"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
Malam beranjak semakin larut, namun suasana di dalam penthouse mewah di kawasan superblok Jakarta Pusat itu justru terasa kian menghangat. Viona Adeline berdiri terpaku di depan cermin besar kamar utama. Gaun malam berbahan sutra satin berwarna merah marun melekat sempurna di tubuh rampingnya. Potongan backless dari gaun itu mengekspos punggung mulusnya yang putih bersih, menciptakan kontras yang begitu memikat.
Jantung Viona bertalu kencang. Ini adalah bulan kedua dirinya terikat dalam kontrak eksklusif sebagai wanita simpanan Arkan Mahendra. Di siang hari, ia hanyalah seorang staf administrasi junior berpenampilan polos di Divisi Manufaktur Mahendra Group yang bahkan tidak pernah dilirik oleh siapa pun. Namun, begitu malam tiba dan ia melangkah masuk ke dalam sangkar emas ini, ia sepenuhnya berubah menjadi milik sang CEO berdarah dingin.
Pintu kamar mandi terbuka, memecah keheningan. Arkan melangkah keluar hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya, menampilkan proporsi tubuh atletis setinggi 187 cm dengan rahang tegas yang sangat mengintimidasi. Rambut hitamnya yang setengah basah menyisakan beberapa tetes air yang jatuh melewati dada bidangnya.
Tatapannya yang tajam langsung mengunci sosok Viona dari pantulan cermin. Ada kilat kepuasan yang berkilat sekilas di sepasang netra kelam itu, berganti dengan tatapan posesif yang pekat.
"Kau sudah siap?" suara bariton Arkan menggema rendah, mengirimkan getaran halus yang aneh ke sepanjang tulang belakang Viona.
Viona membalikkan tubuhnya perlahan, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. "Sudah, Tuan Mahendra. Tapi... apakah saya benar-benar harus ikut? Acara malam ini adalah perjamuan bisnis rahasia dengan para pemegang saham asing. Jika ada orang kantor yang melihat saya bersama Anda—"
"Jangan membantah, Viona," potong Arkan cepat, langkah kakinya mendekat hingga memangkas jarak di antara mereka. Aroma maskulin bercampur wangi sabun yang tajam langsung mengepung indra penciuman Viona.
Arkan mencengkeram dagu Viona dengan jari-jarinya yang kokoh, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es. "Di luar sana, kau adalah bawahanku yang tidak kasat mata. Tapi malam ini, aku membutuhkanmu di sisiku sebagai teman kencan. Ingat posisimu. Aku sudah membayar mahal untuk seluruh waktu dan ragamu."
Kata-kata itu terasa bagai tusukan jarum yang menghunjam tepat di ulu hati Viona. Mengingatkannya kembali pada kenyataan pahit bahwa keberadaannya di sini hanyalah karena transaksi bisnis. Uang ratusan juta dari Arkan-lah yang menyelamatkan nyawa ibunya dari kejaran rentenir kejam. Demi sang ibu, Viona telah membuang harga dirinya jauh-jauh.
Viona tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyembunyikan kerapuhan hatinya. "Saya tidak pernah lupa, Tuan. Saya hanya mengkhawatirkan reputasi Anda jika rahasia ini terbongkar."
"Reputasiku bukan urusanmu. Tugasmu malam ini hanya satu: berdiri di sampingku, tersenyum, dan jangan pernah berani menatap pria lain," bisik Arkan posesif tepat di depan bibir Viona, sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya dan beralih memakai kemeja formalnya.
Mobil Rolls-Royce hitam milik Arkan membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, menuju ke sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat. Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Viona hanya menatap keluar jendela, sementara Arkan sibuk memeriksa beberapa berkas di tabletnya.
Meskipun jarak mereka begitu dekat, Viona tahu ada jurang pemisah yang sangat besar di antara mereka. Arkan adalah sang penguasa tunggal Mahendra Group, sedangkan dirinya hanyalah debu yang kebetulan terikat kontrak. Ego mereka sama-sama tinggi; Arkan menolak melibatkan hati karena trauma masa lalu, dan Viona bertekad menjaga perasaannya agar tidak jatuh pada pria yang salah.
