NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: JAZ DAN KEBOHONGAN DI ATAS MEJA MAKAN

Malam Jakarta diguyur cahaya lampu merkuri yang berpendar di atas aspal basah. Vanya duduk diam di kursi belakang mobil yang dikemudikan Kang Ujang. Pikirannya tidak sinkron; tubuhnya menuju restoran mewah, namun hatinya tertinggal di depan gudang belakang rumah, pada kepul asap motor matik butut Reyhan yang menjauh.

​"Nona, sudah sampai," ucap Kang Ujang memecah lamunan Vanya.

​Vanya turun dengan anggun, memperbaiki gaun merahnya yang menawan. Di depan pintu masuk restoran fine dining yang sangat eksklusif itu, Derian sudah berdiri menanti dengan senyum yang selalu ia anggap maut.

​Sisi Lain: Sang Penguasa Bayangan

​Di waktu yang nyaris bersamaan, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam berhenti di lobi samping restoran yang sama. Seorang pria keluar dari sana. Bukan mengenakan kaos hitam atau kemeja kurir, melainkan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama Italia yang membungkus bahu tegapnya dengan sempurna.

​"Pak Reyhan," sapa seorang pria berkacamata yang sudah menunggu di sana. Itu adalah asisten pribadinya yang setia mengelola urusan "bawah tanah" Reyhan selama ia menjalani hukuman buang dari sang ayah.

​"Laporannya?" tanya Reyhan dingin, suaranya kembali ke mode CEO yang disegani.

​"Anjlok, Pak. Sejak Bapak pergi, perusahaan mengalami fluktuasi tajam. Musuh-musuh dalam selimut mulai memakan aset dari dalam. Namun, status CEO Bapak belum dicabut oleh Tuan Besar. Sepertinya beliau memang tidak ingin tahta ini jatuh ke tangan orang lain, meski fitnah tentang Bapak belum reda di mata publik."

​Reyhan mengangguk kecil. "Ayah memang keras, tapi dia tahu siapa yang bisa menjaga warisannya. Mari temui Pak Alex. Kita butuh suntikan dana segar untuk menambal kebocoran ini sebelum musuh menyadarinya."

​Reyhan melangkah menuju ruang VIP, melewati lorong yang sama sekali berbeda dengan area meja umum tempat Vanya berada.

​Meja Makan yang Hambar

​Di area utama restoran, Vanya duduk berhadapan dengan Derian. Lilin kecil di tengah meja menari-nari, namun suasananya terasa gersang bagi Vanya.

​"Vany, kamu sendirian ke sini?" tanya Derian sambil menuangkan air mineral ke gelas Vanya.

​"Aku berdua," jawab Vanya singkat.

​Wajah Derian langsung berubah keruh. Matanya berkilat cemburu yang tak tertutup. "Berdua? Maksud kamu... sama si Reyhan gembel itu?!"

​Vanya menghela napas, rasa muaknya mulai naik. "Emang kenapa kalau iya?"

​"Vany! Kamu mau aku bandingkan sama gembel jembatan kayak dia? Kamu itu berlian, dia itu kerikil di pinggir got! Jelas beda kelas!"

​"Jaga bicaramu ya, Der!" bentak Vanya pelan namun tajam. "Dia nggak serendah itu. Dia itu... dia itu suamiku, meski kamu nggak tahu itu."

​Derian tertawa sinis, menganggap ucapan Vanya hanya gertakan. "Terus kenapa kamu nggak ajak dia ke sini sekalian? Biar kita makan bareng. Aku ingin lihat bagaimana cara 'gembel' makan di tempat seperti ini. Boro-boro pakai sendok, garpu, dan pisau... mungkin dia bakal genggam makanannya rakus pakai tangan langsung seperti orang kelaparan!"

​"Cukup, Der! Sudahlah!" Vanya membanting serbetnya ke meja.

​"Tuh kan, benar! Kamu nggak berani tunjukin dia karena kamu malu, kan?" Derian merasa menang.

​"Aku ke sini sama Kang Ujang! Reyhan lagi kerja!" teriak Vanya kesal.

​Raut wajah Derian langsung melunak, bahkan terlihat lega. "Kang Ujang supir lamamu itu? Berarti nggak sama si gembel dong! Baguslah. Aku hampir saja mau panggil keamanan kalau benar dia yang antar kamu."

​"Sudahlah Der... kok malah bahas Reyhan terus? Aku pulang saja ah, mood-ku sudah hancur," Vanya bersiap berdiri.

​"Eh, tunggu-tunggu! Vany, maafkan aku," Derian menahan tangan Vanya. "Kita belum makan, masa langsung pulang? Aku janji, aku nggak akan bahas dia lagi. Asal kamu janji jangan dekat-dekat dia lagi. Aku juga akan menjauh dari Sherly, meskipun dia cuma sepupuku. Aku nggak mau kamu cemburu lagi. Kamu percaya aku, kan?"

