Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
Malam itu, Ardi pulang dengan tubuh yang rasanya remuk redam. Jangankan untuk menyetir dengan fokus, melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri saja rasanya dia sudah tidak punya tenaga. Di dalam tas kerjanya, Surat Peringatan Pertama dari bank terasa seperti bom waktu yang siap meledakkan seluruh hidupnya kapan saja.
Baru saja dia membuka pintu depan, kesialan pertamanya malam ini langsung menyambut.
PRANG!
Ardi tersentak kaget. Kakinya refleks mundur selangkah saat melihat pecahan vas bunga kaca berserakan tepat di depan matanya. Air dari vas itu menggenang, membasahi ujung sepatu pantofel kulit mahalnya yang baru saja dibeli bulan lalu.
"Aduh, Ardi! Kamu kalau masuk rumah itu hati-hati dong! Jangan grasak-grusuk!" jerit Rika yang sedang memegang sapu dengan wajah cemberut. "Mbak ini capek ya baru selesai bersih-bersih, malah kamu pecahkan vas bunga kesayangan istrimu lagi"
"Mbak, aku tidak menyentuh vas itu! Pintu ini dibuka perlahan!" balas Ardi, emosinya yang sudah di ubung-ubung sejak siang tadi langsung tersulut.
"Sudah, sudah! Pagi ribut, malam ribut! Ardi, kamu ini kenapa sih? Pulang-pulang muka ditekuk, datang-datang bikin merusak barang!" Ibu Widya muncul dari arah dapur dengan wajah tidak kalah ketus. "Oh ya, tadi Mama minta Sarah pesankan makanan lewat aplikasi online, tapi dia bilang saldo aplikasinya habis. Kamu belum transfer uang ke istrimu? Mama lapar dari tadi sore tahu!"
Mendengar tuntutan ibunya tentang uang dan makanan, kepala Ardi rasanya mau pecah. Mereka sama sekali tidak tahu kalau jangankan untuk saldo aplikasi makanan, uang miliaran di rekening perusahaannya saja sudah dibekukan oleh bank.
Sebelum Ardi sempat membalas ucapan ibunya, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama Heru, manajer keuangannya, muncul di layar. Firasat Ardi langsung memburuk.
"Halo, Heru? Ada apa lagi?" tanya Ardi, suaranya bergetar panik. Dia berjalan menjauh dari ibu dan kakaknya menuju pojok ruangan.
"P-Pak Ardi... maaf mengganggu malam-malam," suara Heru di seberang telepon terdengar sangat ketakutan. "Barusan saya dapat kabar dari lapangan. Truk muatan material kita untuk proyek sekunder di Tangerang ditahan oleh pihak kepolisian karena masalah kelayakan surat jalan. Dan yang lebih parah... pemilik gudang tempat kita menyewa alat berat mendadak membatalkan kontrak sewa sepihak karena mendengar desas-desus perusahaan kita sedang bermasalah dengan bank. Mereka minta semua alat berat ditarik besok pagi, Pak!"
"Apa?! Gudang juga menarik alat berat?!" Ardi berteriak tertahan, tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana bisa mereka tahu soal urusan bank?! Ini pasti ada yang membocorkan!"
"Saya tidak tahu, Pak... tapi besok pagi kalau alat-alat itu ditarik, proyek sekunder kita juga otomatis mandek total," lapor Heru pasrah.
Ardi mematikan sambungan telepon dengan tangan gemetar. Kesialan demi kesialan datang bertubi-tubi seperti sudah direncanakan untuk menghancurkannya dalam satu hari. Dia jatuh terduduk di kursi ruang tamu, memegangi kepalanya yang terasa berputar hebat.
Tiba-tiba, sebuah aroma harum teh melati menyeruak di dekatnya.
Sarah berjalan mendekat dengan langkah sangat tenang, membawa Secangkir teh hangat di atas nampan kecil. Wajahnya tampak begitu polos, penuh perhatian, dan sama sekali tidak mencerminkan seorang istri yang sedang menyembunyikan rencana besar.
"Mas, minum teh dulu yuk. Wajahmu pucat sekali, ada masalah di kantor?" tanya Sarah dengan nada suara yang sangat lembut dan natural. Dia meletakkan cangkir itu di meja, lalu duduk di samping Ardi, menatap suaminya dengan binar mata yang tampak sangat khawatir.
Ardi mendongak, menatap wajah polos Sarah. Rasa bersalah karena semalam, ditambah dengan kepanikan karena rentetan kesialan hari ini, membuat Ardi merasa sangat kecil di depan istrinya. Dia merasa tidak berguna sebagai kepala keluarga yang selalu dia banggakan di depan Sarah.
"Hanya... masalah kecil di kantor, Sarah. Biasa, urusan bisnis," kelebat kebohongan kembali keluar dari mulut Ardi. Dia mencoba memaksakan senyum, walau bibirnya terasa kaku.
"Oh, syukurlah kalau cuma masalah kecil," sahut Sarah sambil tersenyum manis, jemarinya bergerak lembut mengusap punggung tangan Ardi yang dingin. "Aku sempat takut terjadi sesuatu yang buruk. Lagipula, Mas Ardi kan hebat dan sukses, pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah, ya kan?"
Kata-kata pujian dari Sarah yang terdengar sangat tulus itu justru terasa seperti sindiran yang menusuk langsung ke jantung Ardi. Ardi hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, mengangguk kaku, dan meminum tehnya dengan pikiran yang semakin carut-marut.
Di balik wajah polosnya, Sarah sedang menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari mata suaminya. Kejutan hari ini baru permulaan, dan dia tidak sabar melihat sekacau apa Ardi besok pagi saat alat-alat berat perusahaannya benar-benar ditarik paksa.