Begitu tiba di lokasi, pintu mobil dibukakan. Arkan keluar terlebih dahulu, disusul oleh Viona. Begitu melangkah masuk ke dalam ballroom privat yang bernuansa emas, aura kemewahan langsung menyengat. Tempat ini dipenuhi oleh para taipan bisnis, investor asing, dan beberapa petinggi Mahendra Group.
Arkan mengulurkan siku lengannya. Viona sempat ragu sejenak sebelum akhirnya melingkarkan jemari lenturnya di sana. Sentuhan fisik itu terasa membakar, memicu gairah yang selalu coba mereka tekan di depan umum.
"Jaga sikapmu, Viona," bisik Arkan tanpa menoleh, memasang topeng ekspresi dinginnya yang berwibawa di hadapan para kolega.
Kehadiran Arkan yang menggandeng seorang wanita asing bergaun merah marun langsung menyedot perhatian seisi ruangan. Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.
"Siapa wanita yang dibawa Tuan Arkan? Bukankah dia selalu datang sendiri atau bersama Nona Clarissa, tunangannya?" bisik seorang wanita paruh baya berhiaskan berlian kepada rekannya.
"Entahlah. Tapi melihat cara Tuan Arkan mendekap pinggangnya, hubungan mereka pasti tidak biasa," sahut yang lain.
Mendengar nama Clarissa disebut, dada Viona mendadak terasa sesak. Clarissa adalah wanita terhormat yang telah dijodohkan dengan Arkan, sosok yang memiliki dunia yang sama dengan pria itu. Sedangkan dirinya? Viona hanyalah bayangan di balik tirai.
"Ah, Tuan Arkan! Senang melihat Anda bisa hadir malam ini," sapa seorang investor asing bertubuh jangkung, Mr. Wright, yang berjalan mendekat bersama asisten pribadinya.
Arkan menjabat tangan pria itu dengan tegas. "Terima kasih atas undangannya, Mr. Wright. Ini adalah kehormatan bagi Mahendra Group."
Mata Mr. Wright kemudian beralih kepada Viona yang berdiri di samping Arkan. Tatapan pria asing itu menatap Viona dengan penuh kekaguman yang terang-terangan. "Dan... siapa wanita cantik di sebelah Anda ini, Tuan Arkan? Bidadari dari mana yang berhasil mendampingi CEO berdarah es sepertimu?"
Mendengar pujian itu, Viona hanya tersenyum sopan. Namun, ia bisa merasakan perubahan drastis pada cengkeraman tangan Arkan di pinggangnya. Tangan pria itu mengencang, menarik tubuh Viona hingga menempel rapat pada tubuh tegapnya. Aura di sekitar Arkan mendadak turun drastis menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
"Dia Viona. Teman kencanku malam ini," jawab Arkan dengan nada suara yang sangat datar dan penuh penekanan, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Mr. Wright tertawa kecil, menyadari keposesifan yang dipamerkan oleh sang CEO. "Anda beruntung, Tuan Arkan. Nona Viona memiliki pesona yang sangat langka." Pria asing itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah Viona. "Senang bertemu denganmu, Nona Viona."
Saat Viona hendak mengulurkan tangannya untuk menyambut jabat tangan tersebut demi kesopanan bisnis, Arkan tiba-tiba mengambil gelas sampanye dari pelayan yang lewat dan menyerahkannya ke tangan Viona, secara tidak langsung memotong interaksi fisik antara Viona dan Mr. Wright.
"Viona tidak terbiasa bersalaman terlalu lama dengan orang asing, Mr. Wright. Kuharap Anda tidak tersinggung," ucap Arkan dengan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
Viona hanya bisa menelan ludah, merutuki sifat cemburuan dan kontrol posesif Arkan yang luar biasa tinggi. Pria ini benar-benar tidak suka jika ada pria lain yang menatap atau berinteraksi dengannya, bahkan dalam konteks bisnis sekalipun.
Setelah perbincangan bisnis yang panjang dan melelahkan, Arkan pamit sejenak untuk menemui jajaran direksi di ruang VIP, meninggalkan Viona sendirian di dekat meja hidangan. Viona menghela napas lega, merasakan ketegangan di pundaknya sedikit berkurang.
