NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Asing

Jena mematut penampilannya di depan cermin. Rok putih di bawah lutut serta kaus tangan pendek yang dilapisi sweater merah marun memeluk tubuh rampingnya. "Mumpung hari libur. Aku mau ke rumah Jovian ah. Udah lama juga nggak berkunjung ke sana. Kangen sama Tante Sifa, Jihan dan Om Bimo juga. Sekalian nanyain soal tadi malam ke Jovian. Kenapa dia sampai mau menampakan dirinya di story instagram Michelle," monolognya sambil meraih tas selempang dan menyampirkannya.

Ia pun keluar dari apartemen. "Yes, taksinya udah nyampe." Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka dan Jena pun segera masuk.

Tak lama, pintu lift yang membawa Jena terbuka si lantai dasar, ia segera keluar dan berjalan penuh semangat.

"Mau ke mana, Mbak Jena? Hari libur gini udah rapi dan cantik," tanya petugas lobi.

Jena berhenti sejenak, melempar senyum kecil. "Saya mau ke rumah Mas Jovian, Mbak Grace."

"Cieee ... mau ketemu camer," goda Grace yang memang sudah akrab dengan Jena.

Jena tertawa kecil. "Mbak Grace bisa aja."

Grace tertawa lebar. "Lancar ya, Mbak Jen. Semoga cepet dihalalkan sama Mas Jovian."

"Aamiin." Jena mengaminkan doa itu dengan semangat. "Saya duluan ya, udah ditungguin taksi."

"Oke, Mbak."

Jena melanjutkan langkah, menghampiri taksi berwarna hijau tua yang sudah menunggunya.

Sang sopir taksi keluar. "Atas nama Mbak Jena?"

"Iya, Pak."

"Silakan, Mbak." Sopir itu membukakan pintu.

"Terima kasih, Pak." Jena pun masuk ke dalam mobil. "Pak."

"Iya, Mbak?" Sopir melirik Jena dari spion.

"Mampir dulu ke Kedai Lapisan Cokelat yang ada di tikungan jalan depan ya, Pak. Saya mau beli kue dulu."

"Siap, Mbak."

Tak lama, mobil pun berhenti di toko kue tersebut. Jena turun dan membeli buah tangan untuk Jovian dan keluarganya.

Di tangannya kini ada dua kotak kue. Satu cheesecake blueberry kesukaan Sifa. Dan satu lagi brownies cokelat favorit Jihan.

Jena tersenyum kecil saat kembali masuk ke dalam taksi.

Mobil melaju lagi membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai.

Beberapa puluh menit kemudian, ia akhirnya sampai di depan rumah mewah keluarga Ardhana. Sudah sembilan tahun ia keluar masuk rumah ini. Jena pun turun dari taksi.

Satpam bahkan langsung membukakan gerbang sambil tersenyum ramah. "Non Jena, silakan masuk."

"Terima kasih, Pak." Jena melangkah masuk dengan perasaan hangat yang perlahan tumbuh lagi di dadanya.

Namun semua perasaan itu runtuh hanya dalam hitungan detik. Karena begitu pintu utama dibuka oleh ART, suara tawa seorang perempuan langsung terdengar dari ruang keluarga. Jena spontan mempercepat langkah dan akhirnya sampai di ruang keluarga. Tubuhnya langsung menegang. "Michelle," gumamnya tanpa suara.

Perempuan itu duduk santai di sofa ruang keluarga sambil tertawa kecil bersama Jihan. Penampilannya terlihat cantik dan elegan meski hanya mengenakan dress rumahan mahal berwarna putih gading.

Sementara di sisi lain sofa, Sifa tampak tersenyum hangat padanya. Sangat hangat. Padahal dulu, tatapan itu selalu diberikan pada Jena.

"Eh, Jena." Suara Sifa membuat semua orang menoleh.

Michelle ikut memandang ke arah ambang pintu pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu. Tatapan perempuan itu tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Hai Jena."

