NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Nyai Latifah dengan sengaja menahan Zakia di ruang tamu dalem dan menjamunya dengan sangat baik.

Beliau bahkan menyuruh pelayan pondok untuk menyuguhkan teh melati hangat dan camilan terbaik yang ada di lemari makan.

Senyum di wajah paruh baya itu sama sekali tidak pudar, terus memandangi Zakia seolah-olah wanita modis itu sudah resmi menjadi menantunya.

Tanpa memedulikan Abah yang jelas-jelas akan menentang tindakannya, atau status Fathan yang sudah beristri sah secara agama dan hukum, Nyai Latifah merasa ini adalah kesempatan emas untuk menggoyahkan pernikahan putranya.

Baginya, tembok pernikahan Fathan dan Humairah yang rapuh harus segera diruntuhkan, dan Zakia adalah palu gada yang paling sempurna untuk menghancurkannya.

Setelah memastikan Zakia merasa nyaman menunggu di dalem, Nyai Latifah bergegas keluar.

Beliau berjalan menuju ruang kelas tempat Fathan sedang mengajar para santri dengan tergesa-gesa.

Langkah kakinya yang terburu-buru menimbulkan suara ketukan selop yang nyaring di sepanjang koridor madrasah.

Tok... Tok... Tok...

Nyai Latifah mengetuk pintu kelas dengan tidak sabar dan langsung memanggil Fathan keluar di tengah jam pelajaran.

Tindakan impulsif itu seketika membuat puluhan santri di dalam kelas menghentikan aktivitas menulis mereka dan menatap ke arah pintu dengan bingung.

Fathan yang sedang memegang kapur tulis di depan papan hitam terkejut melihat kedatangan ibunya yang mendadak.

Ia meletakkan kapur tersebut, lalu melangkah keluar kelas dengan kening berkerut dalam.

"Ada apa, Umi? Fathan sedang di tengah-tengah jam mengajar," ucap Fathan heran, menyadari tidak biasanya ibunya menyusul hingga ke area madrasah hanya untuk urusan sepele.

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu di rumah. Cepat temui, dia tamu penting," ucap Nyai Latifah tanpa memberi tahu siapa sosok tersebut agar Fathan tidak menolak.

Wanita tua itu sengaja menyembunyikan nama Zakia, tahu betul jika ia menyebutkan nama sang mantan kekasih, putra sulungnya itu pasti akan memilih tetap tinggal di kelas demi menjaga perasaan Humairah.

Fathan merasa heran dan sedikit khawatir, mengira ada urusan darurat terkait Abah atau pesantren yang tidak bisa ditunda.

Raut wajah Uminya yang tampak begitu mendesak membuat pikiran Fathan langsung bercabang pada kemungkinan terburuk mengenai kesehatan sang ayah.

Tanpa membuang waktu, Fathan kembali masuk ke dalam kelas sejenak.

"Anak-anak, buka kitab halaman empat puluh dua. Silakan pelajari mandiri terlebih dahulu, saya ada urusan mendesak," perintah Fathan cepat.

Fathan meminta santri untuk belajar mandiri, lalu meninggalkan kelas dengan langkah terburu-buru menuju kediaman utama.

Ia setengah berlari melintasi halaman pesantren, mengabaikan sapaan beberapa santri yang berpapasan dengannya. Pikirannya hanya terfokus pada keselamatan keluarganya.

Namun, begitu melangkah masuk ke ruang tamu dalem, langkah kaki Fathan langsung terkunci di ambang pintu.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta yang bersemi kembali, melainkan karena syok dan luka lama yang mendadak terkoyak hebat di dalam dadanya.

Fathan melihat Zakia duduk di sana, sedang menyesap teh dengan anggun.

Detik itu juga, pasokan udara di sekitar Fathan seolah menipis.

Kenangan pahit masa lalu di mana Zakia mempermainkan perasaannya dengan begitu kejam, menjadikannya bahan taruhan bersama teman-teman sosialitanya hingga membuat Fathan sempat mengalami trauma mendalam pada wanita sebelum bertemu Humairah, seketika berputar di kepala bagai kaset rusak.

Senyum manis dan ketulusan Humairah-lah yang selama ini menyembuhkan luka bernanah itu. Namun kini, sang pelaku utama justru duduk dengan tenang di ruang tamu rumahnya sendiri.

