Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran
Kelopak mata Alesha bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya yang masuk membuatnya mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan yang masih buram.
“Alesha…”
Suara itu membuat Alesha menoleh.
Leon berdiri di sampingnya, wajahnya terlihat jelas diliputi kecemasan.
“Akhirnya kamu bangun juga.”
Alesha tak langsung menjawab. Ia perlahan bangkit dari posisinya, lalu menatap Leon dengan sorot mata yang masih samar namun mulai menyadari keadaan sekitar.
Ingatan yang sempat berantakan perlahan kembali utuh.
Ucapan Leon selama ini tentang sahabat kecil.
Dan danau itu.
Baru sekarang Alesha mengerti alasan di balik semua sikap Leon.
Kini ia paham kenapa Leon bersikeras membawanya ke danau itu.
Kini, Alesha mulai mengingat semuanya.
Sahabat kecil yang dulu selalu bermain bersamanya di danau itu.
Dan sosok itu… adalah Leon, atasannya sekarang.
Pelan-pelan matanya dipenuhi air mata. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena kenangan yang selama ini hilang akhirnya kembali.
“P-pangeran…”
Deg!
Leon terpaku. Napasnya seolah tertahan.
Panggilan itu.
“Pangeran” — panggilan yang hanya digunakan Alesha untuknya sejak mereka kecil.
“Alesha…” suara Leon melemah, hampir tak terdengar. “Kamu sudah mengingatnya?”
Alesha mengangguk pelan, masih dengan napas yang belum stabil.
“I-iya…” ucapnya lirih. “Tuan… adalah sahabat kecil saya.”
Leon terdiam sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sahabat kecil..." gumam Leon lirih, seolah masih memastikan bahwa yang didengarnya bukan khayalan.
Alesha menunduk. Dadanya masih terasa sesak, kepala sedikit berdenyut, tapi ingatan itu benar-benar kembali. Wajah kecil Leon, danau itu, tawa mereka yang dulu terdengar begitu jelas.
Belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi, Leon tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan.
“Alesha…”
Suara itu terdengar berat. Bukan lagi dingin seperti biasanya, melainkan penuh emosi yang selama ini ia tahan.
Tubuh Alesha langsung menegang.
“Tuan… Leon?”
Namun Leon tidak melepaskannya. Pelukannya justru menguat, seolah takut Alesha akan menghilang lagi jika ia sedikit saja longgar.
“Akhirnya…” suara Leon terdengar serak. “Kamu benar-benar kembali.”
Alesha diam. Tangannya perlahan terangkat, ragu di udara, sebelum akhirnya menyentuh punggung Leon pelan.
“Maafkan aku, Sha. Aku tidak menepati janjiku untuk menemuimu terakhir kali saat itu,” ucap Leon pelan, suaranya terdengar berat dipenuhi penyesalan yang lama ia pendam.
Alesha terdiam dalam pelukan itu.
Kata-kata Leon barusan membuat dadanya terasa semakin sesak.
Ia mengingat semuanya.
Hari itu.
Hari ketika ia menunggu sampai matahari tenggelam, tapi Leon tidak pernah datang.
Alesha menarik napas pelan.
“Tuan tidak salah,” ucapnya lirih.
Leon menggeleng, pelukannya masih belum benar-benar lepas.
“Tidak. Aku yang pergi tanpa menemuimu.”
Alesha menutup matanya sejenak. Suara angin danau terasa kembali memenuhi telinganya, seolah membawa semua kenangan yang selama ini terkubur.
Leon perlahan melonggarkan pelukannya hingga wajah mereka kembali saling berhadapan.
Tatapan Leon dipenuhi penyesalan yang selama ini ia pendam.
“Kamu harus tahu, selama ini aku terus menyesal telah meninggalkanmu saat itu, Sha,” ucap Leon pelan, suaranya berat oleh penyesalan yang tidak pernah benar-benar hilang. "Aku terus datang ke danau itu... berharap suatu hari bisa bertemu lagi denganmu."