Jena memaksakan senyum kecil. "Selamat pagi, semua." Entah kenapa langkahnya mendadak terasa canggung. Padahal rumah ini dulu terasa begitu nyaman.

"Sini, Jen," ujar Sifa. Namun nada suaranya terdengar jauh lebih datar dibanding biasanya. Tidak ada pelukan hangat, tidak juga sambutan antusias seperti dulu.

Jena mencoba mengabaikan rasa aneh di dadanya. Ia berjalan mendekat sambil menyerahkan kotak kue yang dibawanya. "Ini Tante ... cheesecake favorit Tante."

Sifa menerima kotak itu sambil tersenyum tipis. "Ngapain repot-repot bawain kue segala, Jen." Biasanya wanita itu akan langsung senang dan memuji Jena perhatian. Namun sekarang, responsnya terasa hambar.

Jena lalu menoleh pada Jihan sambil tersenyum. "Kakak bawain brownies favorit kamu juga."

Namun remaja itu hanya menjawab singkat, "Oh ... makasih, Kak."

Jena langsung terdiam sesaat. Dulu Jihan pasti sudah memeluknya heboh sambil berteriak kegirangan.

"Ya ampun Kak Jena paling ngerti aku!"

Tapi sekarang, sikap gadis itu terasa berbeda jauh.

Michelle tiba-tiba tersenyum kecil. "Tadi aku udah bawain Tante Sifa dan Jihan dessert dari La Creme Bakery."

Jena mengangguk kecil. "Itu kan nama salah satu toko kue termahal di kota ini," batinnya. "Oh, begitu ya." Suaranya ia paksakan keluar. Jena sungguh merasa menjadi orang asing di tengah ruangan itu.

"Jena duduk sini," ujar Sifa akhirnya.

"Iya, Tante." Jena duduk di sofa tunggal sementara Michelle tetap berada di sofa panjang dekat Sifa dan Jihan. Dulu, posisi itu adalah miliknya.

Percakapan kembali berjalan. Namun perlahan, Jena menyadari satu hal, dirinya tidak benar-benar dilibatkan.

Michelle dan Sifa sibuk membahas acara charity fashion minggu depan. Jihan ikut antusias mendengar cerita Michelle tentang brand-brand luar negeri. Sesekali mereka tertawa bersama.

Dan Jena, hanya duduk diam sambil sesekali tersenyum kecil.

"Tante suka banget sama taste fashion kamu, Chelle," ujar Sifa sambil tersenyum.

Michelle tertawa kecil. "Ah Tante bisa aja."

"Serius. Elegan banget," puji wanita berbaju hijau muda itu.

"Pewaris MS Fashion gitu, lho," timpal Jihan.

Michelle terlihat tersipu malu. "Aduh, kalian terlalu berlebihan."

Jena menggenggam jemarinya pelan. Biasanya, Sifa sering memuji cara berpakaian Jena. Dan Jihan selalu bilang ingin belajar makeup darinya. Namun kini, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada Michelle.

"Tadi Om juga bilang kamu itu pintar banget soal bisnis," lanjut Sifa bangga.

"Om juga terlalu berlebihan, Tan. Padahal aku masih banyak belajar," tampik Michelle merendah.

"Kak Michelle tuh rendah hati banget sih. Udah tahu emang jago," timpal Jihan kagum.

Jena menunduk pelan. Dadanya mulai terasa sesak.

Michelle lalu tiba-tiba menoleh padanya. "Jena, kamu pasti capek ya ngurusin Jovian tiap hari?" Senyum perempuan itu tetap manis. Namun entah kenapa terasa menusuk bagi Jena.

"Enggak juga," jawab Jena pelan.

"Hebat sih. Jovian itu perfeksionis banget," lanjut Michelle.

Jena mencoba tersenyum. "Iya, Mas Jovian memang perfeksionis."

Michelle tertawa kecil. "Nah kan. Kalau aku mungkin udah stres duluan."

