Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri
“Bangkitlah dan pergi. Namun mulai hari ini, kau tak lagi bertugas sebagai sopir pribadi Istriku. Aku akan cari orang lain yang lebih mampu dan bertanggung jawab menggantikanmu,” ucap Adrian dengan nada yang tenang namun tak bisa dibantah — keputusan yang bulat, tak ada ruang untuk negosiasi.
Wajah sopir tampak sedikit lega meski masih tersirat kesedihan karena telah mengecewakan tuannya. Ia tunduk dalam sebagai tanda terima kasih dan hormat terakhir. “Terima kasih atas kebaikan Tuan yang masih memaafkan kesalahan besar saya.” Ia berusaha bangkit untuk pergi, namun Yamal menyela — ada hal yang mengganjal di benaknya sejak tadi, sesuatu yang tak bisa didiamkan. Yamal menanyakan ciri fisik, penampilan, dan sifat wanita pemilik kedai secara rinci, setiap detailnya diteliti saksama. Setelah mendengar jawaban itu satu per satu, dugaan Yamal terbukti sepenuhnya benar — tak ada keraguan sedikit pun tersisa.
Ia segera menghadap Adrian dengan wajah serius dan sungguh-sungguh, nadanya rendah namun penuh berat: “Tuan… Wanita itu adalah orang yang pernah saya laporkan.”
Adrian mengangguk perlahan, seolah semua kepingan teka-teki yang selama ini terpisah kini tersusun utuh dan jelas di benaknya — gambar lengkap akhirnya terlihat. “Jadi begitu.”
Ia menatap Yamal dengan pandangan yang keras dan tegas, tanpa ragu sedikit pun, tanpa keraguan sekecil apa pun: “Singkirkan dia.”
Tak ada pertanyaan, tak ada permintaan pembelaan. Adrian tak mau mendengar alasan apa pun — baginya, siapa pun yang berani menyakiti atau mencari masalah dengan orang di bawah perlindungannya akan ditangani tegas dan tuntas tanpa ragu, dengan cara apa pun yang perlu dilakukan.
Yamal sangat paham watak dan prinsip tuannya. Tak perlu tanya dua kali atau minta penjelasan lebih lanjut. Ia hanya tunduk sebentar tanda hormat dan siap melaksanakan perintah.
Begitu pintu kamar tertutup rapat di belakangku, aku melangkah tergesa-gesa masuk sepenuhnya, lalu memutar kunci berulang kali agar terkunci rapat — takut ada orang datang atau masuk tiba-tiba saat aku sendirian di ruangan ini. Punggungku bersandar pada pintu yang dingin, napasku masih tersengal pelan karena ketegangan yang tak kunjung reda.
Kakiku perlahan mendekati cermin besar di sudut ruangan, langkahnya pelan dan ragu. Namun saat melihat pantulan diri sendiri, napasku tertahan di tenggorokan — kaget hingga tak bisa bernapas. Warna mataku tampak berbeda dari biasanya, jauh lebih gelap, memancarkan cahaya samar yang tak wajar — seolah ada bintang redup atau bayangan purba yang berputar di dalamnya.
Aku berusaha mengingat di mana menyembunyikan bungkusan peninggalan Ibu, namun pikiranku buntu dan tak ingat jelas — kepala terasa pening, seolah dikelilingi kabut tebal. Berjalan mondar-mandir gelisah dan cemas di antara perabotan, hingga ingatan itu tiba-tiba kembali memecah kebingungan — sembunyikan di balik lipatan gorden jendela tebal, pagi tadi, saat tak ada yang melihat. Saat telapak tanganku menyentuh kain pembungkus itu, beban berat di dada perlahan terangkat dan hati terasa jauh lebih tenang — seolah sentuhan itu membawa perlindungan yang tak terlihat.
Duduk perlahan di tepi kursi dekat jendela, letakkan bungkusan di atas meja kaca tepat di hadapanku. Dengan tangan masih sedikit gemetar karena campuran rasa takut dan rindu yang mendalam, buka lipatan kain itu satu per satu dengan sangat hati-hati — seolah membuka rahasia terbesar dalam hidupku. Dari dalamnya keluarkan pakaian lamaku yang lusuh, tipis, penuh jejak perjalanan dan kesusahan panjang yang tak terhitung. Di kerah dan ujung bajunya masih terlihat samar noda lama yang tak hilang meski dicuci berkali-kali — noda tanah, hujan, dan air mata yang mengering tanpa sempat dihapus.
Lalu tanganku meraih belati kecil yang juga tersimpan di sana — pemberian langsung Ibu sebelum beliau pergi selamanya. Mataku menatap lekat ukiran kuno yang indah namun samar di gagang belati itu; terasa begitu akrab dan menenangkan saat digenggam, seolah jari-jariku sudah menghafal lekuknya sejak lahir. Letakkan perlahan di meja, tepat di sebelah tumpukan pakaian lama — dua dunia yang tak boleh bertemu, namun kini berdampingan di ruangan mewah ini.
Kemudian raba bagian terdalam lipatan kain hingga menyentuh botol kaca gelap kecil yang terasa dingin di tangan. Di dalamnya ada serbuk hitam pekat yang tenang namun menyimpan kekuatan yang tak kuketahui sepenuhnya — berkilau redup saat terkena cahaya remang dari jendela. Menatapnya lama, menelan ludah dengan susah payah, lalu suaraku lirih memecah keheningan ruangan:
“Ibu… maafkan anakmu. Ternyata aku melakukan kesalahan ini untuk kedua kalinya tanpa sadar. Aku janji mulai detik ini… akan meminumnya setiap hari tanpa pernah terlewat.”
Berjalan perlahan ke sisi tempat tidur, ambil segelas air putih di meja samping yang masih terasa sejuk. Hati-hati tuangkan sedikit serbuk hitam pekat ke air bening itu — seketika cairan itu berubah menjadi kelabu pekat, tak berbekak, seolah menelan seluruh cahaya di ruangan. Minum perlahan hingga habis tanpa sisa setetes pun — rasanya hambar namun dingin, menjalar ke seluruh tubuh hingga ke ujung jari kaki.
Tak lama kembali ke cermin besar — benar saja, kurang dari satu menit, warna mataku yang tadinya berbeda perlahan berubah kembali menjadi warna asli yang biasa, jernih dan lembut seperti biasanya. Cahaya asing itu lenyap sepenuhnya, seolah tak pernah ada.
Bergumam pelan dengan suara bergetar — bingung, takut, dan gemetar di setiap suku kata: “Sungguh aneh… Sebenarnya makhluk apa aku ini? Apakah… apakah aku monster?”
Dada terasa sesak karena ketakutan yang meluap tanpa alasan jelas. Tangan tanpa sadar meremas ujung pakaian lama itu hingga kain berkerut kasar di jemariku. Segera geleng kepala kuat berulang kali, usahakan buang pikiran gelap menakutkan itu secepat mungkin sebelum meresap dan menguasai hati: “Tidak… mustahil hal itu terjadi padaku,” bisik pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri agar tak terhanyut ketakutan sia-sia. “Aku hanya… aku hanya Zara. Hanya itu.”
Saat membereskan barang-barang kembali ke dalam bungkusan, mataku tak sengaja melihat beberapa tanaman obat di sudut bungkusan itu — tanaman yang Ibu tanam dan ajarkan namanya. Batang mulai layu, daun menguning, bahkan ada yang rontok karena terlalu lama terbungkus rapat tanpa udara segar. Segera bawa ke kamar mandi, siram secukupnya agar kesegarannya pulih perlahan. Letakkan sementara di tempat teduh di sana, berniat menanam dan merawatnya dengan benar besok pagi — seperti yang Ibu ajarkan dulu.
Sementara itu, jauh dari kediaman mewah itu — jauh dari kota, di tempat yang tak tertera di peta mana pun — berdiri bangunan aula yang sangat luas dan megah namun penuh kesan suram dan misterius. Ditopang oleh tiang-tiang batu yang sangat tinggi dan kokoh, seolah menopang berat langit di atasnya selama ribuan tahun. Di setiap permukaan dinding dan tiang terukir tulisan dan gambar kuno yang samar namun penuh makna — sosok-sosok dengan mata bersinar, sayap yang tak utuh, dan simbol-simbol yang berkilau pelan seolah bernapas sendiri.
Namun suasana di dalamnya gelap, dingin, dan sunyi senyap — tak ada suara angin, tak ada suara langkah kaki, tak ada apa-apa selain keheningan yang menekan dada. Hanya beberapa lilin besar menyala di setiap sudut, namun cahayanya tak cukup terang untuk menerangi setiap sudut bangunan luar biasa besar itu — bayangan-bayangan bergerak pelan di dinding seolah memiliki nyawa sendiri. Dan di tengah ruangan yang luas itu, di atas singgasana batu yang dingin… sepasang mata terbuka perlahan — matanya berwarna kelabu pekat, persis seperti serbuk yang baru saja diminum Zara.