NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:78.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reka ulang : 21

Meskipun ragu, bingung dan setengah tidak percaya rencana Kanti, Aji tetap masuk ke dalam dapur rumah bu Sasmi demi mencuri sebuah alat pemantik api.

Aya mencoba membujuk Sambara dan Abeer, tanpa membeberkan tujuan Candra Kanti.

Sambara, Abeer, berhasil minta ditemani jalan-jalan bersama pak Aan. Penghuni rumah lainnya sedang pergi ke kebun.

Disinilah tiga orang tersebut. Berjongkok di antara semak belukar belakang rumah mertuanya Tejo.

Kanti menyulut ujung kaosnya. Setelah api mulai membakar, dijatuhkan baju itu diatas panci sudah tidak terpakai, dicuri dari gudang.

Ahwaya terbelalak, dia mau mencegah tapi urung teringat peringatan yang diucapkan dengan nada tajam – apapun kejadiannya nanti, jangan ada mengganggu selama ritual berlangsung.

Candra Kanti menusuk ujung jari telunjuk, menekan titik luka sampai meneteskan darah.

Warna pekat itu jatuh diatas api yang masih membakar baju bekas dipakai Mayang, belum dicuci.

Di atas rumput dialasi karung sobek, Kanti duduk bersila seraya memejamkan mata. Dia berkonsentrasi, membaca sebuah mantra ajaran sang pelindung raganya.

“Aji, kamu yakin ini gapapa?” bisik Aya, duduk merapat ke pemuda menatap lekat gadis pujaan hatinya.

“Percaya saja sama Kanti,” katanya tidak begitu yakin, dalam hati cemas luar biasa.

Desisan pelan diiringi tubuh gemetar samar terdengar menyeramkan bagi kedua orang tidak pernah bersentuhan dengan hal mistis.

Badan Kanti menggigil, bibirnya terkatup, perlahan kesadaran menurun, dan dia terjatuh berbaring miring.

“Mayang ….” suara itu tidak berdaya, lemah, penuh derita. Dari sudut mata Kanti, buliran bening mengalir membasahi pelipis, dia melihat ulang kejadian telah terlewati.

.

.

“Aya, aku ke kamar mandi sebentar ya, kebelet pipis.” Tertatih Mayang berjalan keluar kamarnya.

Ketika sudah selesai urusan buang air kecil, Mayang menurunkan ujung gaun putih longgar.

Gadis masih belum sepenuhnya sembuh dari cedera pergelangan kaki, menarik pintu, tidak menyadari seseorang sudah menunggu.

Dari arah belakang, mulut Mayang dibekap. Tak sempat berteriak badannya lemas, pingsan.

Seseorang bertubuh tegap, tinggi 178 cm, memanggul Mayang. Berlari kencang menyibak semak belukar – ayunan kakinya bukan seperti manusia, tenaganya tak sebanding dengan seorang binaragawan.

Kabut tebal melempar sukma Kanti ke sebuah tanah luas, sang pelindung membimbingnya mengungkap tabir misteri.

Argh … arghhh ….

Sayup-sayup jiwa transparan itu mendengar suara rintihan. Kanti seperti seorang musafir di padang rumput tanpa bangunan.

Lepaskan! Tolong kasihani aku ….

‘Mayang?’ larinya tak tentu arah, tiba-tiba berhenti di tengah-tengah lapangan yang tiba-tiba berkabut. Hanya berlangsung sebentar, setelahnya semua menjadi terang, mengejutkan.

Jiwanya terjengkang saat menyadari jika sebelumnya dia pernah kesini bersama keempat temannya.

Sepasang kaki Kanti berputar, dia shock melihat dua bangunan rumah bambu sama persis, saling berhadapan dan berseberangan.

Sukma Kanti terdorong angin, terseok-seok langkahnya berlari. Sama seperti saat ruh Mayang membawanya, gadis itu terjerembab di tanah becek.

Bergegas dia berdiri. “Bukan gubuk mbah Munah, tapi bangunan di seberangnya.”

Akhh! Hentikan! Tolong!

Kali ini tak ada keraguan, hilang sudah ketakutan, Kanti berlari ke belakang gubuk, menembus pintu, tersungkur tepat di atas pintu persegi.

Tanpa perlu membuka, dia sudah dapat masuk kedalam. Seperti mereka ulang kejadian, Kanti menuruni anak tangga lalu berlari menyusuri lorong panjang, merunduk berjalan merangkak.

Akhh! jeritan Kanti bergema.

Dengan mata kepalanya sendiri, Kanti melihat sosok yang sebelumnya dinyatakan hilang tengah berbaring diatas meja tanah liat dalam keadaan tak berbusana.

Kedua tangan Mayang diikat terentang, begitu juga kakinya, bagian sensitif sama sekali tidak ditutupi.

“Mayang! Mayang jangan takut, aku datang nyelamatin kamu. Kita pasti bisa keluar dari tempat terkutuk ini!” Kanti lupa kalau dia tembus pandang – berusaha membuka ikatan tali tambang putih.

“Nyai! Gimana caranya nolong Mayang?!” jeritnya frustasi. Terlebih melihat darah merembes pada kaki.

Seseorang keluar dari sela belakang dinding tanah. Tangannya membawa sesuatu.

“Siapa kamu?! Lepaskan temanku!” Kanti menerjang, berakhir melewati sosok kekar memakai topeng kepala Anjing.

“Jangan! Gak mau!” Kepala Mayang menoleh ke kanan kiri, menghindari sebuah mata kail terikat pada benang pancing yang dipaksakan masuk ke dalam mulutnya.

Argh!

Jeritan Mayang membahana, dan disambut tawa terbahak-bahak suara parau pria.