Sifa ikut tertawa pelan. "Makanya nggak semua perempuan cocok mendampingi Jovian."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun anehnya, Jena merasa seperti sedang diuji. Seolah keberadaannya dibandingkan secara diam-diam.

Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari tangga. Jantung Jena langsung berdegup.

Jovian muncul dengan kaus hitam santai dan celana training abu-abu. Rambutnya masih sedikit basah seperti baru selesai mandi. Dan seperti biasa, Jena langsung merasa tenang hanya karena melihatnya.

Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena begitu melihat Michelle, wajah Jovian langsung berubah lebih hidup. "Kamu udah datang?"

Michelle tersenyum lebar. "Baru aja."

Jena langsung membeku. Lelaki itu bahkan belum menyadari dirinya ada di sana.

Sampai akhirnya Jihan berkata, "Kak Jena juga baru datang."

Tatapan Jovian langsung beralih. "Oh."

Hanya itu. Bukan senyum hangat. Bukan tatapan lembut seperti biasanya. Hanya respon singkat. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diabaikan.

"Pagi, Mas," sapa Jena pelan.

"Hm." Jovian turun lalu duduk di sofa dekat Michelle.

Bukan mendekati Jena seperti biasanya.

Dadanya langsung terasa semakin sesak.

Michelle kemudian menunjukkan sesuatu di tablet pada Jovian. "Lihat deh, yang ini bagus nggak?"

Jovian memperhatikan layar itu cukup dekat. "Yang warna hitam lebih bagus."

"Nah kan! Aku juga tadi mau bilang gitu."

Mereka mulai membahas desain dan campaign dengan nyaman.

Sementara Jena, masih duduk diam seperti tamu tak diundang.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawakan minuman. Michelle mengambil cangkir teh lalu kembali berbincang santai dengan keluarga Ardhana.

Dan lagi-lagi, Jena tidak diajak masuk dalam percakapan. Ia mencoba tetap tersenyum meski hati kecilnya perlahan hancur.

Sampai akhirnya Jihan berkata, "Kak Michelle, nanti ajarin aku mix and match outfit dong."

"Boleh banget."

"Asyik!" Jihan sangat antusias. Padahal dulu, ia selalu meminta bantuan itu pada Jena.

"Kak Jena sekarang jarang main sih," lanjut Jihan tanpa sadar.

Jena sedikit tersentak. "Maaf, Jihan. Kak Jena sibuk kerja."

Michelle tersenyum kecil. "Namanya juga orang dewasa, Ji."

Sifa ikut mengangguk. "Michelle aja sesibuk itu masih bisa meluangkan waktu."

Kalimat itu sukses membuat suasana hati Jena runtuh perlahan. Ia menunduk pelan. Tangannya terasa dingin. Untuk pertama kalinya selama sembilan tahun, rumah keluarga Ardhana terasa sangat asing baginya.

Dan yang paling menyakitkan, orang-orang yang dulu begitu menyayanginya kini terasa berubah.

