Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Sisa kehangatan dari pelukan mendadak itu hilang begitu saja ketika Devran melepaskan dekapannya, beralih melangkah menuju koper abu-abu milik Alana yang masih terbuka di atas lantai.
Tanpa meminta izin, jemari kekar pria itu meraba kantong bagian dalam koper, lalu menarik keluar sebuah dompet dokumen kecil berbahan kulit.
Sret.
Devran membuka dompet itu dan mengeluarkan dua buah buku kecil bersampul biru dan hijau, paspor internasional milik Alana dan Leo.
"Devran! Apa yang kamu lakukan? Kembalikan pasporku!" seru Alana panik, mencoba merebut kembali dokumen penting tersebut dari tangan Devran.
Devran dengan mudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memanfaatkan keunggulan tingginya yang mencolok untuk membuat paspor itu berada jauh dari jangkauan Alana.
Dengan ekspresi wajah yang mendadak kembali dingin dan datar, ia memasukkan kedua paspor itu ke dalam saku celana kainnya.
"Paspormu dan Leo resmi disita, Alana," ujar Devran tenang, seolah baru saja mengumumkan agenda rapat harian.
"Kamu tidak berhak melakukan ini, Devran! Itu dokumen negara! Kamu menahanku secara ilegal!" Alana berteriak frustrasi, dadanya kembang kempis menahan amarah yang kembali membubung.
"Kamu bilang kamu ingin melindungiku, tapi tindakanmu ini sama saja dengan menculik kami!"
"Om seram curang lagi," Leo menimpali dari atas kasur, melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Menyita paspor itu taktik kuno. Aku bisa memesan paspor palsu lewat dark web dalam waktu dua puluh empat jam kalau aku mau."
Devran melirik putranya, lalu mengulas senyum tipis yang sarat akan tantangan.
"Coba saja lakukan, Leo. Dan aku akan memastikan setiap kurir yang mencoba mengantarkan dokumen palsu itu ke area perumahan ini langsung masuk ke sel isolasi sebelum mereka sempat mengetuk gerbang."
Leo mendengus keras, memalingkan wajahnya yang merajuk. "Om seram pelit. Menyebalkan."
"Sekarang giliranmu, Alana," Devran kembali menatap Alana, melangkah mendekat hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung wanita itu.
"Kamu tidak bisa pergi dari Indonesia. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat."
"Kenapa?! Berikan aku satu alasan yang masuk akal, Devran!"
"Kamu sudah tahu kebenarannya, kamu sudah tahu Leo adalah anakmu, lalu apa lagi yang kamu inginkan dariku?!" tuntut Alana dengan mata yang berkaca-kaca.
Devran terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam mengamati wajah Alana yang tampak lelah namun tetap terlihat cantik di bawah pendaran lampu kamar yang temaram.
Ada gejolak besar di dalam dadanya yang ingin meneriakkan kata-kata yang jujur, bahwa ia egois, bahwa ia tidak ingin kehilangan wanita ini lagi, bahwa ia ingin menebus semua waktu yang hilang sebagai seorang ayah dan seorang pria.
Namun, ego Adhitama yang tinggi dan ketidakpahamannya tentang bagaimana cara mengekspresikan perasaan membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Pria itu berdehem pelan, membuang muka sesaat sebelum kembali menatap Alana dengan tatapan yang paling formal.
"Alasannya sangat sederhana," ucap Devran dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin mungkin.
"Kamu masih terikat kontrak resmi dengan Adhitama Group sebagai kepala desainer untuk proyek restorasi interior resort bintang lima di Bali."
"Nilai investasinya triliunan rupiah, Alana. Dan aku tidak akan membiarkan desainer terbaikku kabur ke luar negeri sebelum proyek itu selesai seratus persen."
Alana tertegun, matanya membelalak tidak percaya mendengar alasan yang keluar dari mulut pria itu.
"Apa? Proyek? Kamu menahanku di sini... hanya karena urusan pekerjaan?!"
"Tentu saja," bohong Devran tanpa berkedip, mengukuhkan alibi yang baru saja ia buat di dalam kepalanya.
"Aku adalah seorang pebisnis, Alana. Kerugian finansial akibat mundurnya seorang kepala desainer di tengah jalan sangat besar. Jadwal peluncuran bisa tertunda, dan saham perusahaan bisa berfluktuasi."
"Kamu bohong!" Alana menunjuk dada Devran dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Adhitama Group punya ratusan desainer internasional yang jauh lebih hebat dariku! Kamu bisa menggantiku dalam hitungan jam jika kamu mau!"
"Tapi mereka bukan kamu," sahut Devran cepat, kalimatnya sempat membuat Alana terkesiap sebelum Devran buru-buru menambahkan,
"Maksudku, konsep desain yang sudah disetujui oleh dewan komisaris adalah konsep orisinal milikmu. Menggantinya sekarang akan merusak seluruh garis waktu produksi."
"Jadi, secara profesional, kamu wajib tinggal di sini sampai semuanya selesai."
Alana tertawa getir, air matanya menetes melewati pipi. "Profesional? Kamu membawa urusan pekerjaan ke dalam masalah personal kita, Devran? Di mana hati nuranimu?"
"Aku hampir mati ketakutan di rumah ini semalam, dan sekarang kamu menuntutku untuk bersikap profesional?!"
"Keamananmu di sini sudah dijamin, Alana. Aku sudah mengganti seluruh tim penjaga malam ini dengan unit khusus yang hanya tunduk pada perintahku, bukan pada kakek buyutku atau siapa pun," kata Devran, mencoba meyakinkan Alana dengan nada yang tegas.
"Kamu dan Leo aman di sini. Jadi, tidak ada alasan lagi bagimu untuk mengabaikan pekerjaanmu."
Leo yang sejak tadi menyimak perdebatan kedua orang tuanya mendadak melompat turun dari kasur.
Ia berjalan mendekati Devran, lalu mendongak menatap ayahnya dengan pandangan menyelidik yang sangat dewasa.
"Om seram," panggil Leo, mengetuk-ngetuk sepatu rumahnya ke lantai.
Devran menunduk. "Apa, Leo?"
"Alasan Om seram itu sangat payah," cibir Leo polos.
"Bahkan anak TK di Swiss pun tahu kalau Om seram cuma sedang mencari alasan agar Mommy tidak pergi."
"Om seram menyukai Mommy, kan? Kenapa tidak bilang saja 'Mommy, tolong jangan pergi, aku kesepian'?"
Wajah tegap Devran mendadak kaku, rona merah tipis yang sangat langka muncul di sekitar telinganya.
Ia berdehem keras untuk menutupi rasa gugupnya yang tertangkap basah oleh anak kandungnya sendiri.
"Leo, kembali ke kasurmu. Ini urusan orang dewasa."
"Tuh kan, kalau rahasianya ketahuan pasti langsung menyuruh Leo tidur," gerutu Leo, namun ia tetap berjalan kembali ke kasur dengan senyum kecil yang tersembunyi di bibirnya.
Alana tidak menghiraukan celotehan Leo, fokusnya masih tertuju pada paspor yang ada di saku Devran.
"Sampai kapan, Devran? Sampai kapan kamu akan menahan kami dengan alasan proyek bodoh ini?"
Devran menatap Alana lekat-lekat, melangkah maju satu kali lagi hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
"Sampai aku merasa proyek ini benar-benar selesai, Alana. Dan sampai aku memastikan bahwa tidak ada lagi tempat yang lebih aman di dunia ini untukmu dan Leo selain di sisiku."
"Itu egois, Devran Adhitama!" bisik Alana dengan suara tercekat.
"Memang," sahut Devran dingin, namun matanya memancarkan keposesifan yang teramat dalam.
"Aku adalah seorang Adhitama, Alana. Kami tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milik kami."
"Dan malam ini, kamu dan Leo adalah prioritas utamaku yang tidak akan pernah kubiarkan lepas lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Alana, Devran berbalik arah menuju pintu kamar. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa membalikkan seluruh tubuhnya.
"Koper ini... biar pelayan yang membongkarnya kembali besok pagi. Dan besok jam sembilan, aku mengharapkanmu sudah berada di ruang kerja bawah untuk meninjau ulang cetak biru proyek Bali."
"Selamat malam, Alana. Selamat malam, Leo."
Klik.
Pintu kamar tertutup rapat, meninggalkan Alana yang terduduk lemas di tepi ranjang, meratapi paspornya yang kini berada di tangan pria yang paling ingin ia hindari.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah rasa hangat yang aneh yang mulai menolak untuk dipadamkan.