Melihat kehadiran Fathan, Zakia langsung bangkit berdiri dengan binar mata penuh harap.

"Fathan..." panggilnya lirih.

Amarah Fathan memuncak seketika. Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang, wajahnya memerah padam.

Dengan suara bergetar menahan amuk yang luar biasa, Fathan menatap tajam ke arah Zakia dan Uminya secara bergantian.

"Untuk apa kamu datang ke sini?!" tuntut Fathan dengan nada suara yang rendah namun sangat mengintimidasi.

Fathan menuntut penjelasan mengapa wanita yang telah menghancurkan masa mudanya dan menginjak-injak harga dirinya itu berani menginjakkan kaki di rumah orang tuanya.

Atmosfer di dalam ruang tamu dalem seketika berubah mencekam.

Ketegangan terasa begitu pekat hingga detak jarum jam dinding pun terdengar jelas.

Zakia yang melihat kilat amarah yang begitu besar di sepasang mata Fathan, melangkah maju setapak.

Wajah modisnya mendadak sayu, dipenuhi gurat penyesalan yang mendalam.

"Fathan, aku minta maaf. Aku mengakui kalau aku salah atas semua ketololan di masa lalu," ucap Zakia dengan suara yang bergetar, mencoba meraih ujung lengan kemeja Fathan namun pria itu dengan cepat menarik diri ke belakang.

"Tapi tolong percayalah padaku kali ini aku benar-benar mencintaimu."

"Cinta?" Fathan berdecak sinis, tawa hambar bernada muak lolos dari bibirnya.

"Cinta dengan menjadikanku taruhan dengan teman-temanmu di masa lalu? Membiarkanku menjadi bahan tertawaan seolah aku tidak punya harga diri? Itu yang kamu sebut cinta, Zakia?!"

Fathan menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari yang bergetar hebat karena menahan emosi yang meluap-luap.

"Pergilah, Zakia! Aku sudah menikah, hidupku sudah bahagia, dan jangan pernah berani menampakkan dirimu di hadapanku lagi!"

Dari kejauhan, tepatnya di balik pilar pembatas ruang tengah, Abraham melihat bagaimana kakaknya yang menolak masa lalunya dengan begitu tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.

Ada rasa kagum sekaligus lega di hati Abraham melihat Fathan menjaga kesetiaannya untuk Humairah.

Namun, alih-alih sadar akan situasi, Nyai Latifah justru menyela dengan suara tinggi.

Beliau bangkit dari duduknya, menepuk pundak Zakia seolah memberikan pembelaan, lalu menatap Fathan dengan pandangan memerintah.

"Fathan! Jaga bicaramu pada tamu!" tegur Nyai Latifah tanpa perasaan.

"Zakia sudah jauh-jauh datang ke sini dan menurunkan egonya untuk meminta maaf. Lagipula, apa salahnya? Umi minta kamu untuk memaafkan Zakia, dan nikahi Zakia. Dia wanita yang jauh lebih pantas untukmu daripada perempuan miskin itu!"

"Astaghfirullahaladzim, Umi!"

Fathan beristighfar dengan suara menggelegar, dadanya naik turun tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari lisan ibu kandungnya sendiri.

Fathan menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Nyai Latifah dengan sorot mata paling kokoh yang pernah ia tunjukkan sepanjang hidupnya.

"Umi, dengarkan Fathan baik-baik," ucap Fathan, setiap katanya terdengar begitu berat, final, dan tidak bisa diganggu gugat.

"Saya sudah menikah dengan Humairah. Dia adalah istri sah saya, wanita yang menyelamatkan saya dari keterpurukan. Dan sampai kapan pun, demi Allah, saya akan tetap setia dengan istri saya. Tidak akan pernah ada wanita lain, termasuk dia!"

Mendengar penolakan mentah-mentah dari Fathan tidak membuat Zakia mundur.

Ego dan ambisinya untuk mendapatkan kembali pria yang kini tumbuh menjadi sosok ustadz berwibawa itu justru semakin membara.

Di depan Nyai Latifah dan Abraham yang menyaksikan, Zakia menjatuhkan dirinya di atas lantai marmer.

Zakia berlutut memohon, air mata buatan yang sejak tadi ditahannya kini luruh membasahi pipinya yang ber-manik-manik riasan mahal.

Ia memegang ujung celana kain Fathan dengan tatapan memelas.

"Fathan, aku mohon. Aku sangat mencintaimu," isak Zakia, suaranya sengaja dibuat menyayat hati.

"Benar apa kata Umi, nikahi aku, Fathan. Ceraikan wanita itu! Wanita miskin itu tidak selevel denganmu. Aku bisa memberikan apa saja yang kamu butuhkan untuk membesarkan pesantren ini!"

Nyai Latifah yang melihat aksi Zakia semakin tersenyum puas, merasa mendapat dukungan penuh. Namun, Fathan justru menatap pemandangan di bawahnya dengan sorot mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat.

Dengan sentakan kasar namun sopan, Fathan menarik kakinya menjauh dari jangkauan tangan Zakia.

Fathan menggelengkan kepalanya, menatap Zakia dengan pandangan menghina.

"Apa kamu tidak punya harga diri lagi, Zakia? Kamu seorang perempuan!" ucap Fathan, suaranya meninggi, bergaung di ruang tamu yang luas itu.

No

"Di mana urat malumu sampai berlutut meminta suami orang menceraikan istrinya? Perilakumu ini justru membuatmu terlihat semakin rendah!"

Sementara itu, di sisi lain kota, suasana di rumah baru Fathan dan Humairah masih terasa tenang.

Humairah baru saja selesai merapikan tempat tidur mereka setelah meminum obatnya. Namun, saat ia hendak mengelap permukaan nakas, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda persegi berbahan kulit hitam yang tergelosor di balik lampu tidur.

Humairah mengambilnya dan terbelalak. Itu dompet suaminya.

Di dalamnya pasti ada kartu identitas, surat-surat penting, dan sisa uang tunai yang mungkin sangat dibutuhkan Fathan di madrasah hari ini.

Humairah bergegas keluar kamar dan menemui Bibi Ningsih yang sedang menyapu ruang tengah.

"Bi, saya ke pondok sebentar ya. Dompet Abi ketinggalan di kamar," pamit Humairah dengan raut wajah sedikit cemas.

"Oh, iya, Neng. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya, Neng, kan baru sembuh," sahut Bibi Ningsih mengingatkan.

Humairah mengangguk, menyambar kunci dan segera memakai hijab instannya.

Tanpa membuang waktu, Humairah melajukan motor matic-nya membelah jalanan kota menuju ke Pondok Pesantren Darussalam.

Ia sama sekali tidak tahu, bahwa di balik gerbang pesantren yang tenang itu, badai besar sedang menunggu kedatangannya.

1
mama
buruk sekali kelakuan ny humaira🤭
Atjeh ponsel
😭
keynara
nah ustadz Fathan harus tegas jangan sia siakan Humairah lagi cukup dulu aja
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
keynara
semoga ustadz Fathan jangan berpoligami kasian Humairah 🙏
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏
Atjeh ponsel
cerita nya sangat menarik
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Masyitah Bkt
aduhhhh...kenapa bacaannya mengandung banyak sekali bawangnya😭😭 mulai bab 1 bawangggg teroosss...perih mata jdnya thorr...
Rubi Yati
istri kiyai og kyk gitu sh gk pantes bngt
Yusria Mumba
sabar
Yusria Mumba
kasiang humairah
Hatnah Batulicin
syukurin tuh nyai 😏😏
Dede Dedeh
pinter oge eta nini nini...........
falea sezi
🤣🤣 ngididik istri aja lu g becus gmna nge didik santri🤣🤣🤣 lawak bgt ne kiyai sok agamis
falea sezi
bertele tele sejauh. ini😒
falea sezi
🤣🤣🤣 bisanya nangis ikan terbang bgt thor
falea sezi
plg ke rmh ortumu lah bego males. MC. oon gini😓
falea sezi
ustadz tp galau ma cwek🤣🤣🤣 ustadz apaan 😓 kayaknya belajar agama nya setengah ta
falea sezi
bu nyai apaan kelakuan kayak. lampir kayak nya kiyai nemu istri di club ya mulutnya kayak lacur😒
keynara
nenek sihir kejam banget balas dendamnya semoga Humairah nggak kenapa kenapa dan cepat ketahuan
Hatnah Batulicin
senang nya Mak lampir di talak 😏😏
Mundri Astuti
ntu binimu kasih hukuman talak 1 sekalian kyai, omongan doang ga mempan rupanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!