NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ilusi di Balik Botol

Malam itu, Sano tidak mencari ketenangan di pinggir tebing. Ia memacu mobilnya menuju The Onyx, sebuah klub eksklusif yang telah ia booking sepenuhnya. Begitu ia melangkah masuk, tidak ada musik yang berdentum, tidak ada kerumunan. Hanya keheningan yang mencekam, dilayani oleh pelayan-pelayan kelas atas yang bergerak bak bayangan. Sano disambut bak raja, namun tatapannya kosong.

Ia duduk di sofa leather hitam, meneguk minuman termahal yang disajikan—cairan itu membakar tenggorokannya, namun tidak mampu membakar rasa sesak di dadanya. Wanita-wanita cantik dengan gaun sutra mencoba mendekat, membelai bahunya, namun Sano hanya diam. Ia mabuk, mabuk dengan kecepatan yang merusak, berusaha menenggelamkan ingatan tentang wajah Halra yang menepis tangannya pagi tadi.

Di tengah kabut alkohol yang mulai mengaburkan kesadarannya, pintu VIP terbuka. Savhelicha melangkah masuk. Gaun merahnya yang terbuka mengekspos lekuk tubuh yang ia tahu sangat dipahami Sano. Ia mendekat, membelai rahang Sano dengan kuku-kukunya yang tajam.

Sano menoleh. Matanya yang sayu mengerjap. Karena efek alkohol yang luar biasa, otaknya memainkan tipuan kejam. Ia melihat Halra.

"Halra?" gumam Sano parau, suaranya sarat akan kerinduan yang menyakitkan.

Savhelicha tersenyum licik, ia tidak membantah. Ia memeluk Sano dengan manja, jemarinya merayap di balik kerah kemeja Sano, memberikan kecupan-kecupan kecil di ceruk lehernya. "Ya, sayang... ini aku. Aku di sini untukmu."

Sano menarik napas dalam, mencium aroma yang ia pikir adalah aroma bunga melati khas Halra, padahal itu adalah parfum musk mahal milik Savhelicha. Sano meracau, "Kenapa... kenapa kau membenciku? Aku hanya ingin... melindungimu..."

Savhelicha memapah Sano yang sudah tidak stabil. Mereka menaiki tangga menuju kamar pribadi di lantai atas. Di sana, Savhelicha membaringkan Sano di ranjang besar. Dengan gerakan yang penuh gairah, ia membuka kemeja Sano, memperlihatkan otot-otot dada yang selama ini menjadi obsesinya. Savhelicha merasa menang; pria yang dulu pernah menjadi miliknya kini terbaring tak berdaya di hadapannya.

Sano menarik Savhelicha ke dalam pelukannya dengan kasar, menyembunyikan wajahnya di bahu wanita itu. "Halra... jangan tinggalkan aku dengan Tazam," gumamnya, masih terperangkap dalam delusi.

Sano, dalam keadaan setengah sadar, mulai melucuti pakaian Savhelicha. Ia menindih wanita itu, napasnya memburu, matanya memicing mencoba fokus. Ia ingin menyalurkan rasa sakitnya melalui gairah. Namun, tepat saat ia hendak mendaratkan ciuman di bibir Savhelicha, indra penciumannya yang mulai tersadar oleh dinginnya udara kamar menghantam realitas.

Aroma itu bukan melati. Itu parfum musk yang tajam dan familiar—aroma yang selama bertahun-tahun selalu ia hindari setelah masa lalunya bersama wanita ini berakhir.

Sano membeku. Ia menarik diri secara tiba-tiba, matanya yang tadi layu kini menatap tajam ke arah wajah di bawahnya. Kegelapan kamar itu seolah tersingkap. Bukan mata bening Halra yang ia lihat, melainkan sorot mata licik dan penuh kemenangan milik Savhelicha.

Sano mendorong tubuh Savhelicha hingga wanita itu jatuh ke samping. Ia bangkit dengan sempoyongan, rasa jijik yang luar biasa mengalahkan efek alkoholnya.

"Kau..." desis Sano dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. Ia menatap Savhelicha yang kini setengah telanjang, wajahnya memerah karena amarah dan rasa mual. "Beraninya kau menipuku dengan parfum rendahanmu itu!"

Sano menyambar kemejanya yang berserakan, memakainya dengan kasar tanpa mengancingkannya. Ia menunjuk wajah Savhelicha dengan telunjuk yang gemetar karena amarah. "Jika kau tidak segera keluar dari sini, aku bersumpah, bukan hanya posisi ayahku yang akan hancur, tapi seluruh silsilah keluargamu akan aku pastikan binasa malam ini juga!"

Tanpa mempedulikan wanita itu, Sano melangkah keluar kamar dengan langkah terhuyung, berusaha keluar dari klub secepat mungkin.

Di belakangnya, Savhelicha tidak tinggal diam. Ia segera menyambar gaun merahnya, memakainya dengan terburu-buru, dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan gemetar. Amarahnya meluap, bukan karena ditolak, tapi karena harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang dulu bertekuk lutut padanya. Ia berlari mengejar Sano menuruni tangga klub.

"Sano! Berhenti!" teriak Savhelicha.

Sano tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang masih tidak stabil. Savhelicha berhasil mengejarnya di area parkir yang sepi, ia menarik lengan Sano dengan paksa hingga pria itu berbalik.

"Lepaskan!" bentak Sano.

"Dengarkan aku dulu, brengsek!" teriak Savhelicha, napasnya memburu. Ia berdiri tepat di depan Sano, memblokir jalannya. "Kau pikir kau bisa mencampakkanku seperti ini setelah semua yang terjadi? Kau pikir istrimu itu malaikat? Dia bukan wanita yang tepat untukmu, Sano! Dia tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, dia tidak tahu kegelapan yang kau sembunyikan bersama Nenek Daisa!"

Sano terdiam, matanya menatap Savhelicha dengan tatapan mematikan. Alkohol masih mengaburkan logikanya, namun nama "Nenek Daisa" menghujam kesadarannya dengan keras.

"Jangan pernah menyebut nama itu dengan mulut busukmu," bisik Sano dingin, ia mencengkeram dagu Savhelicha dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya. "Apa yang terjadi di kamar tadi adalah kesalahan fatal yang tidak akan pernah kuulang. Dan jika kau berani mencoba memanipulasi ingatanku atau mendekati Halra dengan cara kotor seperti ini lagi, kau tidak akan punya kesempatan untuk bernapas besok pagi."

Sano menghempaskan wajah Savhelicha, lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia membanting pintu hingga terdengar dentuman keras. Sementara itu, di kejauhan, ponsel Sano yang tergeletak di kursi penumpang menyala berkali-kali. Notifikasi transaksi fantastis dari toko berlian eksklusif terus berdatangan, seolah mengejek Sano bahwa di rumah, ia sudah kehilangan kendali atas istrinya.

Sano memacu mobilnya meninggalkan Savhelicha yang berdiri mematung di parkiran, menatap mobil itu pergi dengan kebencian yang mendalam. Malam itu, Savhelicha tahu bahwa ia telah kehilangan pengaruhnya atas Sano, dan Halra telah resmi menjadi musuh yang harus ia musnahkan.

Sano kini dalam perjalanan pulang dengan emosi yang meledak-ledak. Apakah Sano akan langsung melabrak Halra saat sampai di paviliun, atau ia akan menahan diri karena menyadari bahwa ia sendiri baru saja melakukan kesalahan besar?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!