NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG MELIHAT DARI LANGIT

Cahaya dari celah ruang itu menelan Atlas, Oliver, dan Raka tanpa suara.

Tidak ada rasa jatuh.

Tidak ada rasa melayang.

Yang ada hanya sensasi seperti “dihapus” dari satu dunia lalu ditulis ulang di dunia lain.

Ketika Atlas membuka matanya kembali…

ia tidak lagi melihat langit.

Tidak lagi melihat bumi.

Tidak lagi melihat Kuil.

Yang ia lihat hanyalah ruang putih tanpa batas.

Oliver terdengar di dekatnya.

“Mas… ini apaan lagi…”

Suaranya bergetar.

Raka berdiri tidak jauh dari mereka, masih tenang… tapi matanya lebih waspada dari sebelumnya.

“Selamat datang,” kata Raka pelan,

“di Lapisan yang ditolak.”

Atlas menoleh.

“Ini tempat pengasingan?”

Raka mengangguk.

“Ini tempat semua yang tidak diizinkan eksis… dibuang.”

DUNIA YANG TIDAK PUNYA HUKUM

Oliver menatap sekeliling.

Tidak ada tanah.

Tidak ada langit.

Tidak ada arah.

Hanya ruang putih yang terasa seperti “kesadaran kosong”.

“Jadi kita sekarang… di luar dunia?” tanya Oliver.

Raka menggeleng.

“Bukan luar dunia.”

“Ini celah antara dunia yang tidak diakui oleh sistem mana pun.”

Atlas mengerutkan kening.

“Kalau tidak diakui… kenapa kita bisa ada di sini?”

Raka menatap Atlas lama.

“Karena kalian sudah ditolak oleh sistem.”

Sunyi.

Kalimat itu berat.

Lebih berat dari semua pertempuran yang mereka lalui sebelumnya.

TANDA YANG MAKIN KUAT

Tiba-tiba Atlas berhenti bergerak.

Tangannya bergetar.

Oliver langsung panik.

“Mas?!”

Atlas menatap telapak tangannya.

Tanda hitam samar yang muncul sebelumnya kini semakin jelas.

Bukan luka.

Bukan simbol biasa.

Tapi seperti mata yang sedang terbuka di dalam kulitnya.

“Ada sesuatu di dalam gue…” gumam Atlas pelan.

Raka langsung menegang.

“Sudah mulai aktif…”

Oliver menoleh.

“Apa yang aktif?!”

Raka menjawab pelan.

“Resonansi Pewaris.”

“Kalau sudah sampai tahap ini… berarti sesuatu di atas sudah benar-benar melihat kalian.”

“YANG MELIHAT DARI LANGIT”

Ruangan putih itu tiba-tiba bergetar.

Bukan seperti gempa.

Tapi seperti ruang itu sendiri sedang “menahan napas”.

Oliver mundur.

“Gue nggak suka ini…”

Dari atas ruang kosong itu…

muncul suara.

Bukan suara keras.

Tapi suara yang langsung masuk ke pikiran mereka.

"Subjek telah memasuki lapisan buangan."

Atlas langsung siaga.

“Siapa itu?!”

Tidak ada jawaban.

Tapi suara itu lanjut.

"Variabel tidak stabil terdeteksi."

"Dua darah yang seharusnya tertidur telah bangkit."

Raka mengepalkan tangan.

“Pengawas…”

Oliver menoleh cepat.

“Pengawas apa?!”

Raka tidak menjawab.

Karena ia tahu… menyebut nama itu saja sudah berbahaya.

PENDEKATAN SESUATU YANG TIDAK TERLIHAT

Ruang putih itu mulai berubah.

Bukan berubah bentuk.

Tapi “berubah rasa”.

Seolah ada sesuatu yang semakin dekat… tapi tidak bisa dilihat.

Atlas merasakan tekanan di dadanya.

Seperti ada mata yang menembus dirinya dari segala arah.

“Dia di sini…” gumam Atlas.

Oliver panik.

“Siapa?! Gue nggak lihat apa-apa!”

