Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Mobil mewah Rafael perlahan memasuki pelataran luas mansion Dirgantara. Suasana di sana tampak begitu ramai dan padat. Berderet-deret karangan bunga papan berisi ucapan duka cita memenuhi sepanjang gerbang hingga halaman depan.
Banyak mobil mewah terparkir, menandakan bahwa para rekan bisnis Dirga berbondong-bondong datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Begitu mobil berhenti sempurna, Freya tidak menunggu sopir membukakan pintu. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan menahan rasa nyeri yang teramat sangat di area intinya, ia membuka pintu sendiri dan melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.
Langkah pincangnya membawa Freya menembus kerumunan pelayat di ruang tamu yang disulap menjadi ruang duka. Di tengah ruangan, jasad Dirga terbaring kaku, dikelilingi oleh lantunan doa dan aroma bunga melati yang pekat.
Di samping peti, Leticia duduk bersimpuh dengan air mata yang terus mengalir, memegang tisu, dan memasang topeng kesedihan yang amat sempurna di depan para pelayat yang datang menghampiri untuk menyalaminya.
"Oh, Freya... kamu baru datang, Nak?" ucap Leticia dengan suara bergetar yang dibuat-buat begitu melihat anak tirinya masuk. "Ayahmu... Ayahmu sudah meninggalkan kita..."
Freya sama sekali tidak memedulikan sandiwara ibu tirinya. Ia mengabaikan uluran tangan Leticia dan langsung berlutut di samping jasad ayahnya. Air matanya kembali tumpah ruah saat ia memeluk tubuh dingin Dirga untuk terakhir kalinya.
"Ayah... hiks... Freya di sini, Yah..." bisik Freya dengan suara serak, menyandarkan keningnya pada tepi kain putih yang menutupi ayahnya.
Di tengah isak tangis Freya, kasak-kusuk dan bisik-bisik dari para pelayat samar-samar mulai terdengar di sekeliling ruangan. Kehadiran Rafael yang melangkah masuk tak jauh di belakang Freya dengan wibawa dinginnya yang mutlak juga tak luput dari perhatian orang-orang.
"Tuan Dirga itu orang yang sangat baik semasa hidupnya. Sayang sekali umurnya tidak panjang," bisik seorang pria paruh baya berbaju hitam di sudut ruangan.
"Tapi kudengar dari relasi di kementerian, belakangan ini dia terseret dalam kasus korupsi proyek besar. Makanya perusahaannya di ambang kehancuran total," sahut pelayat lain dengan suara yang direndahkan. "Kasihan anak perempuannya, sudah jatuh tertimpa tangga pula."
Mendengar bisikan-bisikan itu, hati Freya semakin teriris. Ayahnya bukan koruptor. Ayahnya dijebak oleh situasi bisnis yang kejam. Namun, sebelum ia bisa memikirkan hal itu lebih jauh, perhatian seluruh ruangan mendadak teralih ke arah pintu masuk.
Sesosok wanita muda dengan gaun hitam yang elegan melangkah masuk sambil terisak-isak, merangkul lengan seorang pria yang sangat dikenali Freya. Itu Bianca. Dan pria yang bersamanya adalah Sean, suami Freya. Mereka mempercepat kepulangan mereka dari liburan begitu mendengar kabar duka ini.
Di sudut ruangan, Rafael yang sedang berdiri bersedekap dada seketika membeku. Sepasang mata elangnya melebar, menatap tajam ke arah Bianca yang berjalan berdampingan dengan putranya. Detak jantung Rafael bergemuruh oleh rasa terkejut yang luar biasa.
Baru detik itulah Rafael mengetahui fakta yang sebenarnya—bahwa Bianca, mantan kekasih Sean yang dulu mati-matian ditentang dan diusir oleh Rafael karena latar belakang keluarganya yang dianggap tidak jelas, ternyata adalah anak kandung Leticia, alias adik tiri dari Freya.
Rafael mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana, menahan diri agar tidak meledak di tengah situasi duka ini. Ia menatap tajam ke arah Sean dan Bianca bergantian. Rahangnya mengeras rapat, menyadari lingkaran takdir yang begitu rumit dan menjijikkan ini.
Sama persis seperti ibunya, Bianca langsung memasang topeng sedih begitu mendekati peti jenazah. Ia menangis histeris seolah-olah ia adalah anak yang paling berbakti di dunia. "Papa... kenapa cepat sekali tinggalkan Bianca... hiks..." ratap Bianca, menutup wajahnya dengan saputangan.
Banyak pelayat yang menatap iba pada Leticia dan Bianca, mengira mereka adalah keluarga yang paling terpukul atas kematian Dirga. Sementara Sean berdiri di belakang Bianca, mengusap pundak wanita selingkuhannya itu dengan penuh perhatian, sama sekali tidak melirik ke arah Freya yang bersimpuh di sisi lain.
Waktu berlalu hingga akhirnya prosesi pemakaman dilakukan di tempat pemakaman umum. Selama prosesi penguburan, Sean terus menempel di dekat Bianca, bertindak seolah ia adalah pelindung wanita itu.
Melihat kelakuan putranya yang tidak tahu diri di depan umum, Rafael berjalan mendekat dan berdiri di samping Sean. Dengan suara baritonnya yang rendah namun penuh penekanan yang mengancam, Rafael berbisik, "Sean. Temani istrimu sekarang. Jangan membuat malu keluarga Ravindra di depan rekan-rekan bisnis."
Sean tersentak, menatap ayahnya dengan sorot mata takut. Ia segera menuruti perintah Rafael. Dengan enggan, Sean melangkah mendekati Freya yang sedang menatap liang lahat dengan pandangan kosong.
