Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI ABDA SEDAH NIRAH 2
"Apa kurangnya diriku ini Kangmas!" teriak Windu keluar dari persembunyian.
"Rara!" teriak Pangeran Dalapati murka.
"Ayahanda ... Hukum dia! Dia menolak permintaan Ayah!" jerit Windu memohon pada sang ayah.
"Maaf Tuan Putri! Saya tidak bisa dihukum atas penolakan saya!" seru Abda tegas.
Pria itu berdiri dari bersimpuhnya. Auranya yang berkilau, membuat Pangeran Dalapati menyipitkan mata, sementara Windu masih menangis.
"Sepertinya sudah tidak ada kepentingan lagi. Saya mohon pamit Gusti Pangeran!" ujar Abda undur diri sambil memberi hormat pendekar, ia tak lagi memakai tata krama.
Abda berlalu dari rumah besar itu disertai tangisan pilu Windu. Sementara Pangeran Dalapati menatap putrinya penuh amarah.
"Kau mencoreng wajah ayahmu di hadapan orang kepercayaan Sri Baginda Raja, Rara!"
"Ayah ... Aku putrimu!"
"Justru karena kau putriku!" teriak Dalapati murka.
"Kangmas!" sebuah suara dari arah kamar.
Raden Ajeng Dasirah Nepati memperingati suaminya.
"Ini didikan manjamu! Lihat!" teriak Dalapati menatap istrinya marah.
"Kangmas! Jangan kasar pada darah sendiri!' seru Dasirah membela putrinya.
"Aku marah karena prilaku putri kita ini. Bagaimana kalau Sri Baginda tau. Mau ditaruh di mana mukaku!" teriak Dalapati lagi.
"Kau bangsawan Kangmas. Mestinya Abda tersanjung atas permintaanmu!" seru Dasirah.
"Tidak berlaku di mata Abda, Nyimas!" sahut Dalapati menggeleng.
"Tak ada istilah bangsawan atau rakyat biasa jika berurusan dengan Abda Sedah Nirah!" lanjutnya lagi.
Lalu matanya menatap Windu, sebenarnya ia sangat iba pada putrinya. Ia juga sakit hati karena penolakan Abda. Tetapi, keberanian Windu membuatnya malu.
"Kau Ayah hukum berkurung di kamar sampai aku menemukan calon terbaik untukmu!"
"Kangmas!"
"Cukup Dasirah!" sang istri sangat terkejut ketika sang suami hanya memanggil namanya saja. Begitu juga Windu, ia langsung menutup mulutnya dan berhenti menangis.
"Kangmas ...," Dasirah menundukkan kepalanya.
"Ingat ... Selain aku masih bernafas di rumah ini. Maka peraturan adalah keputusanku!' peringat Dalapati.
"Aku pergi menemui Prabu Laksa dan menarik surat perjodohan itu. Aku tak mau tambah malu!" ia menekan kata terakhir.
"Ki Bunta, siapkan kuda. Kita menuju istana!"
"Siap Gusti Pangeran!" seru seorang prajurit lalu menyiapkan kuda.
"Gusti ... Kuda sudah siap!" Dalapati pun melangkah keluar rumah dan memacu kudanya menuju istana.
Windu menangis tersedu-sedu setelah ayahnya pergi. Dasirah langsung mendekati putrinya.
"Nduk, maafkan ibu ya. Kamu harus ke kamar. Ibunda takut jika kamu tidak melaksanakan hukuman itu. Ayahandamu tambah marah," ujarnya mengangkat bahu putrinya.
Windu menurut, ia juga sangat takut jika ayahnya tambah murka.
Langkah kaki kuda Pangeran Dalapati yang dipacu kencang membelah malam Kota Raja, menyisakan kepulan debu dan gema kemarahan yang tertinggal di kediamannya.
Di dalam kamar keputren yang megah namun terasa seperti penjara, Raden Ayu Windu duduk bersimpuh di lantai.
Tangisnya tak lagi bersuara, berganti dengan isakan tertahan yang membuat bahunya terguncang hebat.
Raden Ajeng Dasirah hanya bisa mengusap punggung putrinya dengan hati yang ikut teriris.
Ia tahu, yang hancur malam ini bukan sekadar angan-angan cinta seorang gadis, melainkan harga diri setinggi langit milik seorang putri bangsawan utama Kali Ireng.
"Ibunda ... Apa kekuranganku di mata Ki Abda?" tanya Windu terisak.
Dasirah menghela nafas panjang, ia sendiri bingung menjawab pertanyaan putrinya.
"Kadang ada manusia-manusia yang tak tergiur dengan silaunya kemewahan, Nduk," jawabnya bijak.
