Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Mendengar kata 'cerai' meluncur dengan begitu tegas dan tanpa ragu dari bibir Rena, ruang tamu Pak RT mendadak diselimuti ketegangan. Wajah Bu Broto seketika berubah dari merah padam menjadi gelap karena murka yang meluap. Baginya, kata cerai adalah sebuah tamparan yang mencoreng harga diri keluarganya di mata masyarakat.
"Kurang ajar kamu, Rena!" pekik Bu Broto sembari berdiri dengan sentakan kasar dari kursinya.
Dengan napas memburu dan mata mendelik, wanita tua itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengayunkannya dengan cepat ke arah pipi Rena. Dalam kamus hidup Bu Broto, tidak ada kata perceraian di dalam keluarganya. Dia berniat memberi pelajaran pada menantu yang dianggapnya sudah sangat melunjak itu.
Namun, Rena yang sekarang bukanlah Rena yang dahulu. Dengan ketenangan dan refleks yang terukur, Rena dengan mudah memiringkan kepalanya ke belakang, mengelak dari sambaran tangan mertuanya. Karena ayunan tangannya yang terlalu kuat menghantam angin kosong, tubuh tua Bu Broto justru kehilangan keseimbangan. Dia terhuyung-huyung ke depan dan hampir saja jatuh tersungkur ke lantai jika Siska tidak cekatan menangkap lengannya dari belakang.
"Ibu! Ibu tidak apa-apa?!" seru Siska panik, menuntun ibunya kembali duduk dengan tubuh gemetar menahan malu.
Aparat Babinsa yang berjaga di sudut ruangan langsung melangkah maju, memasang badan di depan Rena dengan tatapan memperingatkan. "Tolong tenang, Ibu! Jangan main fisik di sini, atau kami terpaksa mengambil tindakan tegas!"
Aris yang melihat situasi kian tidak terkendali, mendadak dirayapi rasa panik yang teramat sangat. Dia membayangkan bagaimana kariernya di perusahaan properti bisa hancur jika kasus perceraian ini sampai melibatkan kepolisian atau melebar ke tempat kerjanya. Dengan wajah memelas di balik maskernya, Aris berusaha mendekati Rena, mengulurkan tangannya seolah ingin meraih simpati istrinya yang telah hilang.
"Ren, tolong pikirkan lagi... Jangan gegabah seperti ini," bujuk Aris, suaranya bergetar memohon. "Aku akui aku salah selama ini karena menyembunyikan Linda. Tapi tolong, jangan cerai. Aku berjanji... aku berjanji setelah ini aku akan bersikap adil kepadamu dan juga kepada Linda. Aku akan membagi waktuku dan menafkahi kalian berdua dengan sama rata. Tolong beri aku kesempatan, Ren."
Mendengar kata 'adil' keluar dari mulut pria yang telah menipunya selama bertahun-tahun, Rena tidak menunjukkan ekspresi sedih atau terharu. Dia justru melipat tangannya di dada, lalu mengulas sebuah senyuman sinis yang teramat dingin. Sebuah senyuman yang penuh rasa jijik dan penghinaan.
"Adil, Mas?" tanya Rena, suaranya terdengar renyah namun tajam laksana sembilu. "Bagaimana bisa kamu bicara soal keadilan di depan perwakilan warga dan aparat ini? Coba kamu jelaskan pada mereka, di mana letak keadilanmu selama ini?"
Aris tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Selama ini, kamu hanya memberiku uang bulanan satu juta rupiah yang sangat pas-pasan. Uang itu harus menutup semua kebutuhan dapur, listrik, air, dan bahkan kebutuhan ibumu serta adikmu!" lanjut Rena, menatap Aris dengan pandangan menusuk. "Bahkan beberapa bulan lalu, untuk menyekolahkan anak kandungmu sendiri, untuk membeli seragam dan buku sekolah Dio, kamu dengan tega berbohong dan enggan memberinya uang sama sekali! Kamu membiarkan anakmu terancam tidak sekolah!"
Rena beralih menatap Pak RT dan warga yang mengintip di jendela, lalu menunjuk ke arah Linda. "Sedangkan untuk selingkuhanmu ini, kamu menyembunyikan kenaikan jabatanmu sebagai supervisor dan memberikan uang bulanan dua juta rupiah secara rutin, belum termasuk biaya bersenang-senang di hotel mewah! Dua kali lipat ah tidak, mungkin berkali-kali lipat dari apa yang kamu berikan kepada istri sahmu yang bekerja bagai budak di rumahmu!"
