NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 27

"Satu suapan terakhir, setelah itu minum obatmu dan aku mau pulang ke kosan," ucap Amerta tegas, menepis sendok plastik itu ke arah mulut Mahesa dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan.

Mahesa menerima suapan terakhir itu tanpa protes. Namun, begitu bubur di mulutnya tertelan, ia tidak langsung meraih segelas air putih yang sudah disiapkan Amerta. Pria itu justru bersandar ke punggung kursi kayunya, memejamkan mata erat-erat sambil memegangi perutnya. Alis tebalnya bertaut, dan sebuah rintihan rendah lolos dari bibirnya.

"Aw... Ta, sepertinya lambungku robek sungguhan," bisik Mahesa. Suaranya terdengar sangat menderita, lengkap dengan napas yang memburu pendek-pendek.

Amerta yang semula bersikap ketus langsung panik. Rasa bersalah akibat insiden nasi goreng racunnya kemarin kembali menghantam dadanya. Ia meletakkan mangkuk sterofoam kosong itu dengan terburu-buru hingga hampir tumpah.

"Eh? Mana yang sakit? Mahesa, jangan bercanda! Kita ke klinik kampus sekarang, ya? Aku panggil Bu Endang!" Amerta sudah setengah berdiri dari kursinya, benar-benar cemas melihat wajah Mahesa yang kembali menegang.

Namun, sebelum Amerta sempat melangkah, tangan Mahesa bergerak cepat menahan pergelangan tangannya. Tarikan pria itu tidak kuat, namun cukup untuk membuat Amerta kehilangan keseimbangan dan kembali terduduk di kursi kecilnya—bahkan jarak wajah mereka kini menjadi sangat dekat.

"Jangan panggil siapa-siapa. Pusing," gumam Mahesa, perlahan membuka satu matanya. Kilat jenaka yang tadi sempat hilang kini muncul kembali, berbaur dengan senyum miring yang tertahan di sudut bibirnya. "Tapi kalau kamu mau mengelus perutku agar sakitnya hilang... boleh juga."

Amerta terpaku selama tiga detik penuh sebelum menyadari bahwa ia baru saja dikerjai habis-habisan.

"MAHESA!" pekik Amerta tertahan, wajahnya memerah padam antara malu dan kesal. Ia memukul lengan kekar pria itu dengan kepalan tangan mungilnya. "Kamu hobi sekali ya membuatku jantungan?! Aku hampir menangis karena takut kamu mati di sini!"

Mahesa tidak menghindar. Ia justru terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu renyah memenuhi ruangan AC yang sunyi. "Ternyata adik tiriku ini sangat perhatian kalau aku sedang di ambang maut. Menarik."

"Berisik! Minum obatmu sendiri!" Amerta menyodorkan dua butir kapsul obat lambung dan segelas air putih dengan kasar ke hadapan Mahesa.

Mahesa menurut. Ia meminum obatnya dengan patuh tanpa banyak bicara lagi. Namun, setelah meletakkan gelas kosong ke atas meja, pandangan matanya kembali mengunci manik mata Amerta yang masih cemberut. Tatapannya berubah menjadi sedikit lebih lembut, namun tetap intimidatif.

"Karena praktikummu batal, temani aku di sini sampai jam satu siang. Aku harus istirahat sebelum mengisi kelas reguler jam berikutnya," perintah Mahesa, mutlak dan tidak menerima bantahan.

"Tidak mau. Aku mau ke kantin, lapar," tolak Amerta, membuang muka.

"Kalau kamu keluar sekarang dengan wajah semerah itu, Bu Endang pasti akan bertanya-tanya apa yang kita lakukan di dalam ruangan yang terkunci selama tiga puluh menit, Amerta," tantang Mahesa tenang. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Amerta dengan pandangan menilai. "Dan kamu tahu sendiri, gosip di lingkungan FISIP UI menyebar lebih cepat daripada radiasi nuklir."

Amerta menggeram frustrasi di dalam hati. Sialan. Kakak tirinya ini selalu tahu kartu as mana yang harus dikeluarkan untuk membuatnya mati kutu.

"Lalu aku harus melakukan apa di sini? Menontonmu tidur seperti putri salju?!"

Mahesa kembali tersenyum kemenangan. Ia meraih tas kerjanya yang berada di lantai bawah meja, mengeluarkan sebuah laptop perak, lalu mendorongnya tepat ke hadapan Amerta.

"Kebetulan, tugas makalah mahasiswa kelas Antropologi semester tiga belum selesai diperiksa. Karena kamu asisten drafku yang tidak resmi..." Mahesa menggantung kalimatnya, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi super menyebalkan. "...tolong koreksi salah ketik dan formatnya. Masukkan nilainya ke file Excel ini."

Amerta membelalakkan matanya tidak percaya. "Mahesa! Aku ini mahasiswamu, bukan pembantu pribadimu!"

"Anggap saja ini cicilan ganti rugi untuk biaya berobat lambungku semalaman, Ta," sahut Mahesa santai. Pria itu kemudian melipat kedua tangannya, menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, dan memejamkan mata untuk mulai beristirahat. "Kerjakan dengan teliti. Kalau ada yang salah, hukumannya adalah menyuapiku makan malam nanti di apartemen."

Amerta menarik napas dalam-dalam, menatap laptop di depannya dan sosok Mahesa yang kini mulai bernapas teratur dengan dongkol. Di dalam ruangan dosen yang terkunci itu, Amerta hanya bisa merutuki nasibnya yang harus terjebak bersama seorang kakak tiri sekaligus dosen manipulatif yang sialnya... terlalu tampan untuk ditolak.

1
Emily
korporat miskin...x ya. kenapa gak bawa ke dokter aneh
Emily
pokoknya tau diri ajalah kau merta
Emily
ya udah klo simahesa cuek kamu cuek juga Amerta gak usah sibuk mau tau urusan si Mahesa..di anggap numpang di rumahnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
up doubel thor setiap hari
bulane: bismilah ya sayang kuu
total 1 replies
Reni Anjarwani
bagus sayang upnya lama
Tunik nur Agustina: udah up lagi tuh kak
total 1 replies
bulane
seruuu
Reni Anjarwani
lanjut
bulane: terimakasih atas dukungan nya
total 1 replies
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!