Tangan kekar menarik benang pancing dari belakang kepala Mayang, membuat korbannya mengejang, sampai wajahnya terdongak ke atas.

Eheggg … Mayang mengeluarkan suara seperti Ayam disembelih, ngorok. Tak lama kemudian dirinya pingsan.

“Payah!” kesalnya, permainan ini tidak seseru dalam bayangan. Korbannya sangat lemah, baru dipancing tenggorokannya sudah pingsan.

Tanpa penuh kehati-hatian, jari telunjuk dan tengahnya mengorek mulut Mayang yang ditahan penjepit supaya terus terbuka. Dicabutnya kail menancap pada kulit tenggorokan luka parah, berdarah.

Lalu, tabung bambu dibuka, tiga butir pil sekaligus dimasukkan ke dalam mulut Mayang yang pingsan. Sesudahnya, penjepit penyanggah mulut dilepaskan.

Dua sosok badan manusia tapi kepala juga menggunakan topeng Anjing terlihat begitu nyata seperti asli, masuk ke dalam sel, memakaikan lagi gaun ke tubuh lemas Mayang. Mereka menyelesaikan sisa pekerjaan tak tuntas dikarenakan sang pelaku terlanjur kecewa.

Sesudah Mayang berpakaian, pendarahan pada betis dan tenggorokan juga terhenti, badannya dipanggul sosok berkepala Anjing berbulu warna coklat tua..

Kanti mengikuti langkah kaki tergesa-gesa itu. Sukmanya seperti kapas diterbangkan angin, lemas. Sekarang dirinya sudah sadar kalau ini kejadian sudah berlalu, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menyaksikan penderitaan kematian Mayang.

Mereka tidak lewat jalan Kanti masuk kesini. Ternyata dibalik dinding tanah dekat dari penjara tadi, ada pintu rahasia terhubung ke suatu tempat.

“Itu mobil Aji?” Kanti melihat sebuah mobil putih, sebagian bodinya tertimbun longsor.

Dia mendongak, berusaha menerka sedang dimana dirinya. “Ini bagian tengah jurang kan? Atas sana tempat aku berbaring penasaran ingin melihat dasarnya.”

Mobil pickup melaju, dan satu rahasia lagi terungkap. “Itu mobil yang sama dengan milik Tejo. Apa mereka termasuk komplotan pelaku? Terus pakek topeng, gitu?”

Jiwa Kanti kembali diselimuti kabut, dan tiba-tiba sudah berada dikamar yang mana raganya, keempat temannya, dan Mayang tertidur pulas.

Pintu kamar dibuka dari luar, sama sekali tidak kesulitan padahal terkunci.

“Dia lagi?” Kanti melotot, merentangkan kedua tangan melindungi Mayang tertidur pulas.

Tentu saja tindakan sia-sia. Sosok mengenakan topeng Anjing moncong lancip, bagian kening berbulu putih, lainnya hitam, melucuti pakaian Mayang, lalu memanggul tubuh polos itu.

Kali ini Kanti ikut berlari, seperti merasakan memacu adrenalin di bawah cahaya langit kemerahan.

Mayang kembali ketempat tadi, ruang bawah tanah. Badan lemasnya diberdirikan, kedua tangan terikat. Gaun putih sangat bersih, bebas dari noda sudah melekat.

Sang pria mencoba ujung runcing mata pisau, lalu menyayat pipi mulus, membuat sang empunya sadarkan diri.

Kanti berdiri satu meter dari gadis memanggil namanya dan para teman, lalu kedua orang tuanya.

Rintihan disertai tangisan. Permohonan diiringi jeritan kesakitan memenuhi ruangan itu, sampai sebuah kapak teracung, tanpa aba-aba terayun … Krakkk.

Kepala Mayang menggelinding, dan sosok pembunuhnya memperlihatkan rupa asli.

.

.

Bersambung.

1
Ayudya
sampai sekarang Kanti dan teman teman nya belum juga menemukan jalan keluar
Siti Umaroh
semangat thorrrrr Thor jangan serius serius ya BKIN ada nuansa romance nya hihii aku suka semangat thorrr suka bgt sma Sambara SMA aya
Al Fatih
apa yang kau lihat aji 😱 ???
mamaqe
jiii...spil doongggg
Shee_👚
apa yang di liat aji, manusia kah?? atau apa🤔🤔
Shee_👚
ampun deh ngebayangin mereka mengamati itu dapur aku ko ya merinding takut ada penampakan🤣🤣🤣
Shee_👚
aduh deg deg an aku
Shee_👚
ko ya serem banget di kasih makan banyak biar gemuk, terus di potong dah kaya ayam🤭
Mudahlia Fitha
aji Sakha jgn macam macam satu macam aja udah BKIN haredang
Shee_👚
bisa jadi hanya sandiwara agar kalian terkecoh
Diah_Kustantie ✨💛
Yg di liat aji adalah “ masa depan cerah bersama kanti “ ea ea ea 🤣
Siti Umaroh: haha iyakan ka semoga GK ada korban lgi
total 1 replies
Shee_👚
nah nah apa bener lilis🤔🤔
duh pusing aku🤭
Shee_👚
nah widi tau sesuatu itu, atau jangan² anjjing semalam anak buah widi??🤔
Maritanias
😍😍😍😍😍😍😍😍
Maure Nia
pasti mahluk aneh...
syizfaiz
hayooo ji cepat katakan, apa yg kamu liat sekarang 😱😱😱
Maure Nia
Kanti usaha terus say💪
Dew666
💎💎💎
Monica Lora
ap yg kamu lihat.. aku bobok dlu.. serem ah...🤭🤭
moon
wah wah wah, bisa bintitan kalo hobi tukang intip diterusin 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!