Mendengar penuturan frontal dari Rena yang membeberkan fakta keuangan dapur mereka, kasak-kusuk yang teramat riuh kembali terdengar di kalangan warga yang berkerumun di luar. Para tetangga yang selama ini hanya bisa menduga-duga, kini mendapatkan konfirmasi langsung.
"Astagfirullah... Ternyata si Aris itu sepelit itu untuk istri sahnya ya?" bisik seorang tetangga kepada temannya.
"Pantas saja selama bertahun-tahun Mbak Rena itu hanya memakai pakaian daster yang itu-itu saja, sudah lusuh dan tidak pernah beranak-pinak bajunya. bahkan tidak pernah berdandan sama sekali," timpal warga lainnya dengan nada iba. "Jangankan untuk membeli baju baru atau bedak, dengar-dengar dari cerita orang, untuk makan sehari-hari di rumah itu saja dia harus mengalah dan makan makanan sisa dari mertua dan adik iparnya!"
Banyak orang, terutama kaum ibu-ibu dan bapak-bapak warga sekitar, yang merasa geram dan naik darah mendengar pernyataan jujur dari Rena. Kenyataan hidup Rena selama ini dinilai sudah di luar batas kemanusiaan sebagai seorang istri. Rasa simpati warga kini sepenuhnya tumpah ruah kepada Rena dan Dio.
Termasuk Pak RT dan Pak RW yang memimpin jalannya musyawarah. Wajah kedua tokoh masyarakat itu tampak mengeras menatap Aris dan Bu Broto yang kini hanya bisa membisu dengan wajah merah padam karena aib mereka dikuliti habis di depan publik.
Pak RT mengetuk mejanya sekali lagi, menutup perdebatan. "Sudah cukup. Sekarang semuanya sudah jelas. Kami dari pihak pengurus lingkungan memutuskan untuk menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Mbak Rena. Jika dia memang tidak ingin kembali ke rumah itu, kami warga tidak akan pernah memaksa, dan kami siap memberikan perlindungan hukum maupun administratif yang diperlukan."
"Benar," sahut Pak RW tegas. "Kami tidak akan membela pihak yang terbukti melanggar norma susila dan menelantarkan keluarga."
Dan keputusan Rena memang sudah benar-benar bulat seperti batu karang. Tidak ada setitik pun keraguan di dalam matanya.
"Terima kasih, Pak RT, Pak RW. Keputusan saya tidak akan pernah berubah. Saya tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Hubungan saya dengan Aris Wicaksono selesai hari ini."
Setelah mengatakan kalimat penutup itu dengan lugas, Rena segera bangkit berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekati Bu RT, mengambil dua tas ransel besarnya yang diletakkan di sudut ruangan, lalu menggandeng erat jemari kecil Dio yang sejak tadi memandanginya dengan patuh.
Rena membalikkan badannya menghadap ke arah Pak RT, Pak RW, Babinsa, dan seluruh warga yang berada di dalam ruangan. "Pak RT, Bu RT, Pak RW... saya pamit. Terima kasih banyak atas segala kebaikan dan bantuan yang diberikan kepada saya dan Dio sejak semalam. Saya tidak akan melupakan jasa kalian."
Rena berpamitan kepada semua orang yang ada di sana dengan senyuman tulus, kecuali kepada keluarga Aris. Dia mengabaikan keberadaan Aris, Bu Broto, Siska, maupun Linda yang menatapnya dengan berbagai macam emosi—mulai dari kemarahan, kepanikan, hingga ketakutan akan masa depan.
Rena melangkah keluar dari pintu rumah Pak RT dengan kepala tegak. Di luar, warga membuka jalan untuknya dengan tatapan penuh rasa hormat dan dukungan. Beberapa langkah dari gerbang, sebuah motor ojek online yang sudah dipesannya beberapa menit lalu tampak sudah menunggu di tepi jalan.
Sementara itu, di ambang pintu rumah Pak RT, Aris hanya bisa berdiri mematung. Dengan tatapan mata yang kosong dan dipenuhi rasa penyesalan yang terlambat, dia memandangi kepergian Renata dan Dio yang mulai bergerak menjauh, naik ke atas motor ojek, membelah jalanan pagi, dan perlahan menghilang dari pandangannya, membawa pergi seluruh keberuntungan dan sisa kedamaian yang pernah ada di dalam hidupnya.
aku pikir sampai Rena menikah lagi