Sean berpura-pura merangkul pundak Freya dan menenangkannya, memasang wajah suami yang suportif di depan sisa-sisa pelayat yang masih ada. Freya hanya bisa pasrah, terlalu lemas secara fisik dan mental untuk memberontak.
*
Setelah upacara pemakaman selesai, semua rombongan keluarga kembali ke mansion Dirgantara. Baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, ponsel Rafael bergetar di dalam saku jasnya. Ia melihat layar dan mendapati panggilan penting dari sekutu politiknya di kantor pusat.
Rafael menjauh sejenak untuk mengangkat telepon, lalu kembali dengan wajah yang serius. Ia menghampiri Freya yang duduk di sofa ruang tamu.
"Freya, aku ada telepon mendadak dari kantor. Ada urusan mendesak yang tidak bisa kutunda," ucap Rafael, suaranya melembut khusus hanya untuk wanita itu. "Aku harus pergi sekarang. Pengawal akan tetap berjaga di luar rumah ini untuk memastikan keamananmu."
Freya hanya mengangguk tanpa suara, enggan menatap mata pria yang telah menodainya itu. Setelah berpamitan formal kepada Leticia dan Sean, Rafael membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan mansion Dirgantara.
Begitu deru mobil mewah Rafael terdengar menjauh dari halaman, atmosfer di dalam rumah itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Rumah duka itu seketika berubah menjadi neraka bagi Freya.
Plak!
Leticia melempar saputangan hitamnya ke atas meja kopi dengan kasar. Topeng kesedihannya menguap tak berbekas, digantikan oleh senyuman lebar yang penuh kemenangan.
"Ah! Akhirnya tua bangka itu mati juga!" seru Leticia tanpa rasa bersalah sama sekali, menatap ke sekeliling mansion mewah itu dengan mata berbinar serakah. "Otomatis rumah ini, sisa aset, dan asuransi jiwanya akan jatuh ke tanganku! Aku kaya raya sekarang!"
Bianca ikut mendengus geli, menghapus air mata palsunya dengan tisu dan langsung menggandeng lengan Sean dengan manja di depan Freya. "Iya, Ma. Akhirnya kita tidak perlu berpura-pura lagi merawat pria penyakitan itu."
Freya mengepalkan tangannya, berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat karena amarah yang memuncak. "Cukup! Jaga ucapan kalian! Ayah baru saja dikubur, dan kalian bisa-bisanya bicara sekeji itu?!"
Sean menatap Freya dengan pandangan meremehkan. "Halah, Freya, tidak usah sok suci. Lagipula ayahmu memang sudah menyusahkan sejak dulu dengan penyakitnya."
Rasa sakit di intinya akibat perbuatan Rafael semalam, ditambah dengan pengkhianatan suaminya yang teramat jelas di depan mata, membuat pertahanan Freya runtuh total. Ia menatap Sean dengan tatapan penuh kebencian.
"Sean... aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini," ucap Freya, suaranya bergetar namun terdengar sangat tajam. "Kita cerai. Aku minta cerai darimu sekarang juga! Aku akan urus suratnya secepat mungkin!"
Mendengar kata 'cerai', tawa Sean justru pecah, terdengar sangat sinis dan merendahkan. Langkahnya maju, lalu mencengkeram rahang Freya dengan kasar—sebuah perlakuan kasar yang langsung mengembalikan rasa takut dalam diri Freya.
"Cerai? Kau pikir kau bisa bebas begitu saja dari aku, Freya?!" bentak Sean tepat di depan wajah istrinya. "Dengar ya! Perusahaan ayahmu memang di ambang kebangkrutan, tapi aku tahu dia masih menyimpan saham rahasia atas nama ibumu yang nilainya miliaran! Dan hak waris itu otomatis jatuh kepadamu sebagai anak kandung!"
Leticia ikut melangkah mendekat, menatap Freya dengan tatapan mengancam. "Betul! Jangan harap kamu bisa pergi membawa harta itu sendirian, Freya! aku harus mendapatkan pengalihan hak waris itu dulu. Setelah semua harta ayahmu beralih ke tangan kami, baru kamu bisa bebas dan pergi sesukamu!"
"Lepaskan aku! Sakit, Sean!" jerit Freya, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sean di rahangnya, namun kekuatannya kalah jauh.
Plak!
Bianca tiba-tiba maju dan melayangkan tamparan keras ke pipi Freya hingga wanita itu tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Rasa perih di pipinya berpadu dengan rasa sakit di bagian intinya yang kembali berdenyut akibat benturan.
"Itu balasan karena kau berani berteriak pada kekasihku!" desis Bianca kejam, menatap Freya yang terduduk lemas di lantai. "Kau hanyalah kesialan di rumah ini, Freya. Bersikaplah penurut kalau tidak mau kami buat hidupmu lebih menderita!"
Freya hanya bisa menangis tergugu, memeluk lututnya di atas lantai. Air matanya mengalir deras membasahi marmer dingin. Di dalam hatinya, ia menjerit pilu. Ia ingin sekali mempertahankan harta dan mansion peninggalan ayahnya, karena semua ini dibangun dengan keringat dan air mata oleh mendiang ibu kandungnya dulu bersama sang ayah. Ia tidak sudi menyerahkan warisan suci ibunya kepada para iblis serakah ini.
.
.
.
#Jangan lupa like, coment, gift dan vote 🙏🥰
Satu dukungan sama dengan menghargai author.
Terimakasih 🙏
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean