Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Penasaran
Sajak bicara di balkon itu tiba-tiba saja Gatra jadi penasaran dengan kehidupan Nayara hingga memutuskan untuk meminta nomor ponsel pada Rayyan keesokan harinya.
Tapi setelah menunggu cukup lama Rayyan tak kunjung memberikannya, anak itu malah menatap Gatra lama yang membuatnya sadar sudah salah langkah.
Pria itu berdehem untuk memutus rasa tak nyaman. "Tujuan saya minta supaya mudah laporin kalau sewaktu-waktu kamu nakal," lanjutnya.
"Rayyan bukannya ngga mau kasih, tapi kebayangan yang minta kayak gini pasti di gunakan buat ngga benar." Ungkapnya.
"Maksudnya kamu nuduh saya enggak benar? Kamu..." Gatra menatap Rayyan tak percaya, tentu ia tersinggung serta merasa bocah di harapannya sedikit tak tahu malu.
Terhitung sudah lebih dari sepuluh kali dalam satu bulan setiap pulang sekolah Rayyan akan mampir ke tempatnya sebelum pergi ke les renang karna kalau les pelajaran sekolah Rayyan langsung pergi ke tempat lesnya.
Selain itu ada kalanya Gatra akan mengantarkan Rayyan ketempat lesnya, tapi bocah itu lebih sering ke sana mengunakan kendaraan online karna tidak enak selalu merepotkannya.
Serta ada banyak kebaikan yang sudah Gatra lakukan yang tak ingin di ungkitnya satu persatu mengingat itu bukan sifatnya, tapi tak menutup kemungkinan kalau ia kecewa dengan jawaban Rayyan.
"Bukan gitu, Om. Kayaknya Om Rara salah paham deh. Jadi gini, Rayyan jujur aja bukan Om orang pertama yang minta nomor Mama ke Rayyan," ungkapnya. "Selama tiga tahun ini banyak banget yang minta. Mulai dari guru-guru cowok di sekolah, orang tua atau Om dari teman-teman sampai beberapa orang yang tinggal di gedung apartemen ini. Yang bikin Rayyan kesal mereka pura-pura buat deket sama Rayyan terus modus bilang suka sama Mama padahal mereka pengen pansos ke Mama. Mereka juga diam-diam ambil foto Rayyan buat di posting ke sosial media padahal Rayyan ngga suka! Pokoknya niat mereka enggak ada yang baik!"
"Tapi kan saya bukan mereka."
"Iya, beruntungnya Om ngga kayak gitu."
Gatra menghela nafas kasar, bersabar mengingat Rayyan memang suka memutar-mutar pembicaraan lalu baru masuk ke intinya. "Jadi boleh ngga saya minta nomornya?"
"Dengan catatan Om ngga boleh cerita kalau nanti Rayyan nakal ke Mama."
"Kenapa kamu jadi ngatur saya?"
Rayyan menghela nafas kasar. "Tapi terserah Om sih. Soalnya kalau sampai Mama tahu aku bakalan di larang main di sini lagi."
"Bagus dong, saya bisa bebas."
Rayyan menatap Gatra penuh protes. "Yaudah deh aku kasih, tapi awas aja kalau sampai nomor Mama di sebar! Rayyan ngga akan pernah maafin, Om."
Gatra mengangguk saja, lalu mengetik nomor ibu dari satu anak itu di ponselnya. Entahlah ia tak tahu dapat dorongan dari mana tapi pria itu jadi sangat penasaran dengan kehidupan Nayara Lova Zavendra, adik kelas yang dulu sering di bicarakan oleh semua orang di sekolah.
Walau dulu ia sangat muak mendengar cerita mereka, tapi diam-diam Gatra juga penasaran sekaligus iba karna Nayara dulu seperti seseorang yang kehilangan semangat hidupnya.
Jika semua orang melihat sisi bebasnya maka Gatra malah tanpa sengaja sering menemukan sisi rapuhnya, salah satunya adalah dulu ia pernah mendapati gadis itu nyaris melukai tangannya dengan benda tajam, tapi beruntungnya Yudha cepat menengah dan mereka sama-sama menangis dengan berpelukan.
Gatra tentu penasaran, tapi berusaha untuk di menahan karna mereka tidak dekat. Terkahir berinteraksi lebih dengan mereka adalah saat Masa Orientasi Siswa serta kampanye untuk pemilihan ketua OSIS yang mengharuskan turun bukan cuma untuk mengatakan fisi misi tapi juga untuk berkenalan dengan hampir semua murid SMA dan meminta mereka agar memilihnya.
"Harusnya Om minta langsung ke Mama pasti di kasih," kata Rayyan sambil menyimpan ponselnya.
"Gimana caranya? Mamamu itu sibuk, jangankan buat minta nomor Hp kalian ketemu aja cuma bisa malam hari dan hari Minggu."
"Itupun kami ngga bisa kemana-mana, cuma di apartemen lebih tepatnya di kamar aja, Om." Sambung Rayyan. "Andai Mama bisa berhenti kerja, kami pasti lebih banyak waktu bareng. Terus andai aja aku punya Papa lalu punya saudara pasti menyenangkan banget, tapi sayangnya Mama ngga dekat sama siapa-siapa lagi jadi gimana caranya aku bisa wujudkan mimpinya?" Rayyan yang sedang duduk sambil memangku jajan menghela nafas kasar. "Rayyan kesepian, Om. Pengen punya keluarga utuh kayak orang lain juga."
Jika dulu Gatra menanggapi Rayyan maka kali ini ia diam saja. Bocah itu tak selalu bicara tentang kebahagiaan di sekolah, rumah, di tempat lesnya, tapi sesekali mengatakan keinginannya ingin memiliki keluarga utuh.
Di akhir cerita anak itu selalu memintanya untuk tidak membeberkan pada Nayra karna sebesar apapun keinginannya memiliki keluarga, ia lebih tidak tega melihat Nayra sedih.
Dewasa, pengertian, cerdas dan ceria, itu penilaian Gatra pada Rayyan yang masih berusia empat belas tahun. Gatra menyakini pola pikir tak sesuai dengan usia itu di dapatkan dari pengalaman hidup yang tak mudah yang semakin membuat pria itu penasaran akan kehidupan mereka selama ini.