NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

"Sebanyak ini..?" tanya tercengang Chen Muwan, menatap belanjaan kedua anaknya yang menggunung dimeja serta kursi makan.

"Ayah, ibu, ginseng dan tanaman herbalnya laku terjual dengan harga empat ratus lima puluh tael." adu Bai Anshu.

"Apa, sebanyak itu..?" pekik Dashan dan Muwan bersamaan.

Bola mata pasangan tersebut membeliak, nyaris menggelinding keluar dari sarangnya.

Bai Anshu mengangguk, lalu menjelaskan perincian belanja.

"Semua ini menghabiskan enam puluh lima tael seratus sepuluh wen. Jadi sisa uangnya ada tiga ratus delapan puluh tahil delapan ratus sembilan puluh koin."

Bai Anshu menyerahkan kantung berisi lebihan uang pada orangtuanya.

"Aku sudah meminta paman Dayan mencari kerang air tawar, nanti untuk pembayarannya ayah yang urus ya..?"

"Kenapa ayah..?"

"Karena uang ini ayah dan ibu yang harus menyimpannya."

"Itu uangmu, hasil kerja kerasmu bersama A-zi. Jadi kalian yang lebih berhak menyimpannya." Bai Dashan menyorong dompet tersebut kembali kepada putrinya.

"Mana bisa begitu..? apa yang aku dan adik hasilkan itu juga milik kalian. Lagi pula untuk apa kami menyimpan uang sebanyak ini..?"

"Tapi Shu'er----

"Ayah, simpan saja. Gunakan untuk memperbaiki rumah dan membeli tanah disebelah juga pekarangan belakang."

Dashan dan Muwan bertukar tatapan, lalu saling mengangguk pasrah.

"Baik, ayah akan menyimpannya. Tapi jika kalian membutuhkan uang ini, bilang saja."

"Baik suamiku...!"

"Baik ayah...!"

Bai Anshu membagi baju jadi, jubah, selimut, dan sepatu pada masing-masing anggota keluarganya.

"Yei, aku punya pakaian baru." Bai Jinyu melompat girang, setelah mencoba baju dan jubah.

"Apa kau senang...?" tanya Anshu, menoel hidung bangir sang adik bungsu.

"Tentu saja, terimakasih kakak pertama, kakak kedua...!"

"Sama-sama...!"

Dua gulungan kain katun kasar, tiga gulungan kain katun halus, sepuluh kati kapas, satu set perlengkapan jahit, enam selimut, enam pasang sepatu, Bai Anshu pisahkan untuk diantarkan kerumah utama Bai.

Tak lupa dengan tambahan beras poles wangi dan gandum, masing-masing sepuluh kati. Garam satu kati, gula merah lima keping, gula batu satu kati, arak beras satu botol, enam roti daging, dua kotak kue, serta daging juga lemak babi dua kati.

"Untuk keluarga dari ibu, kita kirimkan kalau sabun sudah jadi ya..?"

"Iya, nanti kita pergi bersama. Kebetulan ayah sudah lama tidak mengunjungi kakak dan nenek dari pihak ibumu." sahut Bai Dashan.

Lemak hewan langsung diolah oleh Chen Muwan menjadi minyak, kemudian disimpan dalam kendi tanah liat.

Untuk daging babi diasapi, setelah diambil setengah kati untuk dimasak guna menu makan malam.

Dua kati beras dicuci bersih, lalu direndam selama satu jam.

Bekas air cucian pberasnya dididihkan sebentar agar tidak basi.

Susu ditaruh kegentong tanah liat, lalu direndam dalam kolam penampungan dingin supaya tidak rusak.

"Oya ibu, aku lupa membeli peralatan memasak, makan, ember, bak, dan gerabah juga guci."

"Nanti jika kau pergi kekota lagi, belilah semua yang kau inginkan." balas Chen Muwan.

Setelah selesai berkemas, kakak beradik pergi mengunjungi rumah utama keluarga Bai.

"Nenek, bibi...!" seru Anshu dan Hanzi bebarengan.

Bai Anshu membuka pintu pagar, sembari berseru lantang. Ia menghampiri sumur yang ada di sudut halaman, mengalirkan air suci kedalamnya.

Pintu rumah yang digunakan untuk dapur terbuka. Bibi Mei muncul, diikuti oleh nenek dan Bai Lushi.

"Apa ini...?" tanya melotot nenek Bai, melihat dua keranjang yang diletakkan oleh kedua cucunya dibangku teras rumah.

