Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Rahasia di Balik Resep
Ardi melanjutkan, “Dan ini besar.”
Di ujung telepon, Hartono tidak langsung menjawab.
Orang seperti Hartono terbiasa mendengar kabar buruk: tambang longsor, kapal terlambat, harga komoditas jatuh, pejabat berubah sikap. Namun kali ini jeda suaranya berbeda.
“Seberapa besar?” tanya Hartono akhirnya.
Ardi menatap pintu UGD. Di balik kaca, istri Damar masih duduk memeluk helm suaminya. Anak kecil itu sudah tertidur di kursi plastik, wajahnya basah bekas air mata.
“Kalau data awal saya benar,” kata Ardi, “Bronkosol bisa membunuh orang dalam kondisi tertentu. Dan kasusnya bukan satu.”
Hartono mengembuskan napas pelan. “Jangan bergerak sendiri. Surya Perkasa akan menghancurkan siapa pun yang menuduh produk utama mereka membunuh pasien.”
“Saya butuh bukti klinis lengkap.”
“Saya bisa bantu dari sisi hukum dan keamanan. Tapi data medis harus Anda ambil lewat jalur sah.”
“Saya tahu.”
Panggilan itu selesai dengan satu janji: semua langkah harus tercatat, semua izin harus bersih, dan tidak boleh ada satu pun dokumen yang bisa dituduh dicuri.
Pagi berikutnya, Ardi menemui Dokter Fajar sebelum apel jaga.
Fajar membaca ringkasan Damar dengan wajah semakin gelap. Ia tidak langsung bicara. Ia membaca hasil kalium, CT hati, EKG, lalu daftar tujuh kasus yang Ardi temukan sepanjang malam.
“Kamu paham konsekuensinya?” tanya Fajar.
“Paham, Pak.”
“Kalau ini salah, kariermu bisa dihancurkan lagi.”
“Kalau ini benar dan saya diam, pasien lain bisa mati.”
Fajar menutup map.
Ia menatap Ardi cukup lama, lalu mengambil stempel internal.
“Saya izinkan audit klinis terbatas untuk kasus Damar dan kematian serupa yang pernah masuk Soetomo. Semua permintaan data harus lewat bagian rekam medis. Jangan ada jalan pintas.”
“Terima kasih, Pak.”
“Jangan berterima kasih dulu. Setelah ini kamu hubungi Dokter Hasan. Dia punya akses akademik di RS UNAIR dan cukup keras kepala untuk tidak takut pada sponsor.”
Dokter Hasan menerima telepon Ardi pada siang hari.
“Bronkosol?” suaranya langsung berubah serius.
“Ya, Dokter. Saya menemukan pola hipokalemia berat, aritmia, dan cedera hati akut pada beberapa kematian yang sebelumnya dianggap tidak berhubungan.”
“Berapa kasus dengan data lengkap?”
“Saat ini satu lengkap. Tujuh lainnya masih berupa jejak.”
Hasan diam beberapa detik. “Satu kasus bukan bukti. Tujuh jejak juga belum bukti.”
“Karena itu saya menelepon Anda.”
Di ujung sana terdengar suara kursi digeser.
“Kirim ringkasan tanpa identitas pasien. Saya akan cek arsip RS UNAIR. Tapi saya tidak akan membantu tuduhan liar.”
“Saya tidak minta Anda percaya. Saya minta Anda melihat datanya.”
“Itu permintaan yang bisa saya terima.”
Selama tiga hari berikutnya, hidup Ardi berubah menjadi tumpukan berkas.
Pagi ia tetap bekerja di UGD. Siang ia mengajukan permintaan resmi ke rekam medis. Malam ia membaca hasil lab, CT, EKG, resume kematian, dan catatan obat yang sering ditulis asal-asalan oleh dokter jaga yang kelelahan.
Hendro sudah pindah ke bagian rekam medis.
Itu membuat semuanya lebih berbahaya.
Saat Ardi datang membawa surat izin audit klinis, Hendro duduk di balik meja dengan wajah kaku. Di belakangnya, rak-rak berisi map pasien berdiri seperti benteng kertas.
“Sekarang kamu main-main di wilayah saya?” kata Hendro.
Ardi meletakkan surat resmi di meja.
“Saya meminta salinan sesuai prosedur. Ada tanda tangan Dokter Fajar dan bagian hukum rumah sakit.”
Hendro membaca surat itu, rahangnya bergerak.
“Kamu pikir semua orang akan terus melindungimu?”
“Saya pikir rekam medis pasien tidak boleh hilang.”
Mata Hendro menyala sesaat.
Kalimat itu tepat mengenai tempat yang ingin ia sembunyikan.
Namun ia tidak bisa menolak. Setiap permintaan dicatat. Setiap salinan diberi nomor. Setiap map keluar masuk diketahui petugas lain.
