NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan yang Terjadi

Malam itu di Puncak, ketegangan menyelimuti setiap sudut private estate. Pernikahan yang seharusnya penuh dengan tawa dan doa, kini berubah menjadi sebuah benteng pertahanan yang dijaga oleh pria-pria bersenjata. Anjani kembali ke ruang rias, menatap cermin dengan tatapan yang sudah berubah. Ketakutan yang dulu menguasainya kini mulai digantikan oleh kemarahan yang tenang.

​Ia sadar, untuk melindungi cintanya dan keluarganya, ia tidak bisa hanya menjadi wanita yang dilindungi. Ia harus menjadi wanita yang berani menghadapi kenyataan bahwa musuh utamanya tidak akan berhenti sebelum ia sendiri yang menghentikannya.

****

Pagi di Puncak tidak pernah terasa seindah ini. Kabut yang kemarin menyelimuti private estate seolah tersapu bersih oleh sinar matahari yang hangat, menyisakan pemandangan pegunungan yang jernih dan udara segar yang membawa aroma melati. Setelah kekacauan semalam, ketenangan yang turun ke lokasi pernikahan terasa seperti sebuah mukjizat.

​Di dalam ruang rias, Anjani menatap pantulan dirinya di cermin. Ia bukan lagi wanita yang ketakutan. Gaun putih panjang yang ia kenakan kini terasa seperti baju zirah—simbol perjuangan panjang yang akhirnya membawanya ke titik ini. Tidak ada lagi firasat buruk. Tidak ada lagi bayangan Dara. Yang ada hanya keyakinan yang bulat bahwa hari ini adalah hari yang sakral, hari yang tidak boleh dinodai oleh siapa pun.

​"Kau tampak sempurna," suara berat Oliver menyapa dari balik pintu yang terbuka. Pria itu berdiri di sana dengan setelan jas hitam yang memukau, tatapannya penuh dengan kekaguman yang jujur.

​Anjani berbalik, tersenyum tulus. "Kita berhasil mencapai pagi ini, Oliver."

​"Dan kita akan melewatinya hingga akhir," jawab Oliver mantap. Ia melangkah maju, menggenggam tangan Anjani, dan mencium punggung tangannya dengan lembut.

​Di altar yang dihiasi ribuan mawar putih, para tamu undangan—hanya orang-orang terdekat yang sangat dipercaya—telah duduk dengan rapi. Keamanan telah dilipatgandakan menjadi tiga kali lipat. Sniper ditempatkan di titik-titik strategis, dan setiap sudut area dipantau melalui CCTV dengan pengenalan wajah paling canggih. Tidak ada satu pun celah bagi siapa pun untuk masuk tanpa izin.

****

​Saat musik pengiring pernikahan mulai mengalun, Pak Santo berjalan perlahan di samping Anjani. Langkah pria tua itu masih sedikit tertatih karena cedera pasca-teror tempo hari, namun kepalanya tegak dengan kebanggaan yang luar biasa. Ia menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.

​"Jani," bisik Pak Santo di tengah langkah mereka menuju altar. "Ayah sangat bahagia. Pernikahan pertamamu dulu... yah, kita tahu bagaimana akhirnya. Tapi kali ini, ayah tahu kau telah memilih pria yang tepat. Pria yang akan menjagamu dengan nyawanya sendiri."

​Anjani hanya bisa mengangguk, menahan isak yang sudah mencapai tenggorokan. "Terima kasih, Ayah."

​Di ujung altar, Oliver menanti. Saat Pak Santo menyerahkan tangan Anjani ke tangan Oliver, sebuah tatapan penuh janji terjalin di antara mereka. Prosesi pernikahan berlangsung dengan sangat khidmat. Tidak ada gangguan, tidak ada suara ledakan, tidak ada teror. Hanya ada kata-kata suci yang diucapkan dengan mantap, janji untuk sehidup semati dalam suka dan duka.

​Di bangku barisan depan, Bu Purwati tak henti-hentinya menyeka air mata haru dengan sapu tangan sutranya. Ia teringat kembali hari-hari kelam saat Anjani terpuruk dalam pernikahan yang hancur dengan Malik. Ia ingat tangisan putrinya, ancaman Bu Anne, dan bagaimana keluarga mereka nyaris hancur berkeping-keping. Kini, melihat Anjani bersanding dengan pria yang begitu menghormatinya, Bu Purwati merasa beban seumur hidupnya telah terangkat.

​"Semoga ini yang terakhir," gumam Bu Purwati pelan, sebuah doa yang diamini oleh Pak Santo dengan anggukan mantap. "Semoga ini adalah pelabuhan terakhir untuk putri kita."

