NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu satunya darah murni yang tersisa

Dahulu legenda mengatakan ada satu keluarga bangsawan yang namanya sangat dikenal, disegani sekaligus ditakuti. Mereka jarang memperlihatkan urusan keuangan ke luar, hidup tertutup rapat. Yang paling membuat orang segan adalah sifat mereka yang kejam dan tak kenal ampun, mereka paling di kenal sebagai keluarga assasin .

Ciri khasnya tak perlu diragukan lagi. Kalau darahnya masih murni, rambut mereka berwarna perak keemasan pucat, berkilau tipis kalau kena cahaya. Matanya sejernih es beku, biru terang sampai terasa dingin saat ditatap. Di zamannya, keluarga ini paling berkuasa, bisa mengatur banyak hal seenak hati. Tapi di balik kekayaan dan kekuasaan itu tersimpan satu tradisi aneh yang menjadi alasannya: setiap 50 tahun sekali, mereka wajib menyerahkan satu nyawa tumbal — dan harus yang berdarah murni, bukan campuran.

Lama-kelamaan keturunan darah murni makin susah didapat. Sulit punya anak, banyak yang meninggal muda, membuat fondasi keluarga ini mulai goyah.

Suatu malam, di dalam gedung besar yang remang dan dingin, sepasang suami istri berdiri menghadapi keributan. Orang-orang tak dikenal menerobos masuk, suruhan para tetua keluarga. Sang istri hanya darah campuran, tapi suaminya murni penuh. Mereka punya seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Para tetua ingin mengambil gadis itu untuk dijadikan tumbal berikutnya.

Mereka berdua pandai bertarung, tapi jumlah lawan terlalu banyak. Akhirnya sang suami memutuskan menahan semua penyerang sendirian. Sang istri hanya sempat melirik dengan hati remuk, lalu segera menarik tangan mungil putrinya lari keluar. Ia berusaha memegang lembut tapi erat, tak ingin anaknya terjatuh meski napasnya terengah. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang terlalu dekat.

Mereka terus menerobos masuk ke dalam hutan gelap, berharap bisa mencapai perbatasan dan lolos dari wilayah kekuasaan keluarga itu.hanya mengikuti langkah ibunya dengan tubuh gemetar, ketakutan. Wajahnya masih terbayang ayahnya yang harus ditinggalkan. Ia ingin berteriak, memanggil, tapi lidahnya terasa kelu.

Belum jauh, lima orang pengejar mulai mendekat. Sang ibu berhenti tiba-tiba, mendorong tubuh Sofia sedikit menjauh, lalu langsung menyambut dua orang yang paling depan. Gerakannya cepat, hanya beberapa detik saja keduanya sudah tergeletak tak berdaya. Ia segera kembali menghampiri anaknya, berlutut di tanah basah, memegang kedua pipi.

Rambut perak keemasan gadis itu terurai panjang, sedikit berantakan kena ranting. Matanya yang biru bening berkaca-kaca, penuh air mata dan ketakutan. Ia masih mengenakan gaun tidur putih yang sudah kotor terkena lumpur dan daun kering. Tangannya meringkuk di dada, sesenggukan tak berhenti.

Ibunya menahan sesak di tenggorokan, berusaha tersenyum meski matanya juga basah. Ia mengeluarkan satu belati dari pinggangnya, lalu menaruh gagangnya ke telapak tangan dan memeganginya agar tak terlepas.

Belati itu terasa berat di tangan anak itu. Bilahnya panjang dan mengilap, ada ukiran halus yang memanjang di sepanjang permukaannya. Gagangnya terbuat dari bahan gelap yang pas digenggam, dihias ukiran logam yang rumit di bagian ujung dan silangnya. Sarungnya juga sama, dipadukan kulit bertekstur dan hiasan logam yang serasi. Benda ini bukan sekadar senjata — terasa seperti warisan yang menyimpan banyak beban.

Dari balik pepohonan, tiga orang lagi muncul mendekat. Suara ibu itu jadi tegas, tapi nadanya tetap bergetar menahan tangis.

— Sayang, kamu putri kesayangan Ibu. Kamu kuat, kan? Bawa ini. Pergilah sejauh mungkin. — Ia memandang mata dengan pandangan yang dalam. — Ingat, kalau ada yang menyakitimu, pakai belati ini. Faham? Cepat pergi.

Anak itu hanya menggeleng cepat, air matanya makin deras. Ia tak mau melepaskan tangan ibunya, tak mau pergi sendirian. Namun ibunya sudah berdiri, menghadap kedatangan musuh sambil bersiap bertarung lagi.

Tiba-tiba teriakan keras memecah sunyi hutan:

—Sofia Pergi! Pergi! Lari dan jangan pernah berhenti!

