Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bu Ratna mendengus pelan.
"Ibu hanya mengatakan kenyataanya."
"Kenyataan?" Karin mengangkat sebelah alisnya. "Kenyataan yang mana, Bu? Kenyataan bahwa kesuksesan yang anak Ibu dapatkan sekarang karena ayah saya mempertaruhkan nama baiknya demi Dimas? Atau kenyatan bahwa rumah yang Ibu tempati sekarang ini dibeli menggunakan uang keluarga saya?"
Wajah Bu Ratna seketika berubah. "Kamu jangan sembarangan bicara!"
"Aku sedang mengatakan fakta."
Tatapan Karin beralih pada Dimas.
"Kalau memang kamu merasa sudah berhasil dengan kemampuanmu sendiri, seharusnya tidak sulit mengembalikan semua yang berasal dari keluargaku."
"Karin, kenapa kamu terus mengungkit masa lalu?"
"Aku bukan mengungkit."
Suara Karin tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam.
"Aku hanya sedang mengingatkan kalian agar tahu diri."
Kalimat itu membuat wajah Bu Ratna memerah menahan malu sekaligus marah.
"Kamu sudah berubah, Karin."
"Bukan aku yang berubah." Karin bangkit dari duduknya, lalu menatap satu per satu wajah mereka.
"Kalian saja yang baru sadar bahwa tidak selamanya orang itu bisa di perlakukan seenak kalian."
Ruangan kembali diselimuti keheningan. Untuk pertama kalinya, Dimas merasa tidak lagi mengenali perempuan yang telah menjadi istrinya selama bertahun-tahun. Perempuan yang dulunya selalu mengalah, kini berubah dalam waktu singkat.
"Baiklah, Karin. Ibu yakin Dimas dan Vina setuju dengan semua syaratmu." kata Bu Ratna memecah keheningan.
"Ibu..." Dimas hampir protes, tapi di tahan oleh ibunya.
"Tapi untuk tidak mempunyai anak itu keterlaluan sekali." lanjut Bu Ratna, dengan nada tidak terima. "Lagipula, kamu dan Dimas sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum juga dikaruniai anak. Vina ini masih muda, kalau dia punya anak, setidaknya keluarga kita punya penerus."
Bu Ratna melangkat mendekat ke arah Karin. Dengan wajah yang di buat selembut mungkin, ia meraih tangan menantunya.
"Karin, Ibu bukan tidak memihakmu. Ibu tahu apa yang di lakukan Dimas ini sudah membuatmu kecewa, Ibu janji nanti akan menengurnya. Tapi untuk kali ini, kamu mengalah saja."
Karin mendengus pelan sambil menarik tangannya dari genggaman Bu Ratna. "Ibu, bukankah aku sudah mengalah?" ujarnya tenang. "Aku bahkan mengizinkan Dimas menikahinya. Hanya saja syarat yang aku berikan juga harus disetujui. Semunya harus tertulis hitam di atas putih."
"Aku bisa menyetujui syaratmu itu, tapi untuk soal anak aku tidak bisa menyetujuinya." kata Dimas.
Belum sempat Karin menanggapi, Bu Ratna kembali menyela.
"Karin, begini saja," Bu Ratna kembali membujuk. "Bagaimana kalau nanti anak Vina dicatat atas namamu? Kamu tidak perlu repot-repot hamil dan melahirkan. Bukankah itu juga anak Dimas? Dengan begitu, semua orang tetap menganggap kalian memiliki keturunan."
Ucapan itu semakin membuat dada Karin semakin sesak karena amarah.
"Ibu mengira aku tidak akan pernah bisa punya anak?" tanya nya pelan, tetapi suaranya terdengar sangat dingin. "Sampai-sampai Ibu menyuruhku menerima anak dari wanita yang sudah merebut suamiku sebagi anakku sendiri?"
Bu Ratna tampak sedikit gugup. "Bukan begitu maksud Ibu. Ibu hanya..."
"Keluarga ini benar-benar hebat." Karin tersenyum sinis. "Suami membawa pulang selingkuhannya, Ibu mertua memintaku merestuinya, lalu sekarang kalian menyuruhku membesarkan anak hasil hubungan mereka. Apa menurut Ibu aku sebodoh itu?"
Tak seorangpun berani langsung menjawab pertanyaan Karin.
"Kalau kalian tidak setuju dengan syaratku.itu bukan urusanku." Karin menatap Dimas dan Vina bergantian. "Keputusannya ada di tangan kalian berdua. Terima semua syaratku atau batalkan rencana kalian. Kalau kalian berani menikah diam-diam tanpa persetujuanku, aku akan menuntut kalian semua."
Setelah mengatakan itu Karin berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Dimas mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jarinya memutih. Rahangnya mengeras melihat sikap Karin yang berubah drastis.
Sementara itu, Vina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya tetap terlihat sedih, tetapi dibalik tatapan yang tertunduk, amarah dan kebencian mulai memenuhi hatinya.
Bu Ratna menghembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka keadaan akan berkembang sejauh ini.