Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Beberapa pria hidung belang yang tadi mencoba mendekati meja Mikayla langsung mundur teratur saat melihat tatapan dingin Ethan. Satu lirikan dari Ethan sudah cukup untuk memberi tahu mereka bahwa wanita ini adalah wilayah terlarang.
"Mika," suara rendah Ethan memecah kebisingan tepat di samping telinga Mikayla.
Mikayla mendongak, matanya sayu dan pipinya merona karena alkohol. Ia tersenyum miring, lalu menyentuh rahang tegas Ethan dengan jari yang gemetar. "Oh... si pria dingin dari lift... Kamu datang mau minta bayaran... atau mau merampokku juga?”
Sentuhan yang Berbahaya
Ethan tidak menjawab. Ia merebut gelas dari tangan Mikayla dan meletakkannya kasar di meja. Ia menarik napas dalam, aroma parfum manis Mikayla kini bercampur dengan aroma alkohol yang menyengat, namun entah mengapa, itu justru membuat Ethan semakin terobsesi.
"Kamu sudah cukup 'merampok' malam ini, Mikayla," ucap Ethan dingin, namun tangannya dengan protektif merangkul pinggang Mikayla agar wanita itu tidak jatuh. "Ayo pulang. Tempat ini bukan untukmu.”
"Pulang? Ke mana? Rumah mewah yang isinya racun dan pengkhianatan itu?" Mikayla tertawa keras, lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia mencengkeram kemeja Ethan. "Mereka membunuh anakku bahkan sebelum dia ada, Ethan... Mereka membunuhnya!”
Rahang Ethan mengeras. Informasi tentang sabotase kesuburan Mikayla adalah satu-satunya bagian yang luput dari laporannya, dan mendengar itu langsung dari bibir Mikayla yang bergetar membuat amarahnya menyulut hingga ke ubun-ubun.
"Aku tidak akan membawamu pulang ke rumah terkutuk itu," bisik Ethan. Ia mengangkat tubuh Mikayla dalam gendongan bridal style, mengabaikan tatapan ratusan pasang mata di klub tersebut.
"Tuan, mobil sudah siap di depan," lapor asistennya yang sigap membukakan jalan.
Ethan membawa Mikayla masuk ke dalam mobil Rolls-Royce hitamnya yang kedap suara. Di dalam sana, Mikayla jatuh pingsan di pelukannya karena pengaruh alkohol yang terlalu kuat. Ethan mengusap rambut Mikayla dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan reputasinya yang kejam di dunia bawah.
"Elang Abimanyu tidak hanya akan kehilangan hartanya," gumam Ethan sambil menatap wajah tenang Mikayla dalam tidurnya. "Dia akan kehilanganmu, dan aku akan memastikan dia melihatmu bersinar di sampingku saat dia membusuk di selnya.”
"Jalan," perintah Ethan pada sopirnya. "Ke penthouse pribadiku. Jangan ada yang tahu Nona Mikayla bersamaku malam ini."
Malam itu, aliansi yang tadinya hanya sebatas bisnis dan dendam, mulai bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan posesif. Ethan tidak lagi sekadar membantu; ia mulai menandai miliknya.
Mobil melaju membelah sunyi jalanan Jakarta menuju penthouse pribadi Ethan di kawasan SCBD. Di kursi belakang yang luas, Mikayla terkulai lemas, kepalanya bersandar di bahu kokoh Ethan. Napasnya pendek dan sesekali ia meracau kecil, menyebut nama "Mama" dan "Anak" dengan nada yang menyayat hati.
Ethan menatap keluar jendela, rahangnya mengeras. Sebagai penguasa di dunia hitam, ia terbiasa melihat kekejaman, tapi sabotase tubuh seorang wanita oleh keluarga sendiri adalah level kerendahan yang bahkan bagi Ethan terasa menjijikkan.
"Bawa kotak obat dan teh jahe hangat ke kamar utama begitu kita sampai," perintah Ethan melalui interkom mobil kepada pelayan pribadinya.
Di Penthouse: Kelembutan Sang Predator
Setibanya di penthouse, Ethan menggendong Mikayla melewati lorong minimalis yang dingin hingga ke kamar utama yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota. Ia membaringkan Mikayla di atas tempat tidur king size dengan sprei sutra abu-abu gelap.
Mikayla menggeliat, matanya terbuka sedikit, menatap langit-langit kamar yang asing. "Di mana... ini bukan rumah Elang," bisiknya parau.
"Bukan. Ini tempat yang aman," sahut Ethan pendek. Ia duduk di pinggir ranjang, membantu Mikayla meminum teh jahe agar mualnya berkurang.
Mikayla meraih kerah kemeja Ethan, menarik pria itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kenapa kamu membantuku, Ethan Aviel Leon? Aku tahu siapa kamu... kamu tidak membantu orang tanpa alasan."
Ethan menatap mata sayu Mikayla yang masih dipenuhi sisa alkohol dan luka. Jemarinya yang dingin mengusap pipi Mikayla yang panas.
"Alasannya sederhana, Mikayla," bisik Ethan, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku benci melihat barang berharga disia-siakan oleh pemilik yang bodoh. Elang tidak tahu cara menjaga berlian, jadi aku memutuskan untuk mengambilnya.”
Mikayla tertawa getir, air mata perlahan mengalir di sudut matanya. "Berlian? Aku hanya rahim yang sudah mati, Ethan. Ibuku... ibunya Elang... dia memberiku racun selama lima tahun. Mereka bilang aku mandul, padahal mereka yang membunuh kemampuanku."
Ethan terdiam. Ia membiarkan Mikayla meluapkan kemarahannya. "Aku akan mencarikan dokter terbaik di dunia untukmu, Mika. Apa yang mereka rusak, akan aku perbaiki. Dan apa yang mereka ambil darimu, akan aku ambil kembali sepuluh kali lipat dari mereka.”
Mikayla memejamkan mata, kepalanya terasa berputar. "Bayarannya... apa?"
"Bayarannya adalah kesetiaanmu," jawab Ethan tegas. "Jangan pernah kembali ke rumah itu. Biarkan Elang mencarimu seperti orang gila sementara dunianya runtuh. Mulai besok, kamu adalah sekutuku dan mungkin, lebih dari itu.”
Mikayla berdiri, berjalan menuju jendela besar. Ia melihat pantulan dirinya; ia tampak pucat namun matanya kini benar-benar tajam.
"Permainan dimulai, Mas Elang," gumam Mikayla. Ia meraih ponsel lamanya, melihat ada 57 panggilan tak terjawab dari Elang. Ia tersenyum sinis, lalu mematikan ponsel itu dan mematahkannya menjadi dua sebelum membuangnya ke tempat sampah.
Hari ini, Mikayla resmi menjadi hantu bagi keluarga Abimanyu, dan mimpi buruk bagi Elang yang baru saja dimulai.
______
Suasana tenang di villa mewah kawasan Bogor itu seketika berubah menjadi horor yang mencekam. Reno, yang bergerak di bawah instruksi terselubung Mikayla dan dukungan logistik Ethan, telah menempatkan pion-pionnya dengan presisi yang mematikan.
Naura, yang baru saja selesai bersolek dan merasa jemawa dengan kehamilannya yang ia anggap sebagai kartu as, melangkah keluar kamar dengan sandal rumah berbahan satin yang licin. Ia tidak menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya, seorang pelayan "baru" kiriman Reno telah memoles beberapa anak tangga teratas dengan cairan lilin transparan yang tak terlihat mata.
"Aaakhhh!”
Suara pekikan melengking itu membelah kesunyian villa. Tubuh Naura kehilangan keseimbangan, ia tergelincir hebat dan berguling menuruni tangga beton yang keras. Suara hantaman tubuhnya di setiap anak tangga terdengar mengerikan, hingga akhirnya ia terjerembap di lantai dasar dengan posisi yang tak wajar.
"Darah! Nona Naura pendarahan!" teriak salah satu pelayan yang sengaja berakting histeris.
Darah merah pekat mengalir deras dari sela kaki Naura, membasahi lantai marmer putih yang dingin. Naura mengerang kesakitan, tangannya mencengkeram perutnya yang kini terasa kosong dan perih luar biasa. Tatapannya nanar, ia mencoba meraih ponselnya untuk menghubungi Elang, namun kesadarannya mulai meredup.
Reaksi Mikayla di Kantor Pengadilan
Mikayla baru saja selesai menyerahkan berkas gugatan cerainya saat ponsel baru pemberian Ethan bergetar. Ia membaca pesan dari Reno dengan wajah tanpa ekspresi, seolah sedang membaca laporan cuaca.
"Satu per satu akar parasit itu dicabut," gumam Mikayla dingin. Ia melirik jam tangan peraknya. Tepat waktu.
Kabar Buruk untuk Elang
Elang, yang baru saja keluar dari rumah utama dengan tubuh pegal dan memar akibat hukuman Rajendra, sedang mengemudi menuju rumahnya untuk menemui Mikayla. Ia berniat meminta maaf dan mencari perlindungan emosional pada istrinya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering kencang. Nama "Penjaga Villa Bogor" muncul di layar.
"Halo? Ada apa?!" bentak Elang kasar.
"Pak... Pak Elang... Nona Naura kecelakaan! Beliau jatuh dari tangga dan pendarahan hebat. Sekarang sedang dibawa ke RSUD Bogor dalam keadaan kritis!"
Ciiiitttt!
Elang menginjak rem mendadak di tengah jalan raya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa?! Jaga dia! Aku ke sana sekarang!"
Elang memutar balik mobilnya dengan membabi buta, melupakan tujuannya menemui Mikayla. Pikirannya kacau, Naura adalah satu-satunya investasi emosionalnya yang tersisa, dan bayi di rahim Naura adalah satu-satunya harapannya untuk membuktikan pada ibunya bahwa ia bisa memberikan cucu.
Namun, Elang tidak tahu bahwa di meja makan rumah mewahnya, sudah menunggu "kado perpisahan" dari Mikayla, sebuah map cokelat berisi surat gugatan cerai, bukti perselingkuhannya dan dokumen medis sabotase rahim Mikayla yang dilakukan ibunya dan ibu mertuanya.
"kalian tidak akan pernah bahagia... " ucap Mikayla, ia menatap rumah yang ia tempati selama 5 tahun, "Pada akhirnya aku memilih pergi... tapi tidak dengan dendamku."