NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketahuan

Ketahuan

“Rindu, kenapa turun?” tanya Bella panik saat melihat menantunya menuruni anak tangga.

“Bosan dikamar aja, Ma. Rindu ingin di sini temani Mama.”

Rindu bergumam kesal, karena alasan Elang yang mengatakan kakinya terkilir pada sang ibu, membuatnya tidak bisa beraktifitas. Ia terjebak di dalam kamar bersama suaminya saja, dan itu sangat membosankan. Jika dahulu, sebelum mengetahui kebiasaan buruk Elang, mungkin Rindu akan sangat senang berada di kamar berduaan dengan sang suami. Tapi kini, keinginan itu tak akan ada lagi.

Entah mengapa, kini berganti Elang yang justru menginginkannya berada di dalam kamar.

Tuk

Tuk

Benar saja, tiba‑tiba Elang mengekorinya dari belakang dan membantu Rindu menuruni anak tangga dengan memegang lengannya.

Sungguh, Rindu tidak menyukai keadaan ini. Kakinya tidak apa‑apa, tidak sakit sama sekali, tapi ia harus berjalan jinjit.

“Elang sudah bilang pada Rindu untuk tidak keluar kamar, Ma,” ucap pria itu. “Tapi Rindu ngeyel.”

Rindu melirik suaminya dengan tatapan tajam. Namun, Elang justru membalasnya dengan sorot mata memohon agar mereka bersandiwara sebentar, hanya selama sang ibu menginap di rumah ini saja.

Bella yang semula duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi, segera menghampiri Rindu. Wanita paruh baya itu juga langsung memegang lengan menantu kesayangannya dan membantu Rindu menuruni anak tangga yang hanya tinggal sedikit lagi.

Bella tersenyum pada menantunya. “Kamu itu seperti Mama. Mama juga bosan kalau ngga ngapa‑ngapain.”

Beruntung, Bella justru membelanya.

“Sampai waktu Papanya Elang kerja, Mama yang jadi sekretarisnya.”

“Oh ya? Kok Mama ga pernah cerita?” tanya Rindu yang malah tidak tahu tentang cerita ini, padahal mereka dekat sudah sangat lama.

Bella mengantar Rindu dan mengajak menantunya itu untuk duduk di sofa yang semula ia duduki.

“Ya, Mama memang tidak cerita pada siapa pun, termasuk pada suamimu.” Mata Bella menatap ke arah putranya.

Terlihat Elang yang juga terkejut mengetahui fakta itu.

“Makanya, setelah Papanya Elang meninggal, Mama bisa mengambil alih perusahaan. Mama cukup tahu tentang pengelolaan perusahaan karena Mama memang pernah menjadi asisten pribadi Surya Samudera.”

Rindu mendengarkan cerita itu dengan senyum. “Pasti seru ya, Mam.”

“Iya, kami selalu melakukan segala sesuatu bersama. Kami saling melengkapi, saling menghargai, dan selalu terbuka dalam hal apa pun. Kita sama‑sama menjadi teman bercerita,” sambung Bella menceritakan kisahnya dengan sang mendiang suami.

“Hm … so sweet,” sahut Rindu yang miris karena nyatanya Elang tidak seperti mendiang ayahnya.

Entah dari mana sifat suaminya itu, padahal kedua orang tuanya terdengar tidak memiliki sifat yang ada pada diri Elang.

“Makanya, Mama tadinya mau protes saat kamu kerja di perusahaan orang lain. harusnya, kamu jadi sekretaris atau asisten pribadi suamimu,” ujar Bella lagi.

Dahi Rindu langsung mengernyit dan menatap ke arah Elang. “Memang orangnya mau? Ngga, Ma. Nanti dia takut ga bisa macam‑macam, kalau Rindu jadi sekretaris atau asisten pribadinya.”

Kemudian, ekspresi Rindu berubah dengan tertawa. tertawa miris lebih tepatnya, karena perkataan itu memang benar adanya.

Sontak, mata Elang membulat. Sorot matanya tajam menatap sang istri yang keceplosan.

Dan, Bella menganggap perkataan Rindu hanya guyonan, mengingat wanita itu pun bicara sambil tertawa.

“Kalau Mama, justru memang sengaja jadi ada posisi di dekat suami supaya dia ga macam‑macam. Harusnya. Kamu juga begitu. Diluar sana, banyak waita gatal, Rin. para wanita itu menyukai pria dewasa dan memiliki harta.”

“Apa sih, Ma?” Elang hendak menghentikan obrolan yang tak berfaedah ini, menurutnya. “Tidak ada pembicaraan yang lebih menyenangkan dari ini kah, Ma?” protesnya lagi.

Bella tertawa. Hari semakin sore. Bahkan, sebentar lagi langit akan berganti dari terang menjadi gelap.

“Baiklhah, kita ganti topik pembicaraan,” ujar Bella dengan memenarkan posisi duduknya menjadi serius.

“Sudah sejauh mana kalian berkonsultasi soal momongan?” tanyanya.

Elang langsung mendesah kasar. “Hah, Ma. Ngga ada pertanyaan yang lain lagi kah?”

“Apa? Semua pertanyaan dan obrolan Mama rasanya salah semua.”

“Iya, salah! Mending Mama buat kue aja.”

