karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Maudi yang berdiri di ambang pintu hanya menunduk dalam, menyembunyikan senyum sinisnya di balik cadar. "Akting yang luar biasa, Ibu. Tapi sayangnya, skenario ini sudah aku ambil alih.".
Maudi mendekat ke arah semuanya yang masih berada di balkon kamar kakeknya... Maudy menyalami papa kakek serta ibunya yang membalas jabatan tangannya dengan ekspresi jijik namun mencoba untuk ditutupi.
"ada apa ini...?, Kenapa semuanya berkumpul di sini?" tanya mau di pura-pura penasaran, padahal iya sudah tahu apa yang sedang terjadi.
"ngapain sih, monster nanya, terserah kita dong, kita kan keluarga asli kakek" sahut Eliza dengan ketus.
Doni menatap tajam putrinya membuat Eliza takut dan menunduk.
"kami hanya khawatir, karena dari siang kakek tidak keluar dari kamar" ucap Doni akhirnya.
Maudi Melirik tajam pada Seina, membuat Seina tersentak karena baru kali ini melihat lirikan mata tajam Maudi.
____
Malam pun tiba. Seina mulai bergerak ke dapur dengan dalih ingin memastikan menu kesukaan Kakek Harison tersaji dengan sempurna. Ia sudah kehilangan kontak lagi dengan Bram, dan laporan "Kakek meninggal" ternyata salah. Seina merasa posisinya di ujung tanduk.
"Bi, pastikan sup iga ini hangat ya," ucap Seina pada pelayan.
Saat para pelayan sibuk, Seina mengeluarkan sebuah cincin yang bagian matanya bisa dibuka. Di dalamnya terdapat serbuk halus hasil kiriman Bram beberapa hari lalu. Ini adalah rencana cadangan terakhirnya, racun saraf yang bekerja perlahan namun pasti.
"Maudi! Sini kamu!" panggil Seina ketus saat melihat Maudi lewat.
Maudi mendekat dengan langkah ragu-ragu yang dibuat-buat. "Iya, Ibu?"
"Tadi kamu bilang mau melayani Kakek, kan? Nih, bawa sup ini ke meja makan. Pastikan Kakek menghabiskannya. Awas kalau tumpah...dan katakan pada kakek ,kalau kau yang memasak supnya!" perintah Seina. Ia sengaja menyuruh Maudi yang membuatnya agar jika terjadi sesuatu, Maudi-lah yang akan disalahkan karena kecerobohannya.
"Baik, Ibu," jawab Maudi patuh.
Meja makan panjang itu telah dipenuhi hidangan mewah. Doni, Kakek Harison, Eliza, dan Saka sudah duduk di kursi masing-masing. Eliza duduk tepat di sebelah kakek, terus-menerus bercerita tentang rencana liburannya, sementara Saka tampak tidak tenang suasana hatinya kacau , ia menangisi dirinya sendiri yang ternyata adalah anak tiri,dan selama ini hidup dan tinggal menumpang pada Eliza yang ternyata pewaris semuanya.
Maudi berjalan membawa nampan berisi sup iga tersebut. Ia berjalan perlahan, kepalanya menunduk. Saat ia melewati Seina, tangan Maudi bergerak secepat kilat, sebuah gerakan yang tidak akan tertangkap oleh mata manusia biasa.
Maudi meletakkan mangkuk sup itu di depan Kakek Harison. Namun, ia tidak segera menjauh.
"Kakek... sebelum Kakek makan, bolehkah Maudi meminta sesuatu?" tanya Maudi lembut.
"Apa itu, Nak?"
"Maudi tadi teringat pesan di pesantren, katanya makanan yang paling berkah adalah makanan yang dicicipi terlebih dahulu oleh orang tua kita sebagai tanda kasih sayang. Karena Papa sedang sibuk mengambil telepon, bolehkah Ibu Seina yang mencicipi sup ini terlebih dahulu?"
Seina seketika membeku. Wajahnya yang sudah memakai riasan tebal itu mendadak menjadi pucat pasi.
"Apa-apaan kamu, Maudi! Kakek yang lapar, kenapa Ibu yang harus makan?" Eliza menyela dengan nada sinis.
"Hanya satu sendok saja, Kak Eliza... sebagai tanda baktinya seorang menantu, ini untuk memastikan , makanan ini aman atau tidak untuk kakek ," sahut Maudi pelan, namun matanya yang tajam di balik cadar menatap lurus ke dalam manik mata Seina.
Doni kembali dari teleponnya dan mendengar usul itu. "Ide bagus, Maudi. Seina, ayo cicipi sedikit. Ayah selalu bilang masakan rumah kita enak, tunjukkan pada Ayah kalau kau juga menyukainya...." Doni tersenyum tanpa tahu ada yang di pikiran Seina dan Maudi.
Seina menatap mangkuk sup di depannya. Ia tahu persis serbuk apa yang baru saja ia masukkan ke sana. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
"A-aku... aku sedang puasa sunnah, Don," jawab Seina mencari alasan yang paling masuk akal.
Saka terkekeh"Puasa? Bukannya tadi siang Mama makan roti di mobil....mama bisa aja bercandanya?" Saka menyahut tanpa dosa, membuat suasana di meja makan mendadak menjadi sangat dingin.
Kakek Harison meletakkan sendoknya. Ia menatap Seina dengan pandangan yang sulit diartikan. "Seina... kenapa kau terlihat sangat takut dengan sup ini?"
"Ah tidak apa-apa kek, hanya saja...sudah lama Seina tidak makan daging-dagingan" jawab Seina tersenyum kikuk.
"bukannya kemarin ,kita makan steak?" Celetuk Doni kembali sambil menyeruput teh nya.
"eh.... maksud ku, tidak bisa makan banyak-banyak, baiklah, aku kan mencicipi terlebih dahulu sebagai bakti mama untuk orang tua " ucapnya pelan dengan bibir sedikit bergetar sekaligus takut.
Tangan Seina gemetar hebat hingga sendok perak di tangannya berdenting beradu dengan pinggiran mangkuk porselen. Aroma sup iga yang gurih itu kini tercium seperti bau kematian baginya. Dengan mata terpejam dan napas tertahan, ia menelan satu sendok kuah sup tersebut.
Setiap detik setelahnya terasa seperti keabadian. Seina mencengkeram pinggiran meja, menunggu jantungnya berhenti berdetak atau napasnya tersedak. Ia sudah bersiap untuk jatuh dari kursi dan mengembuskan napas terakhir di depan suami dan mertuanya. Setidaknya ia bisa mengubur rahasia nya seorang diri, Eliza tetap akan hidup enak bersama Saka yang selalu berada di samping Eliza.
Satu menit... dua menit...
"Ma? Mama kenapa? Kok mukanya kayak mau pingsan gitu?" Eliza bertanya heran sambil menyuap nasi.
Seina membuka matanya. Ia meraba dadanya. Jantungku masih berdetak? Tidak ada rasa sesak? Ia menoleh ke arah Maudi yang masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk.
Di balik cadarnya, Maudi tersenyum dingin. Ia telah mencampurkan bubuk antidote penetral sianida buatannya sendiri saat ia berpura-pura merapikan letak mangkuk tadi. Maudi tidak ingin Seina mati secepat ini, kematian terlalu mudah bagi wanita itu. Maudi ingin Seina hidup dalam teror yang menyiksa.
"Enak, Seina?" tanya Kakek Harison dengan nada datar namun menusuk.
"E-enak, Pa... sangat enak," jawab Seina terbata-bata. Ia segera meminum air putih dalam jumlah banyak, berusaha menghilangkan rasa gugupnya tadi.
Tiba-tiba, ponsel Seina yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Karena layar ponselnya menghadap ke atas, Seina bisa membaca baris pertama pesan itu,
"Supnya enak, Nyonya? Sayang sekali Bram tidak bisa ikut makan malam. Dia sedang bersamaku sekarang."
Seina nyaris menjatuhkan gelasnya. Ia segera menyambar ponsel itu dan menyembunyikannya di bawah meja. Keringat dingin kini benar-benar membasahi bajunya.
"Ada apa, Seina? Siapa yang mengirim pesan di jam makan malam begini?" tanya Doni dengan suara tegas.
"Hanya... hanya promo dari butik langganan ku , Don," kilah Seina, namun suaranya melengking karena panik.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.