NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Apa Dengan Linda?

Azzam datang dengan membawa singkong goreng di piring.

"Singkong gorengnya, Mbah," ucap Azzam sambil meletakkan singkong goreng di meja.

"Ya, terima kasih, Zam." sahut Pak Wandi.

Azzam mengangguk. Baru saja Azzam hendak berbicara ....

"Terus mbah, lanjutkan ceritanya," Linda mendesak Pak Wandi untuk kembali bercerita.

"Cerita apa toh ini, kok kayaknya seru banget?" tanya Azzam.

"Sssstt ..." mata Linda mendelik, dan telunjuknya memberi isyarat di depan bibir.

Azzam terdiam dan tersenyum ke arah Linda. Sementara gadis bermata bulat itu melengos, membuang muka dari tatapan Azzam.

"Iya, iya ... tak teruskan." sela Mbah Wandi.

"Singkat cerita, Yavuz yang tinggal di Jayakerta, sering berkunjung ke Dusun Teduh. Dalam satu bulan, bisa dua sampai tiga kali kunjungan ... Lambat laun, hubungan pertemanan mereka menjadi cinta."

Sampai kalimat ini, mata Pak Wandi terpejam, sisa-sisa patahnya hati masih kentara bersemayam di dadanya.

Mengulas senyum tipis, dia melanjutkan cerita, "Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Utari dan Yavuz menikah, di kota kelahiran Utari."

Flashback On

Wandi menatap permukaan air danau yang tenang. Seminggu lalu, Utari baru saja meninggalkan dusun Teduh, untuk menikah dengan kekasih hatinya. Yavuz.

Setelah pernikahan, mereka memilih menetap di kota Jayakerta, dengan alasan dekat tempat kerja Yavuz. Sebagai Kepala Cabang sebuah perusahaan perhiasan, Yavuz tidak bisa sering-sering meninggalkan tugas.

Sedangkan untuk mendukung profesi Utari sebagai Bidan, Yavuz menguruskan perijinan buka praktik kebidanan di rumah yang mereka tempati.

Wandi tersenyum menatap foto pernikahan Utari dan Yavuz. Wandi sadar, jodoh tidak bisa dipaksakan. Pun begitu, rasa sakit ditinggalkan masih membekas di hatinya. Entah sampai kapan.

Flashback Off

Setelah hening beberapa saat ...

"Waah, romantis sekali. Jadi begitu jalan cerita cinta kakek neneknya Dokter Azra, kita?" suara Linda bersemangat memecah keheningan dalam ruangan.

"Senang sekali, Mbak," komentar Azzam melihat ekspresi Linda.

"Iyalah!" sahut Linda cepat sambil memutar bola matanya malas.

Mereka yang di ruangan terkejut mendengar jawaban Linda yang terdengar ketus. Azzam merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis yang biasa heboh bila melihatnya. Tapi Azzam tidak tahu, kenapa.

"Terus, mereka tinggal di sini ya, Mbah?" tanya Linda lagi.

"Tidak, mereka tinggal di kota Jayakerta. Walah, kue talamnya habis ..." ujar Pak Wandi kecewa.

"Ini singkong goreng yang Mbah minta tadi," Azzam menawarkan singkong goreng yang dibawanya tadi.

"Enak kue talam, Zam. Singkong goreng e lek adem, atos," jawab Pak Wandi sambil meminum kopi pelan.

"Singkong goreng, ada yang tidak keras, Mbah. Namanya singkong keju, kalau dimakan kriuk di luar, lembut di dalam," hibur Linda menawarkan Pak Wandi dengan olahan singkong yang lain.

Mata Pak Wandi berbinar, "Kamu bisa masaknya?"

"Bisa lah, gampang itu." jawab Linda bangga.

"Zam, singkong mentah e isih enek?"

Azzam mengangguk.

"Nah, ajak Linda ke dapur sana, belajar sama dia cara bikin singkong keju. Cepetan, Simbah tunggu di sini."

"Hah? Tapi Mbah ..." Linda hendak protes, namun urung, karena sudah ditarik Azra dari tempat duduk dan didorong untuk mengikuti Azzam yang sudah menunggu di pintu.

"Sebentar, Kak ..." Linda masih berusaha mengurungkan perintah Mbah Wandi.

"Sshhhh ... Hush ... Hush ... Sudah sana kerjakan!" kali ini Azra ikut memberi perintah.

Dengan wajah ditekuk, Linda melangkah kesal di belakang Azzam.

Azra dan Pak Wandi saling menepuk tangan di udara.

"Semoga mereka berjodoh," lanjut Pak Wandi.

"Aamiin ... Eh, emang simbah mau punya cucu mantu modelan Linda?" tanya Azra setelah mengaminkan doa Mbah Wandi.

Mbah Wandi terkekeh. Matanya menerawang menatap gelapnya malam di luaran.

"Padahal, dulu nenekmu ingin sekali menjodohkan kalian berdua. Ternyata ..." ucapan Pak Wandi menggantung.

Azra memunculkan senyum lesung pipinya.

"Rara sudah menganggap Azzam seperti adik sendiri, Mbah. Kami hidup dan tumbuh bersama, layaknya kakak adik. Azzam pun merasa seperti itu ke Rara." Azra mencomot singkong goreng yang sudah mulai dingin.

"Begitu juga baik. Daripada timbul luka baru yang sama. Hehehe ..." Mbah Wandi terkekeh.

Azra mengangguk-angguk paham.

"Mbah, ada yang mengganjal di hati Rara sampai saat ini." Mata hazelnutnya menatap sendu foto kakek dan neneknya.

