Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Kebenaran atau Ilusi?
"Ibu?!"
Wanqing spontan berdiri dan berlari memeluk Ibunya, sosok yang sangat ia rindukan dan ia ingat selama hidupnya. Melihat anaknya yang sangat merindukannya, Ibu Wanqing langsung memeluknya dengan hangat. "Anakku." Gumamnya lembut.
Ibu Wanqing bergegas memberikan sinyal pada para pria yang sedari tadi membimbingnya ke ruangan ini untuk meninggalkan mereka berdua. Wanqing yang semula hanya bisa memeluk erat ibunya, kini mulai terisak kecil.
"Anakku.." Ibu Wanqing masih mengelus rambut Wanqing sembari membimbing mereka duduk lagi di atas kasur itu.
"Duduklah dulu, tenangkanlah dirimu Nak."
Wanqing menatap sang Ibu dengan mata yang sembab dan wajah yang penuh kesedihan. "Kenapa Ibu pergi? Kenapa Ibu meninggalkanku dengan ayah? Kenapa Ibu tidak membawaku saja?"
Ibu Wanqing menatapnya sedih, "Banyak hal yang tidak bisa Ibu jawab langsung saat ini sayangku. Tapi Ibu mohon, jangan menangis lagi ya?"
Wanqing mengangguk cepat, ia dengan mandiri menghapus air matanya dan menatap ibunya erat-erat.
"Apakah kita akan bisa terus bertemu kedepannya Ibu?" Tanyanya dengan penuh harap. Tangan mungilnya yang terbalut perban ia gunakan untuk memegang erat kedua tangan sang Ibu yang terasa sangat lembut namun juga sangat penuh dengan kerutan kasar seolah tangan itu selalu dipakai tanpa henti selama bertahun-tahun lamanya.
Ibu Wanqing tersenyum perlahan, "Kita akan mengusahakan hal itu ya nak?"
Wanqing menatapnya bingung, "Sebenarnya ada apa Ibu? Apakah ada yang melarang pertemuan Kita berdua? Ataukah ada sesuatu yang lain yang belum Aku tahu?"
Ibu Wanqing terlihat sangat sedih, matanya menatap sang anak dengan iba dan penuh kasih. "Sudah besar sekali anakku."
Alih-alih menjawab pertanyaan Wanqing, ia hanya terus mengelus kedua pipi Wanqing. "Bagaimana Su Gongqi memperlakukanmu?"
Wanqing terlihat enggan membahas ataupun menjawab pertanyaan mengenai sosok ayahnya. Ia langsung menembak sang Ibu dengan pertanyaan lain, "Bagaimana dengan surat yang ibu kirimkan pada Jenderal? Apakah Ibu memang mengenal Jenderal? Kenapa Ibu minta Aku diselamatkan?"
Wanqing terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dirinya selama ini. Wanita itu mengernyitkan dahinya sambil terus menunggu sang Ibu menjawab seluruh pertanyaannya.
"Anakku sayang, Ibu akan coba jelaskan perlahan nanti ketika suamimu datang ya? Sekarang lebih baik Kamu istirahat, Ibu bawakan sup kentang kesukaanmu ya?"
Wanqing yang semula ingin terus menekan jawaban dari sang Ibu akhirnya pasrah. Ia perlahan melepaskan genggamannya dari tangan sang Ibu dan membiarkan Ibunya pergi meninggalkannya.
Terdengar bunyi kunci diputar begitu sang Ibu menutup pintunya. Menatap terus pintu itu bagaikan anak kecil yang ketakutan sang Ibu tidak kembali, Wanqing akhirnya kalah oleh rasa lelah di tubuhnya, ia pun kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.
...****************...
"Wanqing, bukanlah anakku."
BRAK
Sofa di hadapan Jingyuan telah terpental ke ujung ruangan dengan sekali angkat dan lempar oleh kedua tangannya yang kekar dan berotot. "Jangan berbicara hal yang konyol!" Tegasnya.
Su Gongqi menatapnya datar,
"Itulah kenyataannya. Yunting tidak pernah mengandung anakku. Selama belasan tahun ini membesarkan anaknya, Aku berkorban demi semua ketentuan yang sudah Kami berdua sepakati."
Jingyuan mengernyitkan dahinya.
"Jika Kau tidak keberatan, cobalah tunggu sebentar, Aku akan menghubungi Yunting." Su Gongqi menunggu sinyal dari Jingyuan yang masih berdiri tegap tanpa tau harus apa.
Ia mengangguk singkat dan mengisyaratkan ajudannya untuk mengikuti pria itu.
"Mahh, kenapa sih anak buangan itu selalu merepotkan kita?" Salah satu anak kandung dari istri kedua Su Gongqi tiba-tiba berkata frontal.