1
Amy
Orang Tua Egois,, Ibunya wanita tapi tidak memikirkan perasaan sesama wanita,masih ada anak perempuanmu yg akan mrsakann penderitaan Jena,,,
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
Ama Apr: iya, mereka jahat
total 1 replies
Dartihuti
Kl dilihat blg mobilnya mengkilat dan beda gk seperti biasa jg wkt tny nama?nyebutnya kok meragukan pasti bkn sembarang sopir...menjauh sejauh mungkin buktikan Jena km bisa lebih terhormat mampu bahagia tampa mereka
Ama Apr: hahaha hayooo
total 3 replies
nunik rahyuni
alhamdulillah ada sedikit hiburan...sdh jena mantabkan hati ayo melangkah tinggalkan mereka ..mulailah dg hidul mu yg baru..semangat 💪💪💪
Ama Apr: siap semangat🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
uhuuyyy kaya nya si Toto cio yg nyamar wkwkwk🤣,,,semgat jena
Inarrr Ulfah: iya wkwkw,,Ayo lah KA,,baut kejutan untuk keluarga si jovian itu,,smga lebih tajir pengganti nya si jovian 😄
total 2 replies
Dartihuti
Orang gk hati ...harta dan duduk yg di otaknya gk mikir suatu saat semua yg di lakukan akan kembali balik kediri c4 atau lambat...gak sadar lubang besar menati keluarga Jo ...mecili tawamu sekarang tanpa kamu sadari jd bumerang hubungamu kedepannya😡
Ama Apr: Hukum tabur tuai berlaku🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
kan ..seperti dugaan q ..jo adalah anak yg dituntut untuk patuh..dia akan terikat dg keputusan ortu...
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪
Ama Apr: iya kk, pasti ada kejutan buat mereka
total 3 replies
Inarrr Ulfah
semoga aja hal buruk menimpa anak perempuan kamu ,,lebih kejam dari yang jena terima....
Ama Apr: 🥹🥹🥹 ikut sakit ya buat Jena
total 1 replies
Inarrr Ulfah
langsung resign dari kantor nya jena,,pergi dari apartemen itu,,pergi yang jauh,...💪
Ama Apr: pastiii, udah diskaitin ms diem bae
total 1 replies
nunik rahyuni
up lg thor...kesini jena q pelik erat erat jgn menangis kuatkan hatimu...lupakan mreka melangkh menjauh dan buatlh dirimu bahagia
Ama Apr: iya kk, makasih🥹
total 1 replies
Amy
langsung menjauh aja Jena,, karena menikmati kebahagiaannya jovian bahkan tidak sadar kamu udah nggak ada di sekitarnya, itu krna kamu bukan prioritasnya
Asphia fia: nyesek bagt bacanya Thor
laki- laki pengecut spt jovian GK perlu ditangisi jen
total 2 replies
Dartihuti
Tunggu hukum sebab akibat keluargamu dan km Jo..c4 atau lambat kepedian akan balik ke dirimu sklrg
Ama Apr: pasti itu kk🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
jangan berkecil hati jena ..bangun lah dr mimpi mimpi yg di berikan jovian...sadarlah mereka bukan yg terbaik ..pergi dan hidup lah dg bahagia tanpa mereka yg menyakitimu
Ama Apr: iya 🥹🥹🥹
total 1 replies
Dartihuti
Bangkit Jena tegakkan kepalamu ....buat klrg mereka menyesal krn meredahkanmu,membuangmu setelah apa yg km lalui menjauhlah dulu buktikan bahwa Jena gk selemah yg mereka pikirkan dan mampu mendapatkan yg lebih dr Jo laki gk berprinsif lemah...
Ama Apr: peluk jauh Jena🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
mana up nya cuma seuprit lagi😭
Ama Apr: hehe, maaf nanti ditambah deh. mau nulis dulu aku nya
total 1 replies
Inarrr Ulfah
nah kan,,sudah ku bilang akan yang nemenin dari nol akan KLH sama yg baru,,dah pergi aja Jen yang jauh,,,pergi dari apartemen dan kehilangan jovian 💪💪...cari CEO yg lebih kaya dan ganteng,,buat jovian di dan keluarga nya menyesal
Ama Apr: begitulah hidup🥹
kadang perjuangan kita tdk dihargai
total 1 replies
Dhm Pratiwi
benar kan saya bilang,tetap tegar Jena,klw perlu kamu kluar dari apartemen da perusahaan Ardana,Jovian MUNfIK
Ama Apr: 🥹🥹 huhu
total 1 replies
nunik rahyuni
duh thor hati sdh dag dig dug kok malah di gantung lg..tambah up thor penasaran ni lah thor ✌️✌️✌️✌️
Ama Apr: hehe maaf kk
total 3 replies
nunik rahyuni
semoga kamu g kecewa dan sakit hati
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Titien Prawiro
Sudah tamatkah?
Ama Apr: belum kk, atuh mash jauh
total 1 replies
Titien Prawiro
Jangan2 ke Jepangnya gk jadi karena papa Bimo.
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!