Ardi tidak memberinya celah.
Di luar rumah sakit, Rudi bergerak dengan cara berbeda.
Ia mendatangi alamat keluarga pasien yang namanya muncul di catatan. Bukan untuk memaksa. Bukan untuk menjanjikan uang. Ia datang membawa surat pengantar rumah sakit dan menjelaskan bahwa ada kemungkinan kematian anggota keluarga mereka berkaitan dengan efek obat yang belum pernah dijelaskan.
Keluarga pertama menolak.
“Kami sudah capek, Dok. Jangan buka luka lama.”
Rudi tidak memaksa.
Keluarga kedua menangis, lalu memberikan izin melihat resep terakhir.
Keluarga ketiga, seorang ibu di Sidoarjo, membawa satu kantong plastik berisi obat sisa almarhum suaminya. Di dalamnya ada botol Bronkosol yang labelnya masih jelas.
“Dulu dokter bilang jantungnya memang lemah,” kata ibu itu. “Tapi suami saya tidak pernah sakit jantung. Dia cuma batuk.”
Malam itu, Ardi duduk bersama Rudi dan Hasan melalui panggilan video.
Tiga kasus lengkap sudah terbuka di depan mereka.
Damar, 34 tahun, Bronkosol + alkohol, hipokalemia berat, ventricular arrhythmia.
Suharto, 42 tahun, Bronkosol + diuretik, kalium 2,4, henti jantung di ambulans.
Maman, 39 tahun, Bronkosol setelah lembur panjang dan dehidrasi, enzim hati melonjak, aritmia fatal sebelum rujukan.
Hasan membaca tabel itu dengan wajah semakin keras.
“Ini bukan kebetulan.”
Rudi yang biasanya banyak bicara kali ini hanya menatap layar.
Ardi menambahkan dua kasus lagi yang datanya belum sempurna tetapi polanya hampir sama. Total lima kasus cukup kuat untuk laporan awal. Tiga di antaranya lengkap secara klinis.
“Kita belum bisa menyimpulkan publik,” kata Hasan. “Tapi untuk laporan farmakovigilans dan permintaan investigasi BPOM, ini sudah layak.”
“Saya akan susun laporan awal,” kata Ardi.
“Jangan pakai bahasa emosional,” ujar Hasan. “Tulis sebagai sinyal keamanan obat. Kalau Anda menyerang perusahaan sebelum data siap, mereka akan menyerang kredibilitas Anda.”
Ardi mengangguk.
Di layar laptop, panel biru muncul.
[Misi Berantai — Tahap 2/5 selesai.]
[Mengumpulkan Bukti Klinis: minimal 3 kasus kematian terkait Bronkosol dengan data lengkap terpenuhi.]
[Hadiah tahap: 500 PM.]
[Saldo PM: 710.]
[Tahap berikutnya akan terbuka setelah laporan awal tersusun.]
Ardi menatap angka itu.
PM naik, tetapi tidak ada rasa ringan.
Lima keluarga kehilangan orang. Satu anak Damar kehilangan ayah. Dan di balik semua itu, sebuah perusahaan menjual botol kecil dengan kata aman untuk keluarga.
“Di,” kata Rudi pelan, “ini perang, ya?”
Ardi menutup tabel kasus.
“Belum. Ini baru menyalakan lampu.”
Lampu yang membuat monster tahu ada seseorang melihatnya.
Keesokan paginya, saat Ardi mulai menulis laporan awal, Dokter Fajar masuk ke ruang dokter dengan wajah yang berbeda. Bukan panik, tetapi serius dengan sedikit kilatan peluang.
“Ardi, sebentar.”
Ardi mengangkat kepala.
“Dokter Hasan menelepon saya. RS UNAIR punya kasus sulit. Seorang pensiunan hakim, Pak Gunawan. Diseksi aorta kompleks. Mereka sedang mempertimbangkan Teknik Sandwich.”
Rudi langsung menoleh. “Teknik apa?”
Fajar mengabaikannya.
“Hasan merekomendasikan kamu ikut sebagai operator pendamping. Ini bukan kasus biasa. Kalau berhasil, pintu akademikmu terbuka lebih lebar.”
Panel sistem menyala sebelum Fajar selesai bicara.
+--------------------------------------------------+
| Misi Emas Terdeteksi! |
| Operasi Teknik Sandwich |
| Target: bantu menyelamatkan Pak Gunawan |
| Hadiah: 200 PM + Kartu Derivatif |
+--------------------------------------------------+
Ardi menatap panel itu.
Bronkosol adalah perang melawan perusahaan.
Teknik Sandwich adalah pintu menuju panggung yang lebih tinggi.
Keduanya datang bersamaan.
Dan Ardi tidak berniat mundur dari salah satunya.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