Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18 BERLIN RAHARJA.
Benar kata Dewi ia akhir-akhir ini terlalu melow, apa karena ia memakai perasaan? Ketegarannya seolah menguap, ia merasa rapuh, apa karena ia jatuh cinta membuat jiwanya error. Ntah lah...
"Dewi, maukah kau menolong ku menjaga papa? Tidak usah tinggal di rumah ku, tapi sering-sering datang menengoknya. Di rumah aku sudah mempekerjakan dua perawat, tapi papa perlu dihibur, kau pura-pura jadi aku supaya papa senang. Mata papa rabun jadi tidak begitu jelas melihat mu. Papa juga sekarang pikun takut terjadi apa-apa."
"Papa mu di jakarta aku di Bali gimana caranya? Kau memang menyusahkan, kapan hidup ku damai ..."
"Semasih kau dekat denganku, hidup mu bakal terus terseret gelombang
"Aku akan suruh Jhon Meyer pindahin tugasmu, memang proses ini agak lama."
"Tapi jangan jadi jurnalis nanti kau m*ti berduri karena aku banyak musuh."
"Aku tidak punya keahlian dibidang itu dan tidak mau juga mati konyol."
"Oke, aku percaya padamu. Pakai kalung keluarga ku supaya papa tidak ragu padamu." ucap Qai memberi kalungnya kepada Dewi.
"Qai ini kalung warisan, aku tidak berani pakai. Kau gila apa..."
"Pakai saja nanti kalau aku pulang aku minta lagi." ucap Qai.
Mereka berpisah, Qai pergi membawa luka dan nyawa baru yang akan tumbuh besar dan membatasi geraknya.
BERLIN RAHARJA.
Setahun telah berlalu, Berlin kembali ke Kintamani untuk yang kesekian kalinya. Ia sengaja menginap di apartemen, untuk mengenang Black Rose.
Semenjak gadis itu pergi hidupnya terasa hampa. Setiap saat bayangan gadis itu tidak pernah lekang dari ingatannya. Dulu memang ia membencinya, setelah tidur seranjang ia malah jatuh cinta padanya.
Setahun ini ia menenggelamkan dirinya dengan bekerja keras, supaya bisa melupakan Black Rose, namun ia tambah tersiksa.
Apa gunanya harta yang melimpah kalau tidak ada kebahagiaan. Satu-satunya yang bisa mengobati rindunya, adalah menatap wallpaper hapenya berjam-jam. Di foto gadis itu terlihat tegas dan dingin, tapi Berlin senang wajah itu, nyaman.
Marco asisten Berlin menatap bosnya dengan perasaan kasihan, kondisi bosnya terlihat semakin memburuk. Padahal bos sekarang sudah menjadi salah satu orang terkaya di jakarta.
Asetnya ratusan triliun, tidak ke kurangan uang. Ende Raharja sang paman berusaha keras menyembuhkan patah hatinya. Dia mencari gadis cantik dari kalangan artis dan sosialita, tapi tidak satupun di pilih.
"Bos, sudah setahun, apa kau secinta itu. Wanita kalau pergi dan tidak pernah memberi khabar, berarti dihatinya tidak ada kamu. Jangan memaksakan diri, nanti malah bos sakit." ucap Marco pelan.
"Aku menyesal, kenapa dulu aku gengsi dan tidak menanyakan biodatanya, aku menganggapnya remeh. Tak kusangka dia tega meninggalkan ku."
"Bos kau sangat tampan, kaya dan hidup sehat, banyak gadis yang akan berlomba mencarimu. Lupakanlah dia."
"Apa kau minta dipecat?"
"Ma..maaf..maaf bos..."
"Dari remaja aku tidak berselera dengan wanita, apalagi yang manja. Tapi setelah tidur dengannya aku sulit melepaskan, walaupun hanya bayangannya."
"Seorang gadis direnggut mahkotanya dengan paksa, pasti dia sangat menderita. Apa lagi antara kalian tak ada komitmen. Biasanya gadis lari karena melihat pacar k*jam, tak berguna atau jangan-jangan dia terpaksa pergi karena hamil."
"Apa..hamil? Tak mungkin...tapi aku..aku tidak pernah memakai pengaman."
"Nah, itu kali yang membuat pacar bos pergi. Dia gadis mandiri, sedangkan bos waktu itu tidak layak menjadi partner hidupnya. Bos pasti tahu kondisi bos waktu itu..."
"Kita balik ke Jakarta." ajak Berlin berdiri.
"Bos kita baru sampai kenapa harus pergi lagi, belum melihat sunrise."
"Perintahkan semua pengawal untuk mencarinya. Sampai ke ujung duniapun aku akan ladeni."
"Kring...kring....kringg..."
"Hallo..ada apa tante.."
"Berlin cepat pulang kakek sakit, ingat ajak paman mu."
"Aku ada di Bali, ajak dulu kakek ke rumah sakit, aku sebentar lagi datang." ucap Berlin malas.
Dulu kakek dan semua kluarga Raharja selalu merendahkannya, di katakan anak haram. Kecuali Qaisera, dia teman paling baik dan suka menolong.
Kakek sangat sayang kepada Qai dan selalu memanjakannya, dia dan Edo suka iri melihatnya. Ingin rasanya ketemu Qai, bagaimana wajahnya, apa masih gemoy dan menggemaskan.
Edo adalah kakak tirinya, anak dari Emely dan Flores Raharja, papanya. Kendali dari perusahan Raharja dipegang Flores dan kakek adalah ownernya.
Warisan belum dibagi, harusnya paman Ende dan dirinya dapat saham, tapi kalau kakek tidak memberinya juga tak apa-apa, ia dan paman sudah kaya tidak terlalu serakah.
Kalau sahamnya dan paman digabung sudah menyamai kekayaan group Raharja.
*****
Berlin Raharja.