Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL11
SELAMAT TINGGAL
Sudah lewat tengah malam ketika Hannah akhirnya mencoba memejamkan mata. Setelah percakapan panjang itu, tidak ada lagi kata-kata yang benar-benar sanggup memperbaiki keadaan. Yang tersisa hanya keheningan yang berat, seperti sesuatu yang belum selesai tetapi dipaksa berhenti di tengah jalan.
Romi sudah lebih dulu tertidur. Pelukan mereka tadi berlangsung cukup lama, seolah keduanya sama-sama mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kini hanya suara napas pelan pria itu yang terdengar di dalam kamar yang mulai terasa hangat kembali.
Tapi di sisi Hannah, ketenangan itu belum benar-benar datang.
Bukan karena ia tidak percaya lagi pada suaminya, melainkan karena ada sisa rasa yang masih tertinggal di dadanya. Rasa yang tidak bisa langsung hilang hanya karena sebuah penjelasan.
Kartu nama itu masih berada di dalam kamar mereka.
Hannah tidak membuangnya. Tidak juga benar-benar menyimpannya dengan niat tertentu. Ia hanya belum sanggup melepasnya begitu saja, seolah ada bagian dari dirinya yang masih perlu memahami sesuatu sebelum benar-benar melepaskannya.
Pagi harinya, Hannah bangun lebih dulu.
Ia bergerak pelan di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Dua porsi omelet, potongan buah, dan dua gelas susu hangat. Tidak ada yang istimewa, hanya sesuatu yang cukup untuk membuat pagi terasa normal.
Atau setidaknya terlihat normal.
Romi sudah duduk di meja makan ketika Hannah meletakkan piring. Pria itu tampak lebih banyak diam dari biasanya. Tidak dingin, hanya seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Hannah memperhatikannya sekilas.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi semuanya berhenti di tenggorokan.
Akhirnya ia hanya duduk dan mulai makan seperti biasa.
Namun keheningan di antara mereka pagi itu terasa berbeda.
Bukan lagi nyaman seperti dulu, tapi juga belum sampai pada jarak yang benar-benar jauh.
“Ada kerjaan hari ini, Mas?” tanya Hannah akhirnya, memecah diam.
Romi mengangkat wajah. “Enggak. Hari ini kosong.”
“Oh…”
Hannah mengangguk pelan, lalu mencoba tersenyum kecil. “Kalau begitu temani aku ke toko buku, ya?”
Romi menatapnya sebentar. “Kamu nggak kerja?”
“Aku libur. Kemarin kan dinas lapangan, jadi dapat jatah libur.”
“Boleh,” jawab Romi akhirnya. “Tapi agak siang. Aku mau ke kantor dulu sebentar, ada rapat kecil soal proyek kemarin.”
“Baiklah,” sahut Hannah ringan. “Aku tunggu di rumah saja.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan lebih hati-hati, “Atau… aku tunggu di kafe seberang kantor kamu?”
Hampir seketika, Romi menjawab lebih cepat dari yang ia sadari.
“Jangan.” Suara itu terdengar sedikit terlalu cepat, terlalu tegas.
Hannah terdiam.
Romi langsung menyadari reaksinya. Ia mengusap tengkuknya pelan. “Maksud Mas… jangan nunggu di kafe. Takutnya rapatnya lama. Kamu nanti bosan.” Ia berhenti, lalu menatap Hannah lagi. “Tunggu di rumah aja, ya. Nanti kita jalan bareng setelah aku pulang.”
Hannah tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menangkap reaksi itu, meskipun ia tidak tahu harus menafsirkannya bagaimana.
“Na…” suara Romi melembut, hampir ragu. “Jangan mikir yang macam-macam.”
Hannah akhirnya mengangguk kecil. “Iya. Aku ngerti.” Ia tersenyum tipis. “Aku tunggu di rumah saja. Sekalian mau cuci pakaian.”
Romi tampak sedikit lega.
“Percaya sama Mas, ya?”
Hannah mengangguk.
“Aku percaya,” jawabnya pelan. “Selama aku tidak melihat dengan mataku sendiri dan mendengar langsung dari kamu, aku akan percaya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih lembut, “Tapi kamu juga harus ingat, kita sepakat untuk saling terbuka.”
Romi mengangguk.
Sore itu akhirnya mereka pergi bersama ke toko buku. Perjalanan itu tidak lagi sesunyi malam sebelumnya, tapi juga belum kembali seperti dulu. Hanya dua orang yang masih belajar menyesuaikan diri.
Di toko buku, suasana sedikit lebih hidup. Hannah terlihat lebih bersemangat. Tangannya menyusuri rak demi rak, berhenti di beberapa buku yang ia suka. Dunia buku selalu menjadi tempatnya kembali ketika pikirannya terlalu penuh. Ia memilih beberapa buku tentang psikologi hubungan dan jurnal harian. Romi mengikutinya dari belakang, tidak banyak bicara, tapi memperhatikan.