Gadis itu menoleh sekali lagi. Melihat ibunya yang sudah dikelilingi, bertarung sekuat tenaga meski tubuhnya mulai terluka. Ia menggenggam belati itu erat-erat sampai buku jarinya memutih, lalu memutar badan dan berlari sekuat kaki mungilnya bisa. Sempat terantuk akar pohon dan jatuh, tapi ia bangkit lagi tanpa membuang waktu, terus berlari masuk ke kegelapan hutan, membawa air mata dan belati itu yang terasa makin berat di tangannya.

Terbentang sebuah desa kecil tersembunyi di lembah pegunungan tinggi, jauh dari bising kota. Di tengah hamparan rumput hijau yang penuh bunga liar kuning, berdiri rumah-rumah kayu sederhana beratap papan. Sudah bertahun-tahun berdiri, kayunya agak memudar tapi tetap kokoh, tak goyah diterpa angin musim hujan. Jalan tanahnya berkelok, dipagari kayu dan kawat kasar, jadi batas ladang milik warga.

Di kejauhan gunung-gunung menjulang, puncaknya selalu diselimuti kabut tipis seolah tak mau mempertunjukkan seluruh wujudnya. Udara di sini dingin dan segar, rasanya ringan saat dihirup. Kendaraan jarang lewat; sesekali hanya terdengar suara motor melaju pelan di jalan berbatu, membawa sayuran dari kebun lalu berhenti sebentar untuk menawarkannya ke rumah-rumah. Di pinggir jalan ada warung kayu kecil, tempat warga berkumpul belanja beras atau garam, sekaligus mengobrol melepas lelah.

Di ujung desa, tak jauh dari sungai yang airnya bening sampai terlihat kerikil di dasarnya, ada air terjun yang menyembur pelan diantara batu . Airnya turun pelan, mengalir tenang di sela-sela batu. Tepat di sebelahnya berdiri rumah kami, dibangun dari batu alam dan kayu tebal, seolah sudah tumbuh menyatu dengan lingkungan sekitar.

Halaman depannya ada tangga batu yang tersusun asal-asalan tapi tetap bisa dipijak. Di sisi-sisinya tumbuh rumput pendek dan bunga liar putih , biru serta ungu yang menjalar bebas sampai ke dinding. Beberapa tiang kayu besar menopang atap teras, memberi tempat teduh yang sejuk sepanjang hari. Di belakangnya terlihat pepohonan lebat dan lereng gunung yang hijau, sementara suara air terjun terdengar terus menerus — lembut, tak pernah berhenti.

Dinding rumah itu dari papan kayu yang warnanya sudah pudar terkena angin gunung. Pintu depannya dari kayu tua, terasa kasar saat dipegang tapi kokoh sekali. Di sampingnya ada jendela dengan bingkai kayu serasi, daun jendelanya mudah digerakkan tanpa berdecit. Di depan teras dipasang pagar kayu kasar, lantainya semen yang sudah dipadatkan puluhan tahun — sekarang terasa halus dan rata saat dipijak. Di ambang jendela tergantung pot tanah liat berisi bunga merah yang tumbuh subur, memberi sedikit warna cerah pada bangunan yang terlihat begitu alami.

Di teras itu, sepasang suami istri duduk bersila beralaskan tikar plastik tipis yang sudah agak tipis di beberapa bagian, tapi masih cukup nyaman. Mereka diam menikmati angin sore yang berhembus lembut.

Sang ibu berwajah lembut sekali. Kulitnya putih bersih, tak pernah pakai krim apa pun tapi tetap terlihat bersinar. Rambutnya yang panjang sampai di pinggang disisir rapi, diikat longgar ke belakang, berkilau sedikit kena cahaya senja. Matanya bening dan hangat, menatap siapa saja dengan pandangan yang menenangkan. Saat tersenyum, terasa tulus tanpa pura-pura. Tangannya bergerak terampil menuangkan air dari teko tanah liat ke cangkir kayu yang permukaannya kasar. Senyumnya tak pernah hilang — seolah ia sudah merasa cukup dengan apa yang ada.

Di sampingnya duduk ayah. Kulitnya sawo matang, terbakar matahari ladang. Ada garis halus di dahi dan sudut matanya, tanda ia sudah bekerja keras sejak muda. Matanya tajam tapi terasa lembut kalau melihat istri dan anak-anak. Rambutnya lebat tapi agak berantakan, seperti baru saja mengusap keringat lalu langsung duduk bersama keluarga. Ia pakai kemeja katun biru yang sudah pudar, lengan digulung sampai siku, dipadukan celana kain cokelat yang agak lusuh di bagian lutut. Tapi ia selalu terlihat bersih, dan saat ada di dekatnya, rasanya aman.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!