Baru saja, Elang ingin mengajak sang ibu ke dapur, tiba‑tiba suara bel berbunyi.

Ting

Tong

Ting

Tong

Dengan cepat, Bibi berlari menghampiri pintu.

“Siapa, Bi?” tanya Elang.

“Ini, katanya orang suruhan Nyonya,” jawab Bibi sambil memperkenalkan tamu yang baru saja menekan bel.

“Ah, iya. Ini orang suruhan Mama.” Sontak, Bella berdiri dan menghampiri pria yang membawa banyak koper dari luar ke dalam.

Dahi Elang mengenyit melihat orang yang bertamu itu membawa koper ke dalam rumah ini. “Untuk apa koper‑koper ini, Ma?”

“Untuk Mama. ini koper‑koper Mama.”

“Ya, buat apa koper sebanyak ini?” tanya Elang lagi.

“Untuk membawakan pakaian Mama dari sana ke sini.”

Perkataan Bella membuat Elang dan Rindu bertatapan.

“Mama ingin menginap di sini lagi?” tanya Rindu senang. Senyumnya yang cantik pun menghias indah di wajah itu.

“Iya, Mama ingin menginap lagi di sini,” sahut Bella.

“Sampai berapa lama sampai kopernya sebanyak itu?” tanya Elang yang justru terlihat tidak suka.

Ia tidak ingin sang ibu berlama‑lama di rumah ini, karena sejujurnya kehadiran Bella membuat Elang tak berdaya.

“Mama akan berada di rumah ini dalam waktu yang tidak ditentukan.”

Sontak, Elang terkejut. Keterkejutan itu juga berlaku pada Rindu.

“Maka ingin pulang minggu depan? Sekalian Rindu nyekar ke makam ayah dan Ibu Rindu.”

Bella langsung menggelengkan kepala. “Tidak. Tidak. Mama ingin menginap sebulan atau dua bulan.”

“Apa?” Elang dan Rindu kompak terkejut hingga suara mereka sedikit lebih keras.

Mereka kira, Bella akan pulang lusa atau paling lama akhir minggu selanjutnya, tapi nyatanya tidak. Nyatanya, wanita paruh baya itu malah menyuruh seseorang untuk membawa keperluan sehari‑harinya ke rumah ini.

Kehadiran Bella di rumah ini, semakin membuat Rindu menunda perpisahannya, padahal jika Bella tidak ada di rumah ini, Elang tidak akan memiliki kekuatan dan mau tidak mau menerima permintaanya yang ingin berpisah.

“Ada apa, Sayang?” tanya Bella pada Rindu yang terlihat sendu.

Rindu pun menggeleng. “Tidak, Ma. Tidak apa‑apa.”

“Pokoknya Mama akan di sini sampai kamu sehat benar. Oke!”

Dengan terpaksa, Rindu pun mengangguk. ia merutuki drama yang dimulai Elang. Karena dengan drama itu, rumah tangganya akan semakin lama tampak pura‑pura.

Dret … Dret … Dret …

Ponsel Elang berbunyi. Namun, pemilik ponsel itu tampk tidak peduli, padahal sebelumnya Elang menatap layar ponselnya sendiri ketika benda itu berdering.

Ponsel itu terus berbunyi. Rindu melihat Elang menunduk seperti sedang mengirimkan pesan pada seseorang. Dan, Rindu meyakini bahwa perempuan yang sedang chat dengan suaminya itu adalah Miska.

Benar saja, usai Elang menunduk dan memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku, ponsel itu pun tak berbunyi lagi.

Namun, saat makan malam tiba dan duduk bersama, tiba‑tiba ponsel Elang yang sengaja tergeletak tepat di samping Elang pun berbunyi lagi.

Dret … Dret … Dret …

Mendengar ponsel itu berbunyi sejak sebelum mereka berkumpul dan makan malam bersama, Bella pun mengiterupsi.

“Ponselmu dari tadi berbunyi, Lang. Ayo cepat angkat dulu, baru kita mulai makan ujar Bella memerintah.

“Baiklah, kalau begitu Elang mau angkat teleponnya dulu.” Pria itu tampak sudah berdiri dan hendak menjauh dari meja makan.

“Tidak, untuk apa kamu pergi. angkat saja telepon itu di sini.”

Deg

Elang terkejut, pasalnya telepon itu datang dari nomor Miska yang tak ia beri nama di sana.

Sementara, Rindu tersenyum tipis sambil menikmati ketakutan suaminya. Rindu juga ingin tahu, sejauh mana Elang berani membuka keburukannya dihadapan sang ibu.

Namun, Rindu tetap diam. Ia sengaja tidak bersuara dan tidak menghasut Bella. Mesk ia, sudah mengetahui semua yang terjadi.

“Ayo, Lang! Angkat teleponnya! Dari sore tadi berdering terus loh. Mungkin itu klien pentingmu.” Bella kembali bersuara.

Sambil gelagapan, Elang mengambil ponselnya. Padahal sebelumnya ia sudah melirik dan melihat nomor yang tertera di sana memang nomor milik Miska.

Tangannya hendak menggeser tombol hijau. Elang pasrah, apalagi sang ibu meminta mengeraskan telepon yang masih berdering itu.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!