Jingyuan menatapnya tajam.
"Shh.. Jangan berbicara yang aneh-aneh." Ujar sang Istri yang masih menatap Jingyuan ketakutan.
"Siapa anak buangan itu?" Jingyuan maju satu langkah mendekati anak perempuan yang terlihat sangat acuh tak acuh terhadapnya.
"Tentu saja Wanqing, anak aneh yang tidurnya bersama para monyet di gudang haha." Ketawa licik itu ia lontarkan setelah menatap tajam Jingyuan.
Tepat saat itu, Su Gongqi kembali. "Apa maksud dari anakmu!" Jingyuan yang tak bisa mengontrol emosinya dengan cepat mendekati Su Gongqi dan langsung menarik kerah bajunya, menarik tubuh kurus Su Gongqi sampai sedikit melayang dari lantai.
Melihat itu, istri Su Gongqi berteriak ketakutan. "Jenderal, Jenderal mohon jangan bunuh suami Saya, Saya yang bertanggung jawab terhadap kondisi Wanqing yang tinggal di gudang selama belasan tahun. Jenderal ampuni suami Saya."
Wanita itu bersujud di kaki Jingyuan sembari terus meminta ampunan untuk suaminya. Sementara sosok pria di hadapannya hanya bisa memandangi Jingyuan dengan wajah setengah membiru karena tercekik.
"Kau apakan dia?!" Ujar Jingyuan lagi.
Pria itu dengan terbatuk-batuk berkata, "A-Aku tidak pernah menginginkannya, melihatnya membuatku muak, me-membunuhnya A-Aku tidak boleh, hanya sedikit sik-siksaan selama hidupnya."
Mendengar itu Jingyuan langsung melempar tubuh Su Gongqi ke tembok yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
KREK
Bunyi tulang patah terdengar dari tubuh Su Gongqi. Jingyuan yang kalap dan dipenuhi amarah mulai menatap wanita di kakinya yang masih memohon ampunan sambil menangis. Melihat itu, tanpa rasa kasihan, Jingyuan menginjak kedua tangan wanita itu sampai terdengar teriakan yang memilukan darinya.
Baru saja Jingyuan ingin meneruskan kegiatan penuh amarahnya, sambil terbatuk-batuk darah, Su Gongqi berteriak, "JANGAN! INI, INI ALAMAT YANG KAU CARI, WANQING ADA DI SINI."
Mendengar itu, Jingyuan langsung memerintahkan ajudan-ajudannya untuk melihat lokasi yang diberikan. "Villa di bukit Kota Fuzhou Barat."
Jingyuan menatap Su Gongqi penuh emosi. "Darimana Kau tau keberadaannya? Kau dalang dibalik semua ini?" Tanyanya tegas.
Su Gongqi menggeleng. "Semuanya jauh lebih kompleks daripada itu, sebaiknya Jenderal bergegas ke sana karena pagi sudah tiba, memasuki wilayah pemberontak dengan seragam revolusi akan mempersulit dan menghambat waktu kalian tiba. Cepat selamatkan ibu dan anak itu."
Mendengar perkataan Su Gongqi, Jingyuan langsung bergegas, sambil menoleh ke belakang ia berkata, "Mengirimku ke wilayah musuh bukanlah pilihan yang bagus untuk balas dendam, jikalau Aku tahu ada kebohongan di balik peta dan informasi ini, tidak akan ada lagi keluarga Su di dunia ini."
Jenderal itu pergi meninggalkan kediaman Su yang sudah hancur dan berantakan. Su Gongqi yang terus memuntahkan darah dibantu oleh beberapa pelayan untuk pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanannya, pria itu terus mengumpat kesal kepada seseorang yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan menyulitkannya seperti ini.
Sementara itu di kediaman yang entah berada dimana, Wanqing tengah meneguk sup kentang hangat buatan sang Ibu sembari terus mengunyah nasi hangat dan daging babi kecap kesukaannya tanpa henti. Hujan tadi malam sudah berhenti, meninggalkan cuaca siang yang teduh dan tidak panas menyengat.
Ibunya sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Wanqing. "Kau begitu kurus dan kelaparan, apakah Su Gongqi tidak mengurusmu dengan baik selama ini?"
Wanqing yang sedang meneguk supnya terbatuk kecil. "Ayah baik, hanya saja.. semenjak Ibu pergi, Ayah berubah jadi lebih... kasar."
Mendengar itu, Ibu Yunting mengepalkan kedua tangannya sambil menitikkan air mata.
"Seharusnya Aku lebih berani." Gumamnya.
*BERSAMBUNG*
Yukk like, komen, dan vote yaa! Love u all!!