"Untuk kakek, nenek, paman, bibi dan dua sepupu. Jangan ditolak, kami barus saja mendapatkan uang banyak." ucap Bai Anshu, menarik lengan Hanzi, lalu berlari pergi.

"Hei, jelaskan dulu pada nenek, ini semua dari mana...?" pekik nyonya tua Bai, mengangkat rok guna mengejar kedua cucunya.

"Keluarga kami baru saja menjual ginseng dan herbal. Pokoknya harus diterima." balas teriak Anshu, melambaikan tangan.

"Ck, anak ini ya..!" gerutu nenek Bai, putar balik kembali keberanda.

Tiga wanita berbeda usia dari kediaman tua Bai, membongkar isi keranjang.

"Ya Dewa ibu, ini banyak sekali." ujar terperangah bibi Mei, melihat barang-barang berharga mahal itu.

"Seberapa banyak uang yang mereka dapatkan..?" ucap tergagap nenek Bai, lalu meringis ngilu.

"Ibu, nenek, ada selimut bulu juga. Ini pasti mahal...?" Bai Lushi menimpali.

Kakek, paman, dan Bai Suji, bersamaan memasuki halaman. Mereka baru kembali dari ladang guna beristirahat untuk makan siang.

"Dari mana barang-barang ini...?" tanya kaget kakek Bai.

"Siapa lagi kalau bukan dari putra keduamu." jawab nenek Bai.

"Apa...?" pekik ketiga pria berbeda generasi disana.

"Ibu sedang tidak membohongi kami kan..?"

Nenek Bai mendengus kasar, memelototi putra sulungnya "apa untungnya aku membohongi kalian..? kurang kerjaan sekali."

"Kemarin masakan daging, sekarang barang-barang ini. Kenapa kau menerimanya..?" sengit kakek Bai.

"Aku sudah menolak, tapi Shu'er memaksa." balas ketus nenek Bai.

"Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli ini semua..?" Bai Sanlang mendesis, menatap barang-barang yang belum pernah ia miliki.

"Katanya tadi mereka menjual ginseng dan tanaman herbal kekota." sahut bibi Mei.

"Ginseng..? tanaman herbal..?"

Ketiga wanita kompak mengangguk.

"Sepertinya adik sepupu benar-benar dianugerahi bakat serta banyak pengetahuan berharga, ini bagus sekali." Bai Suji menimpali dengan penuh syukur.

Keluarga utama beranggotakan enam orang itu, menatap nanar penuh haru semua barang yang berjejer dibangku kayu.

Netra mereka memanas, kehangatan menguar lembut dalam hati kesemua insan disana.

"Cepat cuci tangan kalian, setelahnya kita makan roti daging dan kue ini bersama-sama." titah nenek Bai.

Tiga wanita membenahi seluruh hadiah, lalu menyiapkan makanan yang sudah dimasak serta air minum.

Dikediaman cabang kedua juga saat ini sedang makan siang bersama dengan menu sup telur, roti daging dan talas rebus.

Selesai urusan perut, Bai Anshu mengolah konjac, akar kudzu dan tiga jenis umbi lainnya dengan dibantu sang ibu.

Ditengah proses pembuatan, Pei Dayan, paman Yan, paman Gong dan tiga pemuda datang membawa sekeranjang kerang air tawar segar.

Disetiap keranjang berisi tujuh puluh lima ekor kerang.

"Paman, kakak lelaki, aku akan memberikan tambahan dua puluh koin kalau kalian bersedia memisahkan mutiara dan membersihkan cangkangnya." kata Bai Anshu.

Sudah barang tentu para pria itu menyanggupi. Seratus tujuh puluh wen penghasilan dalam waktu tiga jam, siapa yang berani menolak.

Air gula dengan campuran air suci, Chen Muwan suguhan bagi para pria pencari kerang itu.

"Shu-ya, apa itu umbi yang bisa dikonsumsi..?" tanya Pei Dayan, menunjuk tumpukan konjac dihalaman dengan dagunya.

"Benar paman, ini namanya konjac."

Setelah semua mutiara terkumpul, Bai Anshu merendamnya menggunakan air suci.

Untuk cangkangnya direndam dengan abu tanaman dan garam kasar.

Para pria pencari kerang pulang dengan senyuman lebar, sembari menggenggam erat koin tembaga hasil jeri payah mereka.

Para istri dan orangtua dirumah, lebih bersukacita lagi karena memiliki uang untuk membeli garam dan biji-bijian kasar.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!