NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Tanpa Komitmen

Malem itu Ria chat gue pas lagi gue santai di apartemen. “Hotel biasa. Jam 8. Jangan telat.” Pesannya pendek, tapi gue tahu artinya. Beberapa minggu ini Ria makin sering. Hampir tiap dua hari ada “meeting” dadakan. Gue mandi cepet, pake baju rapi, lalu nyetir ke hotel deket kantor yang biasa kami pakai.

Begitu gue masuk kamar, Ria udah nunggu. Dia pakai dress hitam yang ketat, rambutnya tergerai. Begitu pintu nutup, dia langsung peluk gue erat, ciuman panas langsung menyambut.

“Rindu banget sama lo,” bisiknya di sela ciuman.

Kami ga buru-buru. Ria dorong gue pelan ke kasur king size, naik ke atas pangkuan gue. Tangannya ngusap dada gue, bibirnya turun ke leher. Gerakannya agresif tapi ada kelembutan yang jarang gue rasain dari dia. Gue balas peluk pinggulnya, tangan gue naik ke punggung, buka resleting dress-nya pelan. Kulitnya hangat, wangi parfum mahalnya bikin kepala gue pusing enak.

Kami saling menjelajah dengan ritme yang lambat dulu. Ria mendesah pelan tiap gue sentuh titik sensitifnya. Badannya melengkung pas gue cium dada dan lehernya. Malam itu suasananya beda lebih intens, lebih lama. Ria ga cuma haus fisik, kayaknya ada yang dia pendam dalam-dalam.

Setelah ronde pertama, kami rebahan sama-sama keringetan. Ria kepala di dada gue, jarinya ng gambar lingkaran di perut gue. Napasnya masih cepet.

“Kenapa sih Ri lo makin sering gini?” gue tanya pelan, tangan gue usap rambutnya.

Ria diem sebentar, lalu mendesah panjang. “Lo beneran mau tahu?”

“Iya.”

Dia angkat kepala, ngeliat mata gue. “Angga… suami gue… dia jarang banget di rumah. Kerjaannya di luar kota terus. Kalau pulang, cuma tidur atau meeting online. Kami udah jarang… intim. Rasanya gue sendirian di rumah mewah itu. Lo satu-satunya yang bikin gue ngerasa hidup lagi, Bram.”

Gue dengerin tanpa potong.

“Lo beda,” lanjut Ria. “Lo ga cuma ngentot doang. Lo dengerin gue pas gue cerita soal kerjaan, lo bikin gue ketawa, lo kasih perhatian yang Angga ga kasih lagi. Di ranjang juga… lo tahu cara bikin gue lupa segalanya. Badan lo, cara lo pegang gue, semuanya pas. Gue ketagihan. Kadang gue takut lo bakal ninggalin gue juga kayak Angga.”

Suara Ria agak gemeteran. “Gue tahu gue egois. Gue udah nikah, tapi gue ga bisa lepas lo. Lo jadi pelarian gue. Tiap stres di kantor, tiap malam sendirian, gue cuma mikirin lo. Makanya gue sering panggil lo. Takut kalau longgar, lo bakal pergi ke Laras atau cewek baru yang lain.”

Gue peluk dia lebih erat. “Ri, lo tahu gue lagi coba serius sama orang.”

“Iya gue tahu. Tapi buat sekarang… biarin gue punya lo dulu ya. Minimal di sini, di kamar ini,” katanya sambil cium dada gue.

Malam itu kami lanjut lagi. Ria lebih passionate, seolah mau menuangkan semua yang dia pendam. Gerakan kami semakin selaras, desahan dan napas saling bercampur. Dia bisik nama gue berkali-kali, tubuhnya menempel erat seolah takut lepas. Kami habiskan waktu lama, sampai tubuh kami sama-sama lelah dan puas.

Pagi harinya di kantor, Bu Sita panggil gue.

“Bram, Icha magangnya udah selesai. Ini penggantinya, Marita. Dia bakal jadi admin lo full time,” kata Bu Sita.

