencoba tersenyum.
Apa pun yang terjadi...
Ia tetap harus berada di sana.
Bukan sebagai pria yang berharap mendapatkan Calista.
Bukan sebagai pria yang kecewa karena perempuan itu hamil.
Tetapi sebagai seseorang yang peduli.
Arga membuka pintu.
Dan melihat Calista perlahan membuka matanya.
"Pak Arga...?"
Arga tersenyum tipis.
"Iya."
Calista mencoba bangun.
Namun Arga langsung berkata,
"Jangan bangun dulu."
Calista menatapnya bingung.
"Kenapa saya ada di rumah sakit?"
Arga terdiam.
Matanya beralih sebentar.
Kemudian kembali menatap Calista.
"Kamu tadi pingsan."
Calista mengernyit.
"Saya?"
"Iya."
Calista terdiam. Tangannya perlahan bergerak ke perut.
"Saya mual..."
Arga menatap gerakan itu. Dadanya kembali terasa sakit. Namun ia tetap tersenyum.
"Dokter akan menjelaskan semuanya."
Calista menatap wajah Arga. "Pak..."
"Hm?"
"Kenapa wajah Bapak seperti itu?"
Arga terdiam. Kemudian tersenyum kecil. "Saya hanya khawatir."
Calista menatapnya beberapa detik. "Terima kasih..."
Arga mengangguk. "Sama-sama."
Namun setelah Calista memejamkan mata kembali...
Arga berbalik.
Ia berjalan keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup...
Senyumnya langsung menghilang.
Arga menundukkan kepala.
Satu tangannya menekan dada.
"Kenapa sakit sekali?"
Ia mengusap wajahnya.
Kemudian tertawa hambar.
"Padahal aku bahkan belum pernah memilikinya."
Arga menatap lantai.
"Kenapa rasanya seperti kehilangan?"
Dan untuk pertama kalinya...
Arga membiarkan satu tetes air mata jatuh.
Sementara di tempat lain...
Danis masih mengemudikan mobil dengan senyum penuh keyakinan.
Ia belum mengetahui bahwa dugaannya benar.
Calista memang hamil.
Dan anak itu...
Adalah darah dagingnya sendiri.
Namun satu hal yang belum Danis ketahui...
Kehamilan itu bukan berarti Calista akan kembali kepadanya.
Justru mungkin...
Kebenaran itu akan membuat Calista semakin kuat mempertahankan keputusan untuk pergi.