Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Amarah Dari Sang Perwira
Bi Asih segera mengambil alih mangkuk sup untuk kembali melayani Nyonya Besar, meninggalkan Vina yang kini harus berhadapan langsung dengan kekejaman kepala pelayan. Tanpa belas kasihan, kepala pelayan itu menyita semua alat pel bergagang.
"Letakkan alat pel itu, Vina!" bentak kepala pelayan dengan suara tertahan namun tajam, merebut paksa gagang pel dari tangan Vina. "Dan lepaskan sarung tangan karet itu. Di mansion Laksmana, pelayan rendahan tidak berhak bekerja dengan fasilitas manja!"
Vina tertegun, menatap tangannya yang kosong. "Tapi, Bi... lantai tangga marmer ini sangat luas. Kalau tidak pakai alat pel bergagang, akan memakan waktu lama dan—"
"Siapa yang mengizinkanmu mendebatku?!" potong kepala pelayan, wajahnya berjarak hanya beberapa senti dari wajah Vina. Ia melempar selembar kain buruk yang sudah robek dan kotor ke atas lantai. "Berlutut! Bersihkan lantai marmer tangga yang luas ini hanya dengan menggunakan kain itu dan kedua tanganmu sendiri! Aku ingin setiap jengkal tangga ini mengkilap sebelum siang. Jangan coba-coba berdiri sebelum semua selesai!"
Vina menelan ludah, dadanya sesak. Namun, demi menghindari keributan yang lebih besar, ia perlahan menekuk kedua lututnya di atas marmer yang dingin.
Matahari sudah meninggi menunjukkan jam istirahat siang. Peluh bercucuran membasahi seragam pelayan Vina yang kusam, sementara kedua lutut dan telapak tangannya sudah memerah dan terasa baal.
"Kurang bersih! Gosok lebih keras lagi!" bentak kepala pelayan itu sambil berdiri berkacak pinggang di atas anak tangga, menatap Vina dengan pandangan menghina. "Jangan malas! Dasar perempuan kampung, mentalmu memang hanya cocok jadi keset di rumah ini!"
"Maaf, Bi... ini sudah saya gosok tiga kali," bisik Vina dengan suara parau, menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
"Kau membantah?! Gosok lagi sampai mengkilap! Kalau belum selesai, jangan harap kau bisa makan siang hari ini!" seru kepala pelayan itu lagi, suaranya melengking memenuhi aula mansion.
BRAAAKKK!
Pintu utama mansion Laksmana dihantam terbuka dengan sangat keras dari luar.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!"
Sebuah teriakan bariton yang menggelegar bagai petir di siang bolong seketika menghentikan segalanya. Radit berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang teramat sangat. Seluruh pelayan yang berada di aula langsung tersentak dan menoleh dengan wajah pucat pasi.
Radit melangkah lebar, derap sepatu lars militernya terdengar begitu mengancam. Ia langsung menghampiri Vina, mencengkeram kedua bahu istrinya dan membantunya berdiri dengan paksa namun penuh kelembutan. Mata elang Radit menatap nanar ke arah telapak tangan Vina yang memerah dan basah oleh air kotor.
PLAAKKK!
Dengan satu sentakan kasar, Radit menyambar kain pel kotor dari lantai dan melemparkannya tepat ke wajah kepala pelayan itu. Kain basah itu mendarat dengan telak sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
"T-Tuan Muda Radit..." Kepala pelayan itu seketika gemetar hebat. Seluruh keangkuhannya runtuh. Ia langsung menjatuhkan diri, bertekuk lutut di atas lantai marmer dengan wajah yang pucat pasi ketakutan. "Mohon maaf, Tuan Muda! Saya... saya tidak bermaksud menyiksa Vina. Saya hanya ingin mengajari Nyonya Vina tata krama dan cara mengurus rumah tangga mansion ini agar tidak memalukan nama baik keluarga Laksmana..."
"MENGAKUINYA SEBAGAI PELAYAN, BEGITU?!" bentak Radit, suaranya naik beberapa oktaf hingga urat-urat di leher tegapnya menonjol tegang. Aula mansion mendadak seasing kuburan. "Siapa kau berani mengajari istriku dengan cara menjijikkan seperti ini, hah?! Kau hanya seorang pelayan di rumah ini! Berani-beraninya kau meletakkan kakimu di atas kepala istriku!"
"Maaf, Tuan Muda... Ampun... Saya hanya menjalankan tugas—"
"Tugas dari siapa?! Siapa yang memberimu hak?!" potong Radit, napasnya memburu berantakan. Ia menunjuk lurus ke wajah kepala pelayan itu dengan tangan gemetar karena amarah yang memuncak. "Dengar baik-baik, kau dan seluruh manusia di mansion ini! Aku membawa Vina ke sini dan menikahinya bukan untuk menjadikannya seorang pelayan. Melainkan, aku menjadikannya istriku! Dia adalah wanita yang kupilih untuk berjalan di sampingku, pemilik sah dari setengah napas dan kehormatanku! Siapa pun yang merendahkannya, artinya sedang menginjak-injak harga diriku sebagai seorang perwira!"
Vina yang berdiri di samping Radit langsung memegang erat lengan seragam suaminya. "Mas Radit, sudah Mas... tolong berhenti..." tangis Vina pecah, ia ketakutan melihat kemarahan Radit yang begitu menakutkan.