Raka berbisik.

“Itu masalahnya.”

“Kalian tidak akan pernah melihatnya secara langsung…”

“…kalau kalian masih belum cukup kuat.”

Tiba-tiba—

RUANGAN RETAK.

Bukan secara fisik.

Tapi seperti realitas di depan mereka “terbelah” secara konsep.

Dan dari dalam retakan itu…

terdengar satu kalimat.

"Pewaris Atlas."

Atlas langsung membeku.

Oliver menoleh kaget.

“Dia… nyebut nama lo?!”

Raka langsung berdiri di depan mereka.

“Jangan jawab apa pun.”

“Jangan fokus ke suara itu.”

“Kalau kalian terseret… kalian tidak akan kembali.”

Namun suara itu kembali terdengar, lebih dekat.

"Pewaris Oliver."

Oliver langsung gemetar.

“Mas… dia juga nyebut gue…”

Atlas menggenggam pedangnya.

“Dia bisa lihat kita…”

Raka menatap ke ruang kosong itu dengan serius.

“Bukan melihat.”

“Dia sedang MENILAI kalian.”

Dan untuk pertama kalinya…

ruang putih itu menunjukkan sesuatu.

Satu “bayangan mata” raksasa terbuka di kehampaan.

Tanpa bentuk.

Tanpa wajah.

Tapi jelas sedang mengamati mereka.

Bayangan mata raksasa itu tidak benar-benar “muncul”.

Ia hanya ada.

Seolah ruang putih tempat Atlas, Oliver, dan Raka berdiri sejak awal memang diciptakan untuk menjadi tempat tatapan itu jatuh.

Tekanan di udara semakin berat.

Oliver mulai terhuyung.

“Mas… gue nggak bisa napas…”

Padahal di tempat itu tidak ada udara.

Tapi tubuh mereka tetap bereaksi seperti manusia yang tercekik sesuatu yang tak terlihat.

Atlas menggertakkan gigi.

“Ini bukan serangan fisik…”

Raka menatap ke atas dengan wajah tegang.

“Ini serangan eksistensi.”

UJIAN DARI PENGAWAS

Suara itu kembali terdengar, langsung di dalam kepala mereka.

"Subjek diuji."

Ruang putih berubah.

Bukan menjadi gelap.

Tapi menjadi lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Atlas tiba-tiba melihat sesuatu.

Dirinya… dalam versi lain.

Versi yang tidak pernah bangkit.

Versi yang hidup sebagai manusia biasa, tanpa kekuatan, tanpa perang, tanpa darah pewaris.

Oliver juga melihat hal yang sama.

Dirinya duduk di tempat berbeda.

Tertawa.

Hidup normal.

Tidak pernah tahu tentang Alam Dewa.

Oliver langsung gemetar.

“Ini… apa ini?!”

Raka berteriak.

“JANGAN TERPENGARUH!”

Namun suara itu sudah masuk lebih dalam.

"Jika kalian tidak bangkit…"

"Kalian akan kembali menjadi tidak ada."

RETakan IDENTITAS

Atlas mulai berlutut.

Matanya bergetar.

“Gue…”

Suara di kepalanya semakin banyak.

Bukan satu suara.

Tapi ribuan kemungkinan dirinya sendiri.

"Kamu bukan Pewaris."

"Kamu hanya manusia yang salah tempat."

"Kembali saja."

Oliver juga mulai goyah.

“Mas… gue… gue nggak yakin lagi…”

Raka langsung melangkah ke depan mereka.

“DENGAR!”

Suaranya memecah tekanan itu sesaat.

“Kalian sedang dimasuki konsep penghapusan diri!”

“Kalau kalian percaya itu… kalian hilang!”

Atlas menatap lantai putih.

Tangannya bergetar.

“Kalau kita memang cuma manusia biasa… kenapa semua ini terjadi?”

Raka menatapnya tajam.

“Karena darah kalian TIDAK pernah manusia biasa.”

KEBANGKITAN DARAH PEWARIS

Tiba-tiba…

tanda di tubuh Atlas kembali aktif.

