NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara kebaikan hati dan ketakutan yang tidak terduga

Ternyata itu adalah jenis telepon pintar yang sangat terkenal dan mahal. Warnanya terlihat begitu lembut persis seperti kelopak bunga yang baru mekar, dan terasa halus bahkan hanya dengan dilihat sekilas saja. Aku hanya diam terpaku memandang benda itu di tangannya, rasanya ada sesuatu yang berat menahan tanganku untuk sekadar terulur menyentuhnya. Namun akhirnya aku pun menerimanya juga dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dan perlahan rasa hangat serta rasa syukur yang tulus mulai memenuhi hatiku. Dulu saat aku masih tinggal di desa, aku pernah melihat salah satu temanku memiliki telepon genggam yang sederhana, namun benda yang ada di tanganku ini terlihat jauh lebih indah dan canggih dari apa pun yang pernah kulihat sebelumnya. Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti aku pun akan berkesempatan memegang benda seindah ini.

“Sebenarnya aku telah memeriksa segala hal yang berkaitan dengan dirimu,” ucapnya pelan namun setiap katanya terdengar jelas dan tegas. “Baru saja aku menyadari satu hal yang sangat penting: usiamu bahkan belum genap menginjak usia delapan belas tahun. Seharusnya pada saat ini kau masih duduk tenang di bangku sekolah sebagai siswa kelas tiga Sekolah Menengah Atas. Catatan tentang masa lalumu pun terlihat tidak lengkap, dan asal usul keluargamu belum bisa diketahui dengan jelas. Namun ketahuilah bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan hal-hal itu—siapa dirimu sebenarnya, atau dari mana asal usulmu, bagiku itu bukanlah hal yang paling penting saat ini.”

Ia terdiam sejenak, menatapku lekat-lekat seolah ingin memastikan bahwa aku benar-benar mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya, sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih lembut:

“Jawablah pertanyaanku ini dengan sejujur. Apakah kau masih memiliki keinginan yang kuat untuk kembali melanjutkan pendidikanmu, menyelesaikan sekolahmu?”

Mendengar pertanyaan yang begitu tulus itu, seketika mataku terlihat berbinar terang memancarkan harapan yang selama ini sempat tersembunyi di dalam hati. Aku pun menjawabnya dengan suara yang jernih, lantang, dan penuh dengan ketulusan yang mendalam: “Ya Kak Adrian! Aku sangat menginginkannya. Sungguh, aku sangat ingin sekali bisa kembali bersekolah dan menyelesaikannya dengan baik.”

Adrian menatapku sejenak lamanya seolah ingin memastikan kesungguhanku, lalu ia kembali melanjutkan ucapannya dengan nada yang tegas namun tidak terdengar kasar sama sekali. “Baiklah. Aku akan mengurus segala sesuatunya untukmu—mulai mendaftarkanmu ke sekolah terbaik yang ada di kota ini, hingga memastikan tidak ada satu pun orang yang berani mengganggu mu. Namun ada satu syarat yang harus kau pegang teguh dan tidak boleh kau langgar sedikit pun: jangan pernah menceritakan status pernikahan kita ini kepada siapa pun. Rahasia ini harus tetap terjaga dengan baik demi kebaikan kita berdua di masa depan. Apakah kau mengerti maksudku?”

“Aku mengerti, Kak Adrian. Dan aku berjanji akan menjaga rahasia ini seperti,” jawabku sambil menundukkan kepalaku sebagai tanda hormat dan kesungguhan hati.

Adrian menyipitkan matanya perlahan, seolah ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam pikirannya sejak tadi. “Namun sebenarnya masih ada satu hal yang sejak tadi terus membuatku merasa penasaran.”

Aku segera menatapnya kembali dengan penuh perhatian. “Apakah itu?”

Raut wajahnya perlahan berubah menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya, nada bicaranya pun terdengar datar namun dingin menusuk ke dalam hati. “Ada apa sebenarnya dengan matamu itu? Mengapa…” Ia perlahan mencondongkan sedikit badannya ke arahku, menatap lekat tepat ke dalam kedua mataku seolah ingin menembus dan mengetahui segala apa yang tersembunyi di balik pandanganku itu.

Mendengar pertanyaan itu, seluruh tubuhku seketika tersentak kaget yang luar biasa. Tanpa sempat berpikir panjang, aku segera bangkit berdiri dari tempat dudukku dan memotong ucapannya dengan nada yang tergesa-gesa. “Terima kasih banyak atas segala kebaikan dan bantuannya padaku!” Tanpa menunggu jawaban atau izin darinya lagi, aku segera berbalik badan dan melangkah secepat mungkin keluar dari ruangan itu, sambil menekan telapak tanganku sedikit demi menutupi sebagian area mataku dengan rasa takut yang meluap-luap.

Adrian hanya diam terpaku di tempatnya, terus memandangi punggungku yang menjauh hingga akhirnya hilang sama sekali di balik penutup pintu kayu yang berat itu. Di balik tatapan yang tampak penuh rasa heran, terlihat samar kilatan pandangan yang dingin dan tajam—seolah segala kepingan teka-teki yang selama ini terpisah, mulai tersusun rapi satu per satu di dalam benaknya.

Tak berlama-lama lagi, Adrian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah telepon pintar berwarna hitam pekat yang terlihat kokoh. Ia menekan sejumlah tombol dengan cepat untuk menghubungi seseorang, lalu menunggu hingga sambungan tersambung. Saat suara dari seberang terdengar, nada bicaranya kembali terdengar dingin, tegas, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk pembelaan. “Yamal, datanglah ke sini sekarang. Ada hal yang ingin kutanyakan.”

“Baik, Tuan. Saya akan segera berangkat ke sana saat ini juga,” jawab suara Yamal dari seberang sambungan telepon itu dengan hormat, sebelum akhirnya panggilan itu terputus sepihak.

Tanpa menambahkan satu kalimat penjelas pun kepada siapa pun, Adrian segera melangkah dengan langkah yang mantap namun cepat menuju halaman depan kediaman itu. Begitu ia tiba di area tempat kendaraan diparkir, pandangannya langsung menangkap sosok sopir yang berdiri tegak sambil menunggu di sana. “Kemarilah ke hadapanku.”

Wajah sopir itu seketika berubah menjadi pucat pasi seolah kehilangan seluruh darah di tubuhnya. Ia segera mendekat dengan langkah yang terlihat berat dan gugup, sambil terus menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan yang mendalam. “Ya, Tuan. Ada apa yang ingin Tuan perintahkan kepadaku?”

Adrian menatapnya lekat-lekat dengan pandangan yang begitu tajam, hingga seketika itu juga udara di sekitar mereka terasa menjadi jauh lebih dingin dan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. “Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi saat kau mengantar Istriku ke rumah sakit tadi. Jangan ada satu hal pun yang kau sembunyikan dariku.”

Tepat pada saat itu, sebuah kendaraan lain melaju masuk ke halaman rumah itu perlahan, dan tak lama kemudian turunlah Yamal dari dalamnya. Ia segera berdiri dengan tenang di samping Adrian, lalu diam sepenuhnya sambil menyimak setiap kata yang akan terucap selanjutnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan leher sopir itu, ia terlihat menelan ludah dengan sangat susah payah karena rasa takut yang menyelimutinya. Namun ia pun akhirnya menceritakan segala peristiwa itu dari awal hingga akhir tanpa ada yang dikurangi atau ditutup-tutupi—mulai dari tatapan aneh orang-orang, perkataan yang penuh hinaan dan tuduhan yang tak berdasar, hingga peristiwa ketika batu itu dilemparkan dan melukai dahi istrinya.

Setelah mendengar seluruh cerita itu sampai tuntas, terlihat jelas bagaimana urat-urat di leher dan punggung tangan Adrian menjadi tegang keras menahan amarah yang rasanya hendak meluap keluar tanpa kendali. Suaranya terdengar berat namun tetap tegas dan menekan. “Kau memang hanyalah seorang sopir yang bertugas mengantar dan menjemput. Namun bagaimana mungkin kau membiarkan orang asing yang tidak tahu diri menyakiti istriku di hadapan matamu sendiri? Apakah begini cara kau menjalankan tugas dan kepercayaan yang telah kuberikan kepadamu?”

Mendengar pertanyaan itu, sopir itu tidak sanggup lagi berdiri tegak—ia langsung berlutut di atas permukaan tanah yang keras sambil napasnya terlihat tersengal-sengal karena panik dan takut. “Mohon ampun saya telah membuat kesalahan besar, Tuan! Saya sungguh telah melalaikan tugas dan kewajiban saya dengan sangat buruk. Saya siap di hukum sesuai dengan apa yang pantas saya terima, karena sayalah yang bersalah karena gagal menjaga keselamatan Nyonya Zara.”

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!