"Ki Abda adalah pria yang memiliki keyakinan yang kokoh seperti gunung. Baginya, mahkota yang dikenakan raja sama nilainya dengan caping petani jika itu berbenturan dengan prinsip yang ia pegang!" lanjutnya lagi.
Windu, tak mendengar perkataan bijak dari ibunya. Ia tak peduli dengan keteguhan hati Abda. Pria yang membuat hampir seluruh Perempuan akan jatuh cinta walau hanya berselisih jalan dengannya.
"Aku yakin, jika Paman Prabu akan menerima pinangan dan memaksa Ki Abda!" gumamnya yakin.
Sementara di bawah lereng, mata Ki Abda menatap sosok yang sedang membuat jalur air di pematang sawah.
Tangan putihnya mengarit lumpur tanpa jijik, keringat membasahi pelipis wanita itu.
Ki Abda tersenyum, sebenarnya bisa saja ia turun membantu. Tapi, ia memilih meninggalkan perempuan kuat itu. Ia tak mau menodai kesucian sang gadis gara-gara ia turun dan membantunya.
Walau ia pendekar sakti, ia belum mampu membungkam mulut-mulut nyinyir.
Abda melompati lereng menuju rumahnya.
Sampai di rumah bilik bambunya, ia masuk dan lalu memasak untuk dirinya.
Ingatannya pada sang gadis petani membuat ia menggeleng pelan. Abda bahkan lupa baru saja mematahkan hati seorang putri bangsawan ternama.
Abda mengingat tubuh si gadis yang kecil dibanding wanita-wanita bangsawan istana. Kulitnya tidak putih pucat seperti para putri kerajaan karena terlalu sering terkena matahari.
Namun justru itu yang membuat Ki Abda memandangnya begitu indah.
Perempuan itu nyata.
Bukan lukisan. Bukan hiasan pendapa. Bukan wanita yang dibesarkan untuk bicara halus dan tersenyum anggun.
Sri Asih adalah perempuan yang bisa bertahan hidup.
Ki Abda tersenyum kecil.
Ia masih ingat pertama kali melihat gadis itu marah pada pedagang curang di pasar desa.
Padahal tubuhnya kecil. Tapi keberaniannya membuat tiga pria dewasa sampai malu sendiri.
“Kalau daganganmu busuk ya bilang busuk! Jangan menipu orang miskin!” hardiknya waktu itu.
Dan anehnya ... Ki Abda justru jatuh hati sejak hari itu.
Bukan karena kecantikannya. Tapi karena keberanian dan ketulusannya.
Lalu ... tercium bau arang ....
"Demi purnama bersinar. Aku menghanguskan air yang ku didihkan!" kekehnya sambil menggeleng menyadari kelakuannya.
Sementara itu kuda Pangeran Dalapati dan beberapa prajurit yang mengawalnya sudah sampai. Ia turun dan semua abdi dalem duduk bersimpuh.
"Aku ingin menemui Prabu Laksa!" ujarnya menghadap pada seorang panembahan istana.
"Silahkan masuk Gusti Pangeran!" ajak Panembahan membawanya masuk ke aula singgasana.
"Sri Baginda, Gusti Pangeran datang!" Prabu Laksa baru saja mengambil sebuah surat menunda pekerjaannya.
Pangeran Dalapati melirik surat yang hendak diambil adiknya itu. Surat permintaan perjodohan. Ia menelan ludah pelan-pelan.
"Kangmas Pangeran. Ada apa gerangan malam-malam begini. Apa ada sesuatu yang mendesak?" tanyanya lalu mendekati kakaknya, Pangeran Dalapati.
"Dimas Raja ... Aku ... aku ...," Dalapati seperti kesulitan bicara.
"Duduklah Kangmas," ajak Prabu Laksa ke singgasananya.
Pangeran Dalapati duduk di singgasana berukuran kecil. Ia diperbolehkan duduk di sana, jika bertandang.
"Dimas ... Aku minta maaf," ujar Dalapati mengatasi kegugupannya.
"Minta maaf ... soal?" tanya Prabu Laksa tak mengerti.
"Aku baru saja mengirimkan surat permohonan perjodohan ...."
Prabu Laksa langsung menoleh pada salah satu abdi dalam. Surat itu diambil dengan hati-hati lalu diserahkan pada Prabu Laksa.
"Perjodohan Raden Ayu Windu?"
"Benar Dimas Raja," jawab Dalapati lemah.
"Dengan siapa?" tanya Prabu Laksa lalu membuka amplop dan menarik isinya.
"Dengan Ki Abda ...," jawaban Kakaknya membuat tangan Prabu Laksa berhenti menarik kertas.
"Apa?"
bersambung.
Ah ... Apakah Prabu juga ingin memaksa Ki Abda menerima perjodohan. Walau tau pastinya ditolak?
next?
nyi padan serem akh
lanjut