​Vanya menatap mata Derian. Ada sisa-sisa kenangan masa kuliah di sana. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Derian yang dulu adalah pria yang selalu mengalah, selalu ada untuknya, dan sangat perhatian. Vanya tidak tahu bahwa jabatan manajer telah mengubah Derian menjadi pria manipulatif yang haus kuasa.

​"Ayolah Vany, kita sudah lima tahun... masa kamu masih ragu pada kesetiaanku?" bisik Derian lembut.

​Pertahanan Vanya mulai runtuh. Ia duduk kembali, meski hatinya terasa seperti ada yang mengganjal.

​Negosiasi di Balik Pintu VIP

​Di dalam ruangan kedap suara, Reyhan duduk berhadapan dengan Pak Alex, seorang investor kelas kakap.

​"Bagaimana Pak Alex? Apa Anda bersedia berinvestasi dengan tawaran keuntungan 20%? Ini adalah angka yang tidak akan Anda dapatkan di perusahaan manapun dalam kondisi ekonomi seperti ini," ucap Reyhan, suaranya tenang namun penuh otoritas.

​Pak Alex tampak bimbang. "Tapi, Pak Rey... bukankah Anda sudah tidak berada di jajaran direksi aktif? Saya mendengar kabar bahwa Anda..."

​"Pak Alex," potong Reyhan dengan tatapan mata yang mengunci. "Saya tidak perlu berada secara fisik di dalam gedung perusahaan untuk mengendalikannya. Dari mana pun saya berada, saya tetap pemegang kendali utama. Apa Anda tidak percaya pada track record saya?"

​Pak Alex terdiam. Ia menatap pria di depannya. Reyhan adalah pebisnis nomor satu yang bertangan dingin. Walaupun di dunia bisnis luar namanya sedang dihantam badai fitnah, namun bagi para pemain besar, kemampuan Reyhan adalah jaminan mutu.

​"Tentu saya percaya, Pak Rey. Anda tetap yang terbaik," Pak Alex akhirnya luluh.

​"Ok. Kalau begitu, kita sepakat." Reyhan berdiri, menjabat tangan Pak Alex dengan tegas. "Asisten saya akan mengirimkan dokumennya malam ini."

​Sekilas Bayangan

​Setelah urusan selesai, Reyhan keluar dari ruang VIP. Ia berjalan cepat menuju lobi, jas abu-abunya bergerak elegan mengikuti langkah kakinya yang panjang. Saat melewati sekat kaca yang membatasi area umum, sosoknya terlihat sekilas oleh Vanya.

​Vanya yang sedang menyuap makanannya mendadak mematung. Postur tubuh itu... cara jalan itu... parfum yang samar-samar tercium saat pintu lobi terbuka...

​"Reyhan!" Vanya berdiri spontan, matanya mencari-cari ke arah lorong keluar.

​Derian tersedak minumannya. "Kamu ini kenapa sih?! Makan dengan aku tapi ingatnya cuma si Reyhan! Jangan-jangan kamu benar-benar kena pelet ya sama itu begal?"

​Vanya terdiam, matanya masih menatap ke arah pintu lobi yang sudah tertutup. Ia menggelengkan kepala pelan. Benar juga... nggak mungkin itu Reyhan. Tadi dia pergi pakai motor butut dan kemeja putih biasa. Mana mungkin dia pakai jas semahal itu dan keluar dari ruang VIP?

​"Mungkin aku yang salah lihat," gumam Vanya lemas. Ia kembali duduk, namun hatinya mendadak terasa melankolis. Ada rasa rindu yang menusuk, rindu pada pria yang tadi pagi ia maki sebagai "kecoa", namun kini bayangannya menghantui setiap sudut matanya.

​Vanya melihat piring di depannya, lalu teringat ucapan Derian tentang bagaimana Reyhan makan. Ia tersenyum miris. Ia ingat saat di rumah, Reyhan makan dengan sangat sopan, bahkan lebih rapi dari Derian.

​"Der," ucap Vanya pelan.

​"Ya, Sayang?"

​"Ternyata, jas mahal nggak selalu membuat orang jadi lebih terhormat. Kadang, orang yang pakai kaos oblong jauh lebih jujur dari yang pakai dasi," ucap Vanya sinis.

​Derian mengernyit bingung. "Maksud kamu apa?"

​Vanya tidak menjawab. Ia hanya ingin malam ini cepat berakhir. Ia ingin pulang, dan melihat apakah ada lampu yang menyala di gudang belakang rumahnya. Karena baginya saat ini, cahaya dari gudang tua itu jauh lebih menenangkan daripada lampu kristal di restoran ini.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!