Ketika Hannah sedang membayar, Romi mengambil satu buku dari rak.
“Menjadi Ruang Aman Bagi Pasangan.”
Ia membacanya sekilas, lalu meletakkannya di meja kasir bersama belanjaan Hannah.
Hannah menoleh dan tersenyum kecil. “Mau baca juga?”
Romi menggeleng. “Enggak.” Ia berhenti sebentar, lalu berkata pelan, “Tapi aku mau belajar. Biar nggak ulangin kesalahan yang sama.”
Hannah menatapnya sebentar, lalu menggenggam tangan suaminya.
“Kita belajar sama-sama.”
Siang itu mereka makan di kafe kecil tidak jauh dari toko buku. Di tengah keheningan yang tidak sepenuhnya canggung, Romi akhirnya bertanya sesuatu yang sejak tadi ia simpan.
“Kamu pernah nyesel nggak, nikah sama aku?”
Hannah langsung menoleh.
“Tiba-tiba kenapa tanya begitu?”
Romi tersenyum kecil, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang. “Aku cuma kepikiran akhir-akhir ini… kamu terlalu kuat buat semua ini. Aku nggak selalu bisa jadi sandaran yang baik.”
Hannah menghela napas pelan. Lalu tanpa banyak kata, ia menyandarkan kepalanya di bahu Romi.
“Aku nggak nyesel.”
Romi menatapnya.
“Kenapa?”
Hannah terdiam sebentar sebelum menjawab, “Karena di saat semuanya terasa berat, kamu tetap ada. Kamu nggak pergi.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit.
“Aku lebih takut kehilangan kamu daripada apa pun yang belum kita punya.”
Romi terdiam lama.
Lalu pelan berkata, “Aku janji… aku akan lebih jujur. Lebih terbuka.”
Hannah mengangguk.
“Pelan-pelan saja,” jawabnya. “Kita nggak perlu sempurna. Kita cuma perlu terus belajar.”
Malam harinya, Hannah duduk di ruang kerja kecil mereka. Ia membuka jurnal barunya dan menulis.
Hari ini aku memilih untuk bertahan. Kami tidak sempurna, tapi kami mau belajar dan mungkin itu cukup untuk hari ini.
Ia menutup buku itu perlahan. Tepat saat itu, pintu diketuk. Romi masuk sambil membawa sebuah amplop kecil.
“Aku nemu ini di laci dokumen lama,” katanya pelan.
Hannah menatap amplop itu.
“Ini hasil pemeriksaan terakhir kita,” lanjut Romi. “Yang dulu kita simpan, tapi nggak pernah benar-benar kita buka lagi.”
Hannah terdiam. Ia sudah tahu isi di dalamnya, tapi malam itu mereka akhirnya membukanya bersama—selembar kertas dengan tulisan formal penuh istilah medis yang dulu pernah mengguncang hidup mereka.
“Aku kepikiran sesuatu,” suara Hannah pelan setelah lama hening.
“Gimana kalau kita pertimbangkan lagi soal adopsi anak?”
Romi menatapnya.
“Serius?”
Hannah mengangguk. “Tapi pelan-pelan aja, jangan karena tertekan. Kita harus siap dulu dalam segala hal, terutama siap untuk jadi rumah buat orang baru.”
Romi tidak langsung menjawab. Ini bukan keputusan kecil. Bukan hanya tentang mereka berdua, tapi juga keluarga besar yang akan terlibat di dalamnya.
“Aku akan pikirkan,” katanya akhirnya. “Aku belum siap jawab sekarang.”
Hannah mengangguk mengerti. “Baiklah.”
Beberapa hari kemudian, kartu nama itu tidak lagi ada di kamar mereka. Hannah tidak membuangnya sembarangan. Ia membakarnya di halaman belakang rumah. Api kecil itu memakan kertas putih itu perlahan, sampai akhirnya hanya tersisa abu yang diterbangkan angin. Romi berdiri di sampingnya tidak berkata apa-apa, hanya melihat.
“Sudah selesai,” ucap Hannah pelan.
Romi mengangguk.
“Terima kasih sudah mau tetap di sini.”
Hannah menggenggam tangannya.
“Kita jalan terus, ya?”
Romi mencium punggung tangan itu pelan.
“Sampai akhir.”
Namun di tempat lain, seorang perempuan duduk di dalam mobil yang berhenti di depan gedung tinggi.
Namanya Jelita Ardiani. Ia menatap layar ponselnya lama.
Nama “Romi” masih tersimpan di sana. Lalu perlahan, ia menekan tombol hapus.
Nomor itu menghilang.
“Selamat tinggal,” bisiknya pelan, sebelum mobil itu melaju meninggalkan tempat itu, membawa satu bab lama yang akhirnya benar-benar selesai.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