NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU YANG PERLAHAN TERBUKA

Alana terdiam"aku tidak minta banyak hanya meminta kamu menepati janji yang sudah kamu ucapkan pada arkana tadi".

Kata-kata Alana yang begitu sederhana justru terasa lebih mengikat daripada kontrak bisnis paling legal sekalipun di dunia Samudera.

​Samudera menoleh cepat, menatap Alana yang masih memandang lurus ke arah taman. Tidak ada lagi kilat kemarahan di mata wanita itu, yang tersisa hanyalah kepasrahan seorang ibu yang menaruh kebahagiaan anaknya di atas segalanya—bahkan di atas egonya sendiri.

​"Hanya itu?" tanya Samudera, suaranya melembut, memastikan ia tidak salah dengar.

​Alana mengangguk pelan. Ia menoleh, membalas tatapan Samudera dengan sorot mata yang sarat akan ketegasan. "Hanya itu. Janji bahwa kamu tidak akan membiarkan dia merasa sedih karena tidak punya ayah. Janji bahwa kamu akan ada saat dia menyebut namamu di kelasnya hari Senin nanti. Dan janji... bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakan harapan polosnya."

​Alana menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berbisik, "Aku bisa menahan rasa sakitku sendiri, Samudera. Aku sudah terbiasa dengan itu selama empat tahun ini. Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu membuat Arkana menangis karena merasa ditinggalkan lagi oleh ayahnya. Jadi, tepati kata-katamu."

​Mendengar penuturan Alana, sudut hati Samudera berdenyut ngilu sekaligus lega. Ia mengagumi betapa besarnya hati wanita di hadapannya ini, yang rela mengesampingkan seluruh luka masa lalunya demi senyuman sang putra.

​Samudera menegakkan tubuhnya, menatap Alana dengan kesungguhan yang mutlak dari lubuk hatinya yang terdalam.

​"Aku bersumpah demi hidupku, Alana," ucap Samudera tanpa keraguan sedikit pun. "Hari Senin besok, dan setiap hari setelahnya, aku akan selalu ada untuk Arkana. Aku akan menjadi ayah yang bisa ia banggakan di depan semua orang. Dan aku... juga akan membuktikan padamu bahwa aku layak memegang kepercayaan ini."

​Alana tidak menjawab, namun perlahan ketegangan di bahunya mulai mengendur. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia merasa beban berat yang dipikulnya sendirian kini memiliki tempat untuk bersandar.

Samudera meminta izin untuk sesekali membawa arkana bermain ke rumah nya,orang tua nya sudah lama mencari cucu nya juga.

Permintaan Samudera yang satu itu seketika membuat Alana kembali terdiam. Desir halus rasa cemas sempat melintas di dadanya saat mendengar kata "orang tua". Ingatannya otomatis berputar pada masa lalu—pada penolakan dan pandangan miring yang pernah ia terima.

​Namun, Alana juga menyadari satu hal. Jika ia sudah memutuskan untuk membiarkan Samudera menjadi ayah yang nyata bagi Arka, maka ia tidak bisa egois dengan memutus hak kakek dan nenek Arka untuk mengenal cucu mereka sendiri. Arka berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari sebuah keluarga.

​Alana menatap Samudera, mencoba membaca ketulusan dari pria itu. "Mereka... tahu tentang Arka?" tanya Alana lirih.

​Samudera mengangguk pelan, tatapannya melembut penuh rasa bersalah sekaligus harapan. "Mereka tahu aku mencarimu selama ini, Alana. Dan sejak aku tahu tentang keberadaan Arka, merekalah yang paling tidak bisa tenang. Ibu bahkan hampir nekat ikut ke sini hari ini. Mereka sangat merindukan cucu pertama mereka."

​Samudera menggeser duduknya sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga batas aman agar Alana nyaman. "Aku tidak akan membawa Arka tanpa izinmu, Alana. Dan aku berjanji, di rumahku nanti, Arka akan diperlakukan bak seorang pangeran. Tidak akan ada yang menyakitinya, termasuk orang tuaku. Aku yang menjaminnya."

​Alana menghela napas panjang, menatap ujung sepatunya sebelum akhirnya kembali menatap Samudera. Ketakutannya perlahan terkikis oleh kesungguhan di mata pria itu.

​"Boleh," jawab Alana akhirnya, membuat seulas senyum lega langsung terbit di wajah tampan Samudera. "Tapi dengan satu syarat. Untuk beberapa waktu ke depan, biarkan Arka terbiasa dulu dengan kehadiranmu di sini. Dan saat waktunya tiba kamu membawanya ke rumahmu... aku harus ikut menemani. Aku belum bisa membiarkan Arka pergi jauh tanpa pengawasanku."

​Samudera tersenyum lebar, rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadanya. "Tentu saja. Kamu boleh ikut kapan pun kamu mau. Rumahku selalu terbuka untukmu, Alana. Terima kasih."

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!