"Ada keributan apa ini di bawah? Kenapa berteriak-teriak seperti orang tidak berpendidikan, Radit?!"
Sebuah suara dingin dan berwibawa memotong dari arah koridor lantai dua. Nyonya Besar Laksmana turun dengan langkah pelan, dituntun oleh Bi Asih di sampingnya. Wajahnya yang semula agak segar setelah memakan sup kini kembali mengeras melihat putranya mengamuk di aula.
Melihat sang ibu turun, tatapan mata Radit seketika berubah dipenuhi kekecewaan yang mendalam. Radit mengira, kepala pelayan berani bertindak sekejam ini pasti karena perintah dan kebencian ibunya kepada Vina sejak awal.
"Ibu masih bertanya ada apa?" ucap Radit dengan tawa hambar yang sarat akan rasa sakit. Ia melangkah maju, menghadap ibunya. "Aku tahu Ibu tidak merestui pernikahan kami. Aku tahu Ibu membenci kehadiran Vina! Tapi aku tidak menyangka Ibu akan sepicik ini, memerintahkan pelayan untuk menyiksa dan menginjak-injak istriku saat aku sedang pergi bertugas!"
Mata Nyonya Besar seketika membelalak kaget mendengar tuduhan keji dari putra kandungnya sendiri. "Radit! Jaga bicaramu! Ibu tidak pernah—"
"Cukup, Ibu! Jangan mengelak lagi!" potong Radit dengan suara bergetar menahan kecewa. "Vina tidak pernah meminta kemewahan rumah ini! Dia wanita baik-baik! Mengapa Ibu tega memperlakukannya seperti binatang di rumahku sendiri?!"
"Mas Radit, bukan begitu! Dengarkan aku dulu, tolong!" Vina menyela dengan panik. Ia memberanikan diri menarik lengan Radit, mencoba menatap mata suaminya yang berapi-api. "Nyonya Besar tidak tahu apa-apa tentang ini! Beliau baru saja—"
"Diam, Vina! Jangan membela orang yang sudah menindasmu!" bentak Radit tegas, memotong kalimat Vina tanpa sadar karena dikuasai emosi protektif. Ia menarik Vina kembali ke belakang punggungnya. "Aku tahu kamu terlalu baik hati, tapi kebaikanmu tidak akan dihargai oleh orang yang berhati batu!"
Nyonya Besar Laksmana memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak dan nyeri. Kalimat Radit bagai belati yang menghujam jantungnya. Rasa bangga dan haru karena kebaikan sup buatan Vina beberapa menit lalu seketika menguap, berganti dengan rasa sakit hati dan terhina yang luar biasa di depan para pelayan.
Nyonya Besar menatap Vina dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa dikhianati. "Oh... jadi begini caramu bermain di belakangku, Vina?" desis Nyonya Besar, suaranya gemetar menahan tangis kemarahan. "Hebat sekali kamu. Di depanku, kamu berpura-pura menjadi malaikat, memasak sup hangat agar aku luluh, tapi di belakangku... kamu langsung mengadu dan memutarbalikkan fakta pada putraku?!"
"Tidak, Nyonya Besar! Saya sama sekali tidak mengadu!" tangis Vina pecah, menggelengkan kepalanya dengan histeris. Ia mencoba melepaskan diri dari kekangan Radit. "Mas Radit baru saja pulang, dia tidak tahu kalau Nyonya baru saja makan sup saya! Mas, tolong dengarkan aku, jangan salah paham pada Ibu!"
"Vina, cukup! Berhenti mengemis belas kasihan!" seru Radit lagi, mengunci pergerakan Vina. Kemarahannya pada sang ibu membuat telinganya tuli dari penjelasan Vina. Radit menatap ibunya dengan pandangan dingin yang mematikan. "Ibu tidak perlu menuduh Vina yang tidak-tidak. Vina tidak perlu mengadu untuk membuatku tahu seberapa kejam perlakuan orang-orang di rumah ini saat aku tidak ada!"
Nyonya Besar tertawa sumbang, air matanya menetes melewati pipinya yang mulai berkerut. "Kau membentak ibumu sendiri demi perempuan kampung ini, Radit?! Kau menuduhku menyiksanya?! Setelah semua yang kulakukan untuk membesarkanmu, sekarang kau sebut ibumu sendiri picik dan kejam hanya karena hasutan satu malam dari perempuan kampung ini?!"
"Jika Ibu tidak bisa menghargai Vina sebagai menantu di rumah ini," ucap Radit dengan nada final yang amat dingin, mengabaikan tangis histeris Vina di belakangnya. "Maka jangan salahkan aku jika aku membawa istriku pergi dari sini, dan jangan harap aku akan sudi menginjakkan kaki lagi di mansion ini!"
"Radit!!" jerit Nyonya Besar, memegangi dadanya yang semakin sesak, menatap putranya seolah melihat orang asing.
Kesalahpahaman itu mengunci mereka bertiga dalam lingkaran kebencian yang salah alamat. Radit yang berniat melindungi justru menyulut api permusuhan yang lebih besar, sementara Vina hanya bisa terpaku dengan dada yang sesak—menyadari bahwa setelah hari ini, jalannya untuk diterima di keluarga ini telah hancur total dan berubah menjadi neraka yang sesungguhnya.