Ia menyesap sedikit minumannya, mencoba menikmati interior mewah ruangan itu. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Dari arah belakang, terdengar langkah kaki yang mendekat, diikuti oleh suara yang sangat familiar di telinganya.
"Viona? Kau... benar-benar Viona Adeline?"
Viona membalikkan badannya cepat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu yang kini menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya.
"Reno...?" lirih Viona dengan bibir bergetar.
Reno adalah mantan kekasih sekaligus sahabat masa kuliah Viona, pria yang dulu berjanji akan menikahinya sebelum akhirnya kehidupan Viona hancur total karena utang ayahnya. Kehadiran Reno di acara privat ini benar-benar di luar dugaan Viona.
"Ya Tuhan, Viona! Ini benar-benar kamu!" Reno melangkah maju dengan emosi yang meluap-luap, berniat menggenggam tangan Viona. "Kemana saja kamu selama ini? Aku mencarimu ke mana-mana setelah rumah keluargamu disita. Kenapa kamu menghilang tanpa kabar?"
Viona melangkah mundur setapak, melirik cemas ke arah ruang VIP tempat Arkan berada. Ketakutan besar menjalar di dadanya. Jika Arkan melihat ini, konsekuensinya akan sangat mengerikan.
"Reno, tolong jangan mendekat," ucap Viona setengah berbisik, suaranya terdengar panik. "Aku baik-baik saja. Tolong, anggap kita tidak saling kenal malam ini."
"Bagaimana bisa aku mengabaikanmu, Vio? Lihat penampilanmu sekarang. Gaun ini... kemewahan ini... dan desas-desus yang kudengar barusan. Apa benar kamu datang bersama CEO Mahendra Group?" tanya Reno dengan tatapan terluka dan menuntut penjelasan.
"Itu... itu bukan urusanmu, Reno. Tolong pergi sekarang juga sebelum—"
"Sebelum apa, Viona?"
Sebuah suara dingin yang berat tiba-tiba menginterupsi dari arah belakang Reno. Suasana di sekitar mereka mendadak membeku. Viona memucat sempurna saat melihat Arkan sudah berdiri di sana dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Reno dengan pandangan yang siap membunuh.
Arkan melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di depan Viona, memblokir pandangan Reno dari wanita itu sepenuhnya. Tatapan matanya yang tajam bak elang menguliti sosok Reno dari atas sampai bawah.
"Siapa kau? Dan berani sekali kau mengganggu wanitaku?" tanya Arkan dengan nada suara rendah yang sangat berbahaya.
Reno mengepalkan tangannya, mencoba memberanikan diri menghadapi aura intimidasi sang CEO raksasa properti itu. "Saya Reno, Tuan Mahendra. Saya adalah orang dari masa lalu Viona. Saya hanya ingin tahu apa hubungan Anda dengan Viona yang sebenarnya."
Arkan menaikkan satu alisnya, sebuah senyuman meremehkan terukir di bibirnya yang kokoh. "Masa lalu?" Arkan berbalik sedikit, merangkul pinggang Viona dengan sangat posesif dan menariknya kasar hingga dada mereka bersentuhan.
Di depan Reno, Arkan menundukkan kepalanya dan mengecup pelipis Viona dengan intim, sengaja memamerkan kepemilikannya.
"Dengar baik-baik, Lelaki dari Masa Lalu," ucap Arkan, matanya menatap Reno penuh kemenangan dan kebencian. "Viona adalah milikku sekarang. Raga, waktu, dan setiap helai napasnya adalah hak milik Mahendra Group. Jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di depannya, atau aku pastikan karier dan bisnismu hancur dalam semalam."
Reno menatap Viona dengan pandangan tidak percaya dan penuh kekecewaan, sementara Viona hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan air mata yang hendak runtuh karena harga dirinya kembali diinjak-injak di depan orang yang pernah dicintainya.
"Kita pulang," perintah Arkan mutlak, menarik tangan Viona dengan cengkeraman kuat tanpa memedulikan Reno yang masih terpaku di tempatnya.
Gairah, kecemburuan, dan ego yang terluka malam itu kembali menyulut api di antara mereka berdua, siap membakar sangkar emas yang selama ini mengurung kebebasan Viona.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.