Alesha menatapnya lama, sebelum akhirnya berbisik pelan, “Aku pindah.”
Leon mengangguk, seolah sudah memahami itu sejak lama. “Iya… aku sudah tahu itu. Maafkan aku.”
Alesha menggeleng perlahan, mencoba menahan getaran di hatinya. “Itu… sudah masa lalu, Tuan.”
"Meski itu sudah berlalu... aku tetap ingin menebus semuanya."
“Hah?” Alesha mengerutkan keningnya, bingung dengan maksud ucapannya.
“Aku sudah tahu bagaimana hidupmu selama ini… dari ibu tirimu sampai sekarang,” lanjut Leon dengan nada lebih dalam.
Alesha menunduk. Nama ibu tirinya saja sudah cukup membuat luka lama kembali terasa.
Leon perlahan kembali menariknya ke dalam pelukan, memeluknya erat namun tetap hati-hati.
“Sekarang, ada aku di sini,” ucapnya pelan. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.”
Dalam pelukan leon, Isakan Alesha terdengar makin jelas, meski ia sudah berusaha menahannya.
Tangannya yang tadi ragu kini mencengkeram sedikit bagian baju Leon, seolah satu-satunya tempat untuk berpegangan.
“Tuan…” suaranya pecah di sela napas yang tidak teratur. “Saya… saya tidak ingat semuanya. Tapi rasa sakit itu… tetap ada.”
Leon mengusap pelan punggung Alesha, berusaha menenangkannya tanpa banyak kata.
“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Kamu tidak perlu memaksa dirimu mengingat semuanya sekaligus.”
Alesha menggeleng kecil dalam pelukan itu.
“Kenapa Tuan mencari saya sampai sejauh ini?” tanyanya lirih. “Kenapa tidak melupakan saja?”
Pertanyaan itu membuat Leon menarik napas panjang.
Pelukannya sedikit mengendur, cukup untuk bisa menatap wajah Alesha.
Matanya dalam. Penuh penyesalan yang tidak pernah selesai.
“Karena aku tidak pernah bisa,” ucapnya singkat.
Alesha terdiam.
Leon mengusap sisa air mata di pipinya dengan ibu jari, gerakannya hati-hati, seakan takut melukai.
“Danau itu…” lanjut Leon pelan. “Bukan hanya tempat bermain kita dulu. Itu tempat aku berjanji akan kembali.”
Alesha menatapnya lama.
“Janji yang Tuan tidak tepati,” bisiknya.
Leon menutup mata sesaat, lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Tak ada lagi yang berbicara. Hanya bunyi alat medis di sudut ruangan dan langkah pelan di luar pintu yang memecah sunyi kamar rawat itu.
Namun tiba-tiba Leon kembali berbicara, suaranya lebih tegas.
“Tapi aku sudah kembali sekarang.”
Alesha menatapnya, masih dengan mata basah.
Leon melanjutkan, “Dan aku tidak akan pergi lagi tanpa kamu tahu.”
Jemarinya kembali menggenggam tangan Alesha, kali ini lebih mantap, lebih yakin.
“Alesha, kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian lagi.”
Alesha menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya.
“Tuan…” suaranya pelan. “Saya bukan anak kecil lagi.”
Leon tersenyum tipis, sangat kecil, hampir tidak terlihat.
“Aku tahu.”
Namun tangannya tetap tidak dilepas.
“Aku juga bukan anak kecil lagi,” lanjut Leon. “Tapi di hadapanmu… aku masih orang yang dulu tidak menepati janji.”
Alesha menunduk. Air matanya kembali jatuh, lebih tenang kali ini.
Udara di ruangan itu terasa lebih tenang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hati Alesha tidak lagi terasa sesak sendirian.
Leon menatapnya lama, lalu berkata pelan, hampir seperti janji baru yang sengaja ia ucapkan di tempat yang sama.
"Mulai sekarang... biarkan aku yang menjagamu."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