NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Cinta Papa untuk Wita

Wita terpekur menatap sampul coklat yang membungkus Surat Wasiat Papa. Aldo duduk dihadapannya dalam diam.

Siang tadi, dia sudah mengirim kabar meninggalnya Oma kepada mama Wita dan juga kepada maminya sendiri.

Mama Wita segera menelepon Mika, menyatakan turut berbela sungkawa. Begitu juga Mami Aldo. Wanita ini lebih panik menanyakan kondisi menantu kesayangannya.

Aldo menyampaikan, Wita masih aman terkendali.

Dan saat ini, di atas ranjang Oma, Aldo duduk berhadapan dengan Wita yang sudah 30 menit memandangi surat wasiat dari papanya.

Aldo menyentuh tangan Wita pelan. Wita terhenyak kaget. Menatap Aldo dengan pandangan bingung.

"Kalau belum siap membuka surat wasiat papa, tidak usah dibuka. Waktunya masih panjang," ucapnya tenang.

Tangan Wita bergerak, membuka tali yang mengikat surat.

Setelah surat wasiat terbuka, hal pertama yang dia temukan adalah sebuah foto usang. Foto seorang pria tionghoa, menggendong seorang gadis kecil umur tiga tahunan.

Senyum mereka begitu ceria, air mata Wita kembali menetes. Jemarinya mengusap lembar foto itu dengan hati-hati. Lalu menciumnya lama. Setelah puas, diserahkannya foto itu kepada Aldo.

Aldo menatap dalam dan tersenyum, "Kamu memang manis sedari kecil. Bedanya, kamu dulu gembil, sekarang cungkring."

Wita melotot. Dicubitnya paha Aldo kuat-kuat.

"Aduh! Sakit Wita. Ternyata cubitanmu lebih menyakitkan dari pukulanmu," ujar Aldo sambil menggosok pahanya menghilangkan rasa panas bekas cubitan Wita.

"Rasain!" sentak Wita kesal.

Aldo tersenyum, mode anak macan Wita sudah aktif kembali.

Pandangan Wita beralih kembali ke surat wasiat papanya. Perlahan, dengan tangan gemetar, dibukanya surat yang sudah tergulung 21 tahun lalu.

Teruntuk Wita

Permata hatiku, Rembulanku.

Sayang, bila surat ini sudah sampai padamu, itu tandanya kamu sudah menjadi dokter gigi, sesuai dengan apa yang kamu impikan sedari kecil.

Papa bangga, papa ikut bahagia, meski mungkin papa tidak bisa membersamaimu mengarungi dunia ini.

Maaf, bila papa tidak bisa menemanimu menghadapi dunia ini, takdir menghendaki lain. Tapi papa percaya, Wita bisa melalui semua dengan baik. Karena Wita anak papa. Wita anak seorang Chandra.

Wita berhenti membaca, netranya menatap langit-langit kamar berusaha mengenang masa-masa indah bersama papanya.

Walau hanya sempat bersama selama 6 tahun. Tapi itu benar-benar masa yang sangat indah baginya.

Sayang, karena kamu sudah dewasa, kamu perlu tahu, papa merintis perusahaan mebel bersama mamamu di awal pernikahan kami.

Mulai dari nol. Saham mamamu 40%, saham papa 40% dan sisanya saham gabungan.

Wita, papa tidak tahu apakah papa bisa bertahan dengan sakit jantung yang papa derita. Untuk itu, demi menjaga kebutuhanmu tetap terpenuhi sampai dewasa, papa mengalihkan saham papa atas namamu. Seluruhnya, sebesar 40%.

Tubuh Wita bergetar hebat menahan isak tangis. Sebesar itu cinta papa untuknya, bahkan sebelum meninggal masih memikirkan kebutuhannya.

Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Vera. Bagaimana dengan Vera, adiknya?

Dibukanya lagi surat di halaman berikutnya.

Wita, putri kesayangan papa.

Bila memang papa harus meninggalkanmu karena sakit jantung ini, papa sudah lega. Karena papa sudah menitipkanmu pada orang yang tepat.

