NovelToon NovelToon
The 10th Battalion

The 10th Battalion

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.

Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.

Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.

Orc.

Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.

Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.

Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.

Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—

The 10th Battalion

Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.

Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Raven

Malam terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Tak ada lagi suara tawa di sekitar api unggun.

Tak ada Boris yang ribut soal makanan. Tak ada Elias yang teriak-teriak panik.

Karena semua orang sekarang memikirkan hal yang sama:

Besok malam… mereka mungkin mati.

Gerald berdiri di dekat pagar desa sambil melihat hutan gelap di depan sana.

Angin malam meniup pelan kain pesan dari Raven di tangannya.

“Desa selatan akan dibersihkan.”

Kalimat sederhana.

Namun cukup untuk menjelaskan semuanya.

Raven bukan sedang mengajak kerja sama.

Ia sedang memberi ultimatum.

Gabung. Atau dihancurkan.

“Gerald.”

Varn berjalan mendekat perlahan.

“Apa keputusanmu?”

Gerald diam beberapa detik.

Lalu melihat desa kecil mereka:

rumah rusak

pagar seadanya

pengungsi lapar

dan pasukan kacau yang bahkan armor lengkap pun tidak punya

Melawan Raven sekarang…

Peluang menang mereka kecil.

Namun kalau menyerah…

Mereka cuma jadi anjing peliharaan orang lain.

“Aku benci pilihan begini,” gumam Gerald.

Doran yang duduk di atas tong kayu tertawa kecil.

“Kalau gampang namanya bukan hidup.”

“Aku makin yakin kau psikopat.”

“Itu pujian.”

“BUKAN.”

Di sisi lain desa…

Suasana mulai kacau.

Beberapa pengungsi panik setelah mendengar isi pesan Raven.

“Kita harus pergi!”

“Mana mungkin lawan mereka?!”

“Katanya mereka punya mantan ksatria!”

“Kalau tetap di sini kita mati!”

Kepanikan mulai menyebar cepat.

Dan Gerald tahu…

Kalau dibiarkan, desa ini bakal runtuh bahkan sebelum musuh datang.

“DIAM!”

Suara Gerald menggema keras di tengah desa.

Semua langsung membeku.

Gerald berjalan ke tengah kerumunan perlahan.

Tatapannya tajam.

“Kalian mau lari ke mana?”

Tak ada yang menjawab.

“Kalau keluar malam ini…”

Ia menunjuk hutan gelap di luar desa.

“…orc di luar sana bakal makan kalian duluan.”

Beberapa orang langsung pucat.

Karena mereka tahu Gerald benar.

Dunia sekarang tidak punya tempat aman.

Gerald melanjutkan:

“Raven mungkin manusia.”

“Tapi di luar sana masih ada monster.”

Keheningan turun.

“Kalau kalian mau pergi, pergi.”

Tatapan Gerald menyapu semua orang.

“Aku gak bakal tahan siapa pun.”

“Tapi mulai malam ini…”

Ia mencabut pedangnya perlahan.

“…The 10th Battalion gak akan tunduk ke siapa pun.”

Suasana langsung sunyi total.

Bahkan Elias sampai melongo sedikit.

Karena untuk pertama kalinya…

Gerald terdengar benar-benar seperti komandan perang.

Doran menyeringai lebar.

“HAHAHAHA!” “Nah itu baru enak didengar!”

Boris mengangkat tangan.

“Kalau perang menang dapet makanan gak?”

“KAU MATI PUN MASIH MIKIR MAKANAN YA?!”

Namun anehnya…

Keributan kecil itu justru membuat suasana sedikit lebih hidup.

Dan perlahan…

Orang-orang mulai tenang.

Karena meski takut…

Setidaknya sekarang mereka punya arah.

“Gerald.”

Luca mendekat pelan.

“Kalau mereka benar-benar menyerang besok…”

Tatapannya gugup.

“…apa kita bisa menang?”

Gerald melihat ke arah pagar desa.

Masih lemah. Masih jelek. Dan gampang dihancurkan.

Lalu ia melihat anggota batalion mereka:

Doran si monster otot

Boris si penghancur stok makanan

Elias si bocah panik

Varn si veteran tua

Luca dan pengungsi lainnya

Pasukan aneh.

Namun Gerald tahu satu hal:

Orang yang putus asa sering kali bertarung paling brutal.

“…Bisa,” jawab Gerald akhirnya.

Elias langsung menoleh.

“Serius?”

Gerald mengangguk kecil.

“Asal mereka lebih bodoh dari kita.”

“ITU BUKAN RENCANA YANG MENENANGKAN!”

Malam itu…

The 10th Battalion mulai bersiap perang.

Beberapa orang memperkuat pagar. Sebagian membuat tombak tambahan. Dan sisanya menyiapkan batu, kayu, dan api.

Desa kecil itu berubah seperti benteng darurat.

Gerald sendiri berjalan mengelilingi desa sambil memeriksa semuanya.

Lalu langkahnya berhenti di dekat Boris.

Pria gendut itu ternyata sedang serius.

Mengasah kapaknya diam-diam.

“Aneh,” gumam Gerald.

Boris menoleh.

“Apa?”

“Kau kelihatan serius.”

Boris diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan:

“…Aku pernah kehilangan kelompok sebelumnya.”

Gerald sedikit terdiam.

“Apa yang terjadi?”

“Mereka mati.”

Tatapan Boris turun ke tanah.

“Karena gak ada yang cukup kuat buat lindungin mereka.”

Untuk pertama kalinya…

Pria itu tidak bercanda.

Dan Gerald akhirnya sadar sesuatu.

Orang-orang di batalion ini… semuanya membawa luka masing-masing.

Mereka cuma menyembunyikannya dengan cara berbeda.

Tiba-tiba—

WHUSSH!!

Suara panah terdengar dari luar desa.

BRAKK!!

Sebuah panah menancap di gerbang kayu.

Semua langsung siaga.

Gerald berjalan mendekat lalu mencabut panah itu.

Ada secarik kain kecil terikat.

Pesan lagi.

Gerald membukanya perlahan.

Dan kali ini…

Hanya ada satu kalimat pendek.

“Besok. Kami datang.”

Tak ada tanda tangan.

Tak perlu.

Karena semua orang sudah tahu siapa pengirimnya.

Raven.

Dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi…

Gerald tersenyum tipis.

Bukan karena senang.

Namun karena akhirnya…

Ia menemukan perang yang sesungguhnya.

1
SR07
aing udh muak sama duel🗿
SR07
orc nya mana ini weh, harusnya orc yang jadi monster malah manusia nya banyak yang jadi monster 🗿
SR07
aing udh mulai muak sama peperangan antar manusia, kebanyakan drama, musuh terkejut lah, mulai serius lah, mending lawan orc 🗿
SR07
malah cosplay boris😅
SR07
anjay 10rb lawan ratusan🗿
SR07
lah gak war lagi?
Luthfi Afifzaidan
kok di ulang lg thor?
ar kan
mainkan👍👍
SR07
🤣🤣
SR07
awokawok Tom and Jerry 🤣
Kezia
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!