Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Pengkhianatan di Balik Bayangan
Di markas rahasia Lingkaran Emas, ruangan luas yang dingin dan gelap hanya diterangi cahaya lampu kuning redup, seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan mata tajam sedang duduk di kursi besar berlapis kulit. Ia adalah Pak Surya, orang nomor satu di balik kekuasaan gelap organisasi itu, orang yang paling bertanggung jawab atas kehancuran keluarga Ardiansyah dan kecelakaan yang menimpa Raga serta Lira dulu.
Di depannya berdiri seorang pria muda dengan wajah tak tenang, tangan gemetar saat menyerahkan secarik kertas berisi pesan rahasia.
“Lapor, Tuan. Kami sudah tahu tempat persembunyian wanita itu. Dia dibawa Raga ke rumah tua di lembah bukit, tempat tinggal Pak Harun—pengurus lama keluarga mereka. Tempat itu terpencil, sulit dijangkau, tapi kami tahu jalan masuknya,” lapor pria itu dengan suara rendah.
Bibir Pak Surya mengerutkan membentuk senyum dingin yang mengerikan. Ia memegang kertas itu erat, matanya memancarkan niat jahat yang pekat.
“Bagus. Sangat bagus. Aku kira Raga itu sudah terlalu bodoh untuk berpikir. Ternyata dia masih cukup pintar menyembunyikan istrinya… tapi sayang sekali, dia tidak tahu bahwa di sekelilingnya, sudah ada mata dan telinga kami yang diam-diam bekerja,” ucap Pak Surya dengan suara berat dan dingin.
Ia lalu memberi isyarat pada orang kepercayaannya yang berdiri di sisi kanan.
“Kirim orang terbaik kita ke sana. Jangan menyerang secara terbuka dulu. Buat rencana halus, masuk diam-diam, tangkap wanita itu hidup-hidup. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Kalau berhasil dapatkan dia, kita akan pegang nyawa Raga Ardiansyah di tangan kita. Dia akan melakukan apa saja yang kita minta, demi keselamatan istrinya itu.”
“Baik, Tuan. Perintah akan segera kami laksanakan,” jawab orang itu dengan hormat, lalu segera keluar ruangan untuk menyiapkan segalanya.
Pak Surya duduk kembali, menatap jendela kaca yang tertutup tirai tebal. Ia tersenyum puas. Rencananya hampir sempurna. Menangkap Lira adalah langkah terakhir untuk menghancurkan Raga sepenuhnya, sampai pria itu tidak punya kekuatan, tidak punya harapan, dan tidak punya jalan keluar lagi selain menyerah sepenuhnya pada kekuasaan Lingkaran Emas.
Di rumah tersembunyi di lembah bukit, hari-hari Lira berjalan tenang namun terasa panjang dan sepi. Pak Harun selalu menjaganya dengan sangat teliti, memenuhi semua kebutuhannya, menceritakan banyak kenangan indah masa lalu keluarga Ardiansyah yang perlahan membuat potongan ingatan Lira semakin jelas kembali.
Setiap sore, Lira selalu duduk di bangku kayu di teras, menatap jalan masuk yang berkelok di antara pepohonan, berharap sesekali melihat bayangan mobil Raga datang kembali. Hatinya selalu penuh rindu, tapi ia tetap sabar, percaya bahwa Raga sedang berjuang keras demi masa depan mereka.
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Pada malam ketiga setelah kepergian Raga, hal aneh mulai terjadi.
Malam itu, angin bertiup sangat kencang, menggoyangkan dahan pohon besar di sekeliling rumah, membuat suara berderit yang menyeramkan. Hujan deras turun tiba-tiba, langit gelap pekat tanpa cahaya bulan sama sekali.
Sekitar pukul dua belas malam, saat seluruh penghuni rumah sudah tertidur lelap, Lira terbangun karena mendengar suara samar di luar jendela kamarnya. Suara itu seperti langkah kaki pelan yang menginjak dedaunan basah, disertai suara gesekan benda keras pada kayu pagar.