Bukan hanya di tangan.

Tapi seluruh tubuhnya.

Garis-garis merah keemasan menyebar seperti aliran energi hidup.

Oliver juga merasakannya.

Kalung gioknya menyala lagi.

Tapi kali ini bukan biru lembut.

Melainkan biru pekat yang stabil.

Raka langsung tersentak.

“Resonansi penuh…”

“Sudah terlalu cepat…”

Atlas berdiri perlahan.

Matanya kembali fokus.

“Aku… bukan siapa yang dia tunjukkan tadi.”

Suara di kepalanya masih berusaha masuk.

Tapi sekarang…

tidak lagi dominan.

Oliver menarik napas dalam.

“Gue juga…”

“…nggak mau jadi versi yang dia paksa.”

BENTURAN DENGAN PENGAWAS

Bayangan mata itu bereaksi.

Ruang putih bergetar hebat.

Suara tanpa bentuk itu kembali terdengar, lebih dingin.

"Penolakan terdeteksi."

"Eksekusi koreksi dimulai."

Raka langsung mengangkat tangan.

“Sekarang!”

Ia membentuk segel energi di udara.

Cahaya tipis muncul di sekeliling mereka bertiga.

“Ini satu-satunya cara keluar dari lapisan ini!”

Oliver panik.

“Keluar ke mana?!”

Raka menjawab cepat.

“Ke dunia yang masih menerima kalian!”

Namun tekanan dari Pengawas semakin kuat.

Ruang putih mulai runtuh seperti pecahan kaca tak terlihat.

Atlas menggenggam pedangnya.

“Kalau kita keluar…”

“…kita akan terus diburu?”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Tapi kalau kalian tetap di sini…”

Ia menatap mereka.

“…kalian akan dihapus dari semua lapisan.”

Sunyi.

Pilihan itu bukan pilihan lagi.

Itu hanya cara berbeda untuk bertahan hidup.

LARI DARI SESUATU YANG TIDAK BISA DIKALAHKAN

Raka membuka retakan kecil di bawah kaki mereka.

“MASUK SEKARANG!”

Oliver langsung bergerak.

“Gue ikut!”

Atlas masih menatap ke atas.

Bayangan mata itu masih ada.

Masih melihat.

Masih menilai.

Untuk sesaat…

Atlas merasakan sesuatu.

Seperti Pengawas itu “tertarik” padanya.

Dan sebelum ia melangkah masuk…

suara terakhir terdengar.

"Pewaris Atlas."

"Kamu akan kembali dilihat."

Atlas menggertakkan gigi.

“Aku tidak akan lari selamanya.”

Lalu ia melompat masuk ke retakan.

Oliver mengikuti.

Raka menyusul terakhir.

KEMBALI KE DUNIA RETAK

BOOM!

Mereka jatuh keras ke tanah berbatu.

Udara kembali ada.

Langit kembali ada.

Tapi dunia ini bukan dunia sebelumnya.

Langit berwarna abu gelap.

Retakan kecil menyebar di cakrawala.

Dan kota yang mereka lihat di kejauhan… tampak seperti sudah setengah “hilang”.

Oliver langsung bangkit.

“Mas… kita balik lagi?”

Raka mengangguk pelan.

“Ya.”

“Dan sekarang kalian sudah benar-benar ditandai.”

Atlas berdiri.

Matanya tajam.

“Aku bisa merasakannya.”

“Dia masih melihat.”

Raka menatap langit.

“Bukan hanya dia.”

“Sekarang… seluruh sistem sudah tahu kalian ada.”

Angin bertiup pelan.

Namun terasa seperti membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Ancaman.

Perburuan.

Dan sesuatu yang jauh lebih besar dari semua yang mereka temui sebelumnya.

Raka berbisik pelan.

“Selamat datang di tahap berikutnya…”

“…perburuan antar lapisan.”

Atlas mengepalkan tangan.

Oliver berdiri di sampingnya.

Dan di atas mereka…

langit retak sedikit lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!