Marita berdiri di samping. Cewek asli Ambon, kulit eksotis kecokelatan yang sehat, rambut hitam bergelombang. Yang paling mencolok adalah dada depannya yang besar dan penuh. Dia pakai kemeja putih rapi dan blazer.

“Hai Kak Bram, aku Marita. Senang kerja bareng,” katanya ramah, suara lembut dengan logat Ambon ringan.

Awalnya biasa saja. Gue ajarin dia kerjaan standar. Tapi lama-lama Marita berubah. Penampilannya makin harum wangi, sering buka blazer pas di kubikel, kemejanya agak ketat sehingga bentuk tubuhnya makin keliatan. Tiap papasan di koridor, dada depannya sering senggol tangan gue. Gue pura-pura cuek, tapi susah.

“Kak, ini filenya udah benar?” tanyanya tiap kali, badannya deket banget, senyumnya manis.

Dia mulai layanin gue banget — beliin kopi pagi, siapin dokumen sebelum diminta, bahkan kadang bawa bekal kecil. Sikapnya kayak lagi ngejar, meski tanpa bilang langsung.

Malemnya Marita chat.

**Marita:** Kak, besok kita ke Bogor bareng kan? Aku excited 😊

Dia kirim foto selfie pake tank top hitam ketat. Kulit eksotisnya glowing, dada depannya makin keliatan. Gue nelan ludah.

Beberapa hari kemudian kita ke Bogor. Kerjaan lancar. Di perjalanan pulang, gue ajak mampir kafe senja.

Di sana gue baru sadar beneran. Marita cantik. Rambut hitam berintik, bibir tebal dengan lipstik merah bold, kulit Ambon yang eksotis di cahaya jingga.

“Marita… lo cantik banget,” gue bilang.

Dia senyum malu tapi mata berani. Di mobil, gue cium dia. Marita balas dengan hangat.

“Ke apartemen gue yuk,” gue ajak.

Dia ngangguk.

Sampai apartemen, kami langsung saling tarik. Marita lepas blazer dan kemejanya pelan. Bra hitamnya nyaris ga kuat nahan ukuran dadanya yang besar. Gue remas pelan, berat dan kenyal. Marita mendesah, tubuhnya menempel erat.

Malam itu Marita menginap. Dia seolah mengerti apa yang gue inginkan. Gerakannya pas, desahannya lembut tapi membara. Kami seperti sepasang kekasih tanpa label saling menikmati, saling memberi. Gue baru tahu benar-benar ukuran dadanya yang memang luar biasa besar. Kami habiskan malam dengan intim yang panjang dan memuaskan.

Pagi harinya dia rebahan di dada gue.

“Kita ga usah ribet status ya Kak,” katanya. “Aku tahu kamu belum punya yang serius. Aku cuma mau nemenin.”

Gue peluk dia. Marita beda. Pas di sisi gue, tanpa tekanan.

Tapi di dalam hati, gue tahu semuanya makin rumit. Ria yang haus perhatian karena pernikahannya dingin, Laras yang minta serius, Aprilia dengan hijab barunya, dan sekarang Marita yang siap nemenin kapan saja.

Marita terbangun dan sedang gue peluk . Warna kulit kami kontras hitam dan putih. Tapi rasa kami sama. Saling suka dan saling mengisi kekosongan. Dibangunkan gue dengan memegang tangan gue. Dengan Marita gue sepertinya lebih dihargai dan Marita tahu bagaimana menundukkan gue. Panggilan tak Lo dan gue tapi Marita sopan memanggil kepada yang lebih tua. Gue cium kening Marita ," terima kasih sudah menemani gue tadi malam" kata gue.

Marita bangun dari tempat tidur dipakainya baju dan beranjak ke dapur masak air dan disiapkan kopi sachet yang ada di dapur. Kemudian dikecup bibir gue. Kubalas lembut lalu Marita berlalu ke kamar mandi. Setelah mandi disodorkannya kopi yang telah dibuat. Tak di kantor atau di apartemen gue layaknya anak kecil yang dirawat oleh ibunya. Ini keunggulan Marita penuh keibuan.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!