"Tanyakan saja, kalau Mbah mu ini bisa menjawab, ya akan kujawab."

"Apakah keluarga kakek di Turki, merestui hubungan mereka?" tanya Azra.

"Tentu saja. Kenapa kamu menanyakan ini?" tanya Pak Wandi balik.

Azra mengedikkan bahu. Kembali bertanya ...

"Apakah mereka pernah berkunjung ke Jayakerta?"

"Pernah. Dua kali malah. Dan itupun mereka tinggal lumayan lama saat berkunjung. Nenekmu bercerita, kalau keluarga kakekmu sangat sayang kepadanya." Mbah Wandi berdiri, berjalan perlahan sambil menatap foto Utari dan Yavuz.

"Pernah suatu waktu, Utari dan Rianti kecil dibawa berkunjung ke Turki. Sampai di sana tidak boleh balik lagi ke Indonesia. Tapi kakekmu menolak, karena memang Cabang perusahaan di Indonesia berkembang pesat di tangan Yavuz," senyum mengembang di bibir cokelat Pak Wandi.

Dia berbalik badan lalu menatap Azra sambil berkata, "Kakekmu orang sukses. Orang baik dan orang yang paling tulus yang pernah Mbah temui. Mereka berdua pasangan yang serasi. Mbah senang melihat mereka berdua bahagia. Dan karena itu, Mbah sudah menyerah untuk Utari." Mbah Wandi menutup ucapannya dengan sebaris senyum tulus.

Azra pun tersenyum dengan bahagia. Tuntas sudah rasa ingin tahunya tentang perjalanan hidup kakek yang mewariskannya mata hazelnut dan nenek yang membesarkannya.

_______

"Sini, Mbak. Biar aku saja yang kupas singkongnya." Azzam berusaha meraih singkong dari tangan Linda.

"Nggak usah! Mundur ... jangan dekat-dekat saya," Linda menodongkan pisau ke arah Azzam.

Azzam kaget dan mundur beberapa langkah.

"Tapi tadi kan Mbah Wan bilang, saya disuruh belajar sama Mbak Linda." ucap Azzam lagi.

"Sinau o dewe sana!" sentak Linda ketus.

"Ya sudah! Dibantuin nggak mau. Kerjain aja sendiri!" Azzam pergi meninggalkan Linda.

"Eeh, dia yang salah, dia pula yang marah," sungut Linda sambil cepat-cepat mengupas kulit singkong.

"Auw!" pekik Linda spontan, saat jarinya tak sengaja tersayat pisau.

Sari yang berada di kamar tak jauh dari dapur, terkejut.

Bergegas dia menuju dapur.

"Astagfirullah, Mbak. Kok bisa malah ngiris jari?" Sari melihat jari Linda yang tersayat pisau.

"Mas, Mas Azzam, ambilkan kotak P3K," teriak Sari memanggil Azzam.

"Eneng opo?" jawab Azzam sambil berlari dari ruang tamu.

"Jarine Mbak Linda kena pisau, tolong ambilkan kotak P3K."

"Kok bisa?!" Azzam bergegas mengambil kotak P3K. Tak lama kemudian kembali dan menyodorkan pada Sari.

"Lho, tolong bukain, Mas. Piye toh, tanganku kotor iki." perintah Sari geram dengan ketidak peka-an Azzam.

"Aduh Sari. Wis ora popo, ini luka kecil, aku bisa mengobati sendiri. Sudah lanjutkan saja mengerjakan tugas. Aku bisa mengobati sendiri kok." Linda beranjak ke pancuran air membersihkan luka di jarinya. Hatinya bertambah kesal melihat Azzam yang tidak bersegera menolongnya.

Azzam meletakkan kotak P3K di sebelah Linda. "Ini obatnya di sini. Bisa sendiri, kan?"

Tanpa menunggu jawaban, Azzam langsung pergi.

Linda menahan dongkol luar biasa dalam hatinya. Dasar cowok tidak peka! Batinnya geram.

1
Rene
berati mantan suaminya yang mndul🤭
Dzie Drafir: naah, gitu maksudnya. cuma emang paling enak kalo melempar kesalahan ke orang lain. ya nggak sih 🤭
total 1 replies
Rene
beda orang apa sama sih
Dzie Drafir: nama panjangnya arunika, suami pertama sukanya manggil runi
total 1 replies
Rene
nanti Nika🤭
Rene
tadi Arun
Rene
emang rahimnya diangkat?
Rene
tinggal bikin lagi🤭
Rene
keguguruan
Rene
ketuban pecah
Rene
pejabat di sini baik-baik ya🤭
Dzie Drafir: doa itu kak, pejabat kita juga semoga baik² aamiin😄
total 1 replies
Rene
calon" mokondo inimah
Dzie Drafir: wkwkwk 🤣🤣🤣
total 1 replies
Rene
nurun bapaknya kali🤣
Rene
velg nya kali🤭
Rene
keliatan bijina gak🤭
Dzie Drafir: uups 🤭
total 1 replies
Rene
lah, gwe lupa kalo si azra cewek😄, pantes agak ambigu tadi, salfok gegara namanya
Rene
nah ini si calonnya🤭 baru mau dateng
Rene
azra udah punya calon belum🤭
Rene
emoh, mau minggat aja, dirasani terus😒
Dzie Drafir: 🤣 sabar...sabar...
total 1 replies
Rene
wkwk ditinggal kawin🤣
Rene
apa azra naskir ama wita🤭
Dzie Drafir: udah sering nama itu 😄
total 3 replies
Rene
chindo kah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!