Tetaplah bersikap baik kepada mamamu dan Vera. Apapun dan bagaimanapun keadaannya nanti. Mereka tetap keluargamu.

Ini adalah surat wasiat pertama papa untukmu.

Bila kamu sudah menikah, mintalah surat wasiat kedua kepada Oma.

Semoga sampai saat kamu menikah, Oma dan Opa masih mendampingimu.

Salam Cinta, peluk cium buat Rembulan Kecil Chandra.

Wita tergugu. Lembaran surat wasiat itu terjatuh di sisi tubuh Wita..

Wita merasa lelah, dia membaringkan tubuhnya, meringkuk dengan isak tertahan membelakangi Aldo.

Aldo merapikan surat wasiat milik Wita, dan memasukkannya kembali kedalam sampul coklat.

Perlahan dia berbaring di belakang Wita, dipeluknya istrinya itu lembut.

Wita diam tidak menolak, saat ini hatinya sudah sangat lelah, yang dia butuhkan hanya sandaran untuknya berlabuh.

"Aku lelah, Aldo," ujarnya diiringi tangisan yang pilu.

Aldo memeluknya lebih erat. Berusaha memberinya kekuatan dan ketenangan yang dia punya.

.......

Malam itu, Wita dan Aldo duduk bersantap bersama keluarga Bibi Mika. Paman Batyr duduk di antara Mika dan Dilnur. Sedangkan Aldo dan Wita duduk di sebelah dua adik Dilnur, yaitu Alim dan Dilnaz.

Mereka mengelilingi meja makan kayu yang bundar. Di tengah meja, tersaji nampan besar berisi Dapanji --ayam tumis pedas dengan kentang-- yang masih mengepulkan uap, dikelilingi oleh roti nang yang garing di luar namun lembut di dalam.

Paman Batyr baru saja menuangkan teh rempah ke dalam cangkir-cangkir kecil, sementara Bibi Mika sibuk memotong daging domba panggang yang empuk.

"Wita, Aldo, hanya ini hidangan yang kami bisa sajikan malam ini. Bibimu masih belum bisa masak terlalu banyak masakan," ujar Paman sambil membantu Bibi memindahkan irisan daging domba ke sebuah nampan.

"Ini sudah lebih dari cukup, Paman. Saya malah tersanjung, bisa menikmati masakan khas warga Uyghur di Xinjiang ini," jawab Aldo sambil membantu Wita mengambilkan Dapanji dan meletakkan di atas piringnya.

Malam itu, baru pertama kali mereka bisa berkumpul bersantap makan malam bersama.

Dua hari sebelumnya, mereka masih disibukkan dengan tamu yang datang dan pergi untuk ikut bela sungkawa atas meninggalnya Oma.

Mereka makan tanpa bersuara. Hanya bunyi sumpit dan sendok beradu dengan piring yang menjadi irama santap malam mereka.

Setelah bersantap malam, mereka masih tinggal di ruangan itu. Dilnaz dan Alim sudah memasuki kamar, kembali dengan aktivitas mereka.

"Kamu sudah membaca surat wasiat papamu, Wit?" tanya Bibi memecah keheningan.

Wita mengangguk singkat. Dia menatap Bibinya lama.

"Ada satu surat lagi yang Bibi simpan." Sambil berkata, Mika mengangsurkan sampul putih ke arah Wita.

Wita memandangnya lama, sebelum akhirnya mengambil surat bersampul putih itu.

Berbeda dengan surat wasiat yang pertama, Wita membuka surat itu di depan semua orang.

Saat keluarga Mika akan beranjak, Wita menahan mereka.

"Tetaplah di sini Bibi, Paman dan Dilnur. Ada yang ingin aku sampaikan juga kepada kalian."

Mereka duduk kembali.

"Tapi ijinkan aku membaca surat ini, sampai selesai dulu." ujar Wita.

Mereka menunggu Wita membaca surat sampai selesai. Beberapa kali, tatapan mereka mengarah ke wajah Wita, terkadang tegang, lalu tersenyum.