Lira bangkit perlahan, hati berdebar kencang. Ia mendekat ke jendela, mengintip celah tirai dengan hati-hati. Di bawah cahaya lampu taman yang redup, ia melihat beberapa sosok orang berpakaian serba hitam, bergerak cepat dan diam-diam melompati pagar tinggi rumah itu. Mereka membawa senjata pendek di pinggang, bergerak terampil seolah sudah terlatih melakukan hal ini berkali-kali.
Jantung Lira mau copot karena ketakutan. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari keluar kamar, mengetuk pintu kamar Pak Harun dengan cepat dan keras.
“Pak Harun! Pak Harun! Bangun! Ada orang masuk! Ada orang jahat datang!” teriaknya pelan namun panik.
Pintu segera terbuka. Pak Harun sudah berdiri di sana dengan wajah serius, tangannya memegang sebilah parang tajam yang selalu ia siapkan di samping tempat tidur. Ia sudah mendengar suara itu sejak tadi.
“Tenang, Nyonya! Jangan takut! Ikut saya cepat! Lewat jalan rahasia belakang!” bisik Pak Harun cepat, lalu segera menarik tangan Lira berlari ke arah lorong sempit di bagian dapur rumah.
Di balik rak kayu besar yang penuh dengan peralatan masak, ada pintu besi kecil yang tersembunyi. Pak Harun membukanya dengan cepat, lalu mendorong Lira masuk ke dalam.
“Nyonya, jalan ini tembus sampai ke sungai kecil di balik bukit. Di sana sudah ada perahu kayu yang saya siapkan. Naiklah perahu itu, biarkan arus membawamu sampai ke desa terdekat, lalu cari bantuan. Jangan menunggu saya, pergilah sekarang juga!”
“Tapi Pak Harun… Bagaimana dengan Bapak? Bapak ikut saya!” seru Lira menolak, matanya penuh air mata ketakutan.
Pak Harun menggeleng tegas, wajahnya penuh tekad.
“Tidak, Nyonya. Saya harus menahan mereka di sini, supaya Nyonya punya waktu untuk lari. Ini tugas terakhir saya untuk keluarga Ardiansyah. Saya sudah tua, tidak apa-apa. Yang paling penting, Nyonya harus selamat, dan harus bertemu kembali dengan Tuan Muda Raga. Janji saya pada ayahnya dulu, saya akan jaga kalian sampai nyawa terakhir saya.”
Sebelum Lira sempat berkata apa-apa lagi, suara pecahan kaca dan teriakan keras terdengar dari bagian depan rumah. Orang-orang itu sudah masuk ke dalam.
“PERGILAH SEKARANG, NYONYA!!! CEPAT!!!” teriak Pak Harun, lalu segera menutup pintu besi itu rapat-rapat, mengunci rapat dari luar.
Lira terduduk di dalam lorong gelap itu, menangis tersedu-sedu mendengar suara benturan dan pertarungan yang mulai terdengar jelas di luar sana. Ia mendengar suara teriakan Pak Harun yang gagah berani, suara orang-orang jahat itu yang berteriak marah, suara benturan benda keras… semuanya membuat hatinya hancur dan penuh rasa bersalah.
Ia ingin kembali, ingin membantu Pak Harun, tapi ia tahu pengorbanan lelaki tua itu sia-sia jika ia tertangkap juga. Dengan hati hancur dan langkah gemetar, Lira berlari menyusuri lorong sempit yang gelap itu, meraba dinding batu dingin sampai akhirnya ia sampai di mulut jalan keluar yang menghadap ke sungai deras di balik bukit.
Hujan masih turun deras, air sungai berarus deras dan keruh karena tanah lumpur. Sesuai kata Pak Harun, ada perahu kayu kecil terikat di sana. Lira segera naik ke atasnya, memotong tali ikatan dengan pecahan batu tajam, lalu membiarkan perahu itu hanyut terbawa arus sungai yang deras, menjauh dari tempat itu secepat mungkin.