​Saat pendeta menyatakan mereka resmi sebagai suami istri dan Oliver menyematkan cincin di jari manis Anjani, suasana hening sejenak sebelum pecah menjadi tepuk tangan meriah. Anjani merasa seolah-olah seluruh dunia berputar mengelilingi kebahagiaan mereka.

****

​Setelah acara utama selesai, resepsi berlangsung dengan sangat privat dan hangat. Tidak ada media, tidak ada wartawan. Hanya ada tawa, musik yang lembut, dan pelukan hangat dari keluarga. Anjani merasa tenang—sangat tenang. Ia menyadari bahwa teror yang selama ini menghantui hidupnya telah kalah oleh kebahagiaan yang ia bangun dengan usahanya sendiri.

​Namun, realita tidak pernah sesederhana itu bagi mereka yang menyimpan dendam.

​Jauh di bawah kaki gunung Puncak, di sebuah gua kecil di tengah hutan yang rimbun, seorang wanita berpakaian lusuh sedang menatap api unggun kecil yang ia buat dari ranting-ranting kering. Rambutnya panjang tak beraturan, wajahnya penuh goresan luka yang mulai mengering, dan pakaiannya compang-camping akibat berhari-hari hidup seperti binatang buruan.

​Dara Mitha Dahayu memegang sepotong batu tajam. Dengan batu itu, ia mengukir nama "ANJANI" pada batang pohon di depannya, berkali-kali, hingga kulit pohon itu terkelupas dan mengeluarkan getah merah yang menyerupai darah.

​"Pesta itu... pesta yang indah," bisiknya dengan suara serak, hampir seperti suara gesekan kayu yang kering.

​Matanya tidak lagi menunjukkan kilatan kemarahan yang meledak-ledak. Kali ini, matanya menunjukkan kedinginan yang jauh lebih mengerikan—ketenangan seorang pemburu yang tahu bahwa mangsanya kini telah lengah. Ia gagal merusak pesta itu karena penjagaan yang terlalu ketat, namun ia berhasil melihat dari kejauhan melalui teropong curiannya bahwa Anjani tampak begitu bahagia.

Dara menyentuh bekas lukanya sendiri. Ia telah kehilangan segalanya. Hartanya, keluarganya, kewarasannya, dan masa depannya. Sekarang, ia tidak lagi memiliki beban apa pun. Ia telah menjadi jiwa yang bebas—bebas untuk menghancurkan, bebas untuk mendendam, dan bebas untuk menunggu waktu yang tepat.

​Ia tidak akan lagi mencoba menyerang secara frontal. Ia telah belajar bahwa Oliver Jones adalah benteng yang mustahil ditembus dalam satu kali serangan. Ia akan menunggu. Ia akan menabung dendamnya, menyembunyikannya di balik bayang-bayang, dan suatu hari nanti, saat Anjani merasa dunianya sudah benar-benar aman dan damai, saat itulah Dara akan kembali.

​"Nikmati waktumu, Anjani," desis Dara, suaranya dibawa angin malam yang dingin menuruni lembah. "Satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun... aku akan menunggu. Aku akan menjadi bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa kau hilangkan. Aku akan kembali untuk menghancurkan apa pun yang kau cintai."

​Dara berdiri, membiarkan api unggunnya padam. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, namun ia tahu bahwa selama Anjani Direja masih bernapas, dendamnya akan menjadi bahan bakar yang menjaga nyawanya tetap ada.

****

​Kembali di private estate, Anjani dan Oliver sedang berdansa di bawah cahaya bulan. Anjani bersandar di dada Oliver, merasakan degup jantung pria yang kini telah menjadi miliknya secara utuh. Ia merasa aman. Ia merasa inilah akhirnya.

​Namun, di kegelapan hutan yang jauh, sebuah sumpah telah diucapkan. Dendam yang tak kunjung padam itu kini bermutasi menjadi sesuatu yang lebih sunyi, lebih gelap, dan lebih berbahaya. Sebuah sumpah balas dendam yang akan menunggu momen paling rapuh dalam hidup Anjani untuk kembali menuntut bayaran.

​Hari itu, sebuah babak ditutup, namun sebuah benih kegelapan baru saja disemai kembali di tanah yang sama. Pernikahan itu memang sukses, namun bagi Anjani, takdir baru saja memberinya peringatan bahwa di balik setiap akhir yang bahagia, selalu ada misteri masa depan yang siap menantang ketabahan mereka kembali.

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!