Di akhir surat yang dia baca, dia tersenyum. Lalu melipat surat itu dengan seksama.

"Paman, Bibi. Aku ingin menyampaikan tentang isi penting surat wasiat papa yang pertama." Wita menjeda kalimatnya. Semua memandang ke arah Wita. Termasuk Aldo.

"Di surat wasiat yang pertama, Papa menyatakan, saham papa yang 40% dialihkan atas namaku. Semuanya."

Mika terperanjat, lalu tersenyum. "Seperti itu? Syukurlah, jadi kamu masih punya bagian di perusahaan itu, Wita."

Wita mengangguk. "Isi selanjutnya, papa menyuruhku meminta surat wasiat yang kedua bila aku sudah menikah. Dan Bibi sudah memberikannya padaku."

Mika mengangguk. Sedangkan ketiga orang di antara mereka saling berpandangan, menunggu dengan tegang, apa yang tertulis di surat wasiat yang kedua.

Wita mengambil napas, lalu berkata, "Dalam surat wasiat kedua, papa menjelaskan, bahwa ..." Wita memandang ke arah Mika dengan lembut.

"Saham perusahaan mebel yang di Indonesia, 10% milik Oma dan Opa, dan 10% milik Bibi Mika. Apakah Bibi sudah mengetahui ini?" tanya Wita.

Mika kembali mengangguk. "Oma yang menceritakan itu pada Bibi. Setahun yang lalu. Bibi tidak mengatakan ini ke Pamanmu, karena situasinya saat itu masih belum pasti."

Batyr mengernyit, menatap Mika meminta penjelasan.

"Perusahaan Chandra-Diana, saat ini dipegang dan dikendalikan Hendra, papa tiri Wita. Kami --aku, oma dan opa-- masih dikirim uang dari hasil saham kami. Meski tidak tau, pengelolaan sebenarnya seperti apa."

Batyr mengangguk-angguk. Dia paham polemik yang terjadi di keluarga Wita, keponakan istrinya.

Aldo meraih tangan Wita, dan menggenggamnya erat. Wita menoleh sebentar, lalu tersenyum.

"Dan isi yang lainnya di surat wasiat kedua ini, papa mengatakan, bahwa papa menyiapkan untukku sebuah perusahaan kecil, ketika aku masih berumur 4 tahun."

"Serius?!" Aldo tiba-tiba bereaksi dengan kejutan ini.

Begitu juga mereka bertiga yang duduk di hadapan Wita.

Wita mengangguk mantap.

Sebaris senyum muncul di bibir mereka.

Bayangan Wita akan berebut perusahaan dengan mama dan adiknya, sudah menguap. Muncul kelegaan dan harapan baru untuk masa depan Wita.

"Adapun, surat legalitas perusahaan kecil, surat pengalihan saham, surat kepemilikan saham Oma Opa dan Bibi, semua tersimpan rapi di brankas perusahaan kecil ini." Jelas Wita lebih lanjut.

"Perusahaan kecil itu di mana? Dan bergerak di bidang apa, Wit?" tanya Bibi semakin penasaran.

"Di sini, di Urumqi. Nama perusahaannya Modula Corp."

"Hah??" Mika, Batyr dan Dilnur ternganga mendengar nama Modula Corp.

Aldo menyipitkan mata, otak pebisnisnya tiba-tiba bekerja dengan cepat.

"Jangan bilang Paman bekerja di perusahaan itu." ujar Aldo tiba-tiba.

Batyr menoleh pada Aldo, "Kenyataannya seperti itu, Al. Perusahaan ini juga bergerak di bidang mebeling." jawab Paman Batyr.

Wita kembali menangis, begitu juga Mika. Mereka berdua merasakan perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari seorang Chandra.

Malam itu sedikit demi sedikit kebuntuan mulai mencair. Wita tersenyum dalam tangis. Masih ada satu surat wasiat lagi yang papanya simpan di brankas kantor Modula Corp.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!