Dari kejauhan, di balik kegelapan hujan, ia melihat cahaya api mulai menyala di rumah itu. Rumah tua yang menjadi tempat aman baginya itu, kini terbakar hebat, menghanguskan segalanya—barang-barang kenangan, keamanan, dan juga kemungkinan selamatnya Pak Harun.
Lira menangis histeris di atas perahu kecil itu, tubuhnya basah kuyup, dingin menggigil, hatinya sakit luar biasa karena kehilangan orang yang begitu baik dan setia itu.
“Pak Harun… Maafkan aku… Maafkan aku…” ratapnya dalam hati, diiringi suara gemuruh air sungai yang bergulung kencang.
Ia sendirian lagi. Tanpa perlindungan, tanpa tempat tujuan, tanpa kabar apa pun tentang Raga. Dan yang paling mengerikan, musuh-musuh itu pasti belum berhenti mengejarnya. Selama ia masih hidup, selama ingatannya belum hilang lagi atau ia belum tertangkap, mereka akan terus memburunya ke mana pun ia pergi.
Di kota, di sebuah kantor tua yang kini dijadikan markas sementara Raga, kabar buruk itu sampai di telinganya lewat pesan rahasia yang dikirimkan orang yang masih setia di desa dekat lembah bukit.
Begitu membaca isi pesan itu, tubuh Raga langsung kaku, kertas di tangannya jatuh ke lantai, darahnya terasa berhenti mengalir, napasnya tersekat sakit di tenggorokan.
“Rumah Pak Harun diserang dan dibakar habis. Pak Harun gugur melawan penyerang. Nyonya Lira hilang, tidak ditemukan jenazahnya maupun jejaknya. Diduga berhasil lari, tapi nasibnya tidak diketahui.”
Raga menjerit keras dari dalam dadanya, menjatuhkan tubuhnya berlutut di lantai, air mata mengalir deras tak terkendali. Rasa sakit yang luar biasa besar menghantam hatinya—rasa sedih kehilangan orang tua yang dianggapnya ayah sendiri, rasa takut luar biasa memikirkan nasib Lira yang sendirian, ketakutan, dan dikejar musuh di tengah hujan lebat dan hutan belantara.
“Pak Harun… Pak Harun… Maafkan aku… Maafkan aku karena membawa bahaya ke rumahmu… Maafkan aku…” isak Raga dengan suara parau, tubuhnya gemetar hebat karena amarah dan rasa putus asa.
Ia bangkit berdiri dengan kasar, matanya merah padam, penuh api amarah yang meledak-ledak.
“Sekarang sudah cukup! Mereka sudah keterlaluan! Mereka sudah membunuh orang yang paling baik, mereka sudah menyiksa orang yang paling aku cintai… Aku tidak akan diam lagi. Mulai detik ini, aku akan buat mereka membayar semuanya, satu per satu, dengan harga yang jauh lebih mahal!”
Raga segera mengumpulkan semua orang yang sudah ia kumpulkan, memberi perintah tegas dan cepat.
“Sebarkan orang ke seluruh penjuru. Cari jejak Lira di sepanjang aliran sungai, di setiap desa, di setiap jalan. Temukan dia, lindungi dia, bawa dia kembali ke tempat aman. Dan cari tahu di mana markas utama Pak Surya berada. Kali ini aku akan datang sendiri, dan aku akan akhiri kekuasaannya itu selamanya.”
Raga melesat keluar ruangan, naik ke mobilnya dengan kecepatan tinggi, melaju menuju arah lembah bukit, menuju tempat kejadian, berharap masih ada jejak, masih ada harapan, bahwa Lira masih selamat dan ia bisa menemukannya sebelum musuh lebih dulu menemukannya.
Perang antara Raga Ardiansyah dan Lingkaran Emas kini sudah resmi pecah, tidak ada lagi persembunyian, tidak ada lagi batasan. Darah sudah tumpah, nyawa sudah melayang, dan dendam kesumat kini mengikat mereka dalam pertarungan hidup dan mati yang tidak akan berakhir sebelum salah satu pihak hancur sepenuhnya.
(Bersambung ke Episode 27)