NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:323.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Dinding-dinding Pengadilan Agama kembali menjadi saksi, namun kali ini bangku di kubu tergugat nampak kosong. Sidang kedua yang seharusnya beragendakan jawaban dari pihak tergugat terpaksa ditunda. Revan sengaja tidak hadir, begitu pula dengan pengacaranya. Sebuah taktik klasik dan murahan untuk mengulur waktu, berharap Adila akan lelah lalu mencabut gugatannya.

"Ini sudah bisa ditebak, Dokter Adila," ujar Pak Baskoro saat mereka berjalan keluar dari ruang sidang. "Suami Anda maksud saya, calon mantan suami Anda mulai menyadari konsekuensi hukum dari perjanjian pra-nikah itu. Jika hakim mengetok palu sekarang, dia keluar dari pernikahan ini tanpa membawa apa-apa selain hutang ibunya. Dia pasti akan mempersulit."

Adila memperbaiki posisi tasnya, ekspresi wajahnya tetap tenang, tidak terpengaruh oleh permainan kotor Revan. "Biarkan saja, Pak. Tolong urus panggilan ketiga untuk minggu depan. Jika dia tetap tidak datang, kita ajukan putusan verstek. Saya tidak punya waktu untuk meladeni orang yang ketakutan."

"Baik, Dokter. Serahkan semuanya pada saya."

Bagi Adila, waktu saat ini adalah hal yang paling berharga. Setelah dinyatakan lulus koas Obgyn dengan nilai maut, ia tidak bisa bersantai. Ujian negara, alias UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter), sudah di depan mata. Ini adalah gerbang terakhirnya untuk resmi menyandang gelar dokter. Setiap hari, dari fajar hingga larut malam, Adila menenggelamkan diri di perpustakaan rumah sakit atau di rumah mewah barunya yang baru saja ia beli atas rekomendasi dr. Adrian.

Sore itu, hujan turun dengan deras mengguyur kota. Adila baru saja menyelesaikan sesi diskusi kelompok bersama Maya dan Sari di ruang belajar perpustakaan. Tubuhnya penat, matanya lelah setelah membaca ratusan halaman jurnal kedokteran tentang komplikasi persalinan.

Saat Adila berjalan menuju lobi rumah sakit yang mulai sepi, sesosok pria dengan pakaian yang agak basah kuyup tiba-tiba muncul dari balik pilar, menghalangi jalannya.

Adila spontan mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang mendadak bangkit. Laki-laki di depannya ini adalah Revan. Namun, tidak ada lagi sisa-sisa Revan si eksekutif muda yang rapi. Kemejanya nampak kusut, rambutnya berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya memperlihatkan stres yang luar biasa.

"Dila... tolong, beri aku waktu lima menit. Aku mohon," suara Revan terdengar serak, bergetar di antara deru suara hujan.

Adila melipat tangannya di depan dada, menatapnya dengan pandangan dingin dari balik kacamata bacanya. "Kamu sengaja tidak datang sidang pagi tadi hanya untuk menemuiku di sini?"

"Aku tidak mau cerai, Dila! Aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu!" Revan melangkah maju, wajahnya nampak putus asa. "Aku sengaja mengulur waktu karena aku tahu kita masih bisa memperbaiki ini. Sepuluh tahun, Dila... apa sepuluh tahun pernikahan kita tidak ada artinya sama sekali dibanding kesalahan satu bulanku?"

Adila tertawa hambar, sebuah tawa yang memotong kalimat Revan dengan kejam. "Kesalahan satu bulan? Kamu menyebut membawa wanita lain ke rumahku, menggunakan uangku untuk membelikannya barang mewah, dan membiarkan ibumu menghinaku sebagai 'kesalahan satu bulan'?"

"Aku khilaf, Dila! Aku terjebak karena kasihan pada Meisya! Sekarang aku sadar dia hanya memanfaatkanku!" Revan berteriak frustrasi, air matanya mulai luruh bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya. "Rumah Mama sekarang kacau, Dila. Orang bank terus datang menagih hutang tanah itu. Meisya terus-terusan mengeluh dan marah karena rumah Mama sempit. Aku stres! Aku butuh kamu, Dila. Kamu istriku, tempatku pulang..."

"Tempatmu pulang?" Adila menatap Revan dengan sorot mata yang penuh dengan penghinaan intelektual. "Kamu mengemis minta balik karena kamu merindukanku, atau karena kamu sadar hidupmu melarat tanpa fasilitas dariku? Kamu panik karena rumah mewah itu sudah kujual dan tanah investasi ibumu ternyata isinya hutang, kan?"

Revan terdiam, skakmat oleh ucapan Adila yang langsung menusuk ke inti motivasinya.

"Dila, jangan sekejam ini..." Revan mencoba meraih tangan Adila, namun dengan cepat Adila menghindar.

"Jangan sentuh aku dengan tangan yang pernah menggenggam wanita lain di rumah sakit, Revan," desis Adila, suaranya rendah namun penuh dengan wibawa yang mematikan. "Kamu yang memilih untuk keluar dari jalur, maka jangan pernah berharap bisa kembali. Aku tidak akan mencabut gugatan itu. Mau kamu datang atau tidak minggu depan, hakim akan tetap memutus perkara ini. Kamu akan keluar dari hidupku sebagai pecundang yang tidak punya apa-apa."

Tepat saat Revan hendak berlutut untuk memohon lebih dalam, sebuah langkah kaki yang mantap terdengar menggema di lobi yang sepi.

"Dokter Muda Adila," sebuah suara berat, dingin, dan sangat berkarakter memotong suasana.

Mereka berdua menoleh Dr. Adrian Dewantara berdiri di sana, mengenakan mantel hitam panjang di atas jas dokternya. Matanya yang tajam menatap Revan seolah-olah Revan adalah mikroba yang harus segera disterilkan.

"Dokter Adrian?" Adila sedikit terkejut.

Adrian berjalan mendekat, mengabaikan keberadaan Revan sepenuhnya. Ia menyerahkan sebuah berkas tebal ke tangan Adila. "Ini kisi-kisi soal jurnal internasional untuk persiapan UKMPPD-mu minggu depan. Jangan buang energimu untuk berdiskusi dengan orang yang tidak memiliki kapasitas intelektual untuk memahami masa depanmu."

Revan merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia menunjuk wajah Adrian dengan marah. "Anda lagi?! Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami! Dia masih istri saya sah secara hukum!"

Adrian perlahan menoleh ke arah Revan. Ekspresi wajahnya tidak berubah tetap kaku dan dingin bak patung es namun auranya begitu mengintimidasi.

"Secara hukum pidana, Anda masih suaminya," ucap dr. Adrian dengan nada bicara yang sangat teratur. "Namun secara medis dan logika, Anda hanyalah beban psikologis yang bisa menurunkan tingkat kelulusan ujian negara asisten riset saya. Dan sebagai kepala departemen, saya tidak akan membiarkan investasi ilmiah saya dirusak oleh pria yang bahkan tidak bisa mengelola hutang ibunya sendiri."

Revan terbelalak, wajahnya merah padam antara malu dan marah. "Apa hak Anda bicara begitu?!"

"Hak saya adalah memastikan Dokter Adila lulus dengan nilai terbaik dan menjadi spesialis Obgyn di rumah sakit ini," sahut Adrian telak. Ia kemudian menatap Adila. "Mobil saya di depan. Ayo saya antar pulang ke hunian barumu. Pengacara Anda sudah menceritakan bahwa ada potensi gangguan dari pihak luar di sekitar kos atau rumah lama Anda."

Adila menatap Adrian, lalu menatap Revan yang kini nampak begitu kecil dan menyedihkan. Tanpa ragu sedikit pun, Adila mengambil berkas dari tangan Adrian.

"Baik, Dokter. Terima kasih," ucap Adila. Ia menoleh ke Revan untuk terakhir kalinya. "Urus saja Meisya dan hutang bank ibumu, Revan. Jangan datang ke sini lagi, atau pihak keamanan rumah sakit yang akan menyeretmu keluar. Kita ketemu di pengadilan itu pun kalau kamu punya keberanian untuk hadir."

Adila melangkah pergi mendampingi dr. Adrian, meninggalkan Revan yang berteriak frustrasi di lobi rumah sakit yang dingin. Di bawah guyuran hujan, Revan menyadari satu hal yang teramat terlambat: Adila-nya yang dulu lembut kini telah terbang terlalu tinggi, sementara dia sendiri tenggelam bersama benalu yang dibelanya.

1
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
Eric ardy Yahya
MAMPUS KAU REVAN , makanya